Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Antoine de Saint-Exupéry dan Warisan The Little Prince
    Article

    Antoine de Saint-Exupéry dan Warisan The Little Prince

    Chappy HakimBy Chappy Hakim12/11/2025No Comments6 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Ekspresi Kejujuran dan Kemanusiaan

    Antoine de Saint-Exupéry adalah seorang pilot dan penulis asal Prancis yang lahir tahun 1900 di Lyon. Sejak muda ia jatuh cinta pada langit dan dunia penerbangan, lalu menjadi pilot pos udara yang terbang melintasi gurun dan samudra pada masa ketika terbang masih penuh risiko dan serba minim instrumen. Kelak ia juga bergabung sebagai pilot pengintai Angkatan Udara Prancis dalam Perang Dunia II. Pengalaman hidup di antara langit dan bumi , sendirian di kokpit, berhadapan dengan bahaya, dan menyaksikan sisi paling rapuh dari manusia,  membentuk cara pandangnya yang khas tentang kesepian, persahabatan, keberanian, dan arti penting menjadi manusia.

    Ia menulis karena merasa semua pengalaman itu terlalu berharga jika hanya disimpan sendiri. Melalui tulisan, Saint-Exupéry berusaha menjembatani dunia anak-anak dan orang dewasa, dunia teknis penerbangan dan dunia batin manusia.   Buku The Little Prince ia tulis ketika berada di pengasingan di Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II, saat Eropa dilanda kekacauan dan kehancuran. Buku kecil itu lahir dari kerinduan akan kesederhanaan, persahabatan, dan kemurnian hati, sekaligus sebagai kritik halus terhadap dunia orang dewasa yang sibuk dengan kekuasaan, angka, dan ambisi, tetapi sering lupa mencintai. Dengan kata lain, ia menulis untuk mengingatkan bahwa  di balik mesin, perang, dan politik, ada hal-hal sederhana yang jauh lebih penting yaitu hati yang peka, tanggung jawab terhadap sesama, dan keberanian untuk tetap manusiawi.

    Kisah The Little Prince sendiri dimulai dari seorang pilot, sang narator, yang pesawatnya jatuh di tengah Gurun Sahara. Di sana, tiba-tiba muncul seorang anak kecil berambut pirang yang menyebut dirinya berasal dari sebuah planet mungil bernama Asteroid B-612. Anak itu, yang kemudian kita kenal sebagai “pangeran cilik”, meminta sang pilot menggambarkan seekor domba. Dari permintaan sederhana ini, pelan-pelan terbuka kisah hidup dan perjalanan batin si pangeran.  Di planetnya yang sangat kecil, pangeran cilik hidup sendirian. Setiap hari ia membersihkan tiga gunung berapinya yang kecil dan mencabut tunas-tunas baobab, pohon raksasa yang bila dibiarkan akan menghancurkan planetnya yang mungil. Baobab di sini bukan sekadar pohon, melainkan simbol masalah-masalah kecil yang dibiarkan tumbuh tanpa diurus laksana kebencian, keserakahan, kebiasaan buruk, dan sikap acuh tak acuh. Jika tidak “dicabut” sejak awal, akar-akar masalah itu bisa menghancurkan “planet” kehidupan kita sendiri.

    Suatu hari, di planet kecil itu tumbuh sekuntum bunga mawar yang sangat cantik, tetapi manja dan gengsi. Pangeran sangat mencintai mawar itu, merawatnya, melindunginya dari angin dan hawa dingin. Namun karena sifat mawar yang sombong dan penuh tuntutan, ia sering merasa tersakiti dan bingung. Ia tidak mengerti bahwa di balik sikap manja itu, sang mawar sesungguhnya juga mencintainya tetapi tak pandai mengungkapkannya. Di sini, Exupéry mengajak pembaca merenungkan betapa seringnya kita salah baca perasaan orang yang kita sayangi hanya karena ego dan gengsi masing-masing.

    Dilanda kecewa dan rasa ingin tahu, pangeran memutuskan meninggalkan planetnya untuk berkeliling ke planet-planet lain. Di tiap planet, ia bertemu sosok orang dewasa dengan sifat-sifat yang terasa akrab seperti seorang raja yang ingin berkuasa atas segalanya padahal tak punya rakyat, laksana seorang yang congkak yang hanya ingin dipuji, seorang pemabuk yang minum untuk lupa bahwa ia malu karena suka minum, seorang pebisnis yang sibuk menghitung bintang dan mengklaim bintang-bintang itu sebagai miliknya, seorang penyala lampu yang patuh buta pada aturan dan seorang ahli geografi yang mencatat segalanya namun tak pernah melihat dunia dengan mata kepala sendiri. Lewat perjumpaan-perjumpaan ini, Sang Pangeran melihat betapa banyak orang dewasa hidup tanpa makna, terjebak pada angka, jabatan, dan rutinitas, tetapi lupa pada hal-hal sederhana yang benar-benar penting.

    Akhirnya Sang Pangeran sampai di Bumi. Di sana ia bertemu ular yang misterius, yang berkata bisa “mengirimnya pulang” hanya dengan sebuah gigitan. Ia juga menemukan taman penuh mawar dan terkejut karena selama ini mengira mawar di planetnya adalah satu-satunya di dunia. Ia merasa tertipu dan sedih, seolah cintanya selama ini sia-sia. Di saat itulah ia bertemu seekor rubah. Rubah inilah yang mengajarkan arti “menjinakkan”, membangun hubungan, kedekatan, dan tanggung jawab satu sama lain. Dengan proses jinak-menjinakan itu, Sang Pangeran belajar bahwa mawar di planetnya memang secara fisik sama seperti ribuan mawar lain, tetapi menjadi istimewa karena dialah yang telah dirawat, disiram, dan dijaga setiap hari.

    Dari rubah, lahir salah satu kalimat paling terkenal dalam sastra dunia yaitu bahwa yang paling penting hanya bisa dilihat dengan hati, mata tidak sanggup melihatnya. Bagi Sang Pangeran, mawar menjadi satu-satunya di dunia bukan karena wujudnya berbeda, tetapi karena keterikatan, perhatian, dan waktu yang ia curahkan. Bagi kita, pesan ini mengingatkan bahwa cinta, persahabatan, dan tanggung jawab tidak bisa diukur dengan angka dan statistik karena ia hidup dalam kedalaman hati dan kesetiaan kita pada orang-orang yang kita pilih untuk kita sayangi.  Setelah cukup lama di gurun bersama sang pilot, pesawat akhirnya berhasil diperbaiki. Namun pangeran merasa sudah waktunya kembali ke planet dan mawarnya. Ia memilih “jalan pulang” yang aneh dan menyakitkan, yakni membiarkan dirinya digigit ular di malam hari agar “tubuhnya yang berat” tertinggal di bumi dan rohnya bisa kembali ke planet asal. Keesokan paginya, tubuhnya tak ditemukan, yang ada hanya pasir yang tenang. Sang pilot percaya bahwa pangeran cilik benar-benar pulang. Sejak saat itu, setiap memandang langit berbintang, ia membayangkan pangeran kecil sedang merawat mawarnya di sebuah planet yang tak terlihat. Di situlah letak kekuatan buku ini tampil sederhana, pendek, seolah buku anak-anak, tetapi meninggalkan ruang renungan yang sangat luas dan dalam bagi orang dewasa.

    Pada akhirnya, warisan terbesar Saint-Exupéry bukan hanya jejak sayap di langit, tetapi jejak kata-kata di dalam hati manusia. Karena itu, para pilot tentara sesungguhnya memegang dua “senjata” sekaligus terdiri dari pesawat yang mereka terbangkan, dan pengalaman hidup yang bisa mereka abadikan dalam tulisan. Di setiap sortie, setiap patroli malam, setiap lepas landas dan pendaratan di pangkalan terpencil, tersimpan cerita tentang keberanian, rasa takut, rindu keluarga, persahabatan, dan pengabdian pada  negeri tercinta yang semua itu adalah kekayaan batin yang sayang jika dibiarkan hilang begitu saja. Menulis bukan soal ingin menjadi sastrawan, tetapi soal meninggalkan jejak pemikiran dan perasaan, agar generasi sesudahnya bisa belajar, merenung, dan memahami harga sebuah kedaulatan serta kemanusiaan. Seperti Saint-Exupéry, para pilot tentara pun dapat menjadikan pena sebagai perpanjangan sayap mereka, terbang, bukan hanya di udara, tetapi juga  mengembara melintasi waktu.  Dan sesungguhnya ajakan untuk menulis tidak hanya ditujukan bagi para pilot atau tentara, tetapi bagi siapa saja. Setiap orang menyimpan “langitnya” sendiri sendiri menyimpan kenangan masa kecil, menyimpan kegagalan dan kebangkitan, pertemuan yang mengubah hidup, sampai kegelisahan melihat negeri sendiri. Bila semua itu hanya disimpan di kepala, ia akan memudar dan hilang ditelan waktu. Dengan menulis, kita memberi bentuk pada pikiran dan perasaan, kita mengubah pengalaman pribadi menjadi cermin bersama. Tidak perlu menunggu sempurna, tidak perlu menunggu gelar atau pengakuan; cukup mulailah dari satu halaman, dari satu catatan harian, dari satu cerita pendek. Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani merekam jejak langkahnya sendiri, bukan hanya lewat monumen dan angka statistik, tetapi lewat cerita, refleksi, dan kejujuran warganya di atas kertas.

    Jakarta 7 Desember 2025

    Chappy Hakim

    Disusun dari berbagai sumber

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleMorowali dan Kedaulatan Negara di Udara
    Next Article Antoine de Saint-Exupéry
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Rafale dan Makna “Generasi 4,5” dalam Modernisasi serta Diversifikasi Sistem Senjata

    01/20/2026
    Article

    Rafale, Diversifikasi Armada AU, dan Ujian Nyata Kemandirian Industri Pertahanan

    01/20/2026
    Article

    Apa itu Cape Town Convention

    01/20/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.