ArticleDefense and SecurityEducation

Membangun Kebersamaan Membangun Bangsa !

Usai menempuh perjalanan yang dramatik hampir selama tiga bulan, akhirnya malam tadi Nazaruddin tiba kembali di tanah air. Nazaruddin disebut-sebut sebagai terlibat dalam banyak perkara. Mulai dari kasus Wisma Atlit Sea Games sampai dengan kasus politik uang di Partai Demokrat serta beberapa kasus lainnya di banyak Kementrian. Bahkan salah satu penjelasan mengatakan bahwa , KPK akan menangani berbagai kasus yang membelit Nazaruddin dengan nilai total Rp 6,037 triliun. Ironis nya, ini bukanlah satu-satunya kasus penyelewengan uang Negara yang terjadi di negeri ini, masih banyak lainnya yang juga telah, tengah dan masih dalam upaya penyelidikan untuk diungkap. Intinya, keserakahan telah begitu merajalela terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pada saat John F. Kennedy diambil sumpahnya menjadi Presiden Amerika Serikat, ia segera berseru kepada seantero warga Amerika “Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country !”. Kennedy tahu sekali bagaimana cara mengajak seluruh rakyat Amerika untuk “focus” kepada sasaran yang hendak dicapai bersama oleh Negara Amerika. Ia menggiring seluruh pengikutnya, seluruh rakyatnya kepada keyakinan bahwa kita dapat memberikan hal yang besar kepada Negara dengan bekerja bersama-sama dibanding hanya berusaha untuk bersama-sama memperoleh sesuatu dari Negara. Dia berusaha membangunkan kesadaran untuk mendahulukan memberi dari pada meminta. Keyakinan bahwa mulai dengan memberi jauh akan lebih baik hasilnya dari pada memulainya dengan mengharapkan jatah terlebih dahulu.

Sejarah mencatat, Kennedy kemudian terbunuh sebelum sasaran-sasaran yang hendak dicapainya itu terwujud. Akan tetapi semangat yang dikobar-kobarkannya kepada seluruh elemen bangsa, ternyata kemudian membuktikan Amerika berhasil mendaratkan manusia di Bulan, membuat Rusia angkat kaki dari China serta menghasilkan “civil rights legislation” yang dikatakan sebagai telah “revolutionized the country”. Tiga hal itu adalah target utama yang telah ditentukan Kennedy diawal jabatannya sebagai Presiden Amerika. Walau dia telah tiada sebelum target itu tercapai, namun spirit yang ditanamkan kepada seluruh rakyat Amerika dapat terpelihara membakar semangat Amerika. Dia telah berhasil membalik pemahaman orang-orang pada cara berpikir dari filosofi “Get All You Can” menjadi “Give All You Can”. Merubah mindset warga Negara Amerika dari pemahaman berupaya untuk memperoleh sebesar-besar yang dapat dicapai dengan pemahaman berilah sebesar-besar yang kamu mampu ! Merubah dari berusaha untuk segera mengambil jatah menjadi pemahaman yang berusaha untuk turut berkontribusi. Dan ternyata itu membuat lebih mudah dalam upaya mencapai cita-cita bersama.

Pada dasarnya semangat yang dibangun dari jargonnya Kennedy itu adalah mengandung dua hal yang sangat mendasar yaitu membangun moril yang tinggi dan menebarkan kesetiakawanan. Dua hal ini adalah merupakan pelataran tempat berdirinya karakter atau jatidiri yang kokoh dan kuat sebagai modal dalam konteks menuju keberhasilan, apapun yang hendak dicapai.. Dengan dua hal ini, maka akan menjadi lebih mudah dalam membentuk The Winning Team. Tanpa karakter yang kuat, dari banyak pengalaman akan sangat mudah dilihat bahwa hasilnya adalah tampilnya para the losers, para pecundang. Itulah yang kini tengah kita saksikan, begitu banyak tontonan gratis dari pertunjukan-pertunjukan yang hanya menghasilkan para pecundang. Para pecundang yang sama sekali tidak bermoral, yang merambah kebanyak sektor kehidupan bernegara. Diyakini bahwa semua itu adalah merupakan hal yang tidak kita inginkan sama sekali. Lalu bagaimana untuk mencari jalan keluarnya? Disinilah mungkin kunci dari Leadership dan Manajemen. Para pemimpin disetiap strata harus memahami terlebih dahulu apa gerangan kesalahan yang telah terjadi sekarang ini.

Berikutnya harus ada upaya yang kuat dan penuh kesadaran untuk memperbaiki . Salah satu dari sekian banyak cara, adalah mulai untuk coba membangun kebersamaan. Membangun kesetiakawanan dengan meruntuhkan sekat-sekat yang membatasi kelompok satu dengan lainnya. Cukuplah sudah petualangan Nazaruddin yang telah memberikan gambaran begitu terbuka tentang demikian banyak kekurangan-kekurangan yang telah terjadi. Mau sampai kemana hal yang amburadul ini akan dibawa.

Seorang bernama Nazaruddin yang mempunyai masalah dengan angka sebesar 6,037 triliun rupiah dinegeri ini, sudah dapat dipastikan akan membelit begitu banyak orang dan institusi. Dan itu memberikan juga presentasi dari betapa sistem negara ini memerlukan perbaikan yang tidak tanggung-tanggung, memerlukan perbaikan-perbaikan yang sangat mendasar sifatnya. Kepulangan Nazaruddin, hendaknya dapat dijadikan “turning point” pada sejarah Indonesia dalam upaya mencapai cita-citanya yang suci . Harus ada kemauan yang kuat untuk menghentikan ini semua, agar kita dapat mencapai cita-cita. Cita-cita bagi pencapaian kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur. Bila tidak, maka janganlah nanti merasa heran bila muncul Nazaruddin-Nazaruddin lainnya yang tidak mustahil akan berujud lebih dahsyat lagi.

Marilah kita semua membangun kebersamaan, menggalang kekuatan bersama untuk kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah Swt. Kita harus optimis seperti apa yang pernah diutarakan oleh seorang Industrialis Amerika Kenamaan, Henry Ford di awal tahun 1940-an tentang kekuatan dari kebersamaan, “Coming together is a beginning, Keeping together is progress and Working together is success !”

Jakarta 17 Agustus 2011

Chappy Hakim

Artikel ini sudah dimuat di Kompasiana dengan judul setelah Nazaruddin tertangkap.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.