EducationSocial

Malas Membaca?

PADA tahun 1986 saya mengikuti Seskoau, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara.   Didunia Internasional dikenal dengan nama “Staff College”, sekolah yang mempersiapkan para perwira senior untuk mejadi Perwira Tinggi.   Ditingkat sekolah staf dan komando atau sesko ini, diberlakukan kerja sama antar bangsa, dengan tujuan memupuk hubungan baik bagi para calon pemimpin Angkatan Perang masing-masing.   Banyak perwira Indonesia yang menempuh sesko di Amerika, Perancis, Australia, Korea, Jerman,Philipina dan lain sebagainya.

Pada sesko yang saya ikuti di Lembang ini, terdapat pula beberapa perwira siswa tamu dari beberapa Negara.   Ada dua perwira dari Malaysia, dan masing-masing satu orang dari Singapura, Korea Selatan,  Thailand, Philipina dan Australia.   Pada umumnya mereka sudah bisa berbahasa Indonesia, walaupun tidak begitu lancar.

Banyak cerita menarik selama menempuh pendidikan yang berlangsung lebih kurang 9 bulan itu.  Satu diantaranya, ada yang sangat sulit untuk dapat dilupakan yaitu pengalaman saya bersama dengan perwira siswa dari Angkatan Udara Australia.  Dia bernama Garry Dunbar, pangkatnya adalah letnan kolonel.   Khusus perwira siswa dari Australia, karena setiap tahun Pemerintah Australia mengirimkan satu perwira nya untuk mengikuti sesko di Indonesia, Kedutaan besar`Australia menyediakan rumah khusus  tidak jauh dari kampus Seskoau dan satu kendaraan untuk keperluan kesekolah maupun keperluan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan belajar di sesko.

Pada satu kesempatan rekreasi, saya dengan Garry Dunbar menggunakan mobilnya menuju  Bandung untuk membeli beberapa buku dan peralatan sekolah di Gramedia.   Setelah selesai memperoleh keperluan yang dibutuhkan itu, kembali lah kami berdua menuju seskoau yang berlokasi di Lembang.   Karena terlanjur sudah malam hari, saya yang tidak begitu mengenal jalan-jalan di Bandung agak kesulitan memandu Garry untuk menuju Lembang.   Demikianlah, kami berdua kehilangan arah, tersasar disalah satu jalan raya di kota Bandung.   Agak memalukan juga, namun saya tenang saja dan mengatakan kepada Garry untuk berhenti sebentar di dekat tukang rokok dipinggir jalan untuk bertanya.

Yang mengherankan sekali adalah dia tidak setuju, dia menolak untuk bertanya, dia langsung memarkir mobilnya di pinggir jalan yang tidak ada tukang rokok atau toko atau sejenisnya.   Setelah berhenti, dia langsung membuka laci mobilnya dan mengeluarkan peta.   Garry, mengerjakan prosedur kehilangan arah yaitu dengan membuka peta.   Mobilnya, memang disediakan oleh Kedutaan, lengkap dengan peralatan standar yang memang harus ada, antara lain pemadam kebakaran , kotak palang merah, dongkrak, ban cadangan dan yang pasti adalah peta jalan Jakarta, Bandung dan sekitar nya.   Garry mulai mengajak saya untuk mendiskusikan, bagaimana untuk dapat kembali ke Lembang.   Tentu saja diskusi dimulai dengan mencoba menentukan posisi kita terlebih dahulu.   Bayangkan, di malam hari yang gelap gulita, dengan bantuan sedikit cahaya lampu di mobil tidaklah mudah untuk dapat membaca peta.   Saya langsung saja keluar dari mobil, berjalan sedikit kearah belakang mobil dimana ada tukang rokok yang berjualan malam hari.   Saya tanyakan , kemana jalan menuju lembang, dan selesai.   Saya masuk lagi ke mobil, langsung saya bilang kepada Garry untuk menutup saja petanya dan kemudian berangkat mengikuti petunjuk dari saya untuk segera menuju ke Lembang.

Garry masih memegang peta sambil bertanya kepada saya, kita dimana sekarang?   Saya bilang, kita sekarang di Bandung dan mari berangkat menuju Lembang, sambil saya ambil saja petanya dan langsung menuntun ke arah jalan yang dituju, sesuai petunjuk dari tukang rokok tadi.   Tidak berapa lama, kami pun sampai di Seskoau lembang.  Garry nggak habis pikir dan bertanya apa yang saya kerjakan.   Saya jelaskan, saya bertanya kepada tukang rokok, kemana jalan ke Lembang, tukang rokok menjelaskan kemudian selesai.   Garry masih tanya lagi, kenapa kamu tanya? Saya jawab karena saya kesasar, jadi saya tanya.   Garry masih heran, sambil coba menjelaskan kepada saya, bahwa kalau kita bepergian dengan kendaraan, kita harus melengkapinya dengan peta.   Apabila kita kesasar, yang pertama harus dilakukan adalah menganalisis kenapa kesasar dan kemudian coba memecahkan masalah dengan bantuan peta.   Kelamaan Gar ! mendingan tanya tukang rokok kan cepet selesai.   Dia masih terheran-heran sambil menerangkan bahwa kalau kita mengalami kesulitan yang harus dikerjakan adalah berusaha sendiri dulu baru minta pertolongan kemudian, apabila tidak mampu.

Inilah perbedaan budaya.   Kebiasaan membaca peta dan kebiasaan mencari solusi terhadap suatu masalah yang dihadapi.   Garry memang besar dan tumbuh dengan kebiasaan membaca dan taat azas alias  selalu patuh kepada aturan dan ketentuan yang diberlakukan.  Saya banyak belajar dari hal-hal seperti ini.

Jujur saja, dimasa saya masih berpangkat letnan kolonel, di mobil saya tidak terdapat peta (sudah saya turunkan, karena penuh-penuh in laci mobil saja, apalagi kotak palang merah dan juga pemadam kebakaran.) disamping saya menguasai jalan dan ya itu tadi kalau kesasar ya tanya aja, selesai. Dasar !

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close