Flight

Piper Navajo dan Mardianto

Pada waktu mendaftar ke API, Akademi Penerbangan Indonesia di Curug, pada tahun 1966, diantara sekian banyak teman-teman saya yang mendaftar ada seorang teman bernama Mardianto.   Mardianto menyelesaikan pendidikannya di SMA dalam tahun yang sama dengan saya 1966, jebolan jalan Bulungan Kebayoran Baru Jakarta.   Setelah tidak atau belum ada panggilan, saya sudah keburu masuk ke Akabri Udara.   Sementara  saya pun belum mengetahui kemana teman-teman yang pernah daftar ke API itu bertebaran mencari kehidupan dalam menatap masa depan masing-masing.

Pada suatu hari Sabtu di Ksatrian Akabri Udara, Pangkalan Udara TNI AU, Adisutjipto, saat itu saya sudah berstatus Taruna tingkat dua, muncullah Mardianto bertemu saya dan Purnomo Basuki, teman sesama Sersan Taruna, yang sama-sama mendaftar dari Jakarta.  Kami bertiga pernah bersama mendaftar API ditahun 1966 .   Yang sangat surprise adalah, Mardianto sudah menjadi Pilot, dan kala itu ia datang dengan mengemudikan sendiri pesawat terbang kecil berwarna kuning bermesin baling-baling dua buah.   Belakangan baru saya ketahui bahwa pesawat terbang tersebut adalah pesawat Piper Navajo, milik Bea dan Cukai.   Mardianto datang ke Jogjakarta  bersama Pak Rusdi, salah satu jajaran pimpinan di Bea Cukai.

Piper Navajo(google)
Piper Navajo(google)

Sedikit tentang pesawat Piper Navajo.   Pesawat ini adalah buatan pabrik pesawat Piper Aircraft  dan  masuk dalam keluarga  “cabin-class, twin-engine aircraft”, yang mesinnya berasal dari Lycoming.    Pesawat  dibuat atas permintaan dari Bos nya Pabrik pesawat Piper Aircraft, pendiri sekaligus pemilik,  yang bernama William T Piper.   William sudah agak lama mendambakan sebuah pesawat berkapasitas  antara 6 sampai 8 kursi yang bermesin ganda yang layak digunakan bagi keperluan bisnis  sebagai angkutan commuter.   Untuk merealisasikan hal tersebut , maka pada tahun 1962 dimulailah  langkah-langkah untuk mewujudkannya, yaitu satu kerja besar yang dinamakan “Proyek Inca”.

Pabrik pesawat Piper Aircraft, berhasil membuat  Piper Navajo, sebuah “civil utility aircraft”, berkapasitas untuk enam atau delapan orang, dengan tenaga mesin Lycoming dua buah terpasang dikiri dan kanan sayapnya.   Produksi pertama berhasil  diselesaikan pada tanggal 30 September 1964 dan penerbangan operasional telah dapat dilakukan sejak  30 Maret 1967.   Hal ini disebabkan, karena sertifikat dari FAA, Federal Aviation Administration baru diperoleh pada 24 Februari 1966.   Navajo sendiri sebenarnya diambil dari nama salah satu suku Indian, penduduk asli benua Amerika.   Sebagai pesawat komuter untuk jarak pendek dan sedang yang pas untuk digunakan golongan eksekutif para pebisnis di Amerika, dan beberapa tempat dibelahan bumi lainnya, maka pesawat Piper Navajo termasuk sebuah pesawat yang berhasil.   Sejauh ini diketahui hampir mendekati angka 4000 buah Navajo dibuat oleh pabriknya dalam memenuhi kebutuhan konsumen.   Beberapa yang digunakan di Kanada, ternyata tidak menggunakan mesin Lycoming, akan tetapi dipasang mesin sejenis buatan “Pratt & Whitney” yaitu PT6A-27.

Mardianto, mengira saya sudah menempuh latihan terbang di Akabri Udara, maka sebenarnya dia ingin sekali mendiskusikan teknik terbang yang ia miliki untuk dibandingkan dengan apa yang dilakukan dalam penerbangan militer.   Agak sedikit kecewa, setelah mengetahui bahwa baru nanti di tahun keempat saya masuk ke sekolah penerbang, namun tidak menurunkan semangatnya mengajak saya terbang “Joy Fllight” diatas Jogjakarta.   Saya diberi kesempatan duduk di kokpit,   Mardianto di kursi kiri dan saya di kursi kanan.   Pada umumnya, semua pesawat transport, disain kemudi di kokpitnya adalah, Left Seat untuk  Pilot in Command dan Right Seat diperuntukkan bagi Co-Pilot.   Walaupun dilengkapi dengan “head set”, namun komunikasi dengan menara pengawas penerbangan atau ATC, Air Traffic Control, disajikan pada loudspeaker kabin pesawat.   Disinilah, saya baru mengetahui, bahwa pembicaraan Pilot dengan pihak ATC di darat, dilakukan dalam bahasa Inggris.

Di kursi kanan di kokpit, saya memperhatikan bagaimana terampilnya Mardianto, teman saya dalam menerbangkan Piper Navajo.   Sebentar terlihat dia mengamati instrument pesawat, berikutnya melihat arah luar, memutar beberapa tombol di atas kepalanya, kemudian mengambil “mic” berbicara di radio  dengan menara pengawas, kemudian kembali lagi menatap beberapa indikator pada jajaran panel instrument.   Mardianto terlihat “jago” sekali menerbangkan pesawat Piper Navajo, sementara saya baru bisa terbengong-bengong saja sambil sesekali melihat kebawah, melihat keindahan kompleks Akabari Udara yang katanya meniru konsep pembangunan USAFA, United States Air Force Academy di Colorado Spring.

kokpit Piper Navajo (google)
kokpit Piper Navajo (google)

Piper Navajo dengan kabin yang wangi dan interior yang mewah seperti didalam mobil Mercedes tahun terakhir, bunyi mesin yang tidak begitu bising, benar-benar dapat memanjakan para penumpangnya.   Piper Navajo ini pula yang tercatat dalam sejarah hidup saya sebagai pesawat terbang pertama dimana saya berkesempatan duduk di ruang kemudi, walaupun di Right Seat, bukan kursi nya  sang Pilot in Command alias Kapten Pilot.   Kesempatan ini, telah benar-benar kembali membakar semangat saya untuk bisa meraih mimpi dalam menggapai cita-cita menjadi Pilot.   Apalagi, menjelang turun untuk landing kembali di Lanud Adisutjipto,   Mardianto bercerita bahwa dia telah beberapa kali terbang ke Singapura dan beberapa tempat dijajaran negara Asean.   Jujur, saya sangat kagum bercampur sedikit rasa “iri” terhadap Mardianto, lebih-lebih dengan gaya dan bahasa tubuhnya dalam bercerita, jauh dari rasa “sombong” atau bermaksud “pamer” kelebihan yang memang telah ia miliki.

Pesawat Piper Navajo, ditahun 1969, dikala saya masih Sersan Karbol, telah menorehkan pengalaman yang sangat berharga dan sangat bermanfaat, ditengah-tengah upaya saya berjuang dalam mencapai target cita-cita masa depan.   Keinginan untuk menjadi Pilot kembali terbakar dengan lebih berkobar-kobar lagi.   Saya tidak dapat menggambarkan dengan jelas dalam kalimat yang dapat dituliskan disini, betapa hati saya berbunga-bunga yang menumbuhkan harapan besar, selesai diajak Mardianto “Joy Flight” yang  hanya berlangsung  tidak lebih dari 45 menit di atas Jogja.   Harapan besar agar kelak dapat menjadi Pilot, menerbangkan pesawat terbang.   Keinginan untuk mampu mengemudikan pesawat terbang,  seperti yang didemo oleh Mardianto pada saat itu, telah menjadikan saya sudah masa bodoh terhadap jenis pesawat yang ingin saya terbangkan.   Pokoknya jadi Pilot !  Saya sudah tidak sabar untuk cepat-cepat menjadi Pilot, walaupun saya tahu, saat itu waktunya masih lama.   Bayangkan , masih di tahun kedua, sedangkan tes baru akan dilangsungkan pada semester pertama di tahun keempat Akademi.    Terimakasih Mardianto !

Di akhir tahun 1975 dan sepanjang tahun 1976 serta di tahun-tahun setelah itu, dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan Mardianto dalam kegiatan terbang di Timtim.   Saya sudah menjadi penerbang operasional dengan Dakota TNI Angkatan Udara, sementara Mardianto masih dengan Navajo nya, beroperasi dalam penerbangan “khusus” berkait misi operasi Timtim.   Kadang berjumpa di airport, namun lebih sering hanya sekedar menyapa lewat radio pesawat di udara.   Sungguh pengalaman yang sangat membanggakan hati.   Teman semasa SMA, bertemu kembali dalam lapangan pekerjaan yang berbeda, namun dalam mengemban misi yang sama.   Misi yang mempunyai target serupa, misi untuk negara tercinta, misi yang  sama dicita-citakan sejak kecil.

Demikian , waktu berjalan, tidak terasa, dalam penugasan-penugasan selanjutnya, sudah semakin jarang saya berjumpa dengan Mardianto.   Puluhan tahun kemudian, setelah sama-sama menjalani masa pensiun, kami berjumpa kembali.   Berjumpa dengan kondisi yang sama-sama sudah mulai berhadapan dengan banyak masalah kesehatan fisik sebagai konsekuensi bertambahnya umur.   Belakangan saya mendengar Mardianto terkena “stroke” ringan yang kemudian telah menyebabkan banyak keterbatasan bagi dirinya untuk bergiat secara fisik.   Mardianto yang semasa SMA dikenal memiliki tubuh atletis, tinggi gagah, sangat terampil dengan oleh raga karate, kini badannya sudah mulai dimakan usia.   Semua itu adalah “alami” , tidak seorang pun yang dapat menghalanginya.   Namun kesemua itu, tidak pernah mengurangi sedikitpun rasa terimakasih  dan respect saya kepadanya, terutama saat berjumpa di Jogjakarta, mendemokan keterampilan menerbangkan Navajo dengan sikap yang, sekali lagi jauh dari rasa “sombong”.    Sekali lagi, terimakasih Mardianto !   Berharap dan selalu berdoa agar  anda tetap sehat. Insya Allah. Amin.

Jakarta 9 Januari 2011

Chappy Hakim

Tags

Related Articles

5 thoughts on “Piper Navajo dan Mardianto”

  1. piper navajo nya sekarang masi ada Pak, tetapi sudah tidak layak terbang dan diusulkan untuk dihapuskan… kebetulan saya yang mengurus surat2 penghapusannya ^^

  2. mohon ijin pak mardianto apakah pegawai bea cukai?
    tks
    /////////////////

  3. Wah… tulisan yang sangat menarik pak Chappy Hakim dan sangat memotivasi saya. Walaupun udah lama ditulis mudah-mudahan Bapak masih sering menulis dan membaca komentar saya ini. Saya pegawai bea cukai pak, saat ini golongan IIIc bertugas di KPU Bea Cukai Tanjung Priok masih sebagai pelaksana. Saya sangat mencintai dunia aviasi, sejak kecil saya selalu berusaha melihat pesawat ketika mendengar deru mesin di angkasa. Kecintaan saya terhadap pesawat dan dunia penerbangan tetap tinggi sampai di bangku SMA, saya mencoba jalur AKABRI tahun 1995 akan tetapi saat itu saya kurang umur dikarenakan masuk SD dibawah umur. Akhirnya saya PTN di UNSRI selama 1 tahun di teknik elektro, lalu karena informasi teman-teman sekolah negara dan akan jadi PNS akhirnya saya ikut ujian STAN dan lulus tahun 1996, saya kuliah 3 tahun (Diploma 3) dan setelah lulus menjadi PNS di Kemenkeu (Depkeu dulu). Selama kuliah di UNSRi dan STAN, hubungan saya sempat terputus dengan pesawat dan dunia penerbangan, namun setelah penempatan pertama saya bertugas di Belawan, saya kembali dipertemukan dengan dunia penerbangan yang sempat hilang dari kehidupan saya. Saya menemukan software MSFS 2002 di salah satu mall di Medan. Saya beli, saya install, saya pelajari, dan saya makin tergila-gila. Akhirnya saya sekolah di DFS di Halim, dan akhirnya saat ini saya memiliki PPL + Ground CPL. Saya sangat berharap bea cukai kembali mengaktifkan patroli udara untuk membantu kapal-kapal patroli atau untuk VIP mengingat pak Dirjen sering turun ke daerah-daerah, sehingga saya bisa menyalurkan kecintaan saya terhadap penerbangan. Terima kasih atas tulisannya pak dan mohon ijin mungkin akan saya save di komputer juga. Salam penerbangan.

  4. @mas Fadhil, mohon infonya apakah mas bertugas di bea cukai? Mohon pencerahan bagaimana rencana perpesawatan bea cukai yang kemarin udah dicanangkan pak menteri (lama) yang sepertinya menghilang dari pembahasan. Padahal pak Dirjen udah sering sounding bahkan sampai di DPR dan dapat dukungan. Mohon infonya, saya ingin sekali bisa menyumbangkan knowledge dan skill dengan menjadi crew nantinya serta experience yang kumiliki walaupun masih sedikit untuk bea cukai. Kalau berkenan melalui jalur pribadi juga boleh 🙂 082112069008 atau PIN 28C38C0B. Terima kasih. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.