Perkembangan situasi di tanah air belakangan ini sudah sangat menghawatirkan sekali dengan ter-ekspose nya di media, perbedaan yang semakin tajam antar dua kubu yang saling berhadapan.   Kedua kubu ini memang merupakan hasil dari pelaksanaan pilkada kota Jakarta yang bertujuan menentukan pemimpin baru sebagai gubernur ibukota tercinta.   Dipastikan bahwa sejak awal pemilihan gubernur yang berlangsung pada setiap lima tahun sekali bertujuan untuk dapat memperoleh “the right man” yang akan diberi kepercayaan memimpin Jakarta sebagai ibukota pemerintahan menuju keperbaikan demi kesejahteraan masyarakat.

Sayangnya yang terjadi adalah terbentuknya dua kubu yang tidak hanya berseberangan dalam prinsip akan tetapi kini terlihat sudah berhadap-hadapan menuju perpecahan sesama anak bangsa.   Pada putaran akhir pemilihan gubernur Jakarta yang menyisakan dua kandidat yang bersaing, memang tidak bisa dihindarkan terbangunnya dua kelompok yang berhadapan satu dengan lainnya dalam atmosfer yang “panas”.   Mirip dengan kompetisi sepakbola yang mencapai partai final, maka tidak hanya para pemain yang akan bertarung habis-habisan, akan tetapi terutama sekali para supporter pendukungnya jauh lebih bersemangat dan kadang beringas untuk mati-matian siap membela tim kesayangannya.   Itulah yang terjadi belakangan ini di tanah air.   Partai final pemilihan gubernur di Jakarta ternyata bergaung luas keseluruh Nusantara tercinta.

Diawali dengan putusan Hakim tentang penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok sang finalis yang petahana dinyatakan bersalah dan harus segera masuk penjara selama 2 tahun.   Gelombang pertentangan antara pembela dan lawan Ahok menjadi semakin meruncing.   Tanpa ingin berpihak kepada siapapun dalam konteks persaingan yang panas ini, tentunya kita semua sepatutnya menyadari benar bahwa ada yang jauh lebih penting dari itu semua yaitu “persatuan bangsa” yang telah dikelola selama lebih dari setengah abad lamanya.   Membaca begitu banyak tulisan yang beredar di berbagai media main stream maupun media online menjadi menarik sekali untuk dicermati.   Ternyata ada begitu banyak orang-orang pintar berada dibalik kedua kubu yang tengah bertanding.   Membaca uraian dari tulisan-tulisan yang berasal dari para pendukung Ahok otomatis kita akan bersimpati dan serta merta mendukungnya.   Demikian pula bila diikuti rangkaian uraian tulisan para lawannya Ahok, kita pun menjadi sulit untuk segera tidak setuju dengan pendapatnya.  

Hal ini tentu saja merefleksikan betapa banyak orang pintar di negeri ini.   Pada kenyataannya yang kemudian membuat hati bersedih adalah terbelahnya menjadi dua front yang saling berhadapan dengan argumentasi masing-masing.   Argumentasi yang sangat “cerdas” dari kedua pihak yang berhadapan dan ini menghasilkan banyak sahabat menjadi bermusuhan satu dengan lainnya.   Tidak itu saja , dalam keluarga pun tidak sedikit yang terbelah dua menjadi jajaran para pendukung Ahok dan mereka yang tidak menyukainya.   Sebuah fenomena yang sangat masuk akal dan logis saja terjadi seperti pada pertandingan final sepakbola dari sebuah kompetisi yang bergengsi.

Yang harus diingat bagi kita semua, terutama kaum terpelajar Indonesia adalah bahwa ada yang jauh lebih penting dan berharga dari pilkada DKI ini yaitu persatuan kita sebagai bangsa.   Janganlah negeri tercinta ini “bubar” hanya karena akibat dari sebuah prosesi pemilihan gubernur ibukota negara kesatuan Republik Indonesia.