Negara yang tergabung dalam ASEAN, belakangan ini terlihat sangat bersemangat dalam mendongkrak sektor Pariwisata negerinya masing-masing. Berbagai terobosan dan metoda dikembangkan untuk dapat meningkatkan angka kunjungan turis dari luar negeri. Khusus kota-kota yang merupakan ibukota Negara, sudah sejak lama dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata.

Akan tetapi, ibukota negara sebagai sebuah pusat dari roda kegiatan administrasi pemerintahan, maka otomatis tidak dapat menghindarkan diri dari kecenderungan yang sangat mencolok dalam tuntutan kegiatan bisnis. Bagi beberapa ibukota negara ASEAN yang merupakan negara relatif besar,peluang sektor perdagangan menjadi salah satu keuntungan lain dari kunjungan turis mancanegara.

Kota-kota seperti Bangkok, Manila, Singapura, Jakarta dan Kuala Lumpur sudah menjadi lokasi favorit dari penyelenggaraan konferensi internasional, workshop, seminar dan negosiasi bisnis.

Bangunan gedung hotel bintang lima sudah menjadi standar kelengkapan untuk juga memfasilitasi kegiatan semacam seminar dan lain-lain itu. Di Manila, sebagai contoh yang baru saja saya kunjungi minggu lalu, kegiatan pertemuan internasional sudah memaksa banyak pihak untuk melibatkan diri sebagai bagian yang sangat menguntungkan secara finansial.

Dalam kegiatan serupa ini maka faktor pelayanan atau services bagi perjalanan orang-orang yang mengikuti pertemuan internasional menjadi terbuka sebagai salah satu peluang yang dapat meningkatkan penerimaan negara.

Pagi tadi saya dibantu oleh anak muda penuh semangat bernama Ramil Nojada. Dia adalah pegawai dari Philippines Airport Ground Support Solution, Inc. (PAGSS). Sebuah agen pemberi layanan perjalanan yang berdiri tahun 1996 yang sebelumnya bernama PAGS,

Philippines Airport Ground Services. Dia bekerja dengan sangat hati-hati, sopan dan tentu saja terampil sebagai tenaga terdidik. Waktu saya puji cara bekerjanya, dia langsung mengatakan bahwa basis dari kinerja dirinya adalah “kebanggaan’ sebagai orang Philippina.

Waktu saya kejar lagi apa yang dibanggakan dia sebagai orang Philippina? Dengan tegas dan segera dia menjawab bahwa orang Philippina itu “bayanihan” katanya. Bayanihan, dalam bahasa Inggrisnya adalah sifat yang “helping others” atau “being helpfull”. Jawaban anak muda ini benar-benar mengejutkan saya, karena ditengah perkembangan zaman yang sangat bernuansa cenderung menjadi individualistis dengan tag-line “Emang Gue Pikirin?” atau EGP , ternyata tiba-tiba saya berjumpa dengan seorang anak muda yang penuh semangat bekerja dalam menolong orang lain secara profesional namun dilandasi sebuah kebanggaan yang sangat langka yaitu “niat kuat’ untuk “helping others” atau “being helpfull”. Bukan Main !

Jakarta 18 Januari 2018

Chappy Hakim