Bulan puasa di Jakarta 60 tahun lalu, atau pada kisaran tahun 1950-an hingga awal tahun 1960, sama sekali tidak terasa hiruk pikuknya orang-orang yang mempersiapkan diri untuk pulang mudik.

Pada waktu itu, saya masih sekolah di SR, Sekolah Rakyat yang kini dikenal sebagai SD atau Sekolah Dasar.

Yang sangat istimewa adalah bulan puasa telah menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak sekolah saat itu karena pada bulan puasa semua anak sekolah diberi libur selama 40 hari. Bulan puasa benar-benar dinanti kedatangannya oleh anak-anak pada setiap tahun.

Di kala itu, jumlah mobil di Jakarta memang belum banyak, masih sangat jarang. Dan, itu menjadikan lalu-lintas di jalan-jalan di Jakarta, terutama di sekitar Jakarta Pusat, sama sekali tidak ada bedanya pada saat bulan  Ramadhan dan Lebaran atau bukan.

Di bulan puasa, yang merupakan hari libur bagi anak-anak sekolah, tidak banyak pula yang dilakukan selain mengisi waktu sekolah dengan bermain atau jalan-jalan di sekitar rumah.

Saya tinggal di Jalan Segara 4, sekarang sudah menjadi bagian dari halaman Istana Presiden dan nama Jalan Segara sudah berubah menjadi Jalan Veteran. Yang masih ada hingga sekarang adalah Jalan Veteran, Jalan Veteran 1, Veteran 2, dan Veteran 3. Jalan Veteran 4 sudah tidak ada.

Kegiatan yang agak berubah sedikit pada bulan puasa adalah beredarnya tukang loak, penjaja barang bekas yang berharap dapat membeli barang yang sudah tidak terpakai lagi dari rumah rumah di sekitar Jalan Segara.

Tidak banyak perumahan di sekitar Jalan Segara 4 karena satu sisi dari Jalan Segara 4 merupakan lokasi dari Kantor Kementerian Kehakiman. Satu sisi saja yang merupakan perumahan, sementara pada sisi Kantor Kementerian Kehakiman hanya ada satu rumah, kediaman dari Mr Soedarjo, salah satu dari sedikit sarjana hukum kelompok pertama di Indonesia.

Di samping tukang loak, ada lagi tukang penjual ayam hidup yang dibawa dalam keranjang berbentuk piramida dengan pikulan. Ibu saya selalu membeli ayam dari tukang pikulan itu setelah diskusi panjang tawar menawar tentunya dengan sang tukang ayam.

Ibu saya hanya membeli 1 atau 2 ekor ayam setiap menjelang Lebaran, dan kami memang hanya berkesempatan makan ayam satu tahun sekali, yaitu saat Lebaran tiba.

Di kala itu, tidak ada ayam yang dijual sudah siap masak seperti sekarang ini. Jadi, biasanya satu atau dua hari sebelum Lebaran, ayah saya menyembelih ayam sendiri, dibantu ibu dan saya serta kakak saya menyaksikan dari jarak yang agak jauh.

Ayah saya menyembelih ayam menggunakan silet. Beberapa saat setelah itu, ayam yang telah mati disembelih diletakkan di baskom besar dan kemudian ibu saya menyiramkan air mendidih ke dalamnya.

Nah, setelah itu, telah menjadi tugas saya dan kakak saya untuk mencabut bulu ayam yang sudah diseduh tadi satu per satu.

Tentu saja saya dan kakak saya tidak mampu mencabut seluruh bulu ayam hingga bersih, dan tetap saja ibu saya yang kemudian membereskannya karena masih banyak bulu-bulu ayam yang halus yang tidak mampu dibersihkan oleh saya dan kakak saya.

Di rumah, kami memang hanya tinggal ayah, ibu dan saya serta kakak saya serta adik yang masih kecil. Tidak ada pembantu atau orang lain.

Saya menyaksikan betapa lebih kurang satu minggu menjelang Lebaran, ibu saya seakan tidak ada istirahat dari sejak sahur hingga menjelang berbuka puasa.   Sesekali terlihat juga di siang hari merebahkan tubuhnya sebentar di tempat tidur.

Yang sangat mengagumkan dan hingga kini saya masih tidak habis pikir, bahwa ibu saya sendirian dapat mampu mengerjakan sekian banyak pekerjaan seorang diri.  

Saya dan kakak saya dapat membantu di bulan puasa karena kami libur sekolah, dan ibu membagi beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan oleh saya dan kakak saya.

Ibu saya masak sendiri, mencuci pakaian sendiri, menyetrika pakaian sendiri. Ayah saya sibuk di kantor yang terkadang hingga sore dan malam hari.

Terkadang saya atau kakak saya diajak belanja menjelang lebaran ke Pasar Baru, ke toko De Zon dan ke toko sepatu Bata. Sesekali ke Pasar Senen untuk belanja membeli bahan baju dan keperluan lainnya, antara lain ke toko Baba Gemuk.

Sebenarnya di dekat rumah ada toko sepatu Hanna di Jalan Nusantara, akan tetapi saat itu sepatu Bata jauh lebih populer karena mungkin harganya yang lebih murah.

Baju baru bagi saya dan kakak saya dijahit sendiri oleh ibu saya. Saya masih ingat ibu selalu membuat patroon (pola ukuran baju) terlebih dahulu dengan menggunakan kertas koran bekas. Dengan patroon itulah, kemudian ibu memotong bahan yang akan dibuat menjadi celana dan baju lebaran. Setiap Lebaran, saya dan kakak saya mendapat baju baru hasil jahitan ibu sendiri.

Di bulan puasa itu, saya dan kakak saya harus membantu banyak hal untuk persiapan Lebaran. Ibu antara lain selalu membuat kacang bawang, yang prosesnya  kacang tanah direndam air mendidih dan setelah agak dingin menjadi tugas saya dan kakak saya mengupas kulitnya untuk kemudian di goreng menjadi kacang bawang.

Ibu juga selalu membuat rendang. Nah, kala itu tidak ada yang menjual santan atau kelapa yang sudah diparut, saya dan kakak saya bertugas mengukur kelapa dengan alat yang sekarang sudah tidak ada lagi. Sebuah bangku yang agak panjang yang di ujungnya ditanam besi melengkung yang di ujungnya terdapat lengkungan bergerigi tempat kelapa dikukur.

Kelapa masih dengan batoknya dibelah dua dan masing-masing kemudian digoyang-goyang pada ujung bergerigi dari alat parut yang di bawahnya ditampung dengan baskom.

Beberapa waktu setelah itu, ada alat parut yang lebih maju, yaitu sebilah papan dengan banyak paku pada satu sisinya. Kelapa di kupas terlebih dahulu kemudian baru diparut.

Biasanya, karena ingin berhemat agar kelapa dapat diparut hingga sisa terakhirnya, tidak jarang telah menyebabkan tangan yang memegang turut terparut dan berdarah. Ada kalanya pada sisa akhir yang dianggap tidak bisa diparut lagi akan menjadi rebutan karena boleh dimakan. Tidak ada jalan lain, bila tidak memarut kelapa, maka tidak akan ada rendang untuk Lebaran.

Setiap malam takbiran, ibu saya tidak tidur menyiapkan ketupat untuk lebaran di pagi harinya. Ibu saya memasak ketupat seorang diri, saya dan kakak saya diajarkan membantu mengisi beras ke dalam bungkus ketupat yang terbuat dari daun kelapa. Bungkus ketupat daun kelapa itu di beli di Pasar Petojo bersama dengan kebutuhan dapur lainnya menjelang Lebaran.

Saya masih ingat pelajaran mengisi beras ke dalam bungkus ketupat yang harus berisi tiga perempatnya saja karena ibu saya bilang setelah dikukus nanti beras akan membesar dan menjadi nasi ketupat yang padat dalam bungkusannya.

Demikian pula kue lebaran, ibu saya membuat sendiri dari mulai adonan untuk membuat kue kering hingga memanggangnya di oven yang masih sangat sederhana. Oven diletakkan di atas kompor dan di atas oven ada tatakan kaleng untuk menempatkan arang yang dinyalakan agar kue yang dipanggang mendapat panas juga dari atasnya.

Arang-arang ini juga digunakan untuk menyetrika pakaian. Alat setrika di kala itu memang masih menggunakan arang.

Ketupat dikukus dengan dandang yang diisi air di dalam tempat kukusan terbuat dari anyaman bambu. Adapun rendang dibuat dalam penggorengan besar yang harus diaduk-aduk terus-menerus agar tidak gosong di bagian bawahnya.

Setengah jalan saat sudah matang akan diangkat sebagian menjadi “kelio” adonan yang masih banyak kuahnya. Sebagian lainnya terus dipanggang sambil diaduk-aduk hingga kering dan menjadi “rendang”.

Nah, dalam mengaduk-aduk inilah, saya dan kakak saya bertugas bergantian dari sejak awal hingga menjelang matang dan kering menjadi rendang yang kemudian diambil alih oleh ibu saya.

Kenangan manis yang tak terlupakan dari kegiatan di bulan puasa lebih kurang 60 tahun lalu. Kegiatan yang tidak lagi dialami anak-anak sekarang yang sudah banyak dilengkapi peralatan yang serba listrik, modern dan praktis. Peralatan yang jauh lebih memudahkan sebagai hasil dari kemajuan teknologi.