Pagi itu saya bersama dengan Prof. Priyatna, Dudi Sudibyo dan beberapa teman penerbang Garuda, turut menghadiri sidang pengadilan negeri Sleman yang akan menjatuhkan vonis nya terhadap Capt. Marwoto. Kami tiba jauh lebih awal dari jadwal sidang yang renacananya akan dimulai pada pukul 1000 wib. Suasana disekitar gedung pengadilan negeri Sleman, sudah dipenuhi banyak wartawan yang sebagian besar, lebih dari separuhnya adalah wartawan dari media asing. Gedung pengadilan negeri Sleman, kali ini mirip obyek tujuan wisata , karena banyak sekali orang bule disekitarnya.

Ini dia pengadilan Sleman
Tidak itu saja, para orang bule ini, sebagian besar menenteng kamera yang gede seperti lazimnya digunakan oleh para awak televisi. Di arena parkir di depan gedung terlihat pula sebuah “OB-Van” milik Metro TV. Kedatangan saya bertiga segera saja diserbu oleh para wartawan asing tersebut. Beberapa ada yang mengenal saya, antara lain karena membaca beberapa artikel saya yang pernah dimuat di Jakarta Post. Ada dari Reuter, ada pula dari TV Australia dan lain lain. Pertanyaannya tentu saja adalah berkait dengan “diadilinya seorang pilot di pengadilan pidana”, sesuatu yang sangat “aneh” yang terjadi.
Sangat berlainan dengan apa yang saya sering lihat di film-film tentang pengadilan di Amerika, yang tidak terlihat sama sekali tukang potret bisa masuk ruang peradilan, maka diruang pengadilan Sleman ini pengunjungnya adalah sebagian besar tukang potret dan juru kamera Televisi. Kita sering melihat bahwa visualisasi dari suasana ruang sidang, gambar hakim ketua, terdakwa dan pembela selalu hanya dapat dilihat dalam ujud “sketsa” lukisan, sebagai akibat larangan memotret di ruang sidang pengadilan.


Capt.Marwoto bin Komar dituntut 4 tahun penjara, seperti yang dibacakan Jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Sleman, senin kemarin. Tuntutan 4 tahun penjara ini berkait dengan kasus kecelakaan pesawat terbang GA-200 pada tanggal 7 Maret 2007 di Lanud Adisutjipto Jogyakarta.
Selain gaya bertutur yang lugas dan human, juga karena tidak banyak orang militer yang aktif menulis sehingga apa-apa yang ditulisnya menjadi menarik. Saya jengah, seorang militer profesional, bahkan sampai jabatan tertinggi sebagai KSAU dengan pangkat marsekal, masih bisa menjadi kolumnis sekaligus penulis buku, tentu bukan sosok yang tidak baen-baen
Recent Comments