Soekarno Hatta – CHAPPY HAKIM http://www.chappyhakim.com Air Chief Marshal - Marsekal TNI Purnawirawan Mon, 15 Aug 2016 10:06:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.5.3 Buruk Soeta, Halim di belah http://www.chappyhakim.com/2013/11/26/3401/ http://www.chappyhakim.com/2013/11/26/3401/#respond Tue, 26 Nov 2013 05:09:14 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=3401 Narasumber: 1. Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim – Mantan Kasau 2. Saleh Husein – Anggota Komisi V DPR Bidang Perhubungan 3. Iwan Khrishadianto – GM ...

The post Buruk Soeta, Halim di belah appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>

Narasumber:
1. Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim – Mantan Kasau
2. Saleh Husein – Anggota Komisi V DPR Bidang Perhubungan
3. Iwan Khrishadianto – GM Angkasa Pura II Halim Perdana Kusuma

The post Buruk Soeta, Halim di belah appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2013/11/26/3401/feed/ 0
Perkembangan Pasar Angkutan Udara di Asia http://www.chappyhakim.com/2013/09/19/perkembangan-pasar-angkutan-udara-di-asia/ http://www.chappyhakim.com/2013/09/19/perkembangan-pasar-angkutan-udara-di-asia/#respond Thu, 19 Sep 2013 00:59:24 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=3288 Singapura dan Indonesia menjadi sentra dari perkembangan pasar angkutan udara di kawasan Asia Pasifik dalam 5–10 tahun belakangan ini. Beberapa tulisan menyebutkan bahwa belakangan ini ...

The post Perkembangan Pasar Angkutan Udara di Asia appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Singapura dan Indonesia menjadi sentra dari perkembangan pasar angkutan udara di kawasan Asia Pasifik dalam 5–10 tahun belakangan ini. Beberapa tulisan menyebutkan bahwa belakangan ini Singapura dan Indonesia mengalami pertumbuhan yang fantastis, yaitu hampir mencapai 40% dan mungkin lebih.

Mengapa disebut sebagai Singapura Indonesia? Tidak lain karena secara letak geografis, Changi di Singapura terletak sangat dekat dengan banyak tujuan penerbangan di Indonesia. Pertumbuhan 40% ini dikatakan sebagai percepatan tertinggi dari pasar angkutan udara didunia, sementara dibanyak negara maju justru mengalami penurunan.

Kapasitas yang meningkat cepat terjadi pada rute Singapura ke Jakarta dan Bali, dengan catatan tujuan wisata Bali ternyata lebih tinggi karena fasilitas penerbangan yang dimiliki jauh lebih baik. Tujuan berikutnya adalah Singapura ke Surabaya dan Medan, yang kapasitas peningkatannya terjadi dua kali lipat pada tahun-tahun terakhir ini. Yang cukup mencolok adalah pencapaian maskapai berbiaya murah Mandala TigerAir yang hampir mencapai empat kali lipat dibanding tahun lalu.

Saat ini TigerAir melayani delapan kali penerbangan dari Singapura ke Jakarta. TigerAir, SilkAir dan Singapore Airlines serta Air Asia adalah maskapai yang paling banyak meraih keuntungan dari pertumbuhan pasar angkutan udara Indonesia yang fantastis. Belum tiba era dari OpenSky, Singapura telah menikmati keuntungan yang sangat luar biasa dari pertumbuhan ekonomi, khususnya angkutan udara negeri ini.

Beberapa analis di luar negeri membahas tentang hal ini dengan terang-terangan mengemukakan betapa Singapura sangat diuntungkan dengan perjanjian kerjasama Indonesia- Singapura dalam hal kebijakan angkutan udara dan segala hal yang berkait dengan itu. ***

Indonesia memang terlihat ingin membatasi penerbangan langsung dari Singapura ke tujuan selain Jakarta. Keinginan ini menjadi siasia karena beberapa hal, dan terutama disebabkan Bandara Soekarno-Hatta yang sudah sangat padat dan cenderung menjadi berbahaya.

Tumpahnya traffic inilah yang menyebabkan penerbangan langsung dari Singapura ke Bali, Medan, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Makassar dan lain-lain menjadi tambang emas dari maskapai penerbangan Singapura yang dari segi manajemen memang jauh lebih baik kondisinya dibanding dengan kebanyakan maskapai kita. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, dikatakan bahwa pada kenyataannya Indonesia telah menjadi pasar terbesar bagi Changi dalam hal pelayanan transit ke kota-kota tujuan dari Indonesia ke Indonesia.

Disebutkan pula bahwa realita ini terjadi karena memang orang akan lebih nyaman transit di Changi yang tidak hanya lebih bagus fasilitas terminalnya, akan tetapi juga didorong oleh penilaian dari banyak maskapai penerbangan tentang Soekarno-Hatta yang dikenal sebagai international airport yang “congested and outdated” (kepenuhan dan ketinggalan jaman).

Jumlah penumpang tujuan Indonesia tersebut antara lain adalah dua kali lipat lebih besar dari penumpang tujuan Australia, China, dan Thailand yang berangkat dan atau transit di Changi. Selain itu, Changi memang unggul dengan penerbangan langsung ke 13 kota tujuan di Eropa, sementara dari Soekarno-Hatta tidak ada satu pun penerbangan yang langsung ke kota tujuan di Eropa.

(Masih Ingat rencana Garuda yang batal mengoperasikan B- 777 untuk penerbangan langsung ke London beberapa waktu lalu?) Singapore Airlines bersama dengan Silk Air telah, sedang dan akan melayani penerbangan dengan 12 tujuan di Indonesia, sementara Indonesia hanya mampu menerbangi satu tujuan saja di Singapura.

Satu kondisi yang sangat amat asimetrik sifatnya, ditambah lagi dengan banyak kemudahan yang dapat diatur dalam prosesi take off dan landing di Changi pada wilayah udara kedaulatan Indonesia di Selat Malaka yang memang dikuasai oleh otoritas penerbangan Singapura. Singkat kata, pasar pertumbuhan fantastis dari bisnis angkutan udara Indonesia benar-benar dinikmati oleh Singapura dengan kecerdikan dan kelihaiannya. ***

Indonesia masih memiliki banyak sekali pekerjaan rumah dalam pengelolaan penerbangan nasionalnya. Di samping Soekarno-Hatta yang sudah dikatakan sebagai congesteddan outdated, Indonesia sendiri masih berkutat untuk dapat mampu mengembalikan dirinya tampil sebagai satu negara yang dapat memenuhi persyaratan keamanan terbang internasional seperti yang dikeluarkan oleh ICAO.

Manajemen pengaturan lalu lintas udara yang baru saja diresmikan organisasi barunya di awal tahun ini belum banyak terlihat ada kemajuan. Organisasi Majelis Profesi Penerbangan yang seharusnya sudah dibentuk dua tahun lalu sesuai ketentuan Undang-undang penerbangan nomor 1 tahun 2009, belum pula terlihat aktivitasnya. Masalah kekurangan sumber daya manusia (SDM) pilot dan teknisi masih akan banyak menghadang di tahun mendatang berkait dengan penambahan pesawat yang sangat signifikan jumlahnya.

Belum lagi kondisi infrastruktur penerbangan di banyak daerah di Indonesia yang memerlukan perbaikan dan penyempurnaan bagi pelayanan penerbangan yang aman. Kelalaian dalam mengantisipasi pesatnya pertumbuhan penumpang dan barang dalam kegiatan angkutan udara ternyata memang harus dibayar mahal. Pilihannya hanya kerja keras yang serius, atau kemudian akan diambil alih oleh pihak asing yang dipastikan sudah lama mengintip “peluang emas” yang sangat menggiurkan ini.

Langkah perbaikan fundamental dalam penerbangan nasional sudah waktunya segera diayunkan atau penyesalan yang tidak berkesudahan akan menanti kita semua. Semoga kita dapat segera berhasil untuk juga menikmati “madu”-nya perkembangan pasar angkutan udara di bumi pertiwi ini. ●

Jakarta 19 September 2013
Chappy Hakim
Sumber : Koran Sindo tanggal 16 September halaman 6 Opini.

The post Perkembangan Pasar Angkutan Udara di Asia appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2013/09/19/perkembangan-pasar-angkutan-udara-di-asia/feed/ 0
Stress terbang di Cengkareng ! http://www.chappyhakim.com/2012/05/15/stress-terbang-di-cengkareng/ http://www.chappyhakim.com/2012/05/15/stress-terbang-di-cengkareng/#comments Tue, 15 May 2012 19:40:10 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=2579 Di Tahun 2012 ini sebenarnya dengan mengacu kepada Undang-undang Penerbangan no 1 tahun 2009, lembaga Air Traffic Control Services di Indonesia sudah harus berada dalam ...

The post Stress terbang di Cengkareng ! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>

Menara ATC

Di Tahun 2012 ini sebenarnya dengan mengacu kepada Undang-undang Penerbangan no 1 tahun 2009, lembaga Air Traffic Control Services di Indonesia sudah harus berada dalam satu wadah yang terintegrasi. Selama ini jasa layanan Air Traffic kita tersebar dibanyak institusi. Sebagian besar berada dibawah Angkasa Pura 1 dan sebagian lainnya berada di bawah Angkasa Pura 2.

Beberapa lainnya dibawah pengelolaan TNI dan badan institusi lainnya. Khusus ATC ini adalah merupakan salah satu temuan ICAO di tahun 2007. Inilah yang menyebabkan kita dianggap tidak memenuhi syarat minimum requirement dari International Safety Standard sesuai regulasi International Civil Aviation Organization. ATC harus dilola dalam satu wadah yang istilahnya adalah ATC Services Single Provider. ATC harus keluar dari AP 1 dan AP 2 dan institusi lainnya dan dimasukkan dalam satu wadah organisasi yang tersendiri. Diseluruh dunia, standar pelayanan ATC memang sudah demikian adanya. Pelayanan ATC serta pelayanan navigasi penerbangan dan pelayanan di terminal dan atau di Ariport seharusnya dipisahkan. Tidak dicampur adukkan menjadi satu. Inilah sebenarnya salah satu cikal bakal dari kondisi sekarang ini yang membuat ATC kita berada dalam kesulitan yang sangat serius.

Terbang di Cengkareng menjadi Stress. Sekedar contoh sederhana saja, kini terbang dari Cengkareng, setelah “start engine“, rata-rata pesawat harus antri 30 sampai 45 bahkan 1 jam untuk baru bisa mendapatkan kesempatan “take-off”. Tidak ada bedanya dengan “incoming aircraft”, pesawat yang datang ke Cengkareng harus antri berlapis-lapis pada hanya dua titik kedatangan/keberangkatan saja yang tersedia. Beberapa hari lalu, pesawat dari Malang ke Cengkareng, yang waktu normalnya hanya membutuhkan waktu 1 jam dan 5 atau 10 menit saja, bisa memakan waktu sampai 1 jam 45 menit !

Harap dimaklumi karena pertumbuhan traffic kini memang telah mencapai angka yang fantastis. Satu hari sudah melebihi angka 1000 lebih pergerakan pesawat. Dan itu semua dilayani oleh jumlah sdm yang sangat terbatas dan peralatan yang sudah ketinggalan jaman. JAATS (Jakarta Automated Air Traffic Control System)di Cengkareng umurnya sudah 15 tahun. Ditambah lagi informasi meteorology di Cengkareng belum terintegrasi dalam pelayanan ATC, sehingga dalam banyak hal justru menyulitkan Pilot sekaligus juga sang Controller sendiri.

Dari kesemua itu, kiranya kini adalah saat yang tepat untuk segera mengambil tindakan tegas, mendirikan lembaga independen untuk pelayanan Air Traffic yang terpisah dari pengelolaan airport. Sudah waktunya ATC berdiri sendiri sebagai Single Provider demi keselamatan kita bersama. Janganlah ditunda-tunda lagi dengan alasan yang sangat tidak relevan berkait penyelenggaraan operasi penerbangan yang aman. Apa sebenarnya inti masalah dari itu semua? Dalam salah satu rapat staf di hari minggu yang cerah di ruang rapat Meneg BUMN, Dahlan Iskan pernah bertanya kepada pimpinan AP 1 dan AP 2 apakah sekarang sudah rela melepaskan ATC keluar dari Angkasa Pura? Jawaban inilah yang sebenarnya ditunggu banyak orang, ditunggu oleh penyelenggaraan keamanan dan kenyamanan terbang di Indonesia. Ditunggu agar terbang di Cengkareng tidak stress lagi ! Mudah-mudahan.

Jakarta 16 Mei 2012
Chappy Hakim

The post Stress terbang di Cengkareng ! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2012/05/15/stress-terbang-di-cengkareng/feed/ 3
Menjinakkan Bom (Waktu) di Soekarno Hatta http://www.chappyhakim.com/2011/12/21/menjinakkan-bom-waktu-di-soekarno-hatta/ http://www.chappyhakim.com/2011/12/21/menjinakkan-bom-waktu-di-soekarno-hatta/#comments Wed, 21 Dec 2011 13:52:00 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=2352 Pada tahun 1962, dikenal satu badan bernama DEPANRI, Dewan Penerbangan Republik Indonesia yang ketuanya adalah Menteri Pertama RI, Ir. H. Djuanda dan sekretarisnya dari Angkatan ...

The post Menjinakkan Bom (Waktu) di Soekarno Hatta appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Bom

Bom

Pada tahun 1962, dikenal satu badan bernama DEPANRI, Dewan Penerbangan Republik Indonesia yang ketuanya adalah Menteri Pertama RI, Ir. H. Djuanda dan sekretarisnya dari Angkatan Udara RJ Salatun. Sekedar untuk diketahui salah satu lingkup dari kegiatan DEPANRI adalah tentang “Pengembangan Kebijakan Kedirgantaraan Nasional”. Di era itulah, sampai dengan lebih kurang tahun 1980-an terlihat, arah perkembangan industri penerbangan nasional yang tergambar dalam konsep dan konteks yang jelas. Untuk penerbangan domestik rute utama dan penerbangan Internasional diberikan tanggungjawab pengembangannya kepada Maskapai sang pembawa bendera , Garuda Indonesian Airways. Ditangan Garuda inilah, kehormatan dan kebanggaan serta promosi bangsa Indonesia dipanggung global dalam penyelenggaraan angkutan udara dipertaruhkan.

Garuda dipimpin oleh seorang Pilot kawakan bernama Wiweko, penerbang Asia pertama yang pernah menembus samudra pasifik (dari Auckland, AS ke Jakarta) seorang diri dengan pesawat terbang. Itu sebabnya, sebagai pimpinan sebuah Maskapai dia mampu berorientasi kepada bidang penerbangan secara total. Sebagai Pilot, dia tau saat membeli banyak pesawat sekaligus dia persiapkan sdm nya. Wiweko tidak hanya menganalisis dan membahas tuntas dalam hal memilih pesawat terbang yang cocok untuk digunakan di Negara kepulauan ini bersama dengan pabrik pesawat kenamaan didunia, akan tetapi juga merancang disain kokpit pesawat yang sangat spektakuler sepanjang sejarah. Wiweko telah merubah awak kokpit menjadi hanya dua orang saja.(two men forward facing crew cockpits) Disain yang tadinya ditentang habis-habisan oleh FAA, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan Amerika Serikat, kini justru telah menjadi standar baku dari disain kokpit pesawat angkut internasional. Saat itu Garuda sang pembawa bendera melesat maju di angkasa Asia, Eropa dan bahkan pernah sampai ke Amerika Serikat.

Didalam negeri sendiri, sebagai Negara yang berbentuk kepulauan terbesar di dunia, tentu saja moda angkutan udara menjadi sarana sangat penting dalam pengelolaan Negara dalam konteks pembangunan dan pemerataan pembangunan. Pemerintah memulai upaya menembus isolasi pada daerah-daerah terpencil dipelosok tanah air dengan memanfaatkan penerbangan Angkatan Udara yang saat itu menyelenggarakan DAUM, Dinas Angkutan Udara Militer. Berlanjut dari itu, kemudian dikenal Maskapai Penerbangan Merpati yang melayani rute-rute domestik dengan terminologi penerbangan perintis. Dibawah kepemimpinan antara lain Marsda TNI Santoso, Merpati Nusantara sukses dalam mengelola penerbangan perintis di Indonesia kawasan Timur terutama Papua dan Maluku dengan pesawat-pesawat kecil Twin Otter buatan Canada. Disamping itu berkembang pula beberapa Maskapai penerbangan lainnya, menopang kebutuhan angkutan udara Indonesia yang memang tidak bisa hanya dilakukan oleh Garuda dan Merpati saja.

Paralel dengan itu, Kementrian Perhubungan dengan API, Akademi Penerbangan Indonesia nya, secara reguler menghasilkan para penerbang, teknisi pesawat terbang dan juga tenaga ATC, Air Traffic Control sesuai kebutuhan yang berkembang. Disamping itu antisipasi pembangunan infra struktur penerbangan terlihat menjadi perhatian yang cukup baik dari pemerintah dengan antara lain pembangunan banyak pelabuhan-pelabuhan udara di daerah serta rencana pembangunan Soekarno Hatta International Airport di Cengkareng. Nah, itulah semua gambaran masa lalu dari dunia penerbangan kita yang sangat berorientasi pada pengembangan bidang aviasi secara profesional, tidak semata-mata kepada pertimbangan komersial belaka.

Berubah Arah
Lima belas sampai dua puluh tahun terakhir ini, terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam penyelenggaraan bidang angkutan udara nasional. Hal tersebut tidak saja sebagai akibat dari begitu pesatnya kemajuan teknologi penerbangan, akan tetapi juga pertumbuhan arus pergerakan orang dan barang terjadi begitu fantastis diseluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Sayangnya, fenomena ini hanya dihayati sebagai gejala pertumbuhan di bidang ekonomi dan atau finansial semata. Dengan demikian sangat mudah mencermati apa yang terjadi. Orang berlomba-lomba mendirikan Maskapai Penerbangan, yang dengan sendirinya membuat perlombaan juga terjadi dalam hal pengadaan pesawat terbang. Pada kondisi konsentrasi yang hanya tertuju pada upaya mencari keuntungan belaka, maka yang terjadi adalah hal-hal yang sangat merugikan khalayak ramai pengguna jasa angkutan udara. Bertambahnya dengan pesat Maskapai Penerbangan dan jumlah pengadaan pesawat dalam waktu yang relatif singkat, maka sarana pendukung penerbangan menjadi kedodoran. Pilot, teknisi, tenaga ATC, Inspektor Penerbangan dan tenaga kerja bidang aviasi menjadi defisit. Demikian pula sarana infra struktur penerbangan seperti bandara, alat bantu navigasi, radar pengawas lalu lintas udara, pesawat kalibrasi dan alat komunikasi menjadi jauh dari memadai. Kondisi ini juga menghasilkan banyak orang yang memanage maskapai penerbangan dengan latar belakang pengetahuan yang sangat kurang dibidang “aviation”. Persaingan usaha yang ketat dibidang angkutan udara telah disikapi secara vulgar sebagaimana layaknya persaingan usaha dibidang niaga semata. Kemungkinan terhadap terjadinya pelanggaran dari aturan dan ketentuan yang berlaku menjadi sangat besar.

Itulah yang kita saksikan sekarang ini, penambahan yang luar biasa dari Maskapai Penerbangan dan pengadaan besar-besaran pesawat terbang yang tidak seirama dengan rencana pengadaan sdm serta pengembangan infra struktur penerbangan yang dimiliki. Saat ini dapat dikatakan bahwa hampir semua bandara mengalami “over” kapasitas dan hampir semua Maskapai “kekurangan” Pilot dan Teknisi, disamping Kementrian Perhubungan yang memang sudah kekurangan Inspektor dibidang Penerbangan. Hasil yang harus dinikmati adalah, peluang akan terjadinya begitu banyak kecelakaan pesawat terbang dinegeri ini, sebagai akibat dari unsur keamanan terbang yang menjadi terabaikan. Pembinaan Penerbangan di Indonesia telah berubah arah orientasi, dari industri aviasi sebagai bagian dari pembangunan nasional ke aspek “cari-untung” belaka. Arah yang menuju “bahaya”.
Mencari Solusi

Dari uraian itu semua, kira-kira sudah waktunya untuk mengkaji ulang kondisi ini dan melihat apakah peran satu institusi sejenis Depanri dijaman dulu harus kembali lagi dalam kancah penataan penerbangan nasional di Indonesia. Dengan sdm dan infra struktur yang tersedia apakah tidak sebaiknya kita hanya memiliki 4 atau 5 saja Maskapai Penerbangan yang jelas visi dan misinya bagi rakyat banyak dinegara kepulauan ini. Mana Maskapai yang ditugaskan untuk rute domestik terbatas dan internasional dan mana yang harus mengembangkan penerbangan perintis. Jenis pesawat apa dan dalam jumlah berapa yang memang sangat diperlukan untuk rute internasional, domestik dan perintis. Tidak sekedar mendorong Maskapai mengadakan pesawat besar beratus-ratus jumlahnya tanpa tujuan yang jelas. Demikian pula pertimbangan yang menyeluruh dari antisipasi penyiapan infra struktur dan sdm termasuk petugas ATC tidak boleh luput dari perhatian. Penerbangan Nasional memang butuh penataan ulang secara komprehensif, yang tidak hanya berorientasi kepada pola mencari keuntungan semata. Dengan demikian dapatlah kiranya diharapkan, bom waktu yang kini tengah bergulir jalur detiknya terutama di Soekarno Hatta dapat segera dijinakkan. Mudah-mudahan.

Jakarta 21 Desember 2011
Chappy Hakim,
Chairman, CSE Aviation.
Sumber : Artikel di Koran Kompas halaman 7 tanggal 20 Desember 2011

The post Menjinakkan Bom (Waktu) di Soekarno Hatta appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2011/12/21/menjinakkan-bom-waktu-di-soekarno-hatta/feed/ 3
Bom Waktu di Atas Bandara Soekarno-Hatta http://www.chappyhakim.com/2011/11/19/bom-waktu-di-atas-bandara-soekarno-hatta/ http://www.chappyhakim.com/2011/11/19/bom-waktu-di-atas-bandara-soekarno-hatta/#comments Sat, 19 Nov 2011 06:41:52 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=2318 Sudah sejak 16 April 2007 peringkat penerbangan Indonesia masuk dalam kategori dua. Artinya, mengacu pada standar regulasi International Civil Aviation Organization, penerbangan Indonesia tidak memenuhi ...

The post Bom Waktu di Atas Bandara Soekarno-Hatta appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Bom Waktu

Bom Waktu

Sudah sejak 16 April 2007 peringkat penerbangan Indonesia masuk dalam kategori dua. Artinya, mengacu pada standar regulasi International Civil Aviation Organization, penerbangan Indonesia tidak memenuhi syarat keselamatan terbang internasional.

Penjelasan dalam bahasa aslinya berbunyi: “… does not comply with International safety standard set by ICAO. Lacks Laws or Regulations necessary to oversee air carriers in accordance with minimum International Safety Standard, or that is civil aviation authority is deficient in one or more areas, such as technical expertise, trained personnel, record keeping or inspection procedures.

Pemerintah sebagai pemegang otoritas penerbangan nasional memang berupaya menaikkan kembali peringkat penerbangan Indonesia ke kategori satu. Salah satunya dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Dalam UU ini dijelaskan, ada beberapa tindak lanjut yang harus dilakukan dalam batas waktu paling lama dua tahun. Beberapa di antaranya tentang pembentukan Mahkamah Penerbangan; meletakkan posisi Komite Nasional Keselamatan Transportasi langsung di bawah presiden; menyempurnakan lembaga sertifikasi kelaikan udara;  dan membentuk lembaga atau institusi penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan.

Mungkin yang sangat urgen direalisasikan terkait dengan lembaga pelayanan navigasi penerbangan. Sebab, hal ini langsung berhubungan dengan keselamatan terbang dan pengaturan lalu lintas udara. Saat ini terdapat sedikitnya lima institusi penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan (air traffic control services/ATS), masing-masing berada di bawah Angkasa Pura 1, Angkasa Pura 2, Kementerian Perhubungan, TNI, dan Otorita Batam.

Dari pengorganisasian saja dapat disimpulkan betapa penyelenggaraan pelayanan lalu lintas udara masih jauh dari standar keselamatan yang harus dipenuhi. Perlu segera dibenahi Khusus ATS, keadaannya jauh dari memadai untuk dapat melindungi keamanan terbang jutaan penumpang yang berseliweran di udara, terutama di atas Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Belum lagi begitu banyak penerbangan yang sering tertunda keberangkatan dan kedatangannya hanya karena kondisi ATS yang kita miliki.

Para pilot senior—bahkan termasuk direktur operasi maskapai penerbangan terbesar di negeri ini—mengutarakan, kondisi ATS di Soekarno-Hatta sekarang jika tak segera dibenahi tidak hanya akan selalu menyebabkan banyak penerbangan tertunda. Lebih dari itu, sudah berpotensi memberikan peluang terjadi tabrakan di udara.

Gangguan akibat kondisi ATS ini sudah begitu kerap terjadi. Kejadian paling akhir dialami pada 10 November 2011. Penyebabnya tidak hanya karena kondisi infrastruktur penunjang ATS, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan prosedur operasi standar. Peralatan vital pengatur lalu lintas udara—yang berwujud unit pelayanan sistem otomatis lalu lintas udara—di Jakarta umurnya sudah tua.

Sesuai ketentuan yang berlaku, peralatan itu sudah memasuki usia yang harus diremajakan. Unit yang berkemampuan melayani gerakan dari 500 pesawat yang tinggal landas dan mendarat dalam satu hari itu kini dipaksa melayani hampir 2.000 gerakan pesawat per hari. SDM untuk melayani penerbangan yang demikian padat seharusnya paling tidak 400 orang, sedangkan yang tersedia tak lebih dari 160 orang.

Situasi ini diperburuk lagi dengan fasilitas pendidikan SDM ATS yang sangat terbatas. Dari sumber yang layak dipercaya, untuk pelatihan ATS ternyata mereka tak punya simulator untuk berlatih. Merujuk regulasi internasional yang berlaku, Bandara Soekarno-Hatta tak akan mampu melayani penerbangan 24 jam. SDM di jajaran ATS sekarang ini sudah bekerja dengan kapasitas yang hampir 200 persen dari kesiapan yang dimiliki.

Demikian pula prosedur operasi standar yang diberlakukan untuk pesawat yang akan mendarat dan tinggal landas belum dapat diperbarui sesuai kepadatan lalu lintas saat ini. Semua itu menyebabkan situasi dan kondisi penerbangan di atas Soekarno-Hatta—terutama pada jam-jam sibuk, pagi dan petang—menjadi “panas”. Komunikasi radio antarpilot dengan operator pengatur lalu lintas udara ataupun ground control jadi begitu ramai dan sibuk. Belum lagi beberapa frekuensi radio yang kerap berbunyi keresek-keresek.

Hasilnya, stres tinggi diderita oleh para pilot, terlebih para operator pengatur lalu lintas udara dan di darat. Untungnya, kalau boleh menggunakan istilah ini, para penumpang umumnya tidak tahu apa yang tengah terjadi. Mereka merasa nyaman saat mendarat dan tinggal landas di Soekarno-Hatta walaupun pada jam-jam sibuk. Mereka tak menyadari, sebenarnya mereka tengah duduk di atas “bom waktu” yang bisa saja setiap saat meledak.

Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar kejadian fatal dari peluang yang ada kini tidak terjadi.

Jakarta 19 Nopember 2011
Chappy Hakim Pencinta Penerbangan,
Chairman CSE Aviation
Sumber: Kompas Cetak, hari ini halaman 1

The post Bom Waktu di Atas Bandara Soekarno-Hatta appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2011/11/19/bom-waktu-di-atas-bandara-soekarno-hatta/feed/ 9
Pindah ke Halim, Solusi yang ”Berbahaya”! http://www.chappyhakim.com/2010/10/16/pindah-ke-halim-solusi-yang-%e2%80%9dberbahaya%e2%80%9d/ http://www.chappyhakim.com/2010/10/16/pindah-ke-halim-solusi-yang-%e2%80%9dberbahaya%e2%80%9d/#comments Sat, 16 Oct 2010 09:56:56 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=1772 Kepadatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng,Banten,sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan keselamatan penumpang.   Untuk mengurangi beban di bandara tersebut, Bandara Halim Perdanakusuma akan dibuka lebih banyak ...

The post Pindah ke Halim, Solusi yang ”Berbahaya”! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Kepadatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng,Banten,sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan keselamatan penumpang.   Untuk mengurangi beban di bandara tersebut, Bandara Halim Perdanakusuma akan dibuka lebih banyak untuk penerbangan komersial.

Demikian salah satu dari delapan keputusan penting dari rapat tentang keselamatan transportasi udara dan darat yang dipimpin Wakil Presiden Boediono di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

“Ini langkah jangka pendek yang bisa segera dilakukan yakni mengoptimalkan pemakaian Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan sipil,” kata Juru Bicara Wakil Presiden,Yopie Hidayat.

Yopie menambahkan,negosiasi dengan pihak TNI AU sebagai pemilik bandara Halim Perdanakusuma segera dilakukan sehingga sebagian landasan bisa dipakai untuk penerbangan domestik.   Demikian kutipan sebagian berita yang dimuat di salah satu media online.

Memindahkan kembali kegiatan penerbangan sipil, walaupun hanya domestik ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, mencerminkan betapa parahnya bidang perencanaan penerbangan sipil nasional.

International airport setiap lima dan sepuluh tahun harus melaksanakan evaluasi tentang kapasitas dan kemampuannya sesuai perkembangan yang terjadi.    Dari hasil evaluasi tersebut, dilaksanakanlah langkah-langkah penyesuaiannya.    Tidak hanya mendiamkan, kemudian setelah terjadi “amburadulnya” penumpang kemudian mengambil jalan pintas kembali ke “airport” yang lama.   Lebih lebih dengan judul “mengoptimalkan pemakaian Bandara Halim”.

Halim Sudah Sesak

Sekadar untuk diketahui saja bahwa pemakaian Bandara Halim saat ini sudah “lebih” dari optimal. Penggunaan satu pangkalan udara militer tidak bisa diukur dengan parameter operasional dari penerbangan sipil.    Pangkalan udara militer sepanjang tahun sudah diplot dengan ketat penggunaannya yang tidak hanya pelaksanaan operasi penerbangan rutin, tetapi juga dengan pelaksanaan operasi penerbangan latihan berjadwal.

Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma sebagai military airbase merupakan subsistem dari alat utama sistem senjata (alutsista) angkatan perang.   Kegiatan yang dilakukan di Pangkalan Udara Halim tidaklah semata latihan penerbangan yang hanya melibatkan pesawat terbang, tetapi juga melibatkan personel dari pasukan Lintas Udara (Linud) dan perbekalan TNI Angkatan Darat serta Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara dengan jadwal latihantertentu, antara lain penerjunan dan latihan pengamanan objek vital nasional, serta penerbangan bantuan administrasi dan logistik.

Pangkalan Udara Halim adalah home base dari skadron Linud Berat Hercules, skadron angkut ringan/ sedang F-27 dan CN-235 serta skadron 17 VIP.    Seluruh awak pesawat dari skadron-skadron ini mempunyai jadwal yang penuh setiap tahunnya dengan kegiatan penerbangan yang sangat padat.

Sekali lagi terminologi padat dalam penerbangan sipil jauh berbeda dengan operasi penerbangan militer. Sekadar contoh saja, pada saat penerjunan pasukan di sekitar landasan, take off-landing-nya memang berjarak cukup jauh karena memberikan waktu yang cukup untuk pergerakan pasukan di bawah.

Demikian pula pada saat latihan penerbangan formasi dan lain-lain.    Saat ini saja sektor pengamanan Pangkalan Udara Halim sebagai pangkalan militer sudah cukup terganggu dengan keberadaan “general aviation” dan penerbangan carter di Halim.

Mencermati pernyataan bahwa sebagian landasan dapat dimanfaatkan untuk penerbangan domestik. Landasan di Halim hanya satu.   Lebih jauh lagi di Halim tidak tersedia taxi way yang dapat menampung pesawat dari tempat parkir sebelum menuju tempat take off.

Di seberang runway memang ter-sedia semacam taxi way, tetapi tidak banyak berguna karena posisi dan jalur akses ke runway tidak didisain untuk berfungsi sebagai taxi way bagi kemudahan take off dan landing menuju runway.    Banyak lagi masalah teknis yang sebenarnya sangat tidak mendukung Lanud Halim digunakan lagi sebagai tempat penerbangan komersial.    Dia sudah cukup untuk penerbangan militer dengan sebagian “general aviation” dan penerbangan VVIP/ VIP tamu kenegaraan.

Dalam konteks negara dalam keadaan darurat, Lanud Halim akan juga digunakan sebagai pangkalan aju dari pesawat-pesawat tempur bagi pengamanan ibukota.    Kegiatan ini pun memerlukan latihan intensif yang akan cukup menyita waktu dan ruang di sekitar bandara.    Upacara-upacara militer dan latihan-latihan pasukan yang berpangkalan di Halim akan sangat mengganggu pelaksanaan penerbangan di luar jadwal penerbangan militer.    Disadari bahwa dengan alur laju kemajuan pembangunan tidak bisa dihindari perkembangan penerbangan domestik mengalami peningkatan juga.

Peningkatan Kualitas

Namun, patut dipertimbangkan pula dengan peningkatan anggaran Hankam sebagai upaya pemerintah untuk peningkatan kualitas pemeliharaan pesawat dan peningkatan kualitas latihan awak pesawat Angkatan Udara akan menyebabkan terjadinya peningkatan jam terbang latihan dan operasi di TNI.

Hal ini jelas akan berakibat semakin sibuknya Lanud Halim bagi kegiatan penerbangan operasi dan latihan TNI.

Banyaknya kecelakaan di TNI yang terjadi belakangan ini,penyebabnya adalah antara lain kurangnya tersedia pesawat terbang yang siap karena kurangnya dukungan anggaran.    Janganlah kita kemudian menambah anggaran untuk mengoreksinya dengan sekaligus membebani pangkalan udara dengan penerbangan domestik yang menyebabkan berkurangnya kesempatan latihan.

Hasilnya adalah sangat mudah diterka yaitu menurunnya faktor “keamanan terbang ”faktor “aviation safety”.    Janganlah keteledoran dalam bidang perencanaan di sektor penerbangan sipil,kemudian mencari solusi jalan pintas yang mengganggu sektor penerbangan militer.   Hendaknya kekurangan yang terjadi patut menjadi pembelajaran bagi kita semua agar laju pembangunan tidak berlanggam “tambal sulam”.

Salah satu penyebab keteledoran tadi, yang patut diduga adalah, karena pihak yang bertanggung jawab terhadap perkembangan International Airport Soekarno- Hatta pada 5-10 tahun terakhir tidak berada di bawah pimpinan yang memiliki kompetensi di bidang “aviation”.

Chappy Hakim

Jakarta 16 Oktober 2010

Catatan: artikel ini sudah dimuat di salah satu Koran Ibukota.

The post Pindah ke Halim, Solusi yang ”Berbahaya”! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2010/10/16/pindah-ke-halim-solusi-yang-%e2%80%9dberbahaya%e2%80%9d/feed/ 5
Jadi Bagaimana? http://www.chappyhakim.com/2010/08/01/jadi-bagaimana/ http://www.chappyhakim.com/2010/08/01/jadi-bagaimana/#comments Sat, 31 Jul 2010 22:36:10 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=1730 Pagi tadi, saya terbang dengan Garuda dari Jogyakarta ke Jakarta.   Cuaca yang bagus menambah nikmat terbang pagi tadi dengan pesawat Garuda yang baru Boeing  B-737-800.   ...

The post Jadi Bagaimana? appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Pagi tadi, saya terbang dengan Garuda dari Jogyakarta ke Jakarta.   Cuaca yang bagus menambah nikmat terbang pagi tadi dengan pesawat Garuda yang baru Boeing  B-737-800.   Sejak take off, blue sky sampai dengan hendak mendarat di Cengkareng kondisi visibility, jarak pandang lebih dari 10 kilometer.   Engine  pesawat yang bunyinya relatif lebih halus, ditambah dengan handling para penerbangnya yang  “gentle”, telah membawa pesawat  mendarat dengan mulus di Runway 07 Bandara  International Airport Soekarno Hatta Cengkareng.

Begitu mendarat, segeralah terlihat betapa semrawut amburadulnya  Bandara ini, dan seperti biasa, pesawat Parkir dipandu oleh Parking Master secara manual menggunakan 2 buah sejenis raket Pingpong dan berdiri diatas sebuah mobil supaya dapat terlihat oleh Pilot dari Cockpit.   Sementara alat pemandu Parkir pesawat elektronik terlihat masih pada posisinya semula, akan tetapi konon tidak pernah hidup atau beroperasi sejak Cengkareng berdiri.  Pesawat Parkir di dekat Garbarata/Aviobridge, akan tetapi penumpang turun ketanah untuk naik kendaraan menuju terminal lainnya.   Gerakan kendaraan diarea terbatas itu, kelihatan begitu banyak dan knalpotnya terlihat tidak menggunakan filter seperti yang disyaratkan oleh peraturan kemanan terbang.   Inilah hasilnya, bila Angkasa Pura dipimpin oleh orang Kereta Api.   Bagian depan terminal pun sudah persis berujud sebagai stasiun Kereta Api.   Pemandangan ini sudah menjadi biasa biasa saja.  Begitu keluar, kita pun sudah dijemput oleh banyak calo-calo Taksi yang menawarkan jasa dengan setengah memaksa.   Biasa juga, memang sudah begitu.

Garuda dari Jogyakarta ini ternyata agak terlambat, sebagai akibat dari keterlambatan tibanya dari Jakarta pagi harinya.   Begitu pula saat menuju ke Jakarta sudah dipastikan memang akan terlambat dari jadwal skedul Garuda.   Belum lagi, diperjalanan menjumpai masalah dengan pihak ATC/Air traffic Control, pengatur lalu lintas udara.   Peralatan yang sudah tua serta keterbatasan sdm nya telah membuat pengaturan lalu lintas udara menjadi agak amburadul. ATC yang menurut UU Penerbangan yang baru saja disahkan tahun lalu, dengan catatan harus segera membentuk Institusi ATC yang single provider, sampai kini tidak pernah terdengar sedikitpun follow up nya.   Ada beberapa catatan penting dalam UU Penerbangan yang harus ditindak lanjuti sebagai bentuk penyempurnaan penanganan keamanan terbang, tidak satu pun yang telah ditindak lanjuti, entah karena apa.

Dengan kondisi seperti ini, dunia penerbangan kita  tengah menghadapi bahaya, bila tidak segera dilakukan beberapa terobosan untuk menanggulanginya.   Salah satu yang sangat “danger” adalah, betapa traffic sudah begitu cepat meningkat yang tidak diimbangi dengan modernisasi peralatan pengatur lalu lintas udara, kualitas sdm dan pembenahan institusinya.

Seperti kata Pong Hardjatmo, diberitahu tidak didengarkan, ditulis tidak dibaca, terus kita mau apa lagi?  Tapi nanti dulu Bung, ini urusan keselamatan terbang yang menyangkut banyak nyawa orang para pengguna jasa angkuta udara ! Apakah kita semua mau melihat korban berjatuhan terlebih dulu baru kemudian bebenah diri?

Jadi bagaimana? Kayaknya pada malas bekerja atau pada nggak mau bekerja atau pada nggak bisa bekerja ?   Maxim Gorky pernah berkata : ” When work is a pleasure, life is joy, When work is a duty, life is slavery !” Begitu kalee……

Jakarta 1 Agustus 2010

Chappy Hakim

The post Jadi Bagaimana? appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2010/08/01/jadi-bagaimana/feed/ 4
Harapan Kepada Garuda http://www.chappyhakim.com/2009/11/11/harapan-kepada-garuda/ http://www.chappyhakim.com/2009/11/11/harapan-kepada-garuda/#comments Wed, 11 Nov 2009 02:44:30 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=1273 Pada tanggal 4 Nopember lalu pukul 17.04 wib, saya menerima sms dari Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda yang isinya sebagai berikut :   Yth Pak Chappy ...

The post Harapan Kepada Garuda appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Pada tanggal 4 Nopember lalu pukul 17.04 wib, saya menerima sms dari Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda yang isinya sebagai berikut :   Yth Pak Chappy Hakim.   Kami mengundang utk hadir dalam peresmian batch ke-2 pesawat baru A-330-200 dan B-737 – 800  yang akan diresmikan MenHub dan Meneg BUMN pada  hari senin tgl 9 Nov 2009 jam 1100 smp jam 13.30 (termasuk lunch) di hangar GMF AA – Airport Soekarno – Hatta Cengkareng.   Undangan sdh kami kirim.   Mohon kehadirannya. Wass. Emirsyah Satar.

Segera saja saya membuat catatan di “what to do” nya HP saya dihalaman kalender kegiatan minggu ke 2 bulan Nopember 2009.

Pagi tadi, tepat pada tanggal 9 Nopember, saya meluncur ke Cengkareng memenuhi undangan Emir.   Dihanggar GMF, sudah terdapat banyak tamu-tamu yang berdatangan, relasi Garuda, beberapa Duta Besar, Wartawan, dan juga para anggota DPR.   Saya bertemu antara lain dengan Dirjen Perhubungan Udara, Sdr Dudi Sudibjo mantan wartawan Kompas dan sekarang aktif di majalah Angkasa,  Tengku Burhanudin dari INACA, Sdr Budhi Sujitno, para komisaris Garuda dan juga Bung Tommy mantan Pemred Harian Kompas yang kini lebih terkenal dengan acara tentang ekonomi di Metro TV .

Kursi undangan yang disusun rapi, dibungkus dengan sarung berwarna putih yang mengesankan  bersih dan apik.   Persis di depan jajaran kursi undangan itulah di parkir kedua pesawat yang akan diresmikan.   Pesawat Baru alias “Brand New” yang kata DIrut Garuda Emirsyah Satar, saat ini jajaran Garuda sudah lupa bagaimana ujudnya pesawat baru itu.   Maklum katanya sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir Garuda selalu saja bergumul dengan pesawat “bekas”.

Melihat upacara siang itu, saya menaruh harapan yang besar kepada potensi berkembangnya sang Garuda kebanggaan kita bersama.   Momentum saat ini, di era krisis ekonomi global yang tengah melanda dunia, dimana sebagian besar perusahaan penerbangan terkenal terpaksa melakukan PHK, justru Garuda tengah  berkembang seolah tidak tersentuh krisis tersebut.   Kebutuhan transportasi udara di kawasan Indonesia sebagai Negara kepulauan dan juga tata letak dari beberapa Negara disekitarnya, sangatlah dominan.   Dominan dalam arti sangat dibutuhkan dan tidak atau sulit sekali untuk di-ingkari.

Pengembangan Garuda seyogyanya dapat dikawal oleh jajaran manajemen yang professional sehingga momentum yang saat ini sedang sangat bagus tidak kemudian menjadi sia-sia.

Beberapa kelemahan haruslah segera dibenahi.   Penerbangan yang “on-time” atau tepat waktu kiranya tidak bisa ditawar-tawar lagi.   Demikian pula pelaksanaan perawatan teknis pesawat haruslah mendapatkan perhatian yang serius.   Jangan lagi ada kecelakaan yang hanya disebabkan oleh kecerobohan personil teknik.   Pelatihan para penerbang dan disiplin secara keseluruhan dalam pelaksanaan operasi penerbangan akan menjadi kunci keberhasilan sukses bagi perusahaan.

Peran Regulator, dalam hal ini Departemen Perhubungan tentu saja tidak dapat diabaikan begitu saja.   Semua orang pasti mengharapkan Garuda adalah maskapai penerbangan yang terbaik di Indonesia, jangan sampai kalah oleh maskapai penerbangan lainnya.   Selama ini kita sangat faham dengan keberadaan maskapai penerbangan swasta yang beroperasi dibawah standar Internasional.   Selama ini kita memahami benar bagaimana permainan harga tiket yang sangat “ugal-ugalan” yang dilaksanakan yang tidak mustahil sangat berpotensi untuk terjadinya kecelakaan.   Kita juga sangat faham dengan bagaimana manajemen para operator penerbangan yang berkait dengan hubungan kerja antara penerbang dan perusahaan masih memerlukan banyak perbaikan karena sangat berhubungan dengan keselamatan penerbangan.

Garuda haruslah senantiasa menjadi teladan dalam semua aspek yang berkait dengan pelaksaaan operasi penerbangan komersial di negeri ini.   Garuda haruslah senantiasa dapat menjadi contoh yang baik bagi operator lainnya dalam menyelenggarakan misi operasi penerbangan komersial yang “world class”.

Melihat kinerja nya selama ini, jujur harus diakui bahwa pengembangan dari industri penerbangan kita secara keseluruhan masih memerlukan  “kerja keras” dari seluruh para pelakunya.   Tantangan kedepan akan semakin berat, dan harus diingat bahwa sampai kini pun Republik Indonesia, dunia penerbangannya masih nongkrong di “kategori” 2 alias “un-safe” dalam penilaian FAA (Federal Aviation Administration).

Mari kita bekerja keras untuk itu semua dan jayalah “Garuda” ku !

The post Harapan Kepada Garuda appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2009/11/11/harapan-kepada-garuda/feed/ 2
Ada yang Baru di Soekarno Hatta! http://www.chappyhakim.com/2009/10/27/ada-yang-baru-di-soekarno-hatta/ http://www.chappyhakim.com/2009/10/27/ada-yang-baru-di-soekarno-hatta/#respond Tue, 27 Oct 2009 02:36:29 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=1219 Suasana berbeda saya alami pagi hari ini di International Airport Cengkareng. Tadi pagi kebetulan berkait dengan satu keperluan saya berangkat ke Singapura dengan Pesawat Singapore ...

The post Ada yang Baru di Soekarno Hatta! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Suasana berbeda saya alami pagi hari ini di International Airport Cengkareng. Tadi pagi kebetulan berkait dengan satu keperluan saya berangkat ke Singapura dengan Pesawat Singapore Airlines SQ 953. Berbeda saya katakan, karena pada saat akan boarding, saya mendapati antrian yang sangat panjang.

Tidak tahan dengan rasa ingin tahu kenapa gerangan barisan antri boarding yang sangat panjang dan lama, saya tanyakan kepada petugas darat Singapore Airlines yang berdiri dekat situ. Jawabannya agak mencengangkan juga, karena ia berkata : “Maaf pak, nggak tau , baru ini kali aja nih. Biasa , ada petugas baru di securitynya, jadi ribet begini”. Saya masih belum ngerti, saya tanya lagi, maksudnya? Jawabnya lagi : “Ini pak, sekarang, pagi ini aja sih, kayaknya pemeriksaan diperketat, jadi diperiksa satu-satu, kan biasanya lewat-lewat aja, jadi begini deh, antrian nggak keruan, biasa, kayaknya ada orang baru tuh yang lagi cari muka !”.

Sebenarnya, saya kagum didalam hati, karena baru kali inilah seumur hidup saya, bepergian ke luar negeri, diperiksa dengan teliti satu persatu. Lebih hebat lagi, waktu saya lewat gerbang X ray, masih berbunyi, saya diperintahkan keluar lagi dan disuruh buka sepatu, baru lewat lagi ke gerbang X ray tersebut. Sumpah mati, kali ini lah saya sempat buka sepatu saat mau boarding. Hal seperti ini hanya saya alami pada saat di Amerika tahun 2002 dan 2007 dan di Beijing saja pada waktu olimpiade lalu.

Jujur, saya merasa jengkel, akan tetapi dibalik itu terbersit rasa bangga juga melihat petugas Airport Authority International Airport Soekarno Hatta yang menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak perduli orang bule dan siapapun, semua diperiksa dengan teliti. Maka terlihatlah demikian banyak botol minuman, minyak wangi dan barang-barang terlarang yang disita dipintu pemeriksaan pagi itu. Kurang jelas, apa sebabnya? Pasti para penumpang itu selama ini “under estimate” terhadap petugas security kita, dengan sengaja membawa barang-barang yang jelas dilarang untuk dibawa kedalam kabin.

Saya angkat topi ! dan berharap, mudah-mudahan, hal tersebut tidak “hangat-hangat tai ayam”, dan juga bukan karena ada petugas baru yang sedang cari muka. Disisi lain, karena kita sudah biasa dengan petugas yang selama ini hanya basa basi saja menjalankan tugasnya, sekali mereka menjalankan tugas dengan benar, maka kita menerimanya sebagai hal yang aneh !

Sambil berjalan menuju pintu pesawat, kolega saya berkata : “ini gara-gara kamu sering tulis di koran dan di kompasiana brengseknya petugas airport, sekarang dia tau kamu berangkat, abislah kita semua diperiksa !” Mendengar ini, saya tertawa terbahak-bahak, Hua ha ha ha ha ha , mudah-mudahan bukan itu sebabnya.

Mari kita lihat saja, sekali lagi, mudah-mudahan hal ini dijalankan dengan konsisten. Jengkel? Ya nggak apa-apa, disiplin memang harus ditegakkan dengan tanpa pandang bulu dan juga tanpa henti ! Bravo!

The post Ada yang Baru di Soekarno Hatta! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2009/10/27/ada-yang-baru-di-soekarno-hatta/feed/ 0
Pilpres dan Whisky ! http://www.chappyhakim.com/2009/05/14/pilpres-dan-whisky/ http://www.chappyhakim.com/2009/05/14/pilpres-dan-whisky/#comments Thu, 14 May 2009 01:49:22 +0000 http://www.chappyhakim.com/?p=829 Amburadulnya International Airport kita, kayaknya sudah menjadi cerita yang tiada akhir.   Mulai dengan trasnportasi menuju Airport yang hanya dapat menggunakan kendaraan mobil, karena tidak tersedia ...

The post Pilpres dan Whisky ! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
Johnnie Walker

Johnnie Walker

Amburadulnya International Airport kita, kayaknya sudah menjadi cerita yang tiada akhir.   Mulai dengan trasnportasi menuju Airport yang hanya dapat menggunakan kendaraan mobil, karena tidak tersedia jalur kereta api sampai dengan berserakannya bangkai pesawat terbang di pelataran parkir.   Pemandangan di terminal domestik agak sulit dibedakan dengan stasiun kereta api, malah ada yang mengatakannya sudah menjadi pusat perbelanjaan.

Belum lagi sulitnya untuk pindah terminal, selain tidak ada petunjuk yang jelas, juga sulit sekali memperoleh kendaraan dari satu terminal ke terminal lainnya.   Begitu turun dan keluar airport, kita harus siap berhadapan dengan begitu banyak calo taksi yang sangat membuat tidak nyaman.

Itupun, ditengah-tengah krisis ekonomi, dimana kebanyakan pihak menurunkan harga, justru airport tax dinaikkan tarifnya.   Masih banyak lagi yang merupakan keluh kesah orang terutama penumpang pengguna jasa angkutan udara.   Belum bicara soal security yang sampai saat ini pun, pihak Singapura masih belum percaya dengan sistem keamanan di Cengkareng.   Mereka masih melaksanakan “random”  security check bagi penumpang yang berasal dari Jakarta.

Sebenarnya, yang harus dipahami oleh para pengelola bandara, International Airport Cengkareng adalah merupakan pintu gerbangnya Republik Indonesia, jadi seharusnya fokus kepada pencitraan negara ini dengan berbagai fasilitas dan tampilannya.   Sampai saat ini, konsentrasi lebih hanya ditujukan untuk “cari uang” saja.   Manajemen “kejar setoran”.   Kejengkelan banyak orang tentang airport ini sudah banyak di lampiaskan melalui banyak sarana, antara lain surat pembaca dan lain-lain.   Saya yakin itu semua didasari oleh niat yang baik untuk memberi masukan, jangan kemudian dengan mudah menuduh bahwa mereka itu senangnya menjelek-jelekan negeri nya sendiri.

Salah satu tulilsan yang juga menyoroti hal ini dan juga mengutarakan rasa jengkelnya saya dapatkan di detikNews yang saya pikir patut kita ketahui bersama.   Berikut ini tuklisannya :

Selamat Datang di Negeri Johnnie Walker
Eddi Santosa – detikNews

Den Haag-Jakarta – Bandara adalah salah satu penentu impresi terhadap sebuah negara. Di Stockholm kita disambut dengan Welcome to my hometown, Borg, Björn – Tennis Legend.

Di Soekarno Hatta malah Johnnie Walker.

Pesan-pesan dari Johnnie Walker begitu dominan di koridor Terminal 2 kedatangan dari luar negeri, menjelang check point imigrasi, Bandara Internasional Soekarno – Hatta.

Seperti diketahui, Johnnie Walker adalah bukan salah satu bapak pendiri bangsa atau putera bangsa Indonesia yang telah banyak berjasa, melainkan merk whisky. Membaca pesan dari Oom Johnnie kesan dan interpretasi bisa sangat beragam. Entah apa yang menjadi pertimbangan manajemen Angkasa Pura.

Bandingkan misalnya dengan Bandara Arlanda, Stockholm. Begitu kita keluar dari perut pesawat dan masuk bandara, sambutan khas Swedia begitu menyedot perhatian, “Welcome to My Hometown, HM Carl XVI Gustaf – the King”, “Welcome to My Hometown, Borg, Björn – Tennis Legend”. Totalnya ada 100 personaliti kebanggaan Swedia, dari ABBA hingga sang Raja, menyambut kedatangan.

Bandara-bandara internasional lain juga menonjolkan pesan-pesan khas negeri setempat, sehingga pelancong langsung merasakan sambutan sangat membekas dan berkesan. Iklan beverages, apalagi beralkohol, hanya berada di lokasi outlet bersangkutan. Tidak berada di ‘ruang publik’, yang bisa dibaca mewakili visi dan kebijakan manajemen.

Di koridor publik Bandara Schiphol Amsterdam tak lepas dari tulip, klompen (sepatu kayu), dan keju, sebagaimana Bandara Charles de Gaulle Paris tak lepas dari landmark Eiffel dan identitas kebanggaan nasional Prancis lainnya.

Mengapa Bandara Soekarno Hatta justru didominasi pesan dari Johnnie Walker? Mana itu foto gagah Soekarno dan si bijak Hatta? Mana itu Rendra atau mungkin Rhoma Irama, hingga penari Bali Ni Pollok yang amat populer di kalangan pelancong Belanda dan Belgia?

Banyak sekali putera-puteri berprestasi bangsa, dari Aceh sampai Papua, dari bidang politik hingga musik, dari teknologi sampai seni, atau dari budaya hingga olahraga, yang bisa memberi kesan mendalam sekaligus mempromosikan dan menguatkan citra Indonesia. Nama-nama Ki Mantep Soedarsono dan Rudy Hartono, misalnya, cukup berbobot menjadi poster penyambut kedatangan penumpang.

Kedatangan saya cuma dua hari berselang dari Hari Kartini, namun tak satupun potret tokoh emansipasi wanita Indonesia yang dibangga-banggakan itu terpajang di Bandara Soekarno Hatta. Padahal jika itu dilakukan, dilengkapi pesan-pesannya yang legendaris, tentu akan meninggalkan kesan positif terhadap Indonesia bagi para pelancong asing.

Di Bandara Changi Singapura justru pada saat bersamaan mereka sedang gencar memajang poster-poster besar tentang Budaya Peranakan, salah satu akar budaya mereka. Negeri pulau itu hipermoderen, namun akar tradisional mereka tetap dibanggakan.

Bagi orang asing, keunikan lokal atau pernik-pernik khas setempat itu jauh lebih memikat daripada merk air api yang sudah menjadi teman biasa di negeri asal mereka.

Orang ribut bahwa Candi Borobudur tak lagi masuk 7 keajaiban dunia. Tetapi bahwa Borobudur kalah dari Johnnie Walker di serambi rumah sendiri semua diam saja. (es/es)

Kayaknya sih orang-orang sedang sibuk dengan kegiatan Pilpres, jadi tidak sadar bahwa kita sebentar lagi mungkin akan menerima International Award dari pabrik Whisky  terkenal buatan Scotland yang dipromosikan oleh Bandara Internasional Soekarno Hatta.

The post Pilpres dan Whisky ! appeared first on CHAPPY HAKIM.

]]>
http://www.chappyhakim.com/2009/05/14/pilpres-dan-whisky/feed/ 2