All posts tagged Indonesia

Mandala the tip of an iceberg

puncak gunung es

puncak gunung es

The air transport business in Indonesia, the world’s largest archipelago, is undoubtedly very promising. The country’s big population and widespread distribution of settlements makes air transportation the most reliable means of social mobility and goods movement.

But unfortunately it’s with this very sector that Indonesia has experienced management shortcomings in making its airlines more contributive to national development.

One of the fairly prominent reasons for this lack of progress is the government’s slow regulatory movement in anticipating the rapid increase of airline companies and passengers. The significant rises were due to the deregulation of the airline industry in the 1990s. In 2000, for example, Indonesia only owned five airlines serving 10 million passengers, but in 2006 there were over 25 airlines and 20 million passengers.

It was a phenomenal growth, although not without embarrassment, as it was accompanied by a fast-rising number of air accidents. From 1995 through 2005, Indonesia recorded 3.1 aircraft accidents per million departures. The figure may seem small, but they are drastic in contrast to the world average of 0.89 accidents per million departures, a ratio of one to 3.5. Read more…

Pertamakali Terbang (2)

Pertamakali saya melihat pesawat terbang adalah melihat pesawat Dakota di Kemayoran. Ternyata setelah sekian puluh tahun berlalu, pesawat Dakota juga yang menjadi pesawat terbang yang pertamakali saya naiki, yaitu pada saat latihan para dasar, terjun payung di Lanud Margahayu Bandung. Sebenarnya dengan menaiki pesawat Dakota saat latihan terjun, dapat dikatakan “belum sempurna”, karena saya hanya merasakan terbang sejak dari Take Off saja , kemudian terjun diatas Margahayu. Itu berarti, saya belum merasakan bagaimana saat pesawat terbang itu turun dan landing.

Jadi yang “sempurna” (ikut terbang mulai dari take off sampai dengan landing) sebagai kesempatan saya terbang pertamakali adalah saat terbang dengan Dakota juga, namun kali ini adalah pesawat Dakota dari Garuda Indonesian Airways. Pada waktu itu, saya sebagai Sersan Karbol, Taruna tingkat dua, kebetulan mendapat tugas untuk menemani kunjungan Cadet Amerika di Akabri Udara, kemudian ke Bali dan Jakarta. Saya berangkat dari Jogjakarta ke Bali. Rombongan kecil ini terdiri dari dua orang Cadet Amerika dengan seorang Kolonel, sedangkan saya bersama seorang Sersan Mayor Karbol Senior, Taruna tingkat empat dan seorang Kolonel. Ceritanya, saya dipilih untuk menemani tamu tersebut, karena kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Tidak istimewa, tetapi mungkin dinilai sedikit lebih baik dari teman-teman lainnya, atau bahkan mungkin hanya karena lebih berani saja menggunakan bahasa Inggris walaupun jauh dari sempurna. Lumayan, ditingkat dua , sudah memperoleh kesempatan jalan-jalan.

Sangat berbeda dengan pesawat Dakota yang saya gunakan untuk terjun di Margahayu, maka pesawat Dakota Garuda ini, kabinnya bersih, wangi dan ada Pramugarinya. Bisa dibayangkan Taruna tingkat dua yang masih culun ini memperoleh kesempatan naik pesawat Garuda, sungguh satu kesempatan yang sangat langka. Dengan penerbangan Dakota Garuda inilah, saya mengalami satu penerbangan yang sangat mengesankan plus perjalanan yang tidak dapat saya lupakan seumur hidup. Tidak hanya berkesempatan terbang pertama kali dengan sempurna, dalam arti duduk sejak dari take off sampai dengan landing, akan tetapi juga karena penerbangan tersebut berangkat dari Jogjakarta ke Bali. Seumur hidup saya belum pernah melihat Bali, walau mendengar dan membaca tentang Bali saya sudah sangat sering mengerjakannya. Perjalanan yang sangat membahagiakan. Semua terasa menyenangkan, kecuali satu hal saja, yaitu saya harus berbahasa Inggris selama empat hari perjalanan itu. Namun tetap saja saya berusaha menikmatinya, karena justru kesempatan tersebut adalah benar-benar satu kesempatan emas bagi saya dalam konteks meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Read more…

Tepat Waktu

stop

Tepat Waktu

Kelemahan yang sangat mendasar dari bangsa kita adalah dalam menepati waktu. Untuk hal ini banyak sekali olok-olok yang muncul sebagai reaksi  kekecewaan orang terhadap kebiasaan terlambat dari orang Indonesia. Pada satu waktu di tahun 1970-an, saya berjumpa dengan seorang bangsa Belanda (dia fasih berbahasa Indonesia) yang tengah sama-sama transit di Pelabuhan Udara Biak. Dia hendak ke Jayapura dan saya akan kembali ke Jakarta. Ditengah asyik berbicara tentang dunia penerbangan, dengan maksud untuk tidak menyebabkan dia terlambat, saya tanyakan jam berapa pesawat yang akan ditumpanginya ke Jayapura itu akan take off. Dengan tenang dia mengatakan jam 10.00, yang kemudian saya lanjutkan dengan bertanya 10 waktu mana ( beda waktu wib dengan wit adalah 2 jam), karena dia baru tiba dari Jakarta dan saya sendiri akan menuju Jakarta. Dia tidak mengatakan wib atau wit, tetapi disebutnya sebagai wik. Wah, apa itu wik? Dengan setengah bergelak dia menjawab WIK itu sebagai Waktu Indonesia Kira-kira, sambil menceritakan bahwa selama lebih dari dua tahun di Indonesia dia tidak pernah mengalami terbang dengan tepat waktu.

Terlalu banyak contoh untuk dapat mengemukakan mengenai kelemahan yang satu ini. Salah satu Lembaga Tinggi Negara yang mungkin paling sibuk menggelar rapat dalam mekanisme kerjanya adalah DPR. Rapat yang paling banyak diselenggarakan, mungkin rapat yang bernama Rapat Dengar Pendapat (RDP). Rapat ini biasanya diselenggarakan oleh komisi-komisi di DPR. Pengalaman saya selama tiga tahun, mengikuti kegiatan RDP di DPR Republik Indonesia, tidak pernah satupun yang berlangsung dengan tepat waktu. Selalu terlambat dan beranggapan bahwa terlambat itu ya tidak apa-apa.
Read more…

Kekeliruan dalam Menentukan Juara Piala AFF 2010

Timnas Garuda

Timnas Garuda

Akhirnya, berakhirlah sudah rangkaian pertandingan Piala AFF tahun 2010.   Sangat berbeda dengan apa yang pernah terjadi pada perebutan piala AFF sebelumnya, maka Timnas Indonesia sangat tampil menarik perhatian.   Sangat menarik perhatian, disebabkan beberapa hal yang terjadi bergulir begitu saja.

Bayangkan dari berpuluh  tahun belakangan ini, kita tidak pernah menyaksikan sebuah kesebelasan sepakbola nasional seperti Tim nya Firman Utina dan kawan-kawan.    Secara tiba-tiba, kita memiliki Timnas sepakbola yang membanggakan.   Tidak ada angin dan tidak ada hujan, muncul satu kesebelasan yang memberikan rasa bangga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebuah Tim yang sangat produktif  membuat gol dalam laga-laga penyisihan perebutan piala AFF.   Lihat saja, skor skor yang ditorehkannya, 5-0 membantai Laos, menggulung Malaysia 5-1, menundukkan Thailand 2-1 dan Philipina 1-0 dua kali.    Tidak ada satu pun pertandingan yang dimainkan dengan seri dan terlebih lagi, tanpa membuahkan gol, untuk kemudian secara meyakinkan berlenggang menuju babak final.    Cukup sedih kemudian, kita melihat kenyataan Indonesia dibantai 3-0 di KL, walaupun menang 2-1 di Jakarta, sehingga harus puas duduk sebagai  “runner up”

Tidak dapat disangkal oleh siapapun bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam olah raga sepakbola.   Namun kelemahan terbesar juga mengiringinya yaitu dalam aspek Leadership dan Manajemen.   Kini seolah kita kemudian menyaksikan bahwa  keburukan Leadership dan Manajemen ternyata tidak mampu untuk  membendung lajunya prestasi sepakbola karena besarnya potensi yang dimiliki.
Read more…

Belajar dari Tragedi Bukit Jalil

Tanggal 26 Desember 2010 telah menjadi antiklimaks saat Tim Nasional Indonesia ditaklukkan tiga gol tanpa balas oleh Malaysia.     Dalam laga tandang Indonesia dalam final Piala AFF 2010 yang dilangsungkan di Stadion Bukit Jalil itu, Malaysia mencatat kemenangan terbesar Malaysia atas Indonesia sepanjang sejarah.    Antiklimaks jika dibandingkan dengan mudahnya Indonesia menggulung Malaysia 5-1 beberapa hari sebelumnya di Jakarta.   Belum lagi dengan rentetan pertandingan sepanjang babak penyisihan tersebut di mana Indonesia tidak pernah mengalami kekalahan. Di babak penyisihan Indonesia menang melawan Laos 6-0, melawan Malaysia 5-1, melawan Thailand 2-1.

Berikutnya melawan Filipina, Indonesia memenangkan pertandingan dua kali dengan skor masing-masing 1-0. Bayangkan, di tengah-tengah prestasi kesebelasan PSSI yang dapat dikatakan hampir nihil sama sekali, tiba-tiba kemudian muncul satu kesebelasan Tim Nasional Indonesia yang begitu perkasa!    Tidak heran hal ini memunculkan respons yang “luar biasa”terhadap tim asuhan Alfred Riedl tersebut.    Kita semua tidak dapat memungkiri bahwa belakangan ini kita memang “sangat dahaga” dengan prestasi sepak bola nasional yang dapat dibanggakan.

Orang kemudian disadarkan bahwa sukses Timnas memang dapat diterima sebagai hal yang sangat masuk akal karena dalam barisan kesebelasan ini ada Gonzales sang algojo pencetak gol asal Uruguay yang menjadi warga negara Indonesia dan Irfan Bachdim keturunan Indonesia- Belanda.    Di samping itu juga ada sang maestro lapangan tengah Firman Utina, pemain sayap Oktovianus Maniani, dan pemain lainnya yang memesona.   Walaupun sebenarnya Riedl, sang arsitek, berulang kali mengatakan tim ini sebagai tim yang “belum jadi”.
Read more…