Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Antoine de Saint-Exupéry
    Article

    Antoine de Saint-Exupéry

    Chappy HakimBy Chappy Hakim12/11/2025No Comments7 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pilot, Tentara dan Penulis Novel

    Tidak banyak pilot yang menulis. Sebagian besar penerbang hanya meninggalkan jejak dalam bentuk log book, laporan teknis, atau catatan operasi yang hanya dibaca oleh kalangan terbatas. Kehidupan mereka sebenarnya penuh angka, mulai dari jam terbang, ketinggian, kecepatan, rute, dan  setumpuk prosedur.   Di balik semua itu, ada dunia batin yang sangat kaya tentang rasa takut saat menembus badai, kesunyian di atas awan ketika semua orang di bumi sedang tidur, hingga perasaan kecil ketika menatap bintang dari kokpit yang sempit. Semua itu jarang sekali diubah menjadi karya sastra yang bisa dinikmati publik luas.

    Karena itu, ketika ada pilot yang bukan saja terbang, tetapi juga menulis dengan kedalaman seorang filsuf dan kepekaan seorang penyair, sosok seperti itu langsung menjadi langka. Antoine de Saint-Exupéry adalah salah satu di antaranya. Ia mengubah pengalaman teknis penerbangan menjadi renungan tentang persahabatan, tanggung jawab, dan kemanusiaan. Dunia mengenalnya bukan hanya sebagai penerbang Perancis, tetapi juga sebagai penulis besar yang melahirkan karya abadi seperti The Little Prince, serta buku-buku tentang terbang dan perang yang penuh nilai humanis. Antoine de Saint-Exupéry meninggal pada tanggal 31 Juli 1944. Ia hilang dalam sebuah misi penerbangan pengintaian di masa Perang Dunia II, pesawatnya tidak pernah kembali, dan baru jauh di kemudian hari puing-puing pesawat yang diduga miliknya ditemukan orang di Laut Tengah dekat pantai Perancis.

    Antoine de Saint-Exupéry adalah salah satu contoh paling indah tentang bagaimana hidup di langit dapat melahirkan tulisan yang justru sangat membumi. Ia bukan sekadar penulis The Little Prince yang menggemaskan itu, melainkan seorang pilot militer dan sipil Perancis yang mengubah pengalaman terbang, perang, kesepian, dan perjumpaan dengan bahaya menjadi renungan mendalam tentang arti menjadi manusia. Ia lahir pada tahun 1900, di sebuah keluarga bangsawan kecil Perancis. Di usia muda, Antoine sudah terpesona oleh dunia penerbangan yang waktu itu masih sangat baru dan penuh risiko. Ia menjadi pilot pos udara, menerbangkan pesawat di jalur-jalur panjang yang melintasi pegunungan dan gurun, jauh sebelum teknologi navigasi canggih lahir. Di kokpit pesawat kecil yang rapuh itulah benih-benih pemikiran filosofisnya tumbuh. Profesional sebagai pilot, tetapi batinnya bekerja sebagai filsuf dan penyair.

    Kariernya sebagai penerbang membawanya ke banyak situasi ekstrem. Pesawatnya pernah jatuh di gurun Sahara, membuat ia dan rekannya berjalan di tengah panas yang mematikan dan kekurangan air. Pengalaman nyaris mati ini kemudian hadir kembali dalam banyak tulisannya, terutama sebagai latar batin bagi The Little Prince. Di gurun yang sunyi, jauh dari keramaian kota, manusia seakan dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Di sana, antara hidup dan mati, antara langit dan pasir, ia merenungkan siapa sebenarnya manusia dan apa yang sungguh penting dalam hidup. Saint-Exupéry menulis beberapa karya yang semuanya berkaitan dengan dunia penerbangan dan perang, antara lain Night Flight (Vol de nuit), Wind, Sand and Stars (Terre des hommes), dan Flight to Arras (Pilote de guerre). Judul-judul itu sendiri sudah mencerminkan dunia yang ia hayati yakni malam, angin, pasir dan perang. Namun di balik semua istilah teknis penerbangan itu, yang sebenarnya ia bicarakan adalah keberanian, ketakutan, tanggung jawab, dan persahabatan. Penerbangan baginya bukan hanya urusan mesin dan rute, melainkan batu ujian bagi karakter manusia.

    Dalam Night Flight, misalnya, kita melihat ketegangan antara disiplin tugas, bahaya cuaca, dan rasa kemanusiaan. Para pilot terbang dalam kegelapan malam membawa pos dan pesan yang menghubungkan manusia di berbagai tempat. Mereka mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang tampak sepele yakni surat, berita, kata-kata. Namun di mata Saint-Exupéry, justru di sanalah makna hidup bahwa manusia rela mengambil risiko besar demi menjaga tali hubungan satu sama lain. Teknologi penerbangan bukan semata alat, tetapi jembatan antara hati manusia. Di Wind, Sand and Stars, Saint-Exupéry menjadikan pengalaman terbang dan terdampar sebagai bahan renungan tentang persahabatan, solidaritas, dan kerentanan manusia. Ia bercerita tentang teknisi, rekan pilot, dan orang-orang biasa yang ditemuinya di medan terpencil. Mereka bukan tokoh besar sejarah, tetapi justru di tangan Saint-Exupéry menjadi cermin tentang martabat manusia yang sederhana. Ia menulis tentang rasa takut saat terbang dalam badai, tentang bintang-bintang di langit malam yang menemani pilot yang sendirian di kokpit, tentang keindahan dan kengerian gurun yang bisa sekaligus memukau dan sekaligus membunuh.

    Karyanya yang paling dikenal di seluruh dunia tentu saja adalah The Little Prince. Di permukaan, buku ini tampak seperti dongeng anak-anak tentang seorang pangeran kecil yang datang dari asteroid jauh, bertemu seorang pilot yang pesawatnya jatuh di gurun. Tetapi di balik gaya bertuturnya yang sederhana dan ilustrasi yang polos, tersembunyi kritik halus terhadap dunia orang dewasa berupa  kesibukan mengejar angka, jabatan, gengsi, dan hal-hal yang sebenarnya tidak esensial.  Pangeran kecil dalam cerita itu berkelana dari satu planet kecil ke planet lain, bertemu berbagai tokoh simbolik antara lain raja yang ingin berkuasa atas segalanya, pebisnis yang sibuk menghitung bintang, pemabuk yang terjebak lingkaran putus asa. Semuanya adalah karikatur dunia dewasa yang kehilangan rasa heran dan kemampuan untuk mencintai dengan tulus. Di gurun, pangeran kecil bertemu rubah yang mengajarkannya bahwa untuk sungguh mengenal dan mencintai, kita harus “menjinakkan” satu sama lain, membangun hubungan, saling memberi waktu dan perhatian. Dari rubah itulah muncul kalimat yang begitu terkenal yang esensial tidak terlihat oleh mata, hanya bisa dilihat dengan hati. Kalimat itu adalah inti pemikiran Saint-Exupéry. Sebagai pilot, ia tahu betul bahwa dari ketinggian langit, kota-kota dan perbatasan negara terlihat kecil dan tidak penting. Yang tampak hanya cahaya-lampu kecil di malam hari, tanda ada kehidupan, ada orang-orang yang saling menunggu, saling mencintai, saling mengkhawatirkan. Ia melihat dunia dari perspektif yang tidak dimiliki orang kebanyakan, dari ketinggian ribuan kaki, tetapi dengan hati yang sangat dekat dengan penderitaan manusia di bawah. Itulah mengapa tema kemanusiaan begitu kuat dalam setiap tulisannya.

    Pengalaman perang menambah kedalaman pandangannya. Dalam Perang Dunia II, Saint-Exupéry kembali terbang sebagai pilot pengintai bagi Angkatan Udara Perancis yang kemudian berjuang bersama Sekutu. Ia menyaksikan kehancuran, kekacauan, dan absurditas kebencian. Namun dari pada hanya menulis tentang strategi atau heroisme militer, ia lebih tertarik menggali pertanyaan tentang mengapa manusia saling membunuh, dan apa artinya tetap menjadi manusia di tengah kekerasan yang sistematis. Di sini, ia sejajar dengan para pemikir kemanusiaan lain yang pernah “masuk ke inti badai” dan pulang dengan luka, tetapi juga dengan hikmah.

    Kisah hidupnya sendiri berakhir secara tragis dan puitis. Pada tahun 1944, ketika melakukan misi pengintaian di atas Laut Tengah, pesawat yang ia terbangkan hilang dan tidak kembali. Baru bertahun-tahun kemudian puing-puing pesawat yang diduga miliknya ditemukan di lepas pantai Perancis. Seorang pilot yang sepanjang hidupnya menulis tentang terbang, badai, malam, dan risiko akhirnya menyatu dengan salah satu misi penerbangannya yang terakhir. Seolah-olah garis hidup dan garis tulisannya bertemu dan berhenti pada satu titik yang sama di langit.  Pelajaran apa yang bisa dipetik dari sosok Antoine de Saint-Exupéry sebagai pilot dan penulis?

    Ia mengingatkan bahwa teknologi dalam hal ini pesawat terbang hanya punya makna sejauh ia menghubungkan manusia, bukan sekadar memecahkan rekor ketinggian atau kecepatan. Dalam pandangannya, pilot bukan hanya operator mesin, tetapi penjaga jembatan kemanusiaan. Di era sekarang, ketika teknologi semakin canggih dan dunia terasa semakin dingin dan impersonal, pesan ini menjadi semakin relevan.  Ia juga menunjukkan bahwa pengalaman profesional yang keras dan penuh bahaya bisa menjadi sumber refleksi moral dan filosofis yang sangat kaya. Ia tidak terperangkap dalam kebanggaan profesi semata, tetapi menggunakan setiap jam terbang sebagai bahan untuk mengerti diri sendiri dan orang lain. Dari kokpit yang sempit, ia menulis gagasan-gagasan luas tentang persahabatan, tanggung jawab, dan kerentanan manusia.  Lewat The Little Prince, Saint-Exupéry mengingatkan bahwa kedewasaan sejati bukan berarti kehilangan imajinasi dan rasa ingin tahu. Dunia orang dewasa yang ia kritik adalah dunia yang lupa cara melihat dengan hati. Ia mengajak pembacanya, baik anak-anak maupun orang tua, untuk kembali bertanya tentang apa yang sungguh penting? Kekuasaan, angka, dan status, atau hubungan yang hangat dan kesediaan untuk merawat orang lain.

    Antoine de Saint-Exupéry adalah contoh langka tentang bagaimana seorang pilot dan tentara dapat meninggalkan warisan bukan hanya dalam bentuk misi dan medali, tetapi dalam bentuk kata-kata yang terus hidup di benak jutaan orang. Ia terbang di udara, tetapi menulis tentang bumi, menulis tentang manusia yang takut namun berani, rapuh namun tetap saling mencari, tersesat namun masih berharap. Dari langit ia menatap kita, dan lewat bukunya ia seakan berkata, jangan lupa, yang paling penting sering kali tidak tampak di permukaan. Untuk melihatnya, kita perlu diam sebentar, menunduk, dan menggunakan hati.

    Jakarta 7 Desember 2025

    Chappy Hakim

    Disusun dan dikumpulkan dari berbagai sumber

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleAntoine de Saint-Exupéry dan Warisan The Little Prince
    Next Article Mengapa Indonesia perlu Dewan Penerbangan
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Rafale dan Makna “Generasi 4,5” dalam Modernisasi serta Diversifikasi Sistem Senjata

    01/20/2026
    Article

    Rafale, Diversifikasi Armada AU, dan Ujian Nyata Kemandirian Industri Pertahanan

    01/20/2026
    Article

    Apa itu Cape Town Convention

    01/20/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.