
Suasana khidmat dan penuh kehormatan menyelimuti acara peluncuran buku “Pengabdian dari Masa ke Masa” yang digelar pagi ini di Menara Kompas lantai 7, Jakarta. Buku ini merupakan karya dari tokoh senior sekaligus purnawirawan Angkatan Udara (AU) bintang tiga, Prof. Dr. Ir. Ginanjar Kartasasmita, M.Sc. Peluncuran buku ini terasa istimewa karena bertepatan dengan momen ganda yang sarat makna, yakni hari lahir Ginanjar Kartasasmita yang juga bersamaan dengan hari lahir Angkatan Udara Republik Indonesia. Kebersamaan momentum ini memberikan nuansa simbolis yang mendalam, mengingat Ginanjar Kartasasmita adalah seorang purnawirawan perwira tinggi AU yang sepanjang kariernya justru lebih banyak mengabdi di ranah sipil, namun tak pernah kehilangan jati diri sebagai seorang perwira udara. Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting, termasuk beberapa mantan Menteri era Presiden Soeharto, yang menunjukkan besarnya penghormatan terhadap perjalanan hidup dan karier Ginanjar Kartasasmita.
Buku yang disusun oleh tim Kompas di bawah koordinasi Suhartono dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas ini, mengisahkan secara komprehensif perjalanan panjang pengabdian Ginanjar. Meskipun berlatarbelakang purnawirawan AU dengan pangkat perwira tinggi, Ginanjar lebih banyak dikenal karena kiprahnya di jalur sipil, antara lain di Bappenas serta berbagai posisi Menteri di Kabinet Pembangunan era Soeharto. Pemikiran dan gagasannya dinilai kaya serta berkontribusi besar dalam dinamika pembangunan nasional pada masanya.
Saya sendiri pernah beberapa kali mengikuti ceramah dan kuliah umum yang disampaikan oleh Ginandjar Kartasasmita, termasuk saat beliau hadir di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) di tahun 1980-an. Salah satu materi yang pernah beliau sampaikan adalah tentang leadership yang sangat menarik dan benar-benar mencerminkan luasnya wawasan yang beliau miliki. Saya juga sangat terkesan karena beliau ternyata menaruh perhatian yang begitu besar terhadap aspek pendidikan, sebuah hal yang menurut saya sangat fundamental dalam proses membangun sebuah bangsa. Hal ini saya alami sendiri ketika berinteraksi dengan beliau saat menjabat sebagai Gubernur AAU, Akademi Angkatan Udara dan Komandan Jenderal Akademi TNI.
Lebih dari itu, saya melihat sebuah realita yang penuh makna, di mana hari peluncuran buku ini bertepatan dengan hari lahir beliau sekaligus hari lahir Angkatan Udara. Bagi saya, ini menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang prajurit tidak selalu harus berada di garis depan kemiliteran. Pengabdian juga dapat diwujudkan melalui pemikiran, kebijakan, serta karya-karya besar yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Saya juga melihat begitu banyak cerita sukses sepanjang perjalanan karier beliau yang terdokumentasi dengan baik dalam buku ini, mulai dari peran strategis beliau di pemerintahan hingga kontribusinya yang konsisten di bidang pendidikan dan pembangunan nasional.
Acara peluncuran buku yang berlangsung hangat dan penuh keakraban ditutup dengan sesi diskusi yang menghadirkan dua narasumber terkemuka, yakni Sofyan Djalil dan Rachmat Pambudy. Diskusi tersebut tidak hanya menjadi penutup seremoni, tetapi juga ruang refleksi yang memperkaya pemahaman para hadirin terhadap pemikiran, pengalaman, serta warisan intelektual Ginandjar Kartasasmita dalam perjalanan panjang karier nya ditengah dinamika pembangunan nasional.
Dengan terbitnya buku “Pengabdian dari Masa ke Masa” yang diluncurkan bertepatan dengan hari istimewa ini, tersirat harapan besar agar generasi mendatang mampu meneladani semangat pengabdian dan kontribusi nyata beliau bagi bangsa Indonesia. Momentum ini sekaligus juga menjadi pengingat akan jasa Angkatan Udara yang senantiasa hadir menjaga kedaulatan negara di ruang udara, sebuah dimensi strategis yang tidak kasatmata namun sangat menentukan eksistensi sebuah bangsa.
Lebih jauh, buku ini bukan sekadar catatan perjalanan seorang tokoh, melainkan juga cermin dari dinamika kepemimpinan nasional yang sarat nilai, prinsip, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Di dalamnya tergambar bagaimana visi, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen terhadap kepentingan bangsa menjadi fondasi utama dalam setiap langkah pengabdian.
Peluncuran buku ini menjadi lebih dari sekadar peristiwa literasi. Ia menjelma sebagai ruang kontemplasi kolektif yang mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna pengabdian dalam arti yang lebih luas. Bahwa membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui kekuatan fisik dan militer, tetapi juga melalui gagasan, integritas, serta karya-karya pemikiran yang mampu melampaui batas generasi.
Selamat dan Sukses untuk Pak Ginanjar atas peluncuran bukunya.
Jakarta 9 April 2026
Chappy Hakim – Ketum Pusat Studi Air Power Indonesia
Top of Form
Bottom of Form

