ArticleLifeMemoriesPeople

Indonesia Sebenarnya

Hari Sabtu yang lalu saya berkesempatan bertamasya ke Sukabumi, diundang seorang sahabat saya.   Teman lama saya ini memiliki beberapa petak sawah yang dikelolanya sendiri dan beberapa petak lainnya yang digarap oleh penduduk setempat dibawah bimbingannya.

Ia sendiri tinggal ditengah-tengah sawah dalam sebuah rumah mungil yang cantik dan asri serta bersih dengan taman mungil yang indah sekali.   Lingkungan persawahannya kebetulan terletak dilereng gunung dan jauh dari rumah-rumah penduduk, sehingga benar-benar berada ditengah alam yang sangat “hijau”.   Pemandangan sekelilingnya adalah gunung dikejauhan dan lereng persawahan dengan beberapa pohon besar disekitarnya, benar-benar alam dan benar-benar “what a wonderful world”.

Turut hidup dengannya cukup banyak orang setempat yang bekerja membersihkan rumah, menata taman, bersawah dan juga mengatur mengalirnya air yang melintasi tiga buah kolam ikan yang ditata berjenjang menurut ketinggian lereng yang bertingkat.   Pemandangan menjadi semakin mempesona karena ditengah-tengah persawahan terletak rumah mungil yang asri, beberapa pohon besar dan kolam ikan yang bertingkat .   Disisi lain ada rumah panggung kecil agak kedekat sawah yang digunakan untuk bersantap siang ditengah sawah.   Disudut lainnya terlihat bangunan “masjid” mungil tempat penduduk setempat melaksanakan ibadah, serta bergiat dalam kelompok pengajian.

Lingkungan  yang sangat “alam” itu, menjadi semakin membuat hati nyaman dan tenteram,  karena di rumah yang rapih dan bersih lengkap dengan kebun bunga, tidak terdengar suara radio atau pun televisi.   Tidak ada  produk teknologi terlihat disitu, kecuali sebuah Nissan Terano yang agak tua terparkir apik di garasi beralas rumput hijau dengan atap setengah rumbia.

Wah, perjalanan yang sangat melelahkan dan kadang menyebalkan, karena kondisi jalan yang rusak dalam menuju lokasi terbayar “lunas” dengan lokasi nyaman , tenteram, asri disertai hirupan udara yang sejuk dan bersih.   Sesekali terdengar suara angin yang bertiup menggoyangkan dedaunan dipohon rindang serta tanaman padi yang sebagian sudah mulai menguning dan lainnya masih hijau.  Beberapa burung beterbangan dengan bebasnya tanpa merasa terganggu dengan kehadiran orang disekitarnya, yang sama sekali tidak pernah mengganggu mereka.   Di tanah persawahan, sesekali melompat kodok dan terkadang juga binatang sejenis kadal yang melintas dengan bebas pula.

Saya tidak habis pikir, bagaimana teman saya ini dapat menemukan lokasi yang benar-benar mempesona.   Mempesona dengan refleksi kebesaran tuhan akan alamnya.   Padahal, teman saya itu sempat belasan tahun berada dekat sekali dengan pusat kekuasaan yang “luxurious” dan “glamour”.   Atau mungkin saja dia sudah merasa muak dengan segala kemewahan yang baginya bisa saja dilihat sebagai ujud kepalsuan belaka, yang jauh dari kejujuran dan kepolosan hati.

Suasana yang benar-benar nyaman dengan penduduk yang air mukanya senantiasa berseri tanpa hambatan persoalan duniawi yang dihadapinya.  Berseri dengan sinar mata yang “jujur” dan “lugu” dan yang pasti sangat mudah untuk ditipu oleh para juru kampanye pemilu !   Disini, orang-orang tidak ada yang tahu tentang Bibit dan Chandra, dan bahkan beberapa diantaranya ada yang tidak tahu Presiden, MPR, DPR apalagi tentang KPK.   Mereka ternyata hanya larut saja dengan kehidupan kesehariannya yang tanpa koran, televisi dan radio.   Terpencil, namun beberapa dari mereka ada juga yang pernah turun gunung ke kota, dan hampir semua mengatakan bahwa di kota itu tidak enak, tidak nyaman dan terlalu ramai, katanya.

Saya sangat kagum dengan lokasi tempat teman saya tinggal itu, serasa saya hadir didunia lain, dunia yang sama sekali berbeda.  Orang-orang yang hidup bersahaja, nyaris tanpa ambisi.  Lingkungan yang berudara segar, tidak terdengar suara mobil atau motor yang lewat, lingkungan yang hanya dihubungakan dengan jalan setapak yang sekali lagi “sangat alami”.   Tidak ada hiruk pikuk, mereka sangat  mantap dengan kegiatan kesehariannya yang kelihatan cukup makan, minum dan beribadah di “masjid” dekat sawah.

Saya pikir, atau lebih tepat saya khawatir, kalau ada orang Malaysia yang datang kesini, maka dia akan mengatakan : inilah Indonesia Sebenarnya !   Indonesia yang Jujur !   Tempat teman saya berdomisili, teman yang dahulu bergelimang “luxurious” dan “glamour”, kini hidup “mewah”, mepet ke sawah !

Jakarta 17 Nopember 2009

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.