Sudah hampir 70 tahun, sejak tahun 1946 sampai saat ini, kita justru harus meminta izin kepada otoritas Penerbangan Singapura jika ada pesawat kita yang mau terbang dari Tanjung Pinang ke Pekanbaru di wilayah kedaulatan Republik Indonesia sendiri. Hal sama juga berlaku bagi penerbangan dari Pulau Natuna ke Batam dan penerbangan-penerbangan lain di kawasan Selat Malaka.

Dalam 15 tahun terakhir, meski sudah amat nyata Pertumbuhan penumpang pesawat terbang terus meningkat setiap tahun, hal ini tak kunjung mendapat perhatian. Akibatnya, bandara Cengkarang terpaksa harus melayani penumpang yang jumlahnya sampai tiga kali lipa dari kapasitas maksimumnya.

Meski sudah lebih dari 60 tahun, manajemen pelayanan penerbangan kita belum juga mampu menyatukan airport tax (passenger service charge)  ke dalam harga tiket pesawat. Malah, garuda yang sudah sukses menjalankannya selama dua tahun ‘dipaksa’ ke pelayanan dengan pembayaran airport tax terpisah, yang artinya kembali ke cara pelayanan penerbangan yang ‘primitif”

Gara-gara itu semua, antara lain, yang menyebabkan kita mengalami kesulitan besar untuk dapat menyusuaikan diri dengan berbagai regulasi keselamatan terbang Internasional.

Acara peluncuran dan bedah buku “Believe It or Not – Dunia Penerbangan Indonesia”  karya Chappy Hakim  telah diselenggarakan di Toko Buku Gramedia Pondok Indah Mall pada tanggal 7 November 2014 dengan menghadirkan pembicara antara lain

  1. Dudi Sudibyo (Senior Editor Majalah Angkasa & pemerhati dunia penerbangan)
  2. Agus Pambagio (Pengamat Kebijakan Publik)
  3. Capt. Christian B (Pemerhati dunia penerbangan)
  4. Moderator Saudara Suryopratomo (Direktur Pemberitaan Metro TV)