ArticleEducationPeople

Tidak Ada Pembicaraan Anggaran 20% untuk Pendidikan di New Zealand

BEBERAPA bulan yang lalu, saya ngobrol atau omong-omong dengan Atase Pertahanan RI di Selandia Baru, Kolonel Jeffry Yandi.  Saya ingin banyak tahu tentang Negara Selandia Baru yang telah di huninya selama hampir 2 tahun.

Dari pembicaraan panjang itu, ternyata banyak pengetahuan saya tentang Selandia Baru menjadi bertambah.   Disamping itu ternyata banyak pula hal yang sangat menarik di Selandia Baru itu.  Berikut ini beberapa hal yang patut saya uraikan yang kiranya akan dapat menambah wawasan kita semua.

Di Selandia Baru ternyata, ada undang-undang yang mengatur tentang anak usia sekolah.  Setiap anak yang telah berusia 5 tahun, diwajibkan atau harus masuk sekolah, yang setaraf dengan SD.  Apabila ada anak seusia 5 tahun terlihat dijalan-jalan umum, dapat dipastikan akan segera ditangkap polisi. Polisi setempat akan segera membawa kepada orang tuanya atau orang tua asuhnya atau orang yang bertanggung jawab terhadap anak itu, yang di Selandia Baru dikenal dengan istilah “guardian”nya.  Orang tuanya akan ditegur, dan si anak harus segera masuk ke sekolah.

Di samping itu, Selandia Baru adalah Negara yang sangat disukai oleh anak-anak usia dini untuk bersekolah. Anak-anak sangat menikmati  kegiatan di sekolahnya, karena kurikulumnya disusun sedemikian rupa sehingga memang bertujuan agar anak-anak itu “senang belajar“, yaitu antara lain dengan jumlah mata pelajaran yang sedikit sekali. Selain sedikit, mata ajaran yang disampaikan pun dipilih dengan cermat yaitu yang paling mendasar, tidak terlalu banyak muatan dan merupakan sesuatu yang langsung bermanfaat bagi si anak didik. Contoh nya adalah, pelajaran mengenai PPPK, pertolongan pertama pada kecelakaan.  Mereka diajarkan “first aid”, untuk diri mereka  sendiri dan juga bila teman-teman atau orang sekitarnya membutuhkan pertolongan.

Di masa sekolah dasar ini, secara bertahap terlihat sekali yang diutamakan adalah menggiring anak didik agar suka membaca, senang belajar, senang dengan matematika, dan menyadarkan tentang bagaimana kalau kita belajar maka kita akan dapat memperoleh manfaat besar bagi kehidupan sehari-harinya.

Lebih jauh lagi tentang pendidikan di sekolah yang diselenggarakan secara “inclusive”.   Dunia pendidikan di Selandia Baru tidak mengenal dengan apa yang kita ketahui selama ini dengan SLB, sekolah luar biasa.  Sekolah yang disiapkan khusus untuk anak-anak yang autis, down syndrome, disleksia, tuna netra, tuna rungu dan anak-anak dengan kebutuhan khusus.  Anak-anak seperti ini, semuanya bersekolah di sekolah yang sama dengan anak-anak yang normal atau sehat.  Hanya saja, bagi anak-anak  dengan kebutuhan khusus tersebut akan dilengkapi dengan guru bantu atau “aid teacher“  yang berstatus sebagai pendampingnya yang dibayar oleh negara.

Untuk yang satu ini, orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya, bahkan untuk semua sekolah negeri atau “public school“, anak-anak besekolah dengan “gratis”. Anak-anak sekolah tidak perlu “les” alias mendapatkan pelajaran tambahan, disamping paket ajarannya sudah berupa  sesuatu yang utuh, para guru pun tidak memerlukan “penghasilan tambahan” untuk keperluan rumah tangganya.   Gaji guru , jauh lebih besar dari UMR yang berlaku.  Untuk kegiatan-kegiatan luar sekolah seperti berkemah atau camping, berenang serta kegiatan “out door” lainnya, telah dikoordinasikan dengan apa yang disebut disini dengan “parent helper” yang bekerja secara sukarela atau “volunteer”. Jadi sekali lagi ditegaskan disini bahwa di Selandia Baru tidak dikenal dengan apa yang disebut dengan SLB.

Di sini terasa sekali atmosfir dari upaya bersama antara pemerintah dengan kelompok pendidik dan masyarakat awam untuk secara bersama-sama bergotong royong mengerjakan satu kegiatan yang bertujuan “mencerdaskan bangsa” untuk generasi muda calon pemimpin masa depan Negara nya.  Tidak terkecuali bagi mereka anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun non fisik.  Semuanya berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan dari Pemerintah nya.

Di Perguruan Tinggi, barulah tuntutan mata kuliah nya menjadi lebih berat dan prioritas diarahkan kepada kegiatan penelitian.  Namun dengan bekal pendidikan dasar yang telah meletakkan sifat-sifat hakiki dari kegunaan dan manfaat ilmu pengetahuan , maka semangat dan kemauan belajar sudah tumbuh sebagai kesadaran yang datang dari diri sendiri.  Dengan demikian anak-anak tadi telah terbentuk dan pelajaran di perguruan tinggi tidak lah menjadi beban yang berarti bagi mereka.  Keterpaduan dari metoda pendidikan yang mengalir dari pendidikan dasar ke perguruan tinggi sudah begitu sempurna dan mapan, baik dalam system manajemen nya maupun pada praktek di lapangan.  Bagi mereka yang kurang mampu sudah tersedia bea siswa dan juga  dengan apa yang disebut dengan “student loan”, yaitu meminjam uang untuk kuliah, setelah selesai dan dapat bekerja, mereka mengembalikannya dengan cara mencicil dari gaji yang mereka terima.

Yang unik adalah, karena mereka menyadari benar bahwa negaranya adalah Negara yang berujud sebagai Negara kepulauan, maka “berenang” adalah merupakan mata pelajaran wajib dalam pendidikan dasar di Selandia Baru.  Semua anak didik dan juga para tenaga pengajarnya, harus bisa “berenang“.  Juga karena letak Selandia Baru yang diapit oleh lempeng Australia dan lempeng Pasifik, maka seluruh anak didik sejak dari usia dini telah dilatih dengan cara bagaiamana menyelamatkan diri mereka sendiri bila terjadi gempa bumi.

Pendidikan di Selandia Baru, di kelola dengan cermat yang berbasis pada visi nya yang jauh kedepan untuk menghasilkan insan paripurna, orang-orang terpelajar, sopan santun, mengerti etika, tahu diri, rendah hati, bijaksana yang pantas berperan sebagai penerus cita-cita kejayaan bangsa nya.  Sehari-hari di New Zealand, tidak ada hiruk pikuk pertengkaran tentang alokasi anggaran pendidikan yang harus 20%. . Tidak banyak orang bicara yang ngalor ngidul nggak keruan dengan mengeluarkan banyak teori macam-macam, akan tetapi tidak ada yang dikerjakannya.

Sebaliknya mereka semua sibuk dengan apa yang terbaik dan seharusnya dikerjakan untuk bangsa dan Negara. Pemerintah dan masyarakat, bahu membahu menangani pendidikan nasionalnya.

Bagi kita sebenarnya hanya ada dua pilihan yang sederhana tentunya, kita cuman mau ngoceh terus aja atau mau kerja?  Yang pasti, waktu berjalan terus, 2009 sudah menyongsong didepan mata.  Namun jawaban yang muncul , adalah :  Pemilu dulu dong ! Mulai lagi……. Ya ngoceh lagi !   Ngoceh terusssss……

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.