
Yogyakarta selalu memiliki tempat yang sangat khusus dalam perjalanan hidup saya. Di kota inilah saya dilahirkan pada 17 Desember 1947. Tanggal kelahiran itu bagi saya kemudian terasa memiliki makna tersendiri, karena 44 tahun sebelumnya, tepat pada 17 Desember 1903, Wright Brothers untuk pertama kalinya menerbangkan pesawat terbang bermesin di Kitty Hawk, North Carolina. Peristiwa bersejarah itu menandai lahirnya era penerbangan modern dunia.
Saya tentu tidak pernah merancang hidup saya berdasarkan kebetulan tanggal tersebut. Namun dalam perjalanan waktu, saya sering merenungkannya sebagai sebuah korelasi simbolik yang indah. Saya lahir pada tanggal yang sama dengan hari lahirnya penerbangan modern. Mungkin karena itu pula, tanpa pernah saya sadari sejak awal, garis hidup saya kemudian begitu erat bersentuhan dengan dunia dirgantara, penerbangan, dan pengabdian di Angkatan Udara.
Meskipun lahir di Yogyakarta, masa kecil hingga remaja saya lebih banyak saya jalani di Jakarta. Dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas, semuanya saya tempuh di Jakarta. Kota itu menjadi ruang tumbuh saya, tempat saya mengenal kehidupan, pendidikan, pergaulan, dan dinamika masa muda. Namun Yogyakarta tetap memiliki makna yang berbeda. Ia bukan sekadar kota kelahiran, melainkan titik awal dari seluruh perjalanan panjang yang kemudian membawa saya kembali berkali-kali ke kota itu dalam peran dan tanggung jawab yang berbeda.

Tahun 1969, saya kembali ke Yogyakarta sebagai taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bagian Udara. Di kota inilah saya ditempa, dididik, dan dibentuk untuk memasuki dunia pengabdian sebagai prajurit Angkatan Udara. Dari tahun 1969 sampai 1973, Yogyakarta bukan lagi hanya kota kelahiran, melainkan menjadi kawah candradimuka. Di Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang Angkatan Udara, saya belajar tentang disiplin, kehormatan, tanggung jawab, keteguhan hati, persaudaraan, serta arti menjadi seorang perwira penerbang Angkatan Udara.
Masa pendidikan sebagai taruna bukanlah masa yang mudah. Tetapi justru di situlah letak nilainya. Seorang taruna tidak hanya diajari ilmu pengetahuan dan keterampilan militer. Ia dibentuk kepribadiannya. Ia ditempa fisiknya. Ia diuji mentalnya. Ia dilatih untuk memahami bahwa kehidupan seorang perwira bukanlah kehidupan yang berpusat pada diri sendiri, melainkan kehidupan yang diikat oleh tugas, kehormatan, dan pengabdian. Di Yogyakarta, saya mulai memahami bahwa menjadi prajurit Angkatan Udara berarti memasuki dunia yang menuntut keberanian, kecerdasan, ketelitian, kejujuran dan kesetiaan kepada bangsa dan negara.
Perjalanan waktu kemudian membawa saya kembali ke Yogyakarta dalam peran yang berbeda. Pada tahun 1992 hingga 1994, saya mendapat amanah sebagai Komandan Wing Taruna Akademi Angkatan Udara. Beberapa tahun kemudian, dari 1997 hingga 1999, saya kembali bertugas sebagai Gubernur Akademi Angkatan Udara. Pada masa-masa itu, saya tidak lagi berdiri sebagai taruna yang dididik, tetapi sebagai bagian dari lembaga yang ikut membentuk generasi penerus TNI Angkatan Udara.
Tugas sebagai Komandan Wing Taruna dan kemudian sebagai Gubernur AAU bukan sekadar jabatan struktural. Bagi saya, itu adalah kehormatan besar. Akademi adalah tempat pembentukan manusia. Di sana seorang calon perwira tidak cukup hanya dibuat pintar. Ia harus dibentuk menjadi pribadi yang berkarakter, berintegritas, berdisiplin, dan memiliki kesadaran bahwa pangkat perwira adalah amanah. Dalam lingkungan akademi, pendidikan bukan hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lapangan apel, di barak, di ruang makan, di tempat latihan, dalam tradisi korps, dan dalam setiap interaksi antara pengasuh, dosen, pelatih, dan taruna.
Karena itulah, setiap kali saya kembali ke AAU, yang saya lihat bukan hanya gedung, lapangan, dan fasilitas pendidikan. Saya melihat sejarah. Saya melihat kenangan. Saya melihat wajah-wajah muda yang pernah datang dengan semangat, harapan, dan kegelisahan, lalu perlahan-lahan tumbuh menjadi perwira. Saya melihat proses panjang pembentukan manusia Indonesia yang kelak memikul tanggung jawab besar di lingkungan TNI Angkatan Udara dan bangsa Indonesia.
Kemarin, 7 Juli 2026, saya kembali lagi ke kampus Akademi Angkatan Udara. Kali ini suasananya berbeda, tetapi rasa yang saya bawa tetap sama yakni rasa cinta, hormat, dan keterikatan batin yang dalam. Saya hadir untuk memberikan ceramah pembekalan kepada para Taruna Calon Perwira yang insyaallah akan dilantik bulan depan. Berdiri kembali di lingkungan AAU, melihat wajah-wajah muda calon perwira, saya seperti menyaksikan kembali potongan panjang perjalanan hidup sendiri.
Dalam kesempatan kembali ke kampus AAU tersebut, saya juga membagikan buku-buku karya saya kepada setiap Taruna Calon Perwira yang akan segera dilantik. Bagi saya, pemberian buku itu bukan sekadar cendera mata, melainkan titipan pemikiran, pengalaman, dan harapan agar para perwira muda terus membangun tradisi membaca, berpikir, dan menulis. Selain itu, saya juga menyerahkan sejumlah buku karya saya untuk Perpustakaan AAU serta Perpustakaan Museum Dirgantara Yogyakarta, dengan harapan dapat menjadi bagian kecil dari upaya memperkaya literasi kedirgantaraan, sekaligus menjaga kesinambungan pengetahuan antara generasi terdahulu dan generasi penerus Angkatan Udara.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali ke tempat yang telah begitu banyak membentuk dirinya. Setiap sudut kampus seakan menyimpan gema masa lalu. Ada ingatan tentang masa sebagai taruna. Ada ingatan tentang masa membina taruna. Ada pula rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk kembali dan berbagi pengalaman dengan generasi baru. Dalam usia dan perjalanan hidup yang telah jauh berjalan, kembali ke AAU bukan hanya kunjungan biasa. Ia adalah perjumpaan kembali dengan jejak pengabdian.
Yang sangat membesarkan hati adalah melihat kampus AAU yang kini semakin baik, semakin tertata, semakin bersih, dan semakin membanggakan. Perubahan fisik itu penting, karena lingkungan pendidikan yang baik mencerminkan keseriusan lembaga dalam membentuk generasi penerus. Tetapi lebih dari sekadar kebersihan dan kerapian, saya merasakan adanya semangat untuk terus menjaga marwah akademi sebagai lembaga pendidikan perwira Angkatan Udara. AAU tetap berdiri sebagai tempat pembentukan karakter, tempat menyemai nilai, dan tempat membangun kesiapan calon perwira menghadapi tuntutan zaman yang terus berubah.
Pertemuan dengan Gubernur AAU dan jajaran civitas akademika menghadirkan nostalgia yang sangat manis. Sebagian besar dari mereka ternyata adalah mantan murid saya ketika saya menjabat sebagai Komandan Wing Taruna dan Gubernur AAU puluhan tahun yang lalu. Waktu telah berjalan begitu jauh. Para taruna yang dahulu saya lihat berbaris, berlatih, belajar, dan ditempa dalam disiplin akademi, kini telah menjadi para perwira senior yang memimpin, mengajar, mengasuh, dan membina generasi baru.
Di titik itu terasa betapa indahnya kesinambungan pengabdian. Ada rasa haru yang tidak berlebihan, tetapi sangat nyata. Seorang guru, pelatih, pengasuh, atau komandan akan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak didiknya tumbuh, matang, dan kemudian kembali memikul tanggung jawab untuk mendidik generasi berikutnya. Dalam tradisi militer, kesinambungan seperti itu memiliki makna yang dalam. Ia bukan sekadar hubungan masa lalu antara senior dan junior. Ia adalah mata rantai nilai yang bergulir menjelajah waktu.
Akademi bukan sekadar bangunan, lapangan apel, ruang kelas, barak taruna, atau fasilitas latihan. Akademi adalah sebuah mata rantai pengabdian. Ia menyambungkan pengalaman dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia menyambungkan disiplin, kejujuran, kehormatan, keberanian, dan rasa tanggung jawab. Ia menyambungkan cita-cita para pendahulu dengan harapan generasi baru. Di dalam akademi, nilai-nilai tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi diwariskan melalui keteladanan, kebiasaan, tradisi, dan pengalaman hidup bersama.
Bagi saya, kembali ke AAU bukan hanya kembali ke sebuah kampus. Ia adalah kembali ke sebuah lingkaran panjang kehidupan. Dari Yogyakarta tempat saya lahir, ke Yogyakarta tempat saya dididik sebagai taruna, lalu ke Yogyakarta tempat saya pernah diberi amanah mendidik taruna, dan kini kembali lagi untuk berbagi pesan kepada calon perwira muda. Semua itu seakan membentuk satu perjalanan yang utuh. Hidup memang sering membawa seseorang pergi jauh, tetapi ada tempat-tempat tertentu yang selalu memanggilnya pulang, bukan secara fisik semata, melainkan secara batin.

Kepada para Taruna Calon Perwira, saya menitipkan pesan sederhana. Pelantikan sebagai perwira bukanlah akhir dari pendidikan. Ia justru merupakan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Seorang perwira tidak boleh hanya bangga pada pangkat, seragam, dan tanda jabatan. Seorang perwira harus memahami bahwa kehormatan sejati terletak pada integritas, kemampuan mengambil keputusan, keberanian moral, dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Country Before Self !
Menjadi perwira Angkatan Udara juga berarti hidup dalam dunia yang sangat menuntut. Dunia dirgantara tidak memberi banyak ruang bagi kelalaian. Penerbangan menuntut ketelitian. Operasi udara menuntut disiplin. Teknologi menuntut pembelajaran yang tidak pernah berhenti. Dan kepemimpinan menuntut kematangan jiwa. Karena itu, calon perwira harus membangun dirinya bukan hanya sebagai prajurit yang tangguh, tetapi juga sebagai manusia pembelajar. Ia harus membaca, berpikir, berdialog, memahami perkembangan teknologi, mencermati perubahan geopolitik, dan menyadari bahwa kekuatan udara pada masa depan akan semakin menentukan posisi strategis sebuah bangsa.
Dalam konteks itulah, dunia dirgantara harus dipahami secara lebih luas. Ia bukan hanya soal pesawat terbang, pangkalan udara, radar, atau sistem persenjataan. Dirgantara adalah ruang strategis. Ia menyangkut kedaulatan, keamanan, ekonomi, teknologi, konektivitas, ilmu pengetahuan, dan masa depan kehidupan manusia. Sejak Wright Brothers menerbangkan pesawat pertama pada 17 Desember 1903, dunia tidak pernah sama lagi. Jarak menjadi lebih pendek, peradaban bergerak lebih cepat, perang berubah bentuk, perdagangan meluas, dan manusia mulai melihat langit bukan lagi sebagai batas, melainkan sebagai ruang kemungkinan.
Maka, ketika saya merenungkan tanggal kelahiran saya, 17 Desember 1947, dan menghubungkannya dengan 17 Desember 1903 di Kitty Hawk, saya melihatnya bukan sebagai klaim istimewa, melainkan sebagai pengingat pribadi. Pengingat bahwa hidup saya ternyata berada dalam orbit yang sangat dekat dengan dunia penerbangan dan kedirgantaraan. Dari seorang anak yang lahir di Yogyakarta, kemudian tumbuh di Jakarta, lalu kembali ke Yogyakarta sebagai taruna, menjadi penerbang, menjadi perwira, menjadi pemimpin di lingkungan pendidikan Angkatan Udara, hingga akhirnya terus menulis, berbicara, dan berdiskusi tentang air power, semuanya seperti tersambung oleh satu benang merah.
Benang merah itu adalah pengabdian kepada dunia dirgantara Indonesia. Pengabdian itu tidak selalu berbentuk penugasan aktif. Ia juga dapat hadir dalam bentuk pemikiran, tulisan, pendidikan, dan dialog. Karena itu, sejak tahun 2019, empat belas tahun setelah saya pensiun dari TNI Angkatan Udara, saya mendirikan Pusat Studi Air Power Indonesia. Lembaga ini saya maksudkan sebagai wadah belajar bersama antara akademisi dan praktisi dirgantara.
Pusat Studi Air Power Indonesia lahir dari keyakinan bahwa kekuatan udara tidak boleh hanya dipahami secara teknis dan operasional. Air power harus dikaji secara ilmiah, historis, strategis, dan kebangsaan. Pengalaman para praktisi perlu dipertemukan dengan ketajaman analisis para akademisi. Dunia kampus perlu berdialog dengan dunia operasi. Teori perlu diuji oleh pengalaman lapangan, dan pengalaman lapangan perlu diperkaya oleh kajian ilmiah. Hanya dengan cara itu pemahaman bangsa tentang kekuatan udara dapat tumbuh secara lebih utuh.
Melalui wadah itu, saya berharap kesadaran tentang arti penting dirgantara Indonesia dapat terus diperluas. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas. Dalam konfigurasi geografis seperti itu, ruang udara bukan sekadar ruang lintas penerbangan, melainkan bagian dari kedaulatan nasional dan instrumen strategis pemersatu bangsa. Masa depan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kemampuan bangsa ini memahami, menguasai, mengelola, dan mempertahankan ruang udaranya sendiri.
Karena itulah, bagi saya, pengabdian tidak pernah benar-benar selesai ketika seragam dilepas. Seragam boleh berhenti dikenakan, jabatan boleh berganti, dan masa dinas aktif boleh berakhir. Tetapi tanggung jawab moral kepada bangsa, kepada generasi muda, dan kepada dunia dirgantara tetap berjalan. Ia berganti bentuk menjadi tulisan, ceramah, diskusi, pendidikan, dan usaha membangun kesadaran publik.
Yogyakarta telah menjadi saksi dari begitu banyak babak dalam perjalanan hidup saya. Di kota itu saya lahir. Di kota itu saya ditempa sebagai taruna. Di kota itu saya pernah diberi amanah membina taruna. Dan di kota itu pula, pada 7 Juli 2026, saya kembali berdiri di hadapan Taruna Calon Perwira untuk berbagi pengalaman dan menitipkan harapan. AAU dengan segala kenangan, nilai, dan tradisinya tetap menjadi salah satu tempat paling penting dalam perjalanan pengabdian saya.
Kembali ke kampus kemarin bukan sekadar nostalgia. Ia adalah perjumpaan kembali dengan masa lalu, dengan murid-murid yang kini telah menjadi pemimpin, dengan lembaga yang terus tumbuh, dan dengan harapan baru yang terpancar dari wajah para calon perwira muda. Sungguh, sebuah nostalgia yang manis. Sebuah pengingat bahwa pengabdian tidak berhenti pada satu masa, satu jabatan, atau satu generasi. Ia terus mengalir, berganti bentuk, berganti medan, dan berganti penerus, tetapi tetap berjalan dalam satu garis lurus: mencintai bangsa, menjaga kehormatan, dan mengabdi kepada Indonesia.
Dan bagi saya pribadi, garis itu seolah telah dimulai sejak tanggal kelahiran saya sendiri, 17 Desember, tanggal yang juga menandai lahirnya era penerbangan modern dunia. Dari Kitty Hawk ke Yogyakarta, dari Wright Brothers ke dunia dirgantara Indonesia, dari taruna muda hingga kembali ke kampus sebagai seorang purnawirawan, semuanya memberi satu pesan yang sama: langit bukan sekadar ruang di atas kepala kita. Langit adalah masa depan, dan kepada masa depan itulah generasi penerus Angkatan Udara harus menatap dengan keberanian, kecerdasan, dan kehormatan.
Pada akhirnya, rentang panjang perjalanan hidup saya memang banyak dihabiskan di Yogyakarta, kota tempat saya dilahirkan, kota tempat saya ditempa, dan kota yang juga menjadi tempat lahirnya Angkatan Udara Republik Indonesia, sebuah kota yang bukan hanya menyimpan kenangan pribadi, tetapi juga merekam jejak sejarah pengabdian dirgantara bangsa. Saya selalu terobsesi dengan Kedirgantaraan adalah masa depan umat manusia. Nenek Moyangku Orang Pelaut – Anak Cucuku Insan Dirgantara, Sayap pelindung Ibu Pertiwi dan penjaga Bapak Angkasa !

Salam Swa Bhuana Paksa
Jakarta 8 Juli 2026
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia

