All posts tagged changi

Apa Kabarnya FIR Singapura?

Sampai dengan saat ini, masih ada wilayah udara kedaulatan Republik Indonesia yang berada di bawah “kekuasaan”otoritas penerbangan nasional Singapura.

Kondisi ini jelas-jelas sangat merugikan kepentingan dunia penerbangan Indonesia. Sudah terlalu banyak keluhan dari banyak pihak yang berkepentingan dengan jalur penerbangan di kawasan sekitar Tanjung Pinang dan Natuna itu. Dari aspek gelar pertahanan udara nasional, kondisi ini pun sangat merugikan. Kedaulatan dan kehormatan sebagai bangsa dipertaruhkan dalam masalah yang telanjur berlarut-larut puluhan tahun ini.

Mengenai pengertian tentang kedaulatan suatu negara, khususnya kedaulatan di udara, referensi baku yang senantiasa menjadi acuan adalah Convention on International Civil Aviation,Chicago 7 Desember 1944. Pasal 1 menyebutkan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif (complete and exclusive) terhadap ruang udara di atas wilayahnya. (Prof Dr H Priyatna Abdurrasyid, PhD, 2003) Setiap masalah ini dikemukakan, selalu saja akan memperoleh jawaban bahwa di Eropa juga banyak terjadi hal seperti ini dan itu bukan masalah prinsip yang harus diurus karena International Civil Aviation Organization (ICAO) memang sudah membagi habis kolom ruang udara dalam konteks keselamatan terbang global.

Jawaban berikutnya yang juga selalu ditekankan dengan nada meyakinkan adalah: kita memang tak bisa apa-apa karena tak punya uang untuk membeli peralatan canggih yang modern dan kita tidak sanggup menyiapkan SDM-nya. Read more…

Jumpa Pak Ahmad di Singapura

Satu hari di pertengahan bulan April 2010 , saya berjumpa dengan seorang bernama Ahmad, kelahiran Singapura tahun 1938. Ahmad orang Melayu asli, bersiterikan seorang Melayu juga dan memiliki seorang anak yang telah berumahtangga dengan sesama Melayu dan tinggal di Melbourne. Dia mengatakan bersukur, anaknya yang di Melbourne itu dapat jodoh sesama Melayu. Bersukur, antara lain, dengan demikian dia dan isterinya dapat mengunjungi dan menginap dirumah anaknya itu di Melbourne. Suatu yang rasanya, kemungkinan akan mustahil bila anaknya mendapatkan jodoh “orang bule”.

Di usianya yang sudah kepala 7, penampilan Ahmad masih sangat “fit”. Dia bekerja di Changi International Airport dengan ketentuan kerja sebagai berikut : Dalam dua minggu bekerja, dia memperoleh libur selama satu hari. Setiap harinya Ahmad bekerja minimum 10 jam, untuk satu jam kerja bayarannya adalah 2 dolar Amerika. Menurut Ahmad, dalam satu bulan dia biasanya akan memperoleh sekitar 800 hingga 950 dolar Singapura. Pekerjaan Ahmad, sederhana sekali, yaitu hanya mendorong kursi roda bagi penumpang pesawat terbang yang akan berangkat ataupun yang baru mendarat di Changi. Perawakannya yang tinggi untuk ukuran laki-laki ras Melayu dengan wajah yang bersahabat, membuat dia mudah berkomunikasi dengan penumpang yang dilayaninya. Kemampuan yang sangat baik dalam bahasa Inggris dan Melayu serta sedikit Mandarin memang memudahkan Ahmad dalam kerjanya.
Read more…

Masih Belum Di “percaya” !

Mana nih yg dari Cengkareng?

Mana nih yg dari Cengkareng?

Tanggal 23 Maret 2009, sore hari saya berangkat ke Singapura.   Tiba di Changi, malam hari lebih kurang jam 2000 waktu setempat.   Begitu keluar dari pesawat, memasuki terminal, sudah banyak petugas sekuriti airport dengan garis penghalang yang mirip dengan “police line” , menggiring semua penumpang untuk masuk keruangan pemeriksaan keamanan seperti layaknya penumpang yang akan berangkat untuk naik pesawat.   Waktu saya tanyakan, ada apa ini ? Petugas sekuriti tidak ada yang mau menjawab selain mengatakan bahwa semua pesawat yang datang dari Jakarta diberlakukan pemeriksaan ulang secara acak di airport Changi Internasional.

Dengan sopan mereka  mengatakan bahwa pemeriksaan ulang secara acak ini, hanya untuk meyakinkan petugas sekuriti airport bahwa semua penumpang yang datang dari Jakarta tidak membawa barang berbahaya atau membahayakan.
Read more…