Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»AVINER 2025 Resmi Dibuka
    Article

    AVINER 2025 Resmi Dibuka

    Chappy HakimBy Chappy Hakim12/09/2025No Comments4 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Chappy Hakim Ingatkan Tanggung Jawab Strategis Dunia Penerbangan

    Jakarta, 26 November 2025

    Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya) resmi membuka 3rd AVINER 2025 – International Conference on Aviation Industry, Education, and Regulation di Super Puma Hall, Rabu pagi 26 November 2025. Konferensi internasional dua hari ini mengusung tema “Sustainability and Regulation Improvement on Aerospace Technology” dan diikuti ratusan peserta secara luring dan daring dari kalangan akademisi, industri, regulator, dan militer dari dalam maupun luar negeri.

    Acara dibuka oleh Rektor Unsurya, Air Vice-Marshal (Ret.) Dr. Sungkono, yang menegaskan bahwa AVINER telah berkembang menjadi ruang temu strategis antara dunia pendidikan, pelaku industri, dan para pembuat kebijakan di sektor kedirgantaraan. Ia menekankan pentingnya regulasi yang adaptif terhadap lompatan teknologi, tanpa mengabaikan aspek keselamatan penerbangan, kedaulatan negara, dan keberlanjutan lingkungan.

    Sesi pembukaan berlanjut dengan keynote speech dari Air Chief Marshal (Ret.) Chappy Hakim, Ketua Indonesia Center for Air Power Studies. Dalam pidatonya, Chappy menempatkan tema AVINER 2025 dalam konteks gejolak global yang tengah berlangsung. “Kita berkumpul pada saat lingkungan internasional ditandai oleh ketidakpastian yang sangat dalam,” ujarnya. “The world is undergoing a level of geopolitical turbulence and systemic fragility not experienced on this scale since the end of the Second World War. The strategic rivalry between the United States and China… has evolved into a far-reaching competition over technology, aerospace capability, digital dominance, and the architecture of global influence.”  Selanjutnya Ia menekankan bahwa dunia penerbangan tidak berdiri di luar dinamika tersebut, melainkan berada di pusat pusaran perubahan. “Aviation has become far more than an industry. It is a strategic domain where economic resilience, national strength, technological leadership, and global cooperation converge. And with this centrality comes enormous responsibility. We are asked not only to advance aviation but to ensure that its progress remains sustainable, ethical, and aligned with the long-term wellbeing of the planet,” tegasnya, seraya menyoroti pentingnya bahan bakar ramah lingkungan, sistem propulsi baru, hingga arsitektur bandara yang eco–efficient.  Di bagian akhir pidato, Chappy secara khusus menyinggung lanskap geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompleks dan implikasinya bagi dunia penerbangan dan kedirgantaraan. “We must all heighten our awareness of the shifts taking place around us. The South China Sea remains a zone of persistent tension… Across the broader Pacific, we are witnessing the reconfiguration of Western strategic presence, marked prominently by the emergence of AUKUS, a trilateral security pact between Australia, the United Kingdom, and the United States. This development is not merely a military alignment; it signals a structural shift in how major powers perceive their long-term interests in the region,” paparnya. Karena itu, ia mengajak komunitas penerbangan untuk menjadikan Indo-Pasifik sebagai jembatan kerja sama, bukan arena konfrontasi. “Let us preserve the Indo-Pacific as a region where aviation and aerospace remain instruments of peace, not tools of rivalry. Only by doing so can we honor our responsibility to future generations and help lay the foundation for a world that is not only more advanced, but also more just, peaceful, and prosperous,” tutupnya.

    Selain Chappy Hakim, keynote lain disampaikan oleh Vice Admiral (Ret.) Prof. Amarulla Octavian, Wakil Kepala BRIN, yang menguraikan pentingnya riset dan inovasi nasional dalam mendorong kemandirian teknologi kedirgantaraan Indonesia, serta Dr. Henri Togar Hasiholan yang menyoroti kesiapan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM kedirgantaraan yang memahami teknologi sekaligus isu keberlanjutan dan etika.  Konferensi kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan Prof. Reza Ahmadi, Dr. Mastura AB Wahid, Adithya Chandra, Prof. Andres De Castro Garcia, dan Prof. Ida Bagus Saputrama. Para panelis membahas manajemen teknologi kedirgantaraan, regulasi penerbangan, pengembangan SDM sipil dan militer, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga green aviation. Diskusi yang dimoderatori Ir. Alexander Ludi, MBA berlangsung dinamis dan menekankan perlunya regulasi yang antisipatif terhadap perkembangan kecerdasan buatan, sistem nirawak, serta komersialisasi ruang angkasa.

    Sebagai konferensi internasional, AVINER 2025 menjadi ajang bagi para peneliti mempresentasikan hasil riset terbaru di bidang Management in Aerospace Technology, Civil and Military Human Resources in Aerospace Technology, Aerospace Regulation Improvement, Artificial Intelligence & Cybersecurity Threats, serta Sustainability & Green Aviation.  Rangkaian AVINER 2025 akan berlanjut hingga besok dengan sesi paralel, networking session, dan perumusan rekomendasi kebijakan. Unsurya berharap, konferensi ini melahirkan kolaborasi konkret antara perguruan tinggi, industri, regulator, dan komunitas internasional guna membangun ekosistem kedirgantaraan yang lebih aman, berkelanjutan, dan berdaya saing, baik bagi Indonesia maupun bagi dunia.  Kegiatan ini menandai dinamika kegiatan intelektual di Unsurya yang belakangan ini tampak lebih aktif, terutama dalam membahas isu kedirgantaraam nasional.

    Jakarta  26 November 2025

    Tim Liputan Netral News

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleDrone, Taksi Terbang, dan Peran Kepemimpinan Indonesia di Indo-Pasifik
    Next Article Next Post
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Rafale dan Makna “Generasi 4,5” dalam Modernisasi serta Diversifikasi Sistem Senjata

    01/20/2026
    Article

    Rafale, Diversifikasi Armada AU, dan Ujian Nyata Kemandirian Industri Pertahanan

    01/20/2026
    Article

    Apa itu Cape Town Convention

    01/20/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.