All posts tagged PSSI

Ini dia PSSI !

pssi1

PSSI

MALAM tadi saya berkesempatan makan malam dengan beberapa teman disalah satu Café yang cukup beken di Jakarta Pusat. Salah satu dari teman itu adalah saudara Dimas Wahab, dulu dikenal sebagai pemain Bas Gitar, band Medenas. Dimas Wahab adalah putra dari Abdul Wahab Djojohadikusumo. Tidak banyak orang yang kenal dengan nama Abdul Wahab. Bapak Abdul Wahab adalah ketua umum PSSI pada tahun 1956 sampai dengan tahun 1964. Pada waktu itu, sekretaris jenderalnya adalah Bapak Yumarsono.

Begitulah, memang di era itu, PSSI dikenal oleh banyak orang dengan para pemainnya yang jago-jago. Pengurusnya nyaris tidak dikenal luas oleh masyarakat pencinta sepakbola. Jauh berbeda dengan era setelah itu, maka yang jauh lebih terkenal adalah para ketua umumnya dibanding dengan para pemainnya.

Pada tahun 1950 an, sangat sering kesebelasan dari luar negeri datang ke Jakarta untuk bertanding melawan   PSSI yang diselenggarakan di stadion Ikada, dekat pasar gambir, disekitar Monas sekarang. Stadion Ikada sendiri terdiri dari Tribune Barat dengan atap seng putih dan tergolong mewah saat itu, yang diperuntukkan antara lain bagi penonton VIP, dan Tribune Timur yang beratap seng berwarna merah, dengan tempat duduk yang kurang begitu bagus, ditengahnya tersedia satu kotak khusus bagi penyiar radio RRI yang menyiarkan siaran pandangan mata sepakbola secara langsung. Sedangkan Tribune Utara dan Selatan adalah tribune terbuka, tanpa atap, diperuntukkan bagi penonton yang berdiri, dalam arti memang tidak tersedia tempat duduk. Read more…

Masalah-masalah Besar di Negara Besar

Selesai turnamen sepak bola Piala AFF 2010, demam sepak bola di TanahAir tetap berlanjut. Walaupun Indonesia belum beruntung untuk menjadi juara pertama, masyarakat dari berbagai kalangan sudah kadung kembali cinta pada olahraga paling populer di republik ini.   Seiring dengan semakin gegap gempitanya antusiasme masyarakat terhadap harapan besar dari majunya tim sepak bola nasional di panggung dunia, bergulir pula babak kompetisi sepak bola profesional yang bernama Liga Primer Indonesia (LPI).

Liga baru ini berusaha untuk dapat menyelenggarakan kompetisi sepak bola profesional tanpa membebani anggaran negara.   Sayangnya liga ini tidak mendapatkan pengakuan dari PSSI.    Bahkan sampai kini, tidak pernah diperoleh penjelasan yang masuk akal dari sikap PSSI yang tidak menerima kehadiran LPI.    Dari segala sisi dan titik tinjau,kehadiran LPI sama sekali tidak atau jauh dari kemungkinan dapat memunculkan dampak negatif terhadap PSSI. Itulah sekadar gambaran besar dari perkembangan mutakhir persepakbolaan di Tanah Air.

Di tengah-tengah mulai bangkitnya tim sepak bola nasional di ajang global, setelah hampir 20 tahun hanya mampu menghadirkan kerusuhan dan perkelahian massal di lapangan tanpa secuil pun prestasi, muncul kini perseteruan LPI versus PSSI.    Sayang sekali, seharusnya PSSI dapat menyadari bahwa setelah cukup lama bekerja tanpa hasil sedikit pun,seyogianya segera membuat perubahan ke arah yang lebih baik.    Salah satu langkah yang menuju ke arah tersebut sebenarnya kini sudah terbuka lebar, yaitu dengan segera mendukung kehadiran LPI.   Dengan bergabungnya LPI ke PSSI, maka dipastikan persepakbolaan Indonesia akan dapat banyak berharap untuk dapat meraih prestasi yang menjanjikan.     Dengan bergabungnya PSSI dan LPI dapat dipastikan dukungan masyarakat sepak bola nasional akan menjadi lebih bulat.

Sekali lagi sangat disayangkan terjadinya konflik antara PSSI dan LPI, karena sebenarnya tanpa disadari kondisi ini telah memberikan pelajaran dan pendidikan yang sangat buruk bagi perkembangan moral dan mental para pemain muda yang tengah berkembang.    Anak-anak muda belia para penerus bangsa, seharusnya dapat berada dalam wilayah yang nyaman dan damai sehingga jauh lebih mudah untuk berkonsentrasi pada perkembangan prestasi olah raga nya saja.    Bayangkan, anak anak muda para pesepak bola berbakat yang tengah mengembangkan potensinya, kini terganggu oleh perseteruan PSSI versus LPI.   Perseteruan yang antara lain dapat memengaruhi seseorang, apakah bisa atau tidak masuk ke dalam jajaran timnas misalnya.

Read more…

Sepakbola Indonesia terwakili oleh Hendry Mulyadi !

Berita paling akhir tentang sepakbola Indonesia adalah berita mengenai “prestasi” tim PSSI yang tengah berkompetisi di kancah persaingan Piala Asia 2011.   Prestasi PSSI ?  Ya, apalagi cara menyebutnya, bila kita selalu saja disuguhi “kegagalan” demi “kegagalan” yang tersaji dihadapan kita semua, para pencinta sepakbola Indonesia.   Jangan-jangan , memang “kegagalan” lah yang menjadi target kerja PSSI.

Terpuruk disemua lini kancah pertarungan sepakbola dikawasan Asia Tenggara, Asia, apalagi dunia?   Lebih menyedihkan lagi, ditengah-tengah badai kegagalan itu, sepertinya tidak sama sekali mempengaruhi para pengurus sepakbola tercinta ini, untuk berniat melakukan “introspeksi”.   Tidak ada sama sekali kesan bahwa telah terjadi “mala petaka”  yang luar biasa dari satu proses pembinaan sepakbola nasional kita.

Dengan berat hati, saya harus mengatakannya dengan terminologi yang dramatis, yaitu “mala petaka luarbiasa”.    Saya bukan tidak tahu bahwa membina persepakbolaan di Indonesia  bukanlah satu pekerjaan yang mudah.   Akan tetapi saya tahu persis bahwa bila kita semua mau bekerjasama dengan niat yang tulus dan mengikutsertakan semua pihak, tanpa adanya interes lain selain dari bekerja untuk kehormatan PSSI, maka itu bukanlah satu pekerjaan yang mustahil.

Bagaimana saya tidak bisa menghindar dari istilah “malapetaka luar biasa”.
Read more…

Santokh Singh

Disekitar tahun 1970 sampai tahun 1980-an, pada saat-saat penyelenggaraan Sea-Games dan Asian Games, kesebelasan PSSI bersaing ketat dengan salah satu tim yang kuat dikawasan ini yaitu Malaysia. Begitu ketatnya persaingan kedua kesebelasan, sehingga tidak saja nama-nama pemain PSSI yang populer di masyarakat pecinta bola di tanah air , akan tetapi juga beberapa nama pemain nasional Malaysia mendapat tempat dihati para pecinta sepak bola di Indonesia.

Anak-anak Indonesia, para pecinta mania sepakbola , bahkan beberapa diantaranya, ditahun itu juga meng idola kan beberapa pemain Malaysia yang punya nama.   Nama-nama seperti, Santokh Singh, Soh Chin Aun, Mokhtar Dahari dan Keeper Arumugam adalah nama yang tidak asing lagi di masa itu.

Harian New Straits Times, terbitan Sabtu 21 Nopember 2009, memuat berita tentang pemain keturunan India itu dalam halaman “prime news” nya.   Berita itu menyebutkan, bahwa Sang Legenda Nasional Sepakbola Malaysia  Santokh Singh tengah terbaring “coma” di Kuala Lumpur Hospital, setelah terjatuh tak sadarkan diri dirumahnya pada Senin lalu.
Read more…

PSSI 3 -1 dan 7 -0

Pagi ini, dihari Pahlawan 10 Nopember 2009 kita disuguhi berita olah raga khususnya sepakbola yang sangat memprihatinkan.   Dua kesebelasan kesayangan dan seharusnya kebanggaan kita PSSI di permalukan oleh lawan-lawannya.

Tim PSSI dengan seragam yang bersimbol Garuda itu dicukur 3 – 1 oleh Malaysia dan satu tim lainnya dihantam tidak tanggung-tanggung yaitu dengan skor 7 – 0 oleh Jepang.   Agak memalukan juga, karena selain dikalahkan oleh Malaysia ternyata juga kita memperlihatkan pertunjukan yang agak kurang sedap dilapangan yaitu adegan “baku hantam” antar pemain.

Kalah ? sepertinya sudah menjadi biasa bagi PSSI.   Jangan-jangan “kalah”  telah dan akan menjadi “merek dagang” nya tim nasional PSSI di ajang persepakbolaan internasional.   Inilah sebenarnya akar masalah dari PSSI yang harus segera diselesaikan terlebih dahulu.   Bagaimana menyusun dan membangun satu tim nasional yang dapat dibanggakan oleh rakyat dan bangsanya.   Bagaimana cabang olah raga paling populer ini dapat berbicara di pentas kawasan sajalah dulu, tidak usah bermimpi terlalu jauh ke pentas dunia.   Bagaimana dan apa yang harus dikerjakan?
Read more…