
Rosihan Anwar
Kemarin pagi saya ditelepon istri saya dari rumah mengabarkan bahwa Rosihan Anwar meninggal dunia. Inlillahi wa ina ilaihi rajiun. Saya beserta seluruh keluarga menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga arwah almarhum dapat diterima disisi YME sesuai dengan amal dan ibadahnya.
Saya tidak kenal secara pribadi dengan Rosihan Anwar, tetapi ayah saya dan ayah mertua saya adalah kolega beliau. Pernah satu ketika saya bertanya kepada kakak saya, apakah ayah kenal dengan Rosihan Anwar. Kakak saya menjawab datar, kenal tetapi mereka berdua tidak dekat, konon menurut kakak saya ayah pernah mengatakan bahwa Rosihan itu orangnya “sombong”. Rosihan sendiri pada satu kesempatan wawancara disalah satu stasiun Televisi, pernah berkata tahu bahwa ia memang dikenal oleh teman-temannya sebagai figur yang “sombong” ujarnya sambil tertawa lepas . Ia meneruskan bahwa ia tidak begitu perduli karena sebenarnya ia tidaklah demikian, ia tidaklah sombong.
Satu waktu, beberapa saat setelah pensiun, saya dihubungi oleh Bung Salim Said, menanyakan kepada saya apakah saya kenal dengan Rosihan Anwar? Saya jawab, ooh, saya tidak kenal tetapi tahu dia adalah teman ayah saya. Saya teruskan dengan bergurau, orang yang “sombong” itu ? Bung Salim Said pun tertawa lebar, meneruskan gurauan saya dengan ” ha ha ha benar orang tua yang “bloody arogan” katanya sambil tertawa ngakak. Kenapa Bung Salim? saya meneruskan pertanyaan. Salim Said berkata bahwa ia baru saja membaca resensi buku saya yang ditulis oleh Rosihan Anwar. Tolong anda check ! Sayapun mengucapkan terimakasih serta menutup percakapan di pagi hari itu. Jujur, selesai menutup telepon Bung Salim, saya mendadak merasa “hebat sekali”, buku saya dibuatkan resensi nya oleh Rosihan Anwar, wartawan senior yang beken itu. Walau saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau tetapi saya tahu betul bagaimana kebiasaan seorang Rosihan Anwar menilai tulisan-tulisan orang lain. Tidak mudah untuk mendapatkan perhatian dari seorang Rosihan Anwar mengenai tulisan orang lain, apalagi tulisan “anak muda” seusia anak-anaknya. Pujian? pasti “jauh panggang dari api” ! Namun disisi lain, koreksi tajam dari Rosihan adalah dapat dipastikan berujud pelajaran yang mahal. Read more…