ArticleLifeMemoriesPeople

Jumpa Pak Ahmad di Singapura

Satu hari di pertengahan bulan April 2010 , saya berjumpa dengan seorang bernama Ahmad, kelahiran Singapura tahun 1938. Ahmad orang Melayu asli, bersiterikan seorang Melayu juga dan memiliki seorang anak yang telah berumahtangga dengan sesama Melayu dan tinggal di Melbourne. Dia mengatakan bersukur, anaknya yang di Melbourne itu dapat jodoh sesama Melayu. Bersukur, antara lain, dengan demikian dia dan isterinya dapat mengunjungi dan menginap dirumah anaknya itu di Melbourne. Suatu yang rasanya, kemungkinan akan mustahil bila anaknya mendapatkan jodoh “orang bule”.

Di usianya yang sudah kepala 7, penampilan Ahmad masih sangat “fit”. Dia bekerja di Changi International Airport dengan ketentuan kerja sebagai berikut : Dalam dua minggu bekerja, dia memperoleh libur selama satu hari. Setiap harinya Ahmad bekerja minimum 10 jam, untuk satu jam kerja bayarannya adalah 2 dolar Amerika. Menurut Ahmad, dalam satu bulan dia biasanya akan memperoleh sekitar 800 hingga 950 dolar Singapura. Pekerjaan Ahmad, sederhana sekali, yaitu hanya mendorong kursi roda bagi penumpang pesawat terbang yang akan berangkat ataupun yang baru mendarat di Changi. Perawakannya yang tinggi untuk ukuran laki-laki ras Melayu dengan wajah yang bersahabat, membuat dia mudah berkomunikasi dengan penumpang yang dilayaninya. Kemampuan yang sangat baik dalam bahasa Inggris dan Melayu serta sedikit Mandarin memang memudahkan Ahmad dalam kerjanya.

Ahmad pun bercerita tentang persepsi umum dari banyak orang tentang pandangan terhadap orang Singapura. Menurut Ahmad, orang Singapura hanya ada dua perkara saja, yaitu, memiliki kebiasaan yang selalu “komplain” dan satu lagi adalah selalu “in rush”, terburu-buru.

Waktu ditanyakan lebih jauh lagi tentang bagaimana Singapura sebagai Negara bersikap dalam kehidupan bertetangga, maka dengan penuh semangat ia pun bercerita. Tidak jelas irama ceritanya berupa “protes” atau “bangga”, akan tetapi dia dengan penuh keyakinan bercerita banyak hal tentang “politik” yang tentu saja dipandang dari perspektif dirinya sendiri sebagai seorang “singaporean”.

Cukup mengagumkan bagi saya, melihat sosok seorang warga negara Singapura yang berusia lebih dari 70 tahun mempunyai pandangan yang jernih tentang kebangsaan dan juga sedikit politik negaranya.

Namun kekaguman saya tidaklah berhenti pada sosok seorang “Singaporean” yang berusia senja, akan tetapi kini anak-anak muda Singapura mempunyai kebanggaan nasional yang sangat mempesona.   Bayangkan, anak-anak kecil siswa sekolah TK, SD sampai setingkat sekolah menengah, konon setiap hari sebelum mulai belajar dikelas,maka mereka memulainya dengan menyanyikan terlebih dahulu dengan penuh hikmat “Majulah Singapura”, lagu kebangsaan dan kebanggaan mereka !   Tidak mengherankan kemudian, anak-anak ini, diwaktu-waktu senggangnya otomatis akan bersenandung irama dan atau syair lagu Majulah Singapura yang setiap hari telah menjadi sarapan wajib di semua sekolah.   Sementara, baru-baru ini dalam satu upacara kenegaraan resmi di Indonesia, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang seharusnya, merupakan bagian penting yang harus dilakukan, ternyata “dilupakan” orang.   Nasionalisme Singapura tengah meroket dalam satu tatanan yang benar-benar terstruktur dalam perencanaan yang menggambarkan “visi” jangka panjang dan luas cakrawalanya dari ” sang pemimpin” !  “Singaporean Leadership” yang mengembangkan kader-kader bangsanya.

Itulah mereka Ahmad – Ahmad muda, yang kemudian di usianya yang ke 18 , semua anak lelaki diwajibkan menjalani “wajib militer” selama 3 tahun.   Pembentukan karakter, membangun pemuda yang militan sekaligus membekalinya dengan wawasan kebangsaan.

Ini telah membuktikan, ternyata cara paling efektif dan efisien, bagaimana membangun “karakter” generasi muda harapan bangsa, agar mereka kemudian benar-benar dapat membawa dirinya masing-masing dengan bermartabat menuju Singapura yang “beradab” dan “sejahtera” !

Sungguh perjumpaan yang “inspiring” , sekaligus tentunya memprihatinkan.

Singapura 16 April 2010

Chappy Hakim

Tags

Related Articles

2 thoughts on “Jumpa Pak Ahmad di Singapura”

  1. Sangat menarik sekali, Bapak…

    Terimakasih infonya.
    Kata orang Germany:”Kinder von heute sind Kunde auf Morgen” (anak-anak hari ini adalah pelanggan di hari esok). Maka kita yg menyia-nyiakan mereka, kita pula yg akan dipandang sebelah mata di masa mendatang.
    Jaman saya masih SMPs/d STM, tiap awal n akhir selalu ada penghormatan kpd bendera kecil diatas meja. Entah kemana semua program tsb. sekarang…

  2. Zaenal, makasih atas perhatiannya, salam juga , Gud begonnen ist half gewonnen ! bener nggak tuh tulisannya ya ? Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.