Indonesia ini bangsa yang aneh, dalam pengertian yang kadang membuat kita tersenyum getir. Kita bangga menyebut diri negeri kepulauan, tetapi sering lupa bahwa kepulauan itu bukan hanya gugusan pulau yang mengapung di lautan. Kepulauan juga berarti ruang udara yang membentang di atasnya, jalur jalur terbang yang sibuk, arus lalu lintas yang rapat, dan sebuah wilayah yang diam diam menentukan harga diri bangsa. Kita menghafal kisah pelaut, tetapi sering gagap saat harus bicara tentang langit. Kita rajin memuja segara, tetapi belum sungguh sungguh membangun imajinasi angkasa.
Di tengah situasi seperti itu, sebuah buku memoar bisa tampil bukan hanya sebagai catatan hidup, melainkan sebagai cermin kebangsaan. Dari Segara ke Angkasa adalah memoar yang bekerja dengan cara demikian. Ia menceritakan perjalanan seorang anak, seorang pilot, dan seorang perwira yang pada akhirnya sampai ke pucuk kepemimpinan Angkatan Udara. Namun nilai utamanya bukan sekadar daftar jabatan. Yang lebih penting adalah energi yang dipancarkan, sebuah etos kerja, sebuah disiplin, dan sebuah cara pandang yang mengajak pembaca menyadari bahwa langit tidak boleh dibiarkan menjadi urusan segelintir orang.
Ada hal kecil tetapi menentukan yang perlu diluruskan sejak awal. Banyak pembaca mengira judulnya adalah metafora dari laut menuju langit, dari segara sebagai lautan menuju angkasa sebagai ruang udara. Tafsir itu indah dan sah. Tetapi penulis memberi kita kunci yang lebih pribadi dan lebih menggigit. Segara yang dimaksud bukan semata lautan, melainkan Jalan Segara, yang kini dikenal sebagai Jalan Veteran, tempat masa kanak kanak CH bertumbuh. Sementara angkasa yang dimaksud bukan sekadar langit yang jauh, melainkan Wisma Angkasa, kediaman resmi Kepala Staf TNI Angkatan Udara di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Maka judul itu bukan slogan kosong. Ia adalah garis nasib yang nyata, dari alamat masa kecil menuju alamat amanah tertinggi.
Mengapa koreksi kecil ini penting. Karena ia mengubah cara kita membaca buku. Judul yang semula terasa seperti jargon romantik tiba tiba menjadi sebuah perjalanan konkret. Ia memberi rasa bahwa hidup adalah lintasan, dan lintasan itu dapat dipahami sebagai perpindahan dari ruang yang sederhana menuju ruang yang sarat tanggung jawab. Dari sebuah rumah, menuju rumah dinas. Dari seorang anak yang menatap pesawat dengan mata yang berbinar, menuju seorang pemimpin yang harus mengurus manusia, sistem, dan keputusan, di lembaga yang tidak mengenal kelengahan.
Narasi buku ini bergerak dari masa kanak kanak yang penuh rasa ingin tahu, lalu merambat ke masa masa pembentukan diri, hingga akhirnya memasuki dunia penerbangan militer yang keras dan terukur. Dunia ini punya logika sendiri. Ia tidak menyukai orang yang serampangan. Langit bisa tampak ramah ketika cuaca baik, tetapi ia tidak pernah benar benar memaafkan keteledoran. Di situ disiplin bukan kebajikan tambahan. Disiplin adalah syarat hidup. Ketelitian bukan sekadar karakter baik. Ketelitian adalah cara bertahan. Dan karena itulah, membaca kisah seorang pilot selalu terasa seperti membaca sekolah karakter dalam bentuk paling nyata.
Buku ini tidak memposisikan pembaca sebagai murid yang dijejali petuah. Ia lebih mirip percakapan panjang yang membuat kita menyimpulkan sendiri. Kita melihat bagaimana cita cita tidak lahir dari slogan, melainkan dari rangsangan kecil yang memicu rasa ingin tahu. Kita melihat bagaimana kesungguhan dibangun pelan pelan, lewat latihan yang tidak selalu nyaman, lewat jam jam yang tidak selalu berglamor, lewat kebiasaan yang kadang membosankan tetapi justru itulah yang menyelamatkan hidup. Dalam banyak kisah sukses, orang suka menceritakan puncaknya. Buku ini mengingatkan bahwa puncak adalah akibat. Yang utama adalah proses. Dan proses itu bukan panggung. Ia ruang sunyi.
Salah satu kekuatan Dari Segara ke Angkasa adalah cara penulis memperlakukan kariernya sendiri. Ia tidak menaruh pangkat sebagai mahkota, seolah pangkat adalah pembenaran. Pangkat dalam buku ini lebih sering tampak sebagai beban, bahkan sebagai ujian. Semakin tinggi jabatan, semakin sempit ruang untuk salah. Semakin dekat pada pengambilan keputusan, semakin besar konsekuensi dari satu kalimat. Inilah paradoks kepemimpinan yang jarang dibicarakan. Banyak orang ingin tampak memimpin, tetapi tidak semua orang siap memikul kesepian keputusan.
Dalam konteks Angkatan Udara, kesepian keputusan itu bukan romantisme. Ia menyangkut keselamatan terbang, kesiapan operasi, pembinaan personel, dan organisasi yang bekerja di bawah standar yang tidak bisa ditawar. Bila di kantor biasa sebuah kesalahan bisa diperbaiki dengan rapat, di dunia penerbangan kesalahan bisa menjadi kabar duka. Maka ketika buku ini bercerita tentang organisasi, ia secara implisit sedang bercerita tentang budaya kerja yang seharusnya dimiliki bangsa ini, budaya tertib, budaya akurat, budaya bertanggung jawab.
Bahasanya mengalir, tidak terlalu teknis, dan karena itu bisa menjangkau pembaca yang bukan orang penerbangan. Ini penting, karena kita sering terjebak menganggap dirgantara urusan segelintir pakar. Padahal urusan dirgantara menyentuh ekonomi, mobilitas, keamanan, dan martabat negara. Dari tiket pesawat yang melambung sampai keterhubungan antarpulau, dari jalur penerbangan internasional yang melintasi wilayah kita sampai penegakan kedaulatan di ruang udara, semua itu bukan tema elit. Itu tema rakyat. Dan buku ini membantu memanusiakan tema yang sering terasa jauh.
Dalam napas yang lebih lebar, memoar ini mengajak kita memahami satu hal yang sering kita lupakan. Laut memang identitas, tetapi langit adalah masa depan. Peradaban manusia selalu bergerak mencari ruang baru. Ketika darat penuh, ketika laut menjadi arena perebutan, manusia menoleh ke atas. Bukan semata untuk melamun, tetapi untuk menata. Negara yang tidak menata ruang udaranya akan menjadi tamu di langitnya sendiri. Negara yang tidak membangun daya dirgantaranya akan menjadi penonton, sekalipun ia punya wilayah udara yang luas dan strategis.
Di sinilah buku ini punya gema kebangsaan. Ia tidak meneriakkan nasionalisme dengan suara tinggi. Ia menaruh nasionalisme pada ketekunan dan profesionalisme. Ia memberi pesan bahwa kebanggaan tidak cukup. Kebanggaan harus berubah menjadi kapasitas. Dan kapasitas dibangun dengan disiplin, pendidikan, latihan, organisasi yang rapi, dan kepemimpinan yang punya nyali moral. Banyak negara dapat membeli pesawat, tetapi tidak semua negara bisa membangun budaya udara. Budaya udara lahir dari manusia yang terlatih, sistem yang tertata, dan negara yang mengerti bahwa langit adalah ruang strategis.
Sisi lain yang membuat buku ini menarik adalah ia menggabungkan yang personal dan yang institusional tanpa kehilangan keduanya. Kita melihat manusia dengan segala kebiasaannya, kecemasannya, tekadnya, dan kita sekaligus melihat institusi yang bekerja dengan aturan, ritme, dan tradisi. Memoar yang bagus memang selalu begitu. Ia tidak membuat pembaca terpaku pada orangnya saja, tetapi juga melihat zamannya. Ia membuat pembaca menyadari bahwa hidup seseorang selalu berdialog dengan struktur, dengan sejarah, dengan kesempatan, dan dengan tuntutan negara.
Lalu di sinilah, ketika kita menutup halaman demi halaman, kita mendadak merasa sedang membaca sesuatu yang relevan dengan keluhan publik hari ini. Keluhan yang bunyinya sederhana tetapi dampaknya besar, terbang di negeri sendiri terasa makin sulit. Tiket domestik terasa mencekik, rute luar negeri kadang tampak lebih ramah, dan orang lalu menyimpulkan bahwa langit Indonesia seperti bukan milik orang Indonesia. Struktur biaya, kebijakan, pajak, distribusi avtur, tata niaga, dan dinamika industri berkelindan. Tetapi yang sering luput adalah hal yang lebih mendasar, negara tampak kehilangan kendali strategis atas perhubungan udara nasional. Ketika negara tidak lagi memegang instrumen yang cukup kuat, arah jejaring penerbangan cenderung mengikuti logika bisnis paling pendek, rute gemuk dilayani, rute perintis tersisih, dan wilayah luas yang seharusnya terhubung justru merasa jauh.
Di sinilah memoar seorang perwira udara menjadi relevan untuk dibaca sebagai pelajaran kebijakan. Dunia militer mengajarkan bahwa ruang udara adalah ruang strategis, bukan sekadar ruang komersial. Dan ruang strategis, bila ingin sehat, menuntut tata kelola yang terpadu. Penerbangan sipil dan militer bukan dua dunia yang saling membelakangi, melainkan dua sisi yang mestinya saling menguatkan. Jika ekosistemnya tercerai berai, bandara dibangun tetapi tidak hidup, satu fasilitas menunggu penumpang sementara fasilitas lain kelebihan beban, maka yang terjadi bukan sekadar inefisiensi. Yang terjadi adalah hilangnya arah. Kita bisa melihat ironi yang sering disebut orang, Halim masih dipakai untuk sipil, sementara Kertajati yang megah namun tetap saja terlihat sepi. Itu bukan sekadar soal bandara. Itu soal orkestrasi, soal siapa yang memegang baton, dan apakah musik yang dimainkan masih satu lagu atau sudah banyak lagu sekaligus.
Memoar ini tidak perlu berteriak tentang semua itu. Tetapi ia memberi kita cara pandang untuk menilai. Dalam organisasi yang menuntut ketepatan seperti Angkatan Udara, sistem yang tidak sinkron adalah resep bencana. Dalam kebijakan publik, sistem yang tidak sinkron adalah resep mahal. Mahalnya bukan hanya rupiah, tetapi mahalnya kesempatan, mahalnya waktu, mahalnya daya saing. Ketika langit tidak ditata sebagai urat nadi ekonomi, kita lalu heran mengapa logistik mahal, mengapa pariwisata tersendat, mengapa konektivitas timpang, dan mengapa masyarakat merasa negara hadir hanya sebagai regulator tarif, bukan sebagai pengarah ekosistem.
Karena itu, membaca Dari Segara ke Angkasa juga seperti membaca seruan halus agar Indonesia kembali serius pada tata kelola dirgantara. Serius artinya berani menata koordinasi, berani membuat satu komando pengendalian kebijakan, berani menyatukan kepentingan sipil, militer, industri, dan pelayanan publik dalam satu meja yang benar benar bekerja, bukan sekadar rapat yang rajin foto bersama. Kita butuh arah yang jelas tentang jejaring penerbangan, tentang perintis, tentang hub, tentang biaya, tentang bandara, tentang navigasi, tentang industri, tentang keselamatan dan keamanan yang berjalan seiring. Sebab penerbangan adalah ekosistem, bukan potongan potongan proyek.
Membaca Dari Segara ke Angkasa seperti mendengar seorang senior bercerita tanpa menggurui. Ia tidak memaksa kita setuju, tetapi mengajak kita berpikir. Ia tidak menuntut kita menjadi pilot, tetapi menuntut kita menghormati langit dan memandang dirgantara sebagai masa depan yang harus dipersiapkan. Dan bila ada satu kalimat yang terasa paling relevan bagi bangsa ini, mungkin begini. Kita boleh mewarisi kebanggaan sebagai bangsa pelaut, tetapi kita wajib menyiapkan anak cucu sebagai insan dirgantara. Karena segara adalah sejarah, dan angkasa adalah masa depan. Dan sebuah bangsa yang ingin berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, tidak boleh menjadi tamu di rumahnya sendiri, baik di laut, terlebih lagi di langit.
Kalau bangsa ini ingin berhenti sekadar mengeluh lalu mulai mengendalikan arah, kita memerlukan simpul yang mampu menyatukan kompas, bukan menambah simpang siur. Sudah saatnya ada Dewan Penerbangan nasional yang bekerja sebagai ruang orkestrasi, bukan ruang seremonial, yang mempertemukan kementerian perhubungan, pertahanan, BUMN terkait, regulator, operator, industri, dan komunitas ahli dalam satu irama kebijakan. Tugasnya bukan mengambil alih pekerjaan teknis, melainkan memastikan satu hal yang sering hilang di republik ini, sinkronisasi. Agar perhubungan udara tidak berjalan sendiri sendiri, agar keselamatan tidak dipertentangkan dengan keamanan, agar bandara tidak berdiri megah tanpa rute yang hidup, agar konektivitas tidak dikalahkan logika rute gemuk semata, dan agar ruang udara Indonesia benar benar menjadi urat nadi kesejahteraan sekaligus benteng martabat. Dengan begitu, pesan buku ini menemukan rumahnya di kebijakan, dari Jalan Segara yang sederhana sampai Wisma Angkasa yang sarat amanah, lalu turun ke bumi sebagai manfaat yang bisa dirasakan rakyat banyak.
Jakarta 7 Januari 2026
Tim Editor Netral News.com
Top of Form
Bottom of Form

