ArticleEducationFlightFlight Commercial

Boeing B-777 Garuda Versus PCN Soekarno Hatta

Juli 2013, B-777-300ER pesanan Garuda Indonesia akhirnya tiba juga setelah mengalami keterlambatan beberapa bulan dari jadwal rencana semula. B-777 Garuda menandai langkah maju The Flag Carrier ini dengan menghadirkan layanan First Class + Wifi on air serta dimulainya pelayanan terbang langsung dalam rute jarak jauh. Perkembangan berikutnya adalah munculnya berita ditundanya rencana penerbangan langsung Garuda menggunakan B-777 ke London. Dari berita yang tersiar di berbagai media, Garuda mengatakan ditundanya penerbangan tersebut, menunggu kesiapan Runway Cengkareng untuk dapat mampu digunakan B-777 yang akan Take Off dengan berat maksimum. Disebutkan tentang PCN Soekarno Hatta yang masih belum memenuhi syarat untuk B-777 take off dengan berat maksimum. PCN adalah Pavement Classification Number, dikenal juga sebagai LCN atau Load Classification Number, sebuah parameter dari kekuatan landasan menopang berat pesawat terbang termasuk atau terutama dalam Take Off dan Landing.

Pihak Garuda Indonesia mengatakan, pesawat ini harus dioptimalkan karena harga pesawat yang mahal, tetapi efisien dalam konsumsi bahan bakar. Harga Boeing 777-300ER sekitar 150 juta dollar AS atau Rp 1,5 triliun. Garuda sudah menerima dua dari 10 pesawat Boeing 777-300ER yang dipesan.

Seandainya landasan pacu tersebut siap, Garuda Indonesia pasti menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani penerbangan jarak jauh Jakarta-London. Padahal penerbangan yang lain selalu harus transit satu kali. Dengan Boeing 777-300ER, penerbangan Jakarta-London ditempuh sekitar 18 jam. Permintaan penerbangan nonstop Jakarta-London cukup tinggi, apalagi jika digabung dengan pasar dari Australia. Pasar dari Australia bisa mengisi sepertiga dari target penjualan kursi ke Eropa. Pasar Australia ini didatangkan dari Sydney, Perth, dan Melbourne. Saat ini Garuda melayani lima kali penerbangan ke Eropa dalam seminggu. Dengan Boeing 777-300ER, Garuda bisa bersaing dan akan diperhitungkan di ranah global.

Memang Cengkareng sudah cukup banyak digunakan Take Off dan Landing pesawat-pesawat terbang jenis B-777 dari Maskapai penerbangan lain, akan tetapi tidak/belum ada yang menggunakannya sampai Take Off dengan berat maksimum. Sangat disayangkan, kalkulasi yang bersifat teknis dari kesiapan kekuatan landasan terhadap pengoperasian sebuah pesawat terbang, bisa terjadi di Maskapai sebesar Garuda Indonesia.

Sementara itu pihak AP II yang merasa dituding sebagai penyebab tertundanya penerbangan B-777 GA ke London mengatakan, bahwa penyebabnya adalah “kurang koordinasi” antara Garuda dengan pihak AP II. Seraya menambahkan bahwa AP II telah melakukan penyehatan Bandara Soekarno-Hatta. Dua landasan yang ada sudah disuntik untuk diperkuat. Proses ini sudah selesai sejak tahun 2012 dan sekarang sedang dilakukan peningkatan. Peningkatan ini berupa pelapisan ulang landasan. Pelapisan tidak bisa cepat dilaksanakan karena Bandara Soekarno-Hatta sangat sibuk. Dalam sehari ada 1.200 penerbangan. Jika satu landasan ditutup, bisa dibayangkan kemacetan di bandara. Ditambahkan pula bahwa menurut AP II hingga kini Garuda rata-rata mengangkut 70 sampai 80 persen dari beban maksimal. Bahkan load factor-nya berkisar 90 persen. Dalam hal ini diungkapkan, Garuda tidak perlu khawatir dengan kondisi landasan. “Garuda juga kan belum tentu bisa 100 persen setiap hari, average-nya 70-80 persen. Yang 100 persen itu hanya beberapa waktu saja. Load factor dari pesawat kadang-kadang 90 sampai 100 persen, tetapi kadang juga 50 persen.

Nah, Apabila benar seperti dikatakan Garuda bahwa tertundanya penerbangan langsung jarak jauh ke London disebabkan oleh alasan kondisi kekerasan landasan, maka dipastikan tidak ada satu jenis koordinasi pun (seperti yang diinginkan AP II) yang dapat mengatasinya kecuali persyaratan kekerasan landasan tersebut disesuaikan. AP II sendiri sebagai pengelola Bandara Soekarno Hatta, saat ini tengah berhadapan dengan banyak masalah yang dihasilkan dari terlambatnya antisipasi pertumbuhan penumpang 10 -15 tahun terakhir. Sekedar contoh nyata saja, bandara yang mempunyai kapasitas pelayanan bagi 22 juta penumpang per tahunnya, pada tahun 2012 yang lalu telah dipaksa melayani sebanyak hampir 53 juta penumpang. Dapat dibayangkan bagaimana padatnya penerbangan yang take off dan landing di Soekarno Hatta ini.

Belum lagi pelayanan dari Air Traffic Control yang konon sudah sangat kekurangan tenaga SDM dan juga peralatan yang kurang memadai untuk dapat memberikan pelayanan yang standar. Dengan kondisi yang seperti ini, maka dapat dibayangkan betapa kesulitan yang tengah dihadapi pihak AP II dalam konteks untuk dapat meningkatkan pengerasan landasan seperti yang dibutuhkan Garuda untuk penerbangan B-777 nya langsung ke London. Itu sebabnya kita juga harus memaklumi, bila kemudian tersiar kabar bahwa pihak Garuda mengatakan penundaan penerbangannya akan berakhir pada Mei 2014, sementara pihak AP II mengatakan bahwa peningkatan kualitas Runway baru akan rampung di akhir tahun 2014. Kemungkinan besar hal-ini lah yang dimaksudkan oleh AP II sebagai salah satu item yang memerlukan “koordinasi” antara Garuda dengan AP II.

Garuda tidak memiliki kompetensi dalam membicarakan membahas atau menganalisis proses peningkatan kualitas dari Runway Soekarno Hatta. Itu adalah domainnya pihak AP II.

Demikian pula AP II tidak berkompeten untuk turut menghitung jumlah penumpang setiap harinya yang akan diangkut berkait dengan sebuah Maskapai yang akan Take Off dengan berat maksimum. Namun dalam perencanaan secara keseluruhan sebagai stake-holder penerbangan sipil nasional, memang dibutuhkan koordinasi yang bersifat konstruktif. Khusus masalah teknis, kiranya agak sulit untuk dapat berhasil dicarikan solusinya dengan jalan koordinasi belaka. Contohnya adalah kejadian tertundanya penerbangan GA ke London ini. Pihak Garuda seyogyanya sudah memperhitungkan kondisi Soekarno Hatta termasuk kekuatan Runway nya, jauh hari sebelum mengumumkan akan menggunakan B-777 untuk take off dengan berat maksimum.

Sebaliknya pihak AP II seyogyanya sudah harus mengantisipasi bahwa pengoperasian pesawat-pesawat terbang produk mutakhir yang menuntut pelayanan prima termasuk dalam konteks B-777 yang akan digunakan dengan Berat Maksimum Take Off. Jangankan Boeing -777, bahkan sejak beberpa tahun yang lalu sudah hadir dipentas global pesawat Airbus A-380 yang memiliki berat take off yang jauh lebih besar dibanding dengan B-777 yang dimiliki Garuda saat ini.

Kesimpulannya adalah, tidak ada gunanya untuk mencari siapa yang salah dalam hal ini. Introspeksi kedalam diri masing-masing akan jauh lebih bermakna dan mengarah kepada solusi yang didambakan oleh kita semua. Di bulan puasa ini, memang manusia tengah di uji kesabarannya untuk tidak mudah tersinggung terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak bermaksud seperti yang dicurigai masing-masing. Keterpojokkan dalam menghadapi kelancaran pelaksanaan tugas (dalam memberikan pelayanan kepada publik) memang kerap memancing “emosi”.

Sabar – sabar –sabar dan sabar !

Selamat melaksanakan ibadah Puasa di Bulan Ramadhan ini, maaf lahir dan batin !

Jakarta 4 Agustus 2013
Chappy Hakim

Dari berbagai sumber.

 

Related Articles

3 thoughts on “Boeing B-777 Garuda Versus PCN Soekarno Hatta”

  1. Kenapa tidak memakai Kualanamu saja dulu yang sudah bisa untuk A380 kalau sasarannya salah satunya adalah penumpang dari Australia?

  2. Bpk Chappy Hakim yth, kalau pesawat mau take off, bukannya beban ke landasan tidak terlalu berat, karena sebagian beban pesawat sudah dibantu diangkat oleh sayap. Lain halnya jika pesawat mau mendarat, pasti roda pesawat akan menimbulkan tekanan ke landasan.
    sedangkan sewaktu pesawat mau mendarat kan tidak mungkin kondisi full tank?
    mohon pencerahan dari Bpk.. terima kasih

  3. Beban yang dihitung pada saat Take Off tidak hanya saat pesawat sudah bergulir akan tetapi terutama saat “line-up” di ujung landasan ancang2, dengan power penuh/full gas untuk Take Off, beban justru menjadi lebih menekan Runway, sebelum dia benar-benar bergulir untuk meluncur lepas landas. Selain itu, bila terjadi sesuatu yang membatalkan Take Off juga diperhitungkan beban yang harus diterima runway. Demikian pula bila terjadi emergency sesaat setelah take off, maka pesawat harus landing kembali, walaupun ada prosedur untuk membuang kelebihan fuel terlebih dahulu, tetap saja beban pesawat masih berat sekali. terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.