Awal tahun 1969, saya baru saja memasuki Akademi Angkatan Udara yang saat itu bernama Akabri bagian Udara, setelah selama satu tahun bersama-sama dengan para Taruna Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Kepolisian menjalani pendidikan militer dibawah naungan Akabri umum di Magelang.

Di tahun 1969 itulah untuk pertamakali saya berjumpa dengan sosok Pak Djuju, pelatih Drumband Akademi Angkatan Udara.

Ditahun 1992, saat menjabat sebagai Komandan Wing Taruna dengan Pangkat Kolonel, saya berjumpa kembali dengan  Pak Djudju yang juga masih aktif turut melatih Drumband Karbol “Gita Dirgantara”

karbol-agenda-seragam1

Pak Djudju, pria dengan tampilan yang sangat rendah hati , dengan raut muka yang sangat bersahabat, memiliki sejarah perjalanan karier yang sangat unik dalam hidupnya.   Dilahirkan di Purworedjo, tanggal 8 Juni 1931, Pak Djudju memperoleh pangkat Letnan Satu dengan jabatan Komandan Korps Musik Lanuma Adistjipto di tahun 1980.   Saat itu, apabila tidak terlampau keliru, maka Korps Musik Angkatan Udara yang terbesar dan terbaik adalah Korps Musik Lanuma Adisutjipto.

Perjalanan hidup yang unik dari Pak Djudju ini, baru saya ketahui puluhan tahun kemudian, yaitu saat saya menjabat sebagai Gubernur Akademi Angkatan Udara di tahun 1997.   Pak Djudju, menempuh dan menyelesaikan sekolah rakyat, sekarang bernama sekolah dasar di tahun 1944, berikutnya SMP lulus ditahun 1951 dan lulus SMA ditahun 1955.   Berikutnya, Pak Djudju menempuh pendidikan di Sekolah Yayasan Musik, lulus dan meraih ijazah di tahun 1958.   Yang unik adalah, disela-sela perjalanan pendidikannya di sekolah itu, Pak Djudju sempat menyelesaikan juga sekaligus, Sekolah Dasar Milter Angkatan Darat di tahun 1946 selama 3 bulan.   Sementara itu ditahun 1950, selama lebih kurang 4 bulan, Pak Djudju berhasil menempuh dengan sukses Sekolah Dasar Polisi.   Disaat lulus SMP, sebelum masuk ke SMA, Pak Djudju menyempatkan untuk ikut Sekolah Komandan Muda Polisi selama 6 bulan.

Pak Djudju, aslinya adalah anggota Korps Musik Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan pangkat Agen Polisi II ditahun 1950, kemudian meraih pangkat Komandan Muda Polisi terhitung tanggal 1 Nopember 1951.   Dalam perjalanan kariernya kemudian, Pak Djudju meraih pangkat Komandan Polisi pada tahun 1954.   Selanjutnya naik pangkat menjadi Ajun Inspektur Polisi II terhitung tanggal 1 Oktober 1957.

Di awal tahun 1960-an, saat Angkatan Udara hendak membentuk untuk pertamakalinya sebuah Korps Musik, pihak Kepolisian Negara menunjuk Pak Djudju, karena kepiawaiannya dalam melatih para yuniornya, untuk membantu pihak Angkatan Udara mendirikan Korps Musik Militer Angkatan Udara.   Begitu intens dan tinggi sekali dedikasi Pak Djudju dalam membangun Korps Musik Angkatan Udara, sehingga konon kabarnya, pihak Kepolisian Negara mengabulkan permintaan Angkatan Udara agar Pak Djudju dapat pindah ke Angkatan Udara.

Demikianlah, maka pada tahun 1964, Pak Djudju menempuh Sekolah Dasar Kemiliteran Pertama Angkatan Udara Republik Indonesia selama 9 bulan dan lulus dengan memuaskan.    Sejak itulah, pada tanggal 1 Agustus 1964, Pak Djudju, secara resmi menjadi anggota Korps Perwira Angkatan Udara Republik Indonesia dengan menyandang pangkat Letnan Muda Udara II.   Satu perjalanan hidup seorang anak muda yang luar biasa.   Bayangkan, seseorang dengan latar belakang pendidikan musik, mendarmabaktikan dirinya , dengan berkiprah di Angkatan Darat, Kepolisian Negara dan akhirnya di Angkatan Udara.   Satu sikap yang mencerminkan betapa penghayatan terhadap tugas senantiasa ditempatkan kepada prioritas utama dalam mengukir karier hidupnya.

Baca juga

Sikap Pak Djudju yang sangat menonjol dalam pengabdian kepada tugas, berjalan dan mengalir tanpa disertai interest apapun, lebih-lebih yang sifatnya pribadi, kecuali hanya semata melaksanakan tugas.   Seorang Perwira yang sangat konsisten dan sangat teguh bertanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaan sampai di-akhir khayatnya.

Pak Djudju, dengan pangkat terakhir , Kapten Sus yang beristerikan Marmiyati dan dikaruniai 7 orang anak,  telah mendahului kita semua, kembali kepada Sang Pencipta Nya dengan tenang dipagi hari yang cerah Rabu 24 Maret 2010 pukul 0600 dikediamannya di Jogjakarta.

Di Hari Kamis, saya menerima kabar via sms dari seorang rekan tentang kepergian Pak Djudju.   Saya tertegun seketika, serta merta saya terbayang kembali, wajah yang begitu rendah hati dan sangat bersahabat dalam berhadapan dengan siapapun.   Siapa saja, baik itu atasan, rekan, terlebih-lebih kepada bawahannya.   Wajah yang sangat memancarkan jiwa keteladanan dan “ngemong” para adik-adiknya.

Betapa saya tidak tertegun, karena saya mengalami dan melihat sendiri sikap dan sepak terjang seorang Perwira teladan yang seniman sejati yang bekerja tanpa pamrih siang malam, dan bahkan dihari-hari senja usia dimasa purnawiranya.

Tahun 1997, beliau sudah sekian lama pensiun, namun sepertinya rajinnya beliau menyambangi Akademi Angkatan Udara setiap hari seakan lebih bersemangat dari mereka yang masih aktif.   Setiap hari beliau datang ke Kantor Wing Taruna, langsung menuju ke Gudang Drumband AAU, langsung mengerjakan dan melatih beberapa anggota untuk merawat peralatan musik Drumband yang banyak dan mahal harganya itu.   Saya melihat sendiri, disela-sela waktunya, Pak Djudju masih sempat membuatkan “partitur” lagu-lagu yang diinginkan, antara lain merupakan kreasi anak-anak Taruna untuk dapat dimainkan oleh unit Drumband Taruna AAU.

Di Tahun yang sama, dalam satu minggu dua sampai tiga kali dalam sepekan, Pak Djudju melatih Band  Karbol AAU , di malam hari, yang saya inginkan untuk menghidupkan kembali unit “Brass-band”nya.   Selain sebagai Konduktor Unit Korps Musik Angkatan Udara di Pangkalan Udara Jogjakarta saat masih aktif, spesialisasi beliau adalah alat musik tiup.

Sangat mengagumkan melihat semangat beliau melatih anak-anak muda, yang bahkan sebagian besar ada yang tidak mempunyai bakat sama sekali dalam bermain musik.   Untuk memacu motivasi anak-anak Taruna inilah, pada saat yang bersamaan saya mulai belajar kepada Pak Djudju, disela-sela pelatihannya itu untuk mencoba meniup Saxophone.   Saya belajar, bersama-sama para Taruna, saat itu saya menjabat sebagai Gubernur AAU, sekedar memperlihatkan kepada anak-anak muda itu, bahwa bila kita berusaha keras dan serius maka kita tidak akan mengenal kata “tidak bisa”.   Sebenarnya atau sejujurnya, dalam posisi itu, sikap tersebut adalah seperti pisau bermata dua.   Dalam arti, sayapun akan malu, bila saya tidak berhasil dalam belajar meniup Saxophone dari Pak Djudju kala itu.   Saya, benar-benar tidak pernah bisa  melupakan momen latihan malam bersama para Taruna.   Band Taruna belajar dan membentuk kembali unit “brassband” nya, sementara saya disela-sela latihan itu menggunakan kesempatan “privat less” meniup Saxophone.

Begitu besar keteladanan dan dedikasi yang tanpa pamrih dari Pak Djudju, seorang perwira purnawirawan, seolah tidak mengenal lelah, mengasuh Drumband Karbol, memelihara peralatan Drumband, melatih musik bagi Band Karbol dan menghidupkan kembali kelompok tiup/brassband dari Band Karbol, benar-benar luarbiasa!  Perwira dengan pengabdian yang “beyond the call of duty“.  Perwira Teladan, karena Pak Djudju adalah sosok seorang Perwira Loyal yang sangat menghargai orang lain dan sangat taat dalam menepati waktu.   Perwira yang sangat pantas untuk memperoleh penghargaan yang tinggi dari Angkatan Udara.

Dengan catatan “jasa-jasa”  Pak Djudju, dalam satu kesempatan, saya dengan semangat tinggi dan menggebu-gebu mengusulkan kepada Kepala Staf Angkatan Udara pada waktu itu, Marsekal Hanfie Asnan untuk dapat memperoleh jatah naik Haji bagi Pak Djudju.   Setelah saya memperoleh restu dari beliau, saya pun kemudian berangkat tergopoh-gopoh beserta isteri langsung kerumah Pak Djudju, dengan tujuan memberikan “surprise” hadiah dari Kasau untuk beliau.   Namun sesaat setelah bercengkerama dengan Pak Djudju , saya berdua isteri saya “terhenyak”, karena saking semangatnya saya hendak memberikan “surprise” naik Haji kepada beliau, saya tidak sempat mengecek terlebih dahulu.   Ternyata Pak Djudju adalah seorang penganut “kristen protestan” yang taat, namun menampilkan dirinya ditengah-tengah perwira muslim dengan penuh toleransi.

Di tahun kedua masa jabatan saya sebagai Gubernur AAU sesekali saya menyempatkan diri, bermain Band dengan para Karbol dan juga dengan kelompok Pak Djudju, sekedar membawakan satu atau dua lagu, sambil bernyanyi dan kemudian “duet” Saxophone dengan beliau.

Sesaat, sebelum saya pindah jabatan ke Jakarta, saya bersama pak Djudju dengan Band Karbol, sempat “manggung” di TVRI Jogjakarta, membawakan 2 buah lagu, masing-masing Danny Boy dan “Sail along silvery moon”.   Kenangan manis yang seakan tidak akan dapat pernah pergi dari ingatan saya.   Dalam beberapa kesempata kunjungan kerja saya sebagai Kasau di tahun 2002 sampai dengan 2005, ke Jogjakarta, saya masih sempat bertemu kembali dengan Pak Djudju.   Pak Djudju  dengan Saxophone, yang selalu tampil bersama rekannya pemain orgen, mengisi waktu  disela-sela istirahat santap siang para tetamu, baik di Handrawina maupun di Lobby kantor Gubernur AAU.

Saya dan isteri dan juga kedua anak saya, sangat merasa kehilangan dengan kepergian Pak Djudju.   Perwira Pengasuh yang tidak hanya loyal dan berdedikasi tinggi tanpa pamrih, akan tetapi juga sebagai guru saya dalam bermain musik.

Selamat Jalan Pak Djudju, semoga Tuhan YME memberikan tempat yang layak bagi beliau, dan keluarga yang ditinggalkan dapat memperoleh kekuatan dalam menghadapi kenyataan ini, Amin.

Jakarta 3 April 2010

Chappy Hakim.