ArticlePoliticsReflectionSocial

Pungli penyakit Kronis !

Apabila kita mencermati kasus yang tengah terjadi di tiga lembaga hukum bergengsi di tanah air kita dewasa ini, maka akar permasalahannya adalah bahwa : “pada umumya orang kita bila memegang kekuasaan, cenderung untuk over acting”.   Intinya lagi, bila kita melihat sektor pelayanan dinegeri ini, maka pasti yang ada hanyalah “komplain” dari semua kliennya.   Banyak sekali contoh-contoh tentang ini.   Kesombongan bila tengah berada dalam kedudukan penting, sepertinya sudah melekat didiri kita semua.   (tidak juga semuah sih, akan tetapi sebagian  besar dari kita)

Melayani, seakan menjadi sesuatu yang  langka dinegeri ini.   Nah kelanjutan dari arogansi itu, kemudian mendapatkan jalan keluarnya yang mulus, yaitu berupa “fulus” dan berbentuk pungli.   Kalau sudah ada fulus, maka biasanya mereka akan berubah 180 derajat.   Mereka langsung menjadi tidak hanya ramah sekali akan tetapi rela menjadi  ”one man dog”!, setia sampai mati .   Berani mati membela yang bayar ! katanya.

Jadi kasus yang tengah bergejolak di negeri ini yang topiknya adalah kasus tentang suap, sebenarnya adalah yaitu tadi “pungli”.

Dahulu, kita masih ingat tentang kampanye Pangkomkabtib Soedomo yang berjudul “basmi pungli”.     Namun, apa yang terjadi, pungli justru menjadi lebih baik performance nya.   Pemberantasan Pungli yang hanya sekedar “basa basi”  diera  orde baru itu ternyata telah menghasilkan operasi pungli yang lebih canggih.   Canggih dalam arti menjadi sulit untuk dapat dibuktikan, kecuali tertangkap basah.

Pungli yang kemudian telah juga melahirkan istilah “mafia peradilan” dikalangan penegak hukum Indonesia menjadi sangat canggih tampilannya.   Demikian pula keberanian para penegak hukum untuk melakukannya menjadi sangat “sophisticated”.    Semua itu kini justru dibeberkan, tidak hanya di sidang MK yang legendaris itu, akan tetapi juga di muka pengadilan dan di depan sidang dengar pendapat DPR.

Saking nafsunya dan mungkin juga saking serakahnya pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi ini, maka sepertinya, Polri, Jaksa, Pengadilan  dan  DPR, koruptor serta  KPK menjadi lupa kepada satu prosedur canggih yang biasa dilakukan oleh tukang sulap yaitu :Tolong bila satu Guru dan satu Ilmu, jangan Ganggu!”   Baru mulai kerja ! begitu.

Akibatnya adalah ya seperti ini, kita disuguhi tontonan sinetron opera sabun yang sangat membingungkan.   Yang satu bilang yang lain disuap, demikian pula sebaliknya.   Yang satu bersumpah mati bila menerima uang, dan yang lain ada pula yang bersumpah bahwa keterangannya palsu, karena dipaksa atasan atau oleh penyidik.

Lalu bagaimana ?

Gampang, tanya saja kepada rumput yang bergoyang.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close