All posts tagged ATC

Menguak Misteri Jatuhnya Sukhoi (2)

Chappy yang memang senior di bidang penerbangan Indonesia menyatakan bahwa terdapat dua hal yang menjadi garis merah hikmah dari musibah SSJ 100. Pertama, berkaitan dengan standar kualitas penerbangan Indonesia di mata global. Meski Indonesia telah menjadi bagian dari PBB yang dengannya pun menandai ketergabungannya dalam ICAO (International Civil Aviation Organisation), tetap kita tidak dikategorikan lulus ICAO Standards. Perlu diketahui, ICAO Standards menjadi landasan FAA (Federal Aviation Administration), sebuah institusi penguasa administrasi penerbangan Amerika yang berwenang kuat dalam kancah penerbangan dunia.

Panel Diskusi di Institut Peradaban

Indonesia oleh FAA dikategorikan menjadi kelas 2. Kelas 2 yakni kategorisasi penerbangan bagi negara yang tidak memenuhi kelayakan standar ICAO. Negeri kita tercinta ini masih kalah dengan Malaysia, Singapura, Suriname, Nigeria, Brunei, bahkan Fiji, salah satu negara kecil dunia.

Read more…

Stress terbang di Cengkareng !

Menara ATC

Di Tahun 2012 ini sebenarnya dengan mengacu kepada Undang-undang Penerbangan no 1 tahun 2009, lembaga Air Traffic Control Services di Indonesia sudah harus berada dalam satu wadah yang terintegrasi. Selama ini jasa layanan Air Traffic kita tersebar dibanyak institusi. Sebagian besar berada dibawah Angkasa Pura 1 dan sebagian lainnya berada di bawah Angkasa Pura 2.

Beberapa lainnya dibawah pengelolaan TNI dan badan institusi lainnya. Khusus ATC ini adalah merupakan salah satu temuan ICAO di tahun 2007. Inilah yang menyebabkan kita dianggap tidak memenuhi syarat minimum requirement dari International Safety Standard sesuai regulasi International Civil Aviation Organization. ATC harus dilola dalam satu wadah yang istilahnya adalah ATC Services Single Provider. ATC harus keluar dari AP 1 dan AP 2 dan institusi lainnya dan dimasukkan dalam satu wadah organisasi yang tersendiri. Diseluruh dunia, standar pelayanan ATC memang sudah demikian adanya. Pelayanan ATC serta pelayanan navigasi penerbangan dan pelayanan di terminal dan atau di Ariport seharusnya dipisahkan. Tidak dicampur adukkan menjadi satu. Inilah sebenarnya salah satu cikal bakal dari kondisi sekarang ini yang membuat ATC kita berada dalam kesulitan yang sangat serius.

Read more…

Mengatur Pengatur Lalu Lintas di Udara

Air Trafic Control

Air Trafic Control

Perkembangan industri penerbangan membawa dorongan penyempurnaan terutama demi keamanan. Salah satunya yang seharusnya menjadi perhatian serius adalah pengelolaan air traffic control services (ATS).

Undang- Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2009 mengamanatkan ATS harus dikelola dalam wadah ”ATS Single Provider”. Ini berarti bahwa organisasi pengatur lalu lintas udara di Indonesia harus berada di bawah organisasi yang tunggal dan terpadu.

Selama ini ATS di Indonesia tersebar pada lebih dari tiga organisasi yang berdiri sendiri sendiri. Amanat ini sebenarnya diawali dan sudah muncul pada temuan ICAO dan atau FAA (International Civil Aviation Organization/Federal Aviation Administration) pada 2007 sebagai salah satu penyebab atau unsur pendukung terjadi begitu banyak kecelakaan di negeri ini. Sayangnya, sampai sekarang masih belum terdengar kabar yang jelas tentang apakah organisasi tunggal ATS itu sudah dibentuk atau belum. Salah satu penyebab dari alotnya pembentukan organisasi tunggal ATS adalah berhubungan dengan besarnya pendapatan dari sektor tersebut. Organisasi sejenis yang selama ini bernaung di bawah PT Angkasa Pura 1 (AP1) dan Angkasa Pura 2 (AP2) konon kabarnya berpenghasilan ratusan miliar rupiah per tahun.

Sementara itu, semua organisasi, peralatan, prosedur, dan pembinaan sumber daya manusia (SDM) yang ada selama ini hampir sudah jauh tertinggal. Semua tak mampu mengimbangi laju pertumbuhan orang dan penumpang angkutan udara yang setiap tahun mencapai 15–25%. Tidak hanya ketinggalan, tetapi juga berbentuk yang aneka ragam alias tidak standar. Read more…

Komentar Captain Pilot Maskapai Asing !

Begitu banyak komentar yang muncul atas tulisan saya kemarin yang dimuat Koran Kompas halaman 1. Salah satu yang saya terima adalah berasal dari seorang Captain Pilot Maskapai Penerbangan Luar Negeri. Dia berkata sebagai berikut :

Pak Chappy yang saya hormati , terima kasih sudah berkenan menulis masalah ini . Sangat berguna dan sangat valid kondisi nya. Saya sarankan kepada pemerintah agar segera merubah sikap bodoh pemerintah yang sudah sejak puluhan tahun yang lalu yaitu dalam menangani standart alat navigasi yang sejak dulu selalu saja check nya sudah kedalu warsa dan masih saja tidak ada pilihan penerbangan harus selalu berjalan seolah olah semua alat navigasi dalam keadaan baik.

Kedua , pemerintah harus bisa membuat daerah di final approach area bersih dari anak anak bermain layang layang ( di bandara Soekarno Hatta dan Bali sangat sering hal tersebut terjadi).  Pemerintah harus bisa melacak dan terus menerus menyadarkan masyarakat agar membantu meningkatkan safety air space kita .

Kalau memang tidak cukup personel ATC harap ditambah , sebab kalau tidak seorang ATC yang fatique akan membuat kecenderungan midair collision bisa terjadi disetiap saat. Training nya dan alat nya harus ditingkatkan.
Kalau perlu minta bantuan dari para pelaku airlines agar menyumbang biaya untuk beli simulator ATC atau apa saja yang juga akan membantu safety dari semua airlines. Atau tingkatkan airport tax demi hal yang sama.

Satu lagi adalah kemampuan para petugas ATC dan air crew didalam berbahasa Inggris perlu di tingkatkan. Jangan sampai seorang petugas ATC dan pilot pesawat ( asing dan domestic) mempunyai kesalahan persepsi didalam mengoprasikan pesawatnya.

Satu hal yang bisa segera ditingkatkan di bandara Soekarno Hatta adalah peningkatan rambu2 lalu lintas di taxy way , hampir semua dalam keadaan kurang baik apa lagi pada saat jarak pandang kurang baik. Lightings nya harus diperbaiki. Jangan sampai kasus kecelakaan fatal di Taipei terjadi juga di bandara kita ( gara2 signage yang kurang baik)

Selain prof chek atau base check bagi para pilot kita ada juga training lain nya ? di airlines lain nya program lain seperti pelatihan bagi air crew saat mereka berbicara di public atau di public address , ada juga simulasi regular setiap 6 bulan terhadap para air crew dan ground crew untuk mengatasi sebuah scenario kecelakaan , scenario tentang pelayanan terhadap public ( penumpang) dan latihan secara reguler tentang kecelakaan di air dan kemampuan berenang para crew diair yang tenang dan bergelombang , laithan membuka pintu darurat disaat emergency dan masih banyak lagi lain nya .

Apakah ada hal2 ini sudah dilakukan di airlines di Indonesia ? kalau ada airlines apa ?

R&D adalah perlu dilakukan dan biaya untuk meningkatkan keselamatan adalah mutlak agar kita tidak di black list lagi di dunia penerbangan international.

Salah satu keuntungan kalau perusahaan kita baik tingkat safety nya adalah bisa membantu meningkatkan jumlah penumpang international di airlines kita. Contoh nyata , penerbangan international tetangga kita yang selama ini reputasi nya bagus , walaupun mereka mengoperasikan pesawat nya adalah semuanya pesawat besar ke Jakarta sehari 7 – 8 kali , semua nya bisa penuh. Sebab semua perusahaan2 business di seluruh dunia akan menyaran kan agar pada executive nya hanya naik perusahaan tetangga kita ini . kalau tidak maka asuransi nya tidak dibayar ( seandainya ada kecelakaan). Sedangkan airlines kita yang mengoperasikan pesawat2 yang jauh lebih kecil dari perusahaan tetangga kita kadang tidak penuh kalau terbang ke Singapore.

Semua pejabat tinggi di perusahaan indonesia selalu memilih perusahaan tetangga kita walaupun sebetul nya perusahaan penerbangan kita juga sudah baik dan sudah meningkatkan pelayanan nya . Masalah safety rupanya faktor penentu bagi para executive disaat mereka akan berpergian .
Jadi bukan hanya service di cabin saja yang dinilai .

Masih banyak hal yang harus terus dikejar oleh perusahaan penerbangan Indonesia dan juga oleh pemerintah kita. Jangan lah masalah safety dianggap remeh. Kepada pemerintah semoga masalah kalibrasi instrument segera ditingkatkan.

Kepada perusahaan penerbangan harap ditingkatkan R& D nya agar perusahaan nya tidak usah mengalami hal2 yang tidak menyenangkan yang sebetulnya bisa dicegah.
Selamat berbenah bagi dunia penerbangan Indonesia.

Demikian komentar dari sobat saya yang Captain Pilot dari Maskapai Asing!
Jakarta 18 Nopember 2011