4 – 6 September 2026
Pangandaran kembali bersiap menyambut sebuah perhelatan yang menarik perhatian dunia penerbangan sekaligus masyarakat luas. Pangandaran Airshow 2026, akan diselenggarakan pada 4–6 September 2026 di Susi Air Beach Strip, Pangandaran, Jawa Barat. Setelah penyelenggaraan Pangandaran Airshow 2025 yang mendapat sambutan luas masyarakat dan diikuti sekitar 60 pesawat dari berbagai jenis dan tipe, kegiatan ini kembali dihadirkan dengan semangat menjadikan Pangandaran sebagai salah satu destinasi wisata dirgantara di Indonesia. Penyelenggaraan ini tidak dapat dilepaskan dari peran Susi Air yang menjadikan Pangandaran sebagai salah satu basis penting kegiatan penerbangan dan general aviation. Pada penyelenggaraan 2025, Pangandaran Airshow juga menjadi bagian dari peringatan Hari Dirgantara Nasional sekaligus menandai dua dekade perjalanan Susi Air dalam membangun konektivitas penerbangan, khususnya melalui penerbangan perintis ke berbagai wilayah 3T. Dengan demikian, Pangandaran Airshow sesungguhnya memiliki latar belakang yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan pesawat di langit. Ia merupakan pertemuan antara penerbangan, pariwisata, ekonomi daerah, pendidikan dirgantara, teknologi, dan semangat membangun budaya kedirgantaraan Indonesia. Edisi 2026 bahkan dirancang selama tiga hari dengan menampilkan berbagai jenis pesawat, aerial display, static display, formation flight dan sunset fly-past, menjadikan kawasan pantai Pangandaran sebagai panggung terbuka tempat laut bertemu dengan langit.
Di banyak negara, pertunjukan udara telah berkembang menjadi bagian dari industri kreatif, pariwisata, pendidikan, diplomasi, bahkan strategi membangun kesadaran masyarakat terhadap teknologi dan kekuatan udara. Air show mempertemukan berbagai dunia sekaligus. Penerbangan sipil, militer, industri dirgantara, komunitas penerbang, pendidikan, UMKM, pariwisata, dan masyarakat umum. Di sinilah Pangandaran Air Show dapat menemukan maknanya yang lebih besar.
Membangkitkan kembali budaya dirgantara
Indonesia adalah negara kepulauan yang secara geografis sangat luas. Laut memang menjadi penghubung antarpulau, tetapi udara memberikan dimensi lain yang tidak kalah penting. Kemampuan manusia untuk terbang telah mengubah cara kita memandang jarak, ruang, dan waktu. Sayangnya, budaya dirgantara belum selalu mendapatkan tempat yang sebanding dengan besarnya potensi Indonesia sebagai negara kepulauan. Anak-anak Indonesia mengenal pesawat sebagai alat transportasi. Sebagian mengenalnya melalui pesawat tempur yang sesekali muncul dalam berita atau parade. Tetapi berapa banyak yang benar-benar memahami bahwa dunia penerbangan mencakup begitu banyak bidang. Aerodinamika, navigasi, meteorologi, keselamatan penerbangan, teknologi avionik, penginderaan jauh, satelit, drone, hingga industri pesawat terbang.
Air show dapat menjadi pintu masuk yang sangat efektif.
Seorang anak yang melihat pesawat aerobatik bermanuver di langit mungkin pada awalnya hanya merasa kagum. Tetapi kekaguman itu dapat menjadi pertanyaan. Bagaimana pesawat bisa terbang? Bagaimana pilot mengendalikannya? Bagaimana pesawat dapat bermanuver seperti itu? Bagaimana Indonesia membuat pesawat sendiri? Dari sebuah pertunjukan, bisa tumbuh rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu, lahir pembelajaran. Dan dari pembelajaran, mungkin muncul generasi baru insinyur, pilot, teknisi, peneliti, atau bahkan astronaut Indonesia. Inilah nilai pendidikan yang sering kali tidak terlihat dalam sebuah air show.
Dari tontonan menuju diplomasi
Ada dimensi lain yang tidak kalah menarik yakni diplomasi. Indonesia adalah negara yang secara geografis berada di tengah kawasan Indo-Pasifik. Dunia penerbangan dan kekuatan udara merupakan bagian penting dari dinamika kawasan ini. Pangandaran Air Show, apabila dikembangkan secara lebih besar pada masa mendatang, dapat menjadi ruang pertemuan komunitas penerbangan nasional dan internasional. Tim aerobatik, pilot sipil, industri penerbangan, akademisi, komunitas aviasi, dan berbagai institusi dapat bertemu dalam suasana yang relatif cair dan terbuka. Diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang konferensi dengan meja panjang dan bendera negara. Kadang-kadang diplomasi justru berlangsung di apron, di hanggar, di ruang pameran, atau sambil menikmati kopi setelah menyaksikan pesawat melakukan manuver di langit. Pangandaran dapat menjadi salah satu wajah soft power Indonesia melalui dunia dirgantara.
Air power bukan hanya pesawat tempur
Ada satu hal yang juga perlu dipahami oleh masyarakat luas. Ketika berbicara mengenai kekuatan udara, perhatian kita sering langsung tertuju kepada pesawat tempur. Padahal air power jauh lebih luas. Ia mencakup kemampuan suatu bangsa untuk memanfaatkan ruang udara bagi kepentingan nasional. Transportasi, komunikasi, ekonomi, pertahanan, keamanan, penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan, pemantauan lingkungan, hingga konektivitas antarwilayah. Karena itu, Pangandaran Air Show dapat menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa dunia penerbangan Indonesia bukan hanya tentang pesawat yang terbang cepat. Di dalamnya ada manusia, teknologi, disiplin, keselamatan, ilmu pengetahuan, dan kebanggaan nasional. Dan mungkin inilah pesan paling penting yang dapat kita bawa dari sebuah air show: langit bukan sekadar ruang kosong di atas kepala kita. Langit adalah ruang strategis yang harus dipahami, dimanfaatkan, dan dijaga. Semoga dari langit Pangandaran nanti tidak hanya lahir decak kagum ketika pesawat melintas dengan kecepatan tinggi. Semoga dari sana juga tumbuh rasa cinta terhadap dunia dirgantara, kebanggaan terhadap kemampuan anak bangsa, dan inspirasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi lebih tinggi. Pangandaran memiliki kesempatan untuk membangun sebuah identitas baru: destinasi wisata bahari sekaligus destinasi wisata dirgantara.
Jakarta 26 Agustus 2026
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia
