Archive for April, 2011

Pertahanan Indonesia – Angkatan Perang Negara Kepulauan

Pertahanan Indonesia : Angkatan Perang Negara Kepulauan

Pertahanan Indonesia : Angkatan Perang Negara Kepulauan

SINOPSIS
RI tengah di lecehkan dianggap remeh, sangat tidak disegani sebagai satu negara yang berdaulat. Salah satu penyebabnya adalah mungkin mereka tahu bahwa RI walaupun satu negara yang besar akan tetapi tidak memiliki kekuatan pertahanan negara yang memadai. Sebagai satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tidak memiliki angkatan perang yang kuat, angkatan perang negara kepulauan!

DETAILS
ISBN: 9789791008372
Author: CHAPPY HAKIM
Language: INDONESIA
Date Published: 2011
Type: SOFT COVER
No. of Pages: 375
Dimensions (cm): 15 x 25

Rosihan Anwar dalam Kenangan.

Rosihan Anwar

Rosihan Anwar

Kemarin pagi saya ditelepon istri saya dari rumah mengabarkan bahwa Rosihan Anwar meninggal dunia.   Inlillahi wa ina ilaihi rajiun. Saya beserta seluruh keluarga menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga arwah almarhum dapat diterima disisi YME sesuai dengan amal dan ibadahnya.

Saya tidak kenal secara pribadi dengan Rosihan Anwar, tetapi ayah saya dan ayah mertua saya adalah kolega beliau.   Pernah satu ketika saya bertanya kepada kakak saya, apakah ayah kenal dengan Rosihan Anwar.   Kakak saya menjawab datar, kenal tetapi mereka berdua tidak dekat, konon menurut kakak saya ayah pernah mengatakan bahwa Rosihan itu orangnya “sombong”.   Rosihan sendiri pada satu kesempatan wawancara disalah satu stasiun Televisi, pernah berkata tahu bahwa ia memang dikenal oleh teman-temannya sebagai figur yang “sombong” ujarnya sambil tertawa lepas . Ia meneruskan bahwa ia tidak begitu perduli karena sebenarnya ia tidaklah demikian, ia tidaklah sombong.

Satu waktu, beberapa saat setelah pensiun, saya dihubungi oleh Bung Salim Said, menanyakan kepada saya apakah saya kenal dengan Rosihan Anwar? Saya jawab, ooh, saya tidak kenal tetapi tahu dia adalah teman ayah saya. Saya teruskan dengan bergurau,  orang yang “sombong” itu ?   Bung Salim Said pun tertawa lebar, meneruskan gurauan saya dengan ” ha ha ha benar orang tua yang “bloody arogan” katanya sambil tertawa ngakak.   Kenapa Bung Salim? saya meneruskan pertanyaan.   Salim Said berkata bahwa ia baru saja membaca resensi buku saya yang ditulis oleh Rosihan Anwar. Tolong anda check ! Sayapun mengucapkan terimakasih serta menutup percakapan di pagi hari itu.   Jujur, selesai menutup telepon Bung Salim, saya mendadak merasa “hebat sekali”, buku saya dibuatkan resensi nya oleh Rosihan Anwar, wartawan senior yang beken itu.   Walau saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau tetapi saya tahu betul bagaimana kebiasaan seorang Rosihan Anwar menilai tulisan-tulisan orang lain.   Tidak mudah untuk mendapatkan perhatian dari seorang Rosihan Anwar mengenai tulisan orang lain, apalagi tulisan “anak muda” seusia anak-anaknya.    Pujian? pasti “jauh panggang dari api” !   Namun disisi lain, koreksi tajam dari Rosihan adalah dapat dipastikan berujud pelajaran yang mahal. Read more…

Bulan April dan Angkatan Udara

Angkatan Udara tertua di dunia adalah Angkatan Udara Kerajaan Inggris, RAF, Royal Air Force yang  telah  dibentuk  sebagai Angkatan yang mandiri sejak tanggal 1 April 1918.   Tiga tahun setelah itu dibulan Maret 1921 Australia mendirikan Angkatan Udaranya dengan nama RAAF, Royal Australian Air Force.   Sementara Amerika Serikat, pada awalnya, korps dan kekuatan udara nya adalah merupakan bagian dari Angkatan Darat.   Baru pada 18 September 1947 korps udara yang merupakan bagian dari Angkatan Darat Amerika berpisah dan berdiri sendiri sebagai Angkatan dengan nama US Air Force.

Di Indonesia, setiap tanggal 9 April diperingati sebagai Hari Angkatan Udara.   Hal ini berawal dari Penetapan Pemerintah Republik Indonesia nomor : 6/SD tahun 1946 tertanggal 9 April 1946.   Penetapan pemerintah tersebut mengatur tentang peningkatan TKR Jawatan Penerbangan menjadi TRI, Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara.   Demikianlah maka setiap tanggal 9 April keluarga besar Angkatan Udara memperingatinya sebagai momen historis dari berubahnya TKR Jawatan Penerbangan menjadi TRI Angkatan Udara.   Dalam sejarah perjalanannya,  tanggal 9 April pernah diperingati sebagai Hari Pengesahan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara, pernah pula diperingati sebagai Hari Jadi AURI, kemudian dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun AURI, bahkan pernah dirayakan sebagai Hari Penerbangan Nasional, sebelum kemudian diberlakukan sebagai Hari Angkatan Udara Republik Indonesia.   Keseluruhan rangkaian perubahan sebutan peringatan 9 April tersebut merupakan refleksi dari perhatian yang besar dari banyak pihak dalam mewujudkan rasa bangga terhadap Angkatan Udara.

Kekuatan Udara memang telah dinilai sebagai salah satu pilar untuk mempertahankan sekaligus mengangkat derajat dan martabat bangsa yang berdaulat.   Terasa begitu besar keinginan banyak pihak untuk dapat memiliki “national airpower” yang kuat. Read more…

Mengenang Pahlawan Dirgantara

Pada 17 Oktober 1947, penerjunan pasukan pertama kali dilaksanakan oleh AURI di Sambi,Kecamatan Rantaipulut,Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Dilaksanakan atas permintaan Gubernur Kalimantan Pangeran Muhammad Noor, Ir. Permohonan tersebut terkait dengan dukungan AURI untuk menembus blokade Belanda.Gubernur ingin pasukan payung yang terdiri atas putra daerah Kalimantan dikirim, terutama yang mampu berbahasa Dayak Kahayan. Hanya berbekal latihan singkat saja,13 prajurit langsung diterjunkan ke Kotawaringin. Dengan pesawat Dakota RI- 002 yang diterbangkan pilot Robert Earl Freeberg, kopilot Makmur Suhodo, dan jumping master Amir Hamzah serta pemandu jalan Mayor Tjilik Riwut, 12 prajurit AURI berhasil terjun dan mendarat dengan selamat, seorang berhalangan ikut karena sakit. Setelah bergerilya selama 35 hari, tanggal 23 November 1947 mereka terkepung di tepi anak sungai Kahayan. Dalam pertempuran tersebut tiga anggota pasukan payung gugur, yaitu Iskandar, Achmad Kosasih, dan Hadisumantri. Sementara seluruh sisa anggota pasukan ditangkap Belanda dan dijebloskan di Penjara Nusakambangan. Penerjunan pasukan di Kotawaringin ini kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Operasi Penerjunan Militer Pertama di Indonesia.

18 Mei 1958, Kapten Udara Ignatius Dewanto sudah siap di kokpit pesawat Mustang dengan nomor ekor F-338 di apron Lapangan Terbang Liang,Ambon. Saat terdengar adanya pesawat B-26 Invader menyerang Kota Ambon, Dewanto segera memacu sang Mustang F-338 ke ujung runway dan take off. Dia bergerak cepat menyerang pesawat musuh tersebut. Dewanto berhasil menembak jatuh pesawat B-26 Invader yang dikemudikan Allan Lawrence Pope dan juru radio Hary Rantung di perairan Maluku. Hal ini tertuang dalam pengakuan Allan Lawrence Pope kepada tim pemeriksa seperti tertera dalam berita acara pemeriksaan pada persidangan tentara di Jalan Sabang Jakarta.Hal yang sama dijelaskan pula oleh Prof Dr Priyatna Abdurrasyid, jaksa yang diperintahkan Jaksa Agung Soeprapto untuk membantu AURI melakukan pemeriksaan terhadap Allan Pope di tempat tahanannya di Kaliurang,Yogyakarta. Allan Pope mengatakan kepadaProfPriyatna bahwa tembakan mematikan datang dari Mustang yang menyerang dan menembak tepat pada mesin pesawat – nya. Allan Lawrence Pope adalah tentara bayaran, seorang pilot mantan agen CIA yang digunakan oleh pihak pemberontak Permesta di Indonesia timur dalam memperkuat Angkatan Udara Revolusioner (AUREV). Selain di Indonesia, dia juga beberapa kali bertugas di Vietnam. Read more…

Perang Libya?

Apa yang terjadi di Libya saat ini, dapat dikatakan sebagai perang, bila mengacu kepada Carl Von Clausewitz yang berkata bahwa Perang itu adalah “continuation of political intercourse carried on with other means”.   Jelas  disini bahwa pasti ada dan kental sekali kepentingan politik dari pihak koalisi atau sekutu atau NATO dalam upayanya menyerang Libya.

Akan tetapi, bila kita melihat lebih jauh lagi kepada penjelasan Clausewitz  yaitu bahwa perang adalah “interaction in wich two or more opposing forces have struggle of wills”, maka apa yang terjadi di Libya itu tidak dapat dikatakan sebagai perang.   Sebabnya adalah, dalam konteks berhadapannya Libya dengan Koalisi, dipastikan hanya pihak Koalisi saja yang memiliki “struggle of wills”.   Libya sama sekali tidak mempunyai selera apalagi kemauan yang kuat (struggle of wills)  untuk membuka peperangan melawan Koalisi.

Pada kenyataannya, semua yang terjadi di Libya adalah memang semata-mata hanyalah penyerangan besar-besaran oleh Koalisi terhadap Libya.   Dalam era teknologi maju seperti sekarang ini, bila dalam suatu Negara diberlakukan “no fly zone”, maka secara otomatis Negara tersebut akan langsung menjadi “sitting duck” alias sasaran empuk untuk diserang.   Kondisi seperti itulah saat ini tentang apa yang tengah dihadapi oleh Libya.   Dewan Keamanan PBB dalam deklarasinya telah memberlakukan “no fly zone” terhadap Libya.   Artinya adalah Libya dilarang menggunakan kawasan udaranya untuk kegiatan apapun, terutama penerbangan.   Itu berarti, kekuatan udara Libya sudah dilumpuhkan terlebih dahulu secara administratif oleh PBB.   Itu juga berarti bahwa kunci kemenangan perang berupa “air superiority”  atau keunggulan udara telah diberikan secara gratis oleh PBB kepada pasukan Koalisi.    Tidak hanya itu, karena bersamaan dengan keluarnya “no fly zone” melalui deklarasi dewan keamanan PBB tersebut tercantum pula otorisasi bagi Koalisi untuk menyerang dan melumpuhkan kedudukan instalasi militer Libya yang dianggap telah, sedang dan akan digunakan untuk membunuh penduduk sipil Libya yang memberontak.   Dengan demikian maka lengkaplah sudah pihak Koalisi memperoleh “licence to kill” dan sekaligus juga karcis tol gratis untuk menuju sasaran.   Read more…