Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»The Old Man and the Sea
    Article

    The Old Man and the Sea

    Chappy HakimBy Chappy Hakim12/11/2025No Comments7 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Cukup banyak kritikus sastra menganggap The Old Man and the Sea(1952) sebagai karya terbaik Ernest Hemingway, atau setidaknya yang paling mewakili “jiwanya” sebagai penulis. Realitanya novel inilah yang membuat Hemingway meraih Pulitzer Prize tahun 1953, dan sangat berperan dalam Nobel Sastra yang ia terima di tahun 1954.  The Old Man and the Sea sering dianggap sebagai puncak kejeniusan Ernest Hemingway. Di dalam novel yang tampak sangat sederhana ini, Hemingway merangkum pandangannya tentang martabat manusia, kesepian, kegigihan, dan batas antara kemenangan dan kekalahan. Kisahnya hanya tentang seorang nelayan tua, seekor ikan, dan laut luas. Namun di balik alur yang singkat, tersembunyi refleksi yang sangat dalam tentang bagaimana manusia seharusnya menghadapi hidup. Tokoh utama cerita ini adalah Santiago, seorang nelayan tua di Kuba yang sudah delapan puluh empat hari melaut tanpa satu pun ikan yang berhasil ia bawa pulang. Di mata sebagian nelayan lain, ia dianggap sial, seolah-olah keberuntungan telah meninggalkannya. Hanya seorang anak laki-laki bernama Manolin yang masih setia menghormatinya. Meski orang tua Manolin melarang anaknya ikut melaut bersama Santiago karena dianggap “membawa sial”, kasih sayang dan rasa hormat Manolin kepada sang kakek tidak pernah hilang. Di antara keduanya, terjalin hubungan yang halus dan menyentuh, bukan sekadar relasi murid dan guru, melainkan persahabatan lintas generasi yang dibangun atas dasar rasa hormat, kenangan, dan kekaguman.

    Pada hari ke delapan puluh lima, Santiago memutuskan pergi melaut lebih jauh dari biasanya. Ia ingin mematahkan rangkaian hari kosong dan membuktikan bahwa dirinya belum habis. Di tengah laut lepas, kailnya disambar seekor marlin raksasa. Ikan itu begitu kuat sehingga bukan nelayan yang menarik ikan, melainkan ikan yang menyeret perahu kecil Santiago jauh ke samudra. Di sinilah inti cerita dimulai, sebuah pertarungan panjang antara manusia dan alam, antara tubuh yang renta dan tekad yang tidak mau menyerah.   Selama berhari-hari, Santiago bertarung dengan marlin di tengah laut. Tangannya terluka, punggungnya nyeri, badannya lemah karena kurang makan dan kurang tidur. Namun ia terus bertahan. Di tengah rasa sakit, ia mengobrol dengan dirinya sendiri, dengan ikan, dengan laut, dan dengan ingatan masa mudanya. Dalam dialog batin itu tampak bagaimana ia memandang ikan bukan semata-mata sebagai musuh atau harta yang harus dimiliki, melainkan sebagai lawan yang terhormat, bahkan semacam saudara di tengah alam. Ia mengagumi kekuatan, keindahan, dan keagungan marlin, sambil tetap berjuang untuk menangkapnya. Di titik ini, Hemingway menunjukkan bahwa perjuangan manusia bisa bercampur dengan kekaguman terhadap apa yang sedang ia “lawan”. Akhirnya, setelah perjuangan yang menguras tenaga dan jiwa, Santiago berhasil menebas dan membunuh marlin itu. Ikan tersebut begitu besar sehingga ia tidak mungkin mengangkatnya ke dalam perahu. Santiago hanya bisa mengikat tubuh marlin di sisi perahu dan mulai mengarungi perjalanan pulang. Secara lahiriah, inilah puncak kemenangannya, setelah sekian lama gagal, ia akhirnya mendapat ikan raksasa yang akan membuktikan kepada dunia bahwa ia masih layak dihormati. Namun perjalanan pulang justru mengubah makna kemenangan itu. Darah marlin yang mengalir di laut menarik kawanan hiu yang datang satu per satu. Santiago berusaha mengusir dan membunuh hiu dengan tombak dan alat seadanya. Ia bertarung lagi, kali ini bukan demi menangkap, tetapi demi mempertahankan hasil perjuangannya. Meski telah mengerahkan seluruh tenaga, ia tidak mampu mencegah hiu-hiu itu menggerogoti marlin. Sedikit demi sedikit, daging ikan habis dimakan, hanya menyisakan rangka besar yang masih terikat di perahu. Ketika akhirnya tiba di pantai, tidak ada lagi ikan utuh yang bisa ia banggakan, hanya sisa kerangka yang membuat orang-orang kagum sekaligus terheran-heran.

    Santiago pulang dalam keadaan nyaris rubuh, penuh luka, dan sangat kelelahan. Ia kembali ke gubuknya yang sederhana dan tertidur pulas. Para nelayan lain yang melihat kerangka ikan itu mulai menyadari betapa besar perjuangannya. Mereka tidak lagi sekadar melihat Santiago sebagai nelayan tua yang sial, tetapi sebagai seseorang yang mampu bertarung dengan sesuatu yang jauh melampaui tubuhnya yang lemah. Manolin memutuskan bahwa apa pun kata orang tuanya, ia ingin kembali melaut bersama Santiago. Pada titik itu, pembaca disuguhi gambaran seorang manusia yang secara lahir tampak kalah, tetapi secara batin menang.  Dari jalan cerita yang sederhana ini, terdapat banyak pelajaran yang dapat dipetik dan sangat kaya untuk bahan esai. Salah satu pelajaran utama adalah tentang martabat manusia. Hemingway seakan ingin mengatakan bahwa kemenangan sejati bukan diukur dari hasil akhir yang terlihat oleh orang banyak, melainkan dari keberanian untuk berjuang sampai titik terakhir. Kalimat yang sering dikutip dari novel ini adalah gagasan bahwa manusia bisa dihancurkan secara fisik, tetapi tidak harus dikalahkan secara moral. Santiago kehilangan ikan yang ia perjuangkan, namun ia tidak kehilangan kehormatan. Ia sudah mengerahkan seluruh yang ia miliki berupa keberanian, teknik, pengalaman, dan tekad. Dalam perspektif ini, kekalahan di permukaan justru melahirkan kemenangan jauh di kedalaman jiwa. Pelajaran lain adalah mengenai hubungan antara manusia dan alam. Santiago memandang marlin, laut, burung-burung, dan bintang-bintang sebagai bagian dari sebuah keluarga besar di alam. Ia menyebut ikan sebagai saudara, berbicara kepada laut seakan-akan ia bercakap dengan makhluk hidup, dan melihat alam bukan sebagai musuh yang harus dikuasai, tetapi sebagai ruang hidup bersama yang memerlukan hormat dan etika. Di tengah dunia modern yang sering melihat alam hanya sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, cara pandang Santiago mengingatkan bahwa manusia justru menemukan martabatnya ketika ia menghormati apa yang ada di luar dirinya.

    Kisah ini juga memberi pelajaran tentang kesepian dan ketangguhan batin. Santiago melaut sendirian, menanggung derita fisik dan mental tanpa teman di atas perahu. Namun di dalam kesendirian itu justru muncul kekuatan batin yang luar biasa. Ia berdialog dengan kenangan masa lalu, mengingat kejayaannya ketika masih muda, mengingat pertandingan adu kekuatan dengan seorang pegulat di Casablanca sebagai sumber semangat. Dalam kesepian, ia bertemu dengan dirinya sendiri. Di sini, Hemingway menyinggung fakta bahwa pada akhirnya setiap manusia akan menghadapi momen-momen di mana ia harus berjalan sendirian, dan justru di situlah kualitas jiwanya teruji. Selain itu, hubungan antara Santiago dan Manolin memberikan pelajaran tentang pentingnya generasi tua dan generasi muda saling belajar. Santiago mewariskan pengalaman, nilai-nilai, dan etos kerja kepada Manolin. Sebaliknya, kehadiran Manolin memberikan arti dan kehangatan bagi hari-hari tua Santiago. Dalam konteks kehidupan sosial yang lebih luas, hubungan ini bisa dibaca sebagai simbol pentingnya transfer nilai dan pengetahuan, agar semangat dan pelajaran hidup tidak mati bersama satu generasi, melainkan terus mengalir kepada generasi berikutnya. Novel ini juga mengajarkan bahwa makna suatu perjuangan tidak selalu ditentukan oleh pengakuan publik. Ketika Santiago tertidur di gubuknya, ia tidak berada di tengah tepuk tangan atau penghargaan formal. Ia bahkan mungkin tidak sepenuhnya tahu bahwa para nelayan lain terkesan dengan kerangka ikan yang ia bawa pulang. Namun ketenangan tidurnya menggambarkan kepuasan seorang pejuang yang telah menunaikan tugas sejauh yang ia mampu. Dalam kehidupan nyata, banyak orang bekerja keras dalam diam, tanpa sorotan nama atau jabatan, tetapi justru di situlah keluhuran mereka berada.

    The Old Man and the Sea dapat dibaca sebagai alegori tentang kehidupan itu sendiri. Laut bisa dimaknai sebagai dunia yang luas dan tak terduga, marlin sebagai cita-cita besar atau tujuan hidup yang ingin diraih, hiu sebagai rintangan dan kehilangan yang tak terelakkan, dan Santiago sebagai simbol manusia yang tidak mau menyerah pada nasib. Dari sini lahir pesan yang kuat bahwa manusia tidak diukur dari hasil akhirnya saja, melainkan dari keberanian untuk melangkah, bertahan, dan tetap menjaga harga diri, bahkan ketika segala sesuatu tampak hilang satu per satu.  Dengan demikian, ketika The Old Man and the Sea disebut sebagai salah satu karya terbaik Hemingway, itu bukan sekadar karena prestasi sastranya, tetapi juga karena daya renung yang dikandungnya. Novel ini mengundang pembaca untuk bertanya pada diri sendiri, sudah sampai sejauh mana kita berani memperjuangkan sesuatu yang kita anggap benar dan berharga, dan apakah kita siap menerima bahwa terkadang yang tersisa hanya “kerangka”, namun di balik itu ada cerita panjang tentang keberanian yang tidak bisa dihapus oleh apa pun dan oleh siapa pun. Itulah The Old Man and the Sea.

    Jakarta 4 Desember 2025

    Chappy Hakim

    Dikutip dari berbagai sumber

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleHamlet Kekuasaan Yang tidak selamanya Indah dan Membahagiakan
    Next Article Jejak Abadi William Shakespeare
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Rafale dan Makna “Generasi 4,5” dalam Modernisasi serta Diversifikasi Sistem Senjata

    01/20/2026
    Article

    Rafale, Diversifikasi Armada AU, dan Ujian Nyata Kemandirian Industri Pertahanan

    01/20/2026
    Article

    Apa itu Cape Town Convention

    01/20/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.