ArticleCaseEducationFlight

Berharap untuk tidak terulang kembali

Dunia penerbangan adalah dunia yang teknologis sifatnya dan juga dunia yang sangat dinamis. Kecepatan dari dunia teknologi penerbangan sangat tinggi. Salah satu yang utama dalam dunia yang teknologis sifatnya adalah kebutuhan akan lebih ketatnya keterikatan pada ketentuan aturan dan hukum yang berlaku. Penerbangan juga sangat bersifat Inter-Nation atau antar bangsa. Maka itu sebabnya dunia penerbangan yang sangat teknologis sifatnya dan membutuhkan perlakuan yang ketat terhadap aturan, ketentuan dan hukum, menjadi harus tunduk pula kepada Law – Rules and Regulation yang berstandar Internasional.

Sifat atau ciri lainnya dari dunia penerbangan adalah diawaki sdm yang sangat spesialiastik dan memerlukan waktu untuk dapat memperolehnya. Contohnya adalah Pilot, Teknisi, ATC controller dan lain-lain. Itu sebabnya, maka penanganan dalam pengoperasiannya diperlukan orang-orang spesialis dan terlatih. Itu pula sebabnya maka apabila ada masalah yang muncul, hanya mereka yang memiliki latar belakang pengetahuan tentang penerbangan yang cukup yang akan mampu untuk mencarikan solusinya dengan tepat. Disini jargon seperti The right man on the right place menjadi sangat penting dan dominan..

Disisi lain, lingkungan yang harus tertib dan diatur dengan sangat ketat oleh ketentuan dan aturan serta prosedur baku, sangatlah memerlukan tiga simpul yang bergerak dengan harmonis. Ketiga simpul tersebut adalah disiplin tanpa kompromi, pengawasan yang ketat dan tindakan hukum dengan efek jera bila terjadi pelanggaran. Selama ini keamburadulan dan kesemrawutan yang melanda dunia penerbangan kita adalah antara lain disebabkan karena tidak berjalannya dengan baik ketiga simpul tersebut. Berkembang gossip yang jelas dan sulit dibuktikan, misalnya tentang jual beli ijin pada berbagai sektor bisnis penerbangan yang sudah menjadi rahasia umum. Sulit dibuktikan dan mungkin pula tidak bisa dibuktikan, akan tetapi jelas-jelas muncul dipermukaan hal-hal yang aneh-aneh, yang “believe it or not”. Bandara yang over kapasitas, Maskapai BUMN yang bangkrut, infra struktur yang tertinggal jauh dari lajunya pertumbuhan penumpang dan barang serta kekurangan dalam kuantitas sekaligus kualitas sdm penerbangan, adalah merupakan gambaran terang benderang yang mewakili dari proses itu semua.

Dalam era pemerintahan yang baru berjalan beberapa bulan ini, terjadilah accident Air Asia QZ 8501. Nah dalam penanganan kecelakaan pesawat terbang ini, bermunculanlah dan terbuka satu persatu kepermukaan beberapa hal yang kemungkinan besar akan mampu menjelaskan mengapa itu semua bisa terjadi. Itu semua yang aneh-aneh alias believe it or not tersebut. Jadi sebenarnya , inilah satu momentum yang sangat tepat, bila kita ingin benar-benar berbenah diri untuk menyelesaikan permasalahan besar dunia penerbangan yang tengah kita hadapai sekarang.

Keputusan Menteri Perhubungan Jonan yang bertindak tegas dalam penanganan kecelakaan Air Asia , ternyata cukup mengagetkan banyak pihak. Semua seolah tersentak dan selanjutnya bermunculanlah pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya. Gebrakan Menteri Perhubungan Jonan telah menunjukkan perbedaan yang sangat kontras dengan langgam dari irama kerja kementrian perhubungan selama ini yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Terlepas dari mungkin saja banyak kekurangan yang kemudian terlihat dalam gebrakannya, patut dimaklumi, karena seorang Menteri yang berada didalam lingkungan yang baru, sangat masuk akal bila memerlukan periode waktu tertentu untuk beradaptasi. Akan tetapi minimal Sang Menteri telah berusaha menghadirkan salah satu simpul penting dalam menjalankan mekanisme kerja di dunia penerbangan yaitu membangun disiplin yang tanpa kompromi. Memang dan wajar sekali penanganan yang tengah dan akan dilakukan oleh Menhub pasti akan menimbulkan hiruk pikuk yang luar biasa.

Keguncangan dari hiruk pikuk itu adalah sesuatu yang semata biasa terjadi dalam proses menuju satu perubahan, apalagi satu perubahan yang fundamental sifatnya. Ibarat rumah, kelihatannya Jonan tidak ingin merenovasinya, akan tetapi ingin membongkar sampai ke-akar-akarnya untuk kemudian membangun rumah yang baru. Apabila terlihat ada langkah yang keliru, maka hal tersebut adalah juga biasa terjadi bagi seseorang yang berada di “dalam” situasi yang amburadul, semrawut dan kusut untuk melakukan langkah perbaikan dalam mengurai kesemrawutan itu.

Dia menjadi tidak atau kurang mampu untuk bisa melihat dengan jernih ditengah-tengah air yang “butek”. Ini juga adalah fenomena “akuarium”, dimana orang lain yang melihat kerja seseorang jauh lebih mudah melihat dengan jelas telah terjadi kekeliruan dibanding dengan mereka yang tengah bekerja keras dan berada ditengah-tengah lautan masalah yang berada dikelilingnya. Itu sebabnya, tugas besar dari kita semua yang mencintai dan menginginkan penerbangan nasional menjadi lebih baik untuk mendukung dan membantunya.

Mendukung agar disiplin tinggi dapat ditegakkan, pengawasan ketat dapat berlangsung dan tindakan dengan efek jera harus dijatuhkan bagi siapa saja yang melanggar aturan. Bagi siapa saja, setiap permulaan memang tidak mudah, every beginning is difficult, akan tetapi memulai dengan baik adalah sudah setengah laba, gut begonnen ist halb gewonnen. Semoga dunia penerbangan kita dapat bangun kembali menjadi lebih baik.

Jakarta 4 Januari 2015
Chappy Hakim

Catatan : tulisan ini sudah di muat di Koran Kompas tanggal 7 Januari 2015.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close