George Orwell, yang lahir dengan nama Eric Arthur Blair pada tahun 1903, adalah seorang penulis, jurnalis, dan pengamat sosial asal Inggris yang karyanya melampaui zamannya. Ia bukan sekadar novelis, melainkan seorang intelektual yang menjadikan tulisan sebagai alat untuk membedah kekuasaan, kebohongan, dan manipulasi yang sering tersembunyi di balik bahasa politik. Kehidupannya yang beragam, mulai dari menjadi polisi kolonial di Burma hingga hidup sederhana di antara kaum pekerja telah membentuk perspektifnya yang tajam terhadap ketidakadilan sosial dan penyalahgunaan kekuasaan. Orwell mulai dikenal luas bukan karena gaya bahasa yang indah semata, melainkan karena keberaniannya menyampaikan kebenaran yang tidak nyaman. Pengalamannya menyaksikan langsung kemiskinan, imperialisme, dan konflik ideologi membuatnya semakin kritis terhadap sistem politik, baik yang bersifat kapitalis maupun komunis. Ia secara konsisten menolak propaganda dan menentang segala bentuk totalitarianisme, sebuah sikap yang menjadikannya berbeda dari banyak intelektual sezamannya.
Puncak ketenaran tidak dapat dilepaskan dari dua karya besarnya, yaitu Animal Farm dan 1984. Animal Farm adalah alegori politik yang menggambarkan bagaimana revolusi yang awalnya menjanjikan kesetaraan justru berakhir pada tirani baru. Sementara itu, 1984 menghadirkan gambaran dunia distopia di mana negara mengontrol setiap aspek kehidupan warganya melalui pengawasan total, manipulasi informasi, dan bahasa. Istilah-istilah seperti “Big Brother”, “doublethink”, dan “thoughtcrime” yang berasal dari novel itu bahkan masih digunakan hingga hari ini untuk menggambarkan fenomena politik modern. Yang membuat Orwell tetap relevan bukan hanya isi karyanya, tetapi juga ketepatan visinya. Ia memahami bahwa kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui kekerasan fisik, tetapi juga melalui kontrol atas informasi dan bahasa. Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh disinformasi, propaganda, dan polarisasi, gagasan Orwell terasa semakin nyata. Ia mengingatkan bahwa ketika bahasa dimanipulasi, kebenaran menjadi kabur, dan ketika kebenaran hilang, kebebasan pun terancam. Dalam konteks konflik kontemporer, khususnya dinamika perang di Timur Tengah, pemikiran Orwell terasa semakin relevan dan bahkan mengkhawatirkan. Narasi yang dibangun oleh berbagai pihak baik negara maupun aktor non-negara sering kali menunjukkan gejala yang mirip dengan konsep “doublethink”, di mana tindakan militer dibingkai sebagai upaya menjaga perdamaian, atau intervensi dijustifikasi sebagai bentuk pertahanan diri tanpa ruang bagi perspektif alternatif. Informasi yang beredar pun kerap terfragmentasi dan dipolitisasi, menciptakan “kebenaran versi masing-masing” yang sulit diverifikasi oleh publik. Dalam situasi seperti ini, peringatan Orwell dalam 1984 tentang bagaimana bahasa dapat digunakan untuk mengaburkan realitas menjadi sangat nyata yakni perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam ruang persepsi, di mana opini publik menjadi medan pertempuran yang sama pentingnya.
Dalam perkembangan mutakhir, muncul pertanyaan kritis mengapa hanya segelintir negara yang secara terbuka mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran? Realitasnya bukan semata karena kurangnya kepedulian, melainkan karena kompleksitas kepentingan geopolitik yang membelenggu banyak negara. Hubungan strategis, ketergantungan ekonomi, serta aliansi militer membuat banyak negara memilih sikap hati-hati bahkan diam, ketimbang mengambil posisi tegas yang berisiko. Di sisi lain, negara-negara yang memiliki kedekatan politik atau ideologis dengan Iran cenderung lebih vokal dalam mengecam. Fenomena ini kembali mencerminkan apa yang sejak lama diperingatkan Orwell bahwa “kebenaran” dalam politik sering kali bukan sesuatu yang netral, melainkan dibentuk oleh kekuasaan dan kepentingan. Dalam kerangka ini, sikap diam tidak selalu berarti netralitas, tetapi bisa menjadi bentuk “doublethink” modern, kesadaran akan realitas yang bertentangan dengan narasi yang dipilih untuk disampaikan. Dengan demikian, terbatasnya jumlah negara yang mengutuk bukan mencerminkan absennya pelanggaran, melainkan kuatnya pengaruh struktur kekuasaan global yang menentukan siapa boleh berkata apa, dan sejauh mana kebenaran dapat diungkapkan.
Bagi Indonesia, situasi ini memberikan pelajaran penting tentang arti kemandirian dalam bersikap di panggung internasional. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas dan aktif, Indonesia dituntut tidak hanya hadir sebagai penyeimbang, tetapi juga sebagai suara moral yang konsisten. Ketika banyak negara terjebak dalam kalkulasi kepentingan, justru di situlah ruang bagi Indonesia untuk menunjukkan keberanian bahwa prinsip kedaulatan, perdamaian, dan keadilan internasional tidak boleh tunduk sepenuhnya pada tekanan geopolitik. Tanpa konsistensi tersebut, posisi Indonesia berisiko larut dalam arus besar yang dikendalikan oleh kekuatan global. Selain itu, Indonesia perlu menyadari bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di medan fisik, tetapi juga dalam ruang informasi. Pelajaran dari pemikiran Orwell menegaskan pentingnya ketahanan narasi nasional, kemampuan untuk memilah informasi, membangun opini publik yang berbasis fakta, serta menghindari jebakan propaganda global. Dalam konteks ini, literasi informasi dan kemandirian media menjadi bagian dari pertahanan nasional itu sendiri. Tanpa itu, sebuah negara dapat dengan mudah terseret dalam “kebenaran” yang dibentuk oleh pihak lain.
Pelajaran terbesar bagi Indonesia adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pragmatis dan komitmen moral. Dunia internasional memang tidak pernah sepenuhnya hitam-putih, namun bukan berarti prinsip harus dinegosiasikan tanpa batas. Justru dalam situasi abu-abu seperti inilah, kredibilitas sebuah negara diuji. Indonesia memiliki peluang untuk tidak sekadar menjadi pengamat, tetapi juga aktor yang berkontribusi dalam membentuk tatanan dunia yang lebih adil. Selama ia mampu menjaga kejernihan sikap di tengah kabut narasi yang, seperti diperingatkan Orwell, sering kali lebih kuat daripada fakta itu sendiri. Itulah George Orwell dengan karyanya yang ternyata masih relevan hingga abad ini.
Jakarta 24 Maret 2026
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia

