Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Minggu yang Padat, Pikiran yang Tetap Menyala
    Article

    Minggu yang Padat, Pikiran yang Tetap Menyala

    Chappy HakimBy Chappy Hakim05/18/2026No Comments6 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Ada kalanya minggu-minggu tertentu dalam kehidupan yang terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Kalender  seakan tampak penuh, undangan datang silih berganti, dan setiap pertemuan menghadirkan ruang diskusi baru yang memperkaya wawasan. Minggu lalu adalah salah satu di antaranya. Di sela-sela aktivitas akademik sebagai mahasiswa program doktoral, saya berkesempatan menghadiri dan berpartisipasi dalam sejumlah forum penting yang masing-masing memiliki makna tersendiri yang sangat berbeda satu dengan lainnya.

    Bagi saya, kesibukan seperti ini bukan sekadar rutinitas menghadiri acara. Setiap forum merupakan kesempatan untuk bertukar gagasan, memperluas perspektif, dan menjaga keterlibatan intelektual terhadap isu-isu strategis yang sedang berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dalam usia dan perjalanan karier yang telah cukup panjang, saya semakin menyadari bahwa aktivitas berpikir dan berdialog adalah bagian penting dari upaya menjaga semangat hidup agar tetap menyala.

    Minggu yang lalu menjadi contoh nyata bagaimana dunia akademik, diplomasi, media, dan literasi dapat bertemu dalam satu rentang waktu yang relatif sangat singkat.  Pada pagi hari tanggal 6 Mei 2026, saya mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Indonesian Council on World Affairs (ICWA), lembaga kajian strategis di bawah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Forum tersebut membahas perkembangan konflik di Timur Tengah, sebuah kawasan yang selalu menjadi pusat perhatian dunia karena kompleksitas politik, sejarah, dan kepentingan geopolitik yang saling bertaut.  Dalam diskusi itu saya berbagi panggung dengan Nasir Tamara, seorang intelektual yang telah lama mengikuti dinamika politik global. Bersama beliau, kami mendiskusikan bagaimana eskalasi konflik di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga memengaruhi tatanan internasional secara lebih luas.  Konflik Timur Tengah selalu menjadi laboratorium geopolitik yang memperlihatkan interaksi antara kekuatan besar dunia, rivalitas regional, dan kepentingan ekonomi, terutama yang berkaitan dengan energi. Dalam forum itu kami juga menyoroti bagaimana negara-negara berkembang seperti Indonesia perlu memiliki kemampuan membaca situasi global dengan jernih, agar dapat merumuskan kebijakan luar negeri yang konsisten dan berlandaskan kepentingan nasional.

    Usai diskusi di ICWA, agenda hari itu belum selesai. Siang hingga petang saya menghadiri acara peluncuran buku memoar karya Ninok Leksono yang berjudul Semar Bermalam di Kapal Induk di Kompas Gramedia, Menara Kompas. Saya merasa terhormat diundang langsung oleh Pak Ninok untuk menjadi salah satu pembahas. Turut hadir pula sejumlah tokoh yang memiliki reputasi nasional, antara lain James Luhulima, Najwa Shihab, dan Jaya Suprana yang juga tampil sebagai pembahas. Buku Semar Bermalam di Kapal Induk bukan sekadar memoar seorang wartawan. Ia adalah catatan perjalanan intelektual yang memperlihatkan bagaimana seorang jurnalis menyaksikan berbagai peristiwa penting, menafsirkan realitas, dan menuangkannya dalam narasi yang kaya makna. Judul buku yang unik mengandung nuansa simbolik: Semar, tokoh bijak dalam pewayangan Jawa, ditempatkan di atas kapal induk, simbol kekuatan modern dan teknologi militer mutakhir.  Perjumpaan simbolik antara kearifan lokal dan kekuatan global itu mengundang refleksi mendalam tentang bagaimana bangsa Indonesia seharusnya memandang dunia: tetap berakar pada budaya sendiri, namun tidak menutup mata terhadap perubahan zaman.

    Keesokan harinya, 7 Mei 2026, saya kembali mendapatkan kesempatan yang sangat berarti, yakni meluncurkan buku terbaru saya berjudul National Air Power: Belajar dari Perang Iran–Amerika Serikat di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta. Buku ini lahir dari keinginan untuk memperkaya literatur strategis Indonesia, khususnya di bidang kekuatan udara nasional. Konsep national air power menegaskan bahwa kekuatan udara bukan hanya persoalan pesawat tempur dan teknologi pertahanan, melainkan juga menyangkut industri, sumber daya manusia, kebijakan nasional, diplomasi, dan visi geopolitik bangsa. Dalam peluncuran buku tersebut, saya merasa sangat beruntung karena dua kolega turut memberi warna. Nasir Tamara kembali hadir sebagai pembahas, sementara Tascha Liudmila, anak saya sendiri yang memandu jalannya diskusi dengan cerdas dan dinamis. Diskusi berlangsung hangat dan penuh substansi. Para peserta menunjukkan antusiasme besar terhadap pentingnya pembangunan kekuatan udara nasional di tengah perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks. Ketegangan di Timur Tengah, rivalitas antarnegara besar, dan perkembangan teknologi militer mutakhir memberikan pelajaran berharga bahwa kedaulatan nasional memerlukan kemampuan untuk menguasai ruang udara secara efektif. Buku ini saya tulis dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pemikiran strategis Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kebutuhan mutlak untuk membangun air power yang andal, terintegrasi, dan sesuai dengan kepentingan nasional.  Bersukur acara yang di dukung penuh oleh President Club, President University, Manajemen Jababeka dan  Penerbit Yayasan Pustaka Obor bekerjasama dengan Pusat Studi Air Power Indonesia berlangsung lancar dan sukses.

    Di tengah kebahagiaan atas peluncuran buku tersebut, saya juga menyimpan sedikit penyesalan. Pada waktu yang hampir bersamaan, dua sahabat saya juga meluncurkan karya mereka. Yang pertama adalah teman jurnalis saya Suryopratomo, mantan duta besar RI di Singapura,  meluncurkan buku berjudul Panggil Saya Tommy. Saya sungguh menyesal tidak dapat hadir secara langsung untuk memberikan dukungan. Saya yakin buku tersebut memuat banyak kisah dan pelajaran berharga dari perjalanan panjang beliau di dunia jurnalistik dan diplomasi khususnya.

    Yang kedua adalah sobat penerbangan saya Denon Prawiraatmadja, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), yang meluncurkan buku The Unseen Rules of Business. Judulnya saja sudah menggugah rasa ingin tahu, karena dunia bisnis memang sering kali digerakkan oleh prinsip-prinsip tak tertulis yang hanya dipahami oleh mereka yang telah mengalami langsung dinamika lapangan.

    Meski tidak sempat hadir, saya menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada kedua sahabat tersebut. Menulis dan menerbitkan buku adalah bentuk kontribusi intelektual yang nilainya jauh melampaui seremoni peluncuran itu sendiri. Buku adalah warisan pemikiran yang dapat terus dibaca dan dimaknai lintas generasi.

    Rangkaian kegiatan selama dua hari itu memberikan saya satu pelajaran penting. Kesibukan akan terasa bermakna apabila diisi dengan aktivitas yang mendorong pertukaran gagasan dan produksi pengetahuan. Diskusi tentang geopolitik, peluncuran memoar, dan penerbitan buku strategis menunjukkan bahwa literasi tetap akan menjadi fondasi utama bagi bangsa yang ingin maju. Dalam dunia yang bergerak sangat cepat, kemampuan untuk membaca, menulis, dan berdialog adalah bentuk investasi intelektual yang tidak pernah kehilangan nilai. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam melimpah atau kekuatan militer besar, tetapi juga bangsa yang mampu memproduksi gagasan dan menyebarkan pengetahuan.  Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus terlibat dalam proses tersebut. Menulis buku, menghadiri forum diskusi, dan berdialog dengan sahabat-sahabat lintas profesi merupakan bagian dari ikhtiar sederhana untuk tetap memberi manfaat.

    Minggu yang padat ini mungkin melelahkan secara fisik, tetapi justru menyegarkan secara intelektual. Setiap acara meninggalkan kesan mendalam dan memperkuat keyakinan bahwa semangat belajar tidak mengenal usia. Selama pikiran tetap terbuka, rasa ingin tahu tetap hidup, dan hasrat untuk berbagi pengetahuan terus menyala, maka setiap minggu, betapapun padatnya pasti akan selalu menjadi perjalanan yang bermakna.

    Jakarta 10 Mei 2026

    Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia

    Top of Form

    Bottom of Form

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePresident Club Bersama PSAPI dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia Gelar Peluncuran Buku National Air Power Karya Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim
    Next Article Belajar Politik Memahami Seni Mengelola Kehidupan Bersama
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    FIR dan Kedaulatan Negara di Udara.

    05/18/2026
    Article

    Kunjungan Donald Trump ke Beijing Diplomasi Transaksional di Tengah Bayang-Bayang Timur Tengah dan Taiwan

    05/18/2026
    Article

    Belajar Politik Memahami Seni Mengelola Kehidupan Bersama

    05/18/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.