Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»“Jejak Abdul Hakim dalam Sejarah Pers Nasional”
    Article

    “Jejak Abdul Hakim dalam Sejarah Pers Nasional”

    Chappy HakimBy Chappy Hakim08/15/2026No Comments6 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Buku “ABDUL HAKIM: Wartawan Antara, Dalam Kenangan Anak Cucu”  adalah sebuah biografi personal yang disusun oleh putra sang tokoh, Budiman Hakim. Buku setebal 270 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2020. Keistimewaan buku ini terletak pada sudut pandangnya yang unik.   Biografi yang tidak  ditulis oleh sejarawan atau peneliti. Buku ini merupakan kumpulan kenangan dan kesaksian langsung dari para anggota keluarga mulai dari anak, menantu, hingga cucu yang dengan penuh hormat mengenang sosok Abdul Hakim sebagai seorang ayah, suami dan kakek di balik peran besarnya sebagai salah satu pendiri  Yayasan Kantor Berita Nasional Antara.  Dalam perkembangannya, kini lebih di kenal dengan nama Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (LKBN Antara)

    Ada kalanya sejarah tidak cukup diceritakan melalui tanggal, peristiwa, dan nama-nama besar. Sejarah menjadi lebih hidup ketika kita melihat manusia yang berada di baliknya. Melihat dari bagaimana ia menjalani kehidupan, membangun keluarga, menghadapi tekanan, mempertahankan prinsip, dan mewariskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Perspektif semacam itulah yang terasa kuat dalam buku ABDUL HAKIM, Wartawan Antara, Dalam Kenangan Anak Cucu, yang disusun oleh Budiman Hakim.  Buku ini bukanlah biografi konvensional yang semata-mata menempatkan Abdul Hakim sebagai tokoh dalam sejarah pers Indonesia. Buku ini justru menghadirkan sosok Abdul Hakim melalui kesaksian dan kenangan anak, menantu, serta cucu-cucunya. Karena itu, yang tampil bukan hanya seorang wartawan dan pejuang pers, melainkan seorang ayah, suami, dan kakek, seorang manusia dengan segala keteguhan, kelembutan, kebiasaan, dan  lika liku pengalaman hidupnya.

    Gagasan penerbitan buku ini berangkat dari keinginan keluarga, terutama anak-anak Abdul Hakim, untuk mengabadikan kenangan sekaligus menyampaikan rasa terima kasih kepada sosok yang telah membentuk kehidupan mereka. Ada kesadaran bahwa kenangan keluarga, betapapun kuatnya, pada akhirnya dapat memudar apabila tidak didokumentasikan. Buku ini kemudian menjadi semacam ruang bersama bagi anak dan cucu untuk mengenang, merefleksikan, sekaligus meneruskan nilai-nilai yang mereka pernah terima dari sang ayah dan kakek.

    Sosok Ayah di Balik Seorang Tokoh Sejarah

    Dalam catatan sejarah pers Indonesia, Abdul Hakim dikenal sebagai Redaktur Pertama Kantor Berita ANTARA. Buku ini juga mengangkat sejarah awal berdirinya ANTARA pada 13 Desember 1937 bersama tokoh-tokoh seperti Adam Malik dan Soemanang. Perjalanan tersebut berlangsung dalam suasana kolonial yang penuh tekanan. Aktivitas jurnalistik bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari perjuangan membangun kesadaran kebangsaan.  Menjadi menarik, karena buku ini tidak berhenti pada posisi Abdul Hakim sebagai tokoh pers. Melalui tulisan anak-anaknya, pembaca diajak memasuki kehidupan pribadinya. Salah satu ungkapan yang sederhana tetapi sangat membekas adalah pujian khas seorang ayah.   “Heibatt!”  Satu kata pendek, tetapi bagi anak-anaknya menjadi kenangan yang melekat dan menggambarkan cara Abdul Hakim memberikan penghargaan serta dorongan kepada keluarganya.

    Kisah kehidupannya juga tidak selalu berjalan mulus. Abdul Hakim pernah mengalami penangkapan dan pembuangan oleh pemerintah kolonial. Bahkan dalam perjalanan hidupnya kemudian, ia mengalami apa yang oleh keluarga disebut sebagai “pensiun paksa” dari  Kantor Berita ANTARA. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan perbedaan pandangan politik dan situasi politik Indonesia yang sangat tajam pada masa itu.  Bagian ini menjadi salah satu sisi penting buku karena memperlihatkan bahwa sejarah tidak selalu berlangsung dalam garis lurus. Seorang yang pernah ikut membangun sebuah institusi penting bagi bangsa pun dapat mengalami tersingkir dari lingkungan yang telah dibangunnya sendiri. Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana Abdul Hakim menyikapi pengalaman tersebut.

    Keteguhan Prinsip dan Keluhuran Sikap

    Salah satu pelajaran paling menarik dari kisah Abdul Hakim adalah kemampuannya untuk tetap menjaga hubungan kemanusiaan dengan orang-orang yang berbeda pandangan politik, bahkan dengan mereka yang pernah menjadi lawan atau pihak yang menyakitinya.  Di tengah sejarah politik Indonesia yang penuh konflik dan polarisasi, sikap semacam ini mempunyai makna yang sangat dalam. Abdul Hakim menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak harus menghapus persahabatan dan hubungan antarmanusia. Ia mampu memisahkan persoalan prinsip dengan persoalan pribadi. Keteladanan tersebut menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar cerita tentang karier. Anak-anaknya tidak hanya mewarisi nama dan sejarah seorang tokoh, tetapi juga memperoleh pelajaran tentang bagaimana seseorang harus berdiri teguh pada keyakinannya tanpa kehilangan kemampuan untuk  tetap menghormati orang lain.  Dalam konteks kehidupan sekarang, nilai tersebut terasa semakin relevan. Ketika perbedaan pilihan politik sering dengan mudah berubah menjadi permusuhan pribadi, pengalaman Abdul Hakim mengingatkan bahwa integritas tidak identik dengan kebencian terhadap mereka yang berbeda. Seseorang dapat teguh memegang prinsip sekaligus tetap menjaga persahabatan dan kemanusiaan.

    Sejarah yang Diceritakan dari Dalam Rumah

    Kekuatan lain buku ini terletak pada keberagaman penulisnya. Kisah Abdul Hakim dituturkan oleh anak-anaknya, Bachrul, Chappy, Rusman, Alan, Thursan, Budiman dan  Nurmayulis serta oleh para menantu dan cucu. Setiap orang membawa ingatan dan pengalaman yang berbeda-beda. Sosok Abdul Hakim tidak tampil sebagai figur yang seragam. Ia muncul dalam berbagai warna: sebagai ayah yang tegas, pribadi yang penuh perhatian, tokoh yang disiplin, wartawan yang memiliki prinsip, sekaligus manusia yang mengalami kegembiraan, kekecewaan, perjuangan, dan berbagai pergulatan hidup. Pendekatan seperti ini membuat buku terasa dekat dengan pembaca. Detail-detail kehidupan sehari-hari justru menjadi kekuatan utama. Pembaca seolah diajak masuk ke dalam rumah keluarga Abdul Hakim dan menyaksikan bagaimana seorang tokoh sejarah menjalani kehidupan yang sangat manusiawi. Di sinilah buku ini memiliki kelebihan dibandingkan biografi formal. Biografi formal biasanya menjelaskan apa yang dilakukan seseorang, sedangkan buku ini juga berusaha menjawab pertanyaan yang lebih personal tentang siapakah orang itu ketika ia berada di rumah, bersama anak dan keluarganya?

    Warisan yang Lebih Panjang daripada Karier

    Buku ABDUL HAKIM Wartawan Antara, Dalam Kenangan Anak Cucu bukan sekadar buku tentang seorang wartawan atau  bercerita tentang sejarah berdirinya ANTARA. Buku ini adalah dokumentasi tentang warisan nilai dalam sebuah keluarga.  Dari kisah-kisah yang dituturkan, terlihat bahwa keberhasilan seorang ayah tidak hanya dapat diukur dari jabatan, prestasi, atau kedudukan yang pernah dicapainya. Warisan yang sesungguhnya justru terletak pada karakter yang ditanamkan kepada anak-anaknya: keteguhan memegang prinsip, keberanian menghadapi kesulitan, disiplin, integritas, kemampuan menghargai orang lain, serta  terutama sekali tentang kasih sayang kepada keluarga.  Buku ini sekaligus memperlihatkan bahwa di balik seorang tokoh yang tercatat dalam sejarah nasional, selalu terdapat sisi manusiawi yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam buku-buku sejarah. Ada keluarga yang menyaksikan perjuangannya dari dekat, merasakan suka dukanya, dan kemudian membawa nilai-nilai tersebut ke generasi berikutnya.

    Karena itu, buku ini layak dibaca bukan hanya oleh mereka yang tertarik pada sejarah pers Indonesia dan perjalanan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga oleh siapa saja yang ingin memahami arti sebuah keluarga dan pentingnya meninggalkan warisan moral kepada generasi penerus.  Warisan terbaik seorang ayah bukanlah semata-mata nama besar yang ditinggalkannya, melainkan nilai kehidupan yang terus hidup dalam diri anak-anak dan cucu-cucunya. Dalam pengertian itulah buku ini menjadi lebih dari sekadar kenangan. Ia adalah sebuah penghormatan keluarga kepada seorang ayah, sekaligus sebuah cara sederhana namun bermakna untuk memastikan bahwa perjuangan, keteladanan, dan nilai-nilai kehidupan Abdul Hakim tidak berhenti bersama perjalanan hidupnya, tetapi terus dikenang dan diwariskan kepada generasi sesudahnya.  Itulah semua Jejak Abdul Hakim dalam sejarah Pers Nasional.

    Jakarta 11 Agustus 2026

    Chappy Hakim

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleLatihan Militer China-Indonesia di Dekat Taiwan, Provokasi atau Kerja Sama Maritim?
    Next Article Kanaan
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Renungan tentang TNI

    08/15/2026
    Article

    Konflik AS – Iran Semakin Tidak Jelas

    08/15/2026
    Article

    Kanaan

    08/15/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.