Uncategorized

Lailatul Qadar

Konon tersebutlah adanya  satu malam yang kedatangannya sangat dinantikan oleh seluruh umat Islam. Malam itu disebut dengan Lailatul Qadar, suatu malam yang dinilai oleh al-Quran sebagai malam yang penuh barakah dan malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Lailatul Qadar dimuliakan oleh umat Islam kerana pada malam tersebut turun rahmat dan kebaikan dari Allah s.w.t kepada hamba-Nya. Pengalaman mendapatkan Lailatul Qadar merupakan pengalaman bersifat spiritual dan individual. Tidak semua orang mampu mendapatkan malam yang lebih baik daripada seribu malam ini.

Ia tidak dapat diperoleh  begitu saja dengan hanya kehadiran kita pada malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan karena ‘perjumpaan’ dengan Lailatul Qadar merupakan puncak prestasi kerohanian setelah melakukan banyak kegiatan rohani pada sepanjang bulan Ramadan.

Apa dan bagaimanakah malam Lailatul Qadar itu? Apakah ia terjadi sekali saja, yakni malam ketika turunnya al-Quran lima belas abad yang lalu, atau terjadi pada setiap bulan Ramadan, sepanjang masa. Ada pendapat beberapa ulama bahwa malam Lailatul Qadar tidak hanya ada pada bulan Ramadan tetapi juga pada bulan Syaaban.

Menurut mereka, Lailatul Qadar turun pada malam nisfu Syaaban (pertengahan bulan Syaaban), malam yang juga biasa dirayakan oleh kebanyakan kaum Muslim di seluruh dunia. Walau bagaimanapun, yang pasti ia harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan firman Allah s.w.t

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada  malam yang berkat dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, iaitu urusan yang besar di sisi Kami.” (al-Dukhan: 3-5)

Itulah sekedar gambaran tentang Lailatul Qadar.

Pada setiap saya mendengar tentang Lailatul Qadar, saya selalu teringat peristiwa yang saya alami , lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Waktu itu saya baru saja diangkat menjadi seorang komandan pangkalan di Pangkalan Udara Sulaiman, Margahayu  Bandung.   Bulan pertama banyak waktu saya habiskan bersama anggota pangkalan udara untuk membersihkan seluruh lingkungan pangkalan.

Memasuki bulan kedua, kebetulan adalah bulan puasa.   Bulan yang tidak mungkin memberikan banyak pekerjaan fisik kepada para anggota.   Dengan demikian beberapa pekerjaan fisik menjadi agak “slow down”.   Sebagai bagian dari pembinaan personil dibidang rohani dan dalam upaya meningkatkan hubungan persaudaraan dengan masyarakat sekitar, saya beserta beberapa staf bergabung dengan Bupati serta jajaran Muspida tingkat II dalam kegiatan “tarling” atau tarawih keliling.   Di malam pertama tarawih kebetulan diselenggarakan disatu desa yang kondisi masjidnya sempit serta penuh sesak, sehingga sangat tidak nyaman dengan pakaian batik lengan panjang yang saya kenakan.Untuk diketahui, di daerah Jawa Barat ini rupanya tidak dikenal “tarawih eksekutif”, alias tarawih  yang  ”hanya” 11 rakaat.   Mereka melaksanakannya dengan tarawih yang 23 rakaat.   Bisa dibayangkan batik lengan panjang dengan kaos dalam berada didalam masjid  yang  sempit dan pengap, membuat kami semua “para pejabat” mandi keringat.

Di malam berikutnya, saya siap dengan baju yang agak tipis, lengan pendek dan tanpa kaos dalam.   Namun ternyata saya keliru besar, karena tarawih malam itu diselenggarakan di tempat yang  agak jauh dan di daerah yang dingin dan juga berlangsung di Masjid yang cukup besar dan lega.   Tidak ayal lagi, matilah saya menggigil kedinginan, untungnya  tarawih berlangsung 23 rakaat dengan irama yang cukup cepat gerakannya sehingga paling tidak dapat menghangatkan sedikit badan yang kedinginan itu.

Mengenai 23 rakaat ada cerita tersendiri.   Tarawih dengan 23  rakaat ditambah dengan ceramah, biasanya akan menghabiskan waktu yang cukup panjang, sehingga kami tiba kembali di kediaman antara pukul 11 atau 1130 dimalam hari.   Untuk itu pada setiap berkumpul sejenak dalam berbuka puasa, sebelum sembahyang tarawih, saya beserta wakil bupati telah sepakat untuk membentuk tim negosiasi untuk dapat melobi panitia setempat agar  pelaksanaan sholat tarawih dapat berlangsung dengan hanya 11 rakaat saja.   Dengan mengumpulkan berbagai macam alasan, seperi “kesibukan” Bupati sebagai pejabat penting dan lain-lain,  kami mendekati panitia agar mau memaklumi alasan-alasan yang dikemukakan agar tarawih dapat menjadi 11 rakaat dan tidak usah 23 rakaat.Sialnya, walaupun kita telah bersusah payah mendekatinya, dengan setengah berbisik agar tidak malu di dengar orang banyak, kebanyakan dari panitia pelaksana selalu menolaknya.   Bahkan pada suatu kali ada seorang panitia yang sudah kita bujuk dengan segala “rayuan” yang aduhai, kemudian  menjawabnya dengan suara yang agak keras (mungkin agak dongkol) yang secara garis besar merupakan jawaban yang hampir sama yaitu : ” Teu tiyasa Pak, Mun di dieu mah kudu dua puluh tilu rakaat ” (Nggak bisa Pak, kalau disini harus  dua puluh tiga rakaat !).   Matilah saya dan wakil bupati menerima jawaban tersebut.   Dengan muka merah, karena jawaban tersebut disampaikan dengan suara keras, yang terdengar jelas oleh semua orang,walaupun kami sudah cukup hati-hati mengajukan pertanyaan dengan setengah berbisik karena malu.   Saat Pak Bupati menanyakan “ada apa”? saya spontan mejawab dengan tegas dan jelas “Nggak apa-apa Pak, kami hanya menegaskan bahwa rombongan kita (”para pejabat”) ingin melaksanakan tarawih yang khusuk sebanyak 23 rakaat”.   Pak Bupati pun mengangguk-angguk, sambil bingung, mengapa jawabannya tadi “Teu tiyasa”? (tidak bisa).   Sepanjang pelaksanaan tarling, dibulan ramadhan itu misi saya dan wakil bupati ternyata tidak pernah berhasil dalam melobi 23 rakaat untuk menjadi 11 rakaat saja.   Benar-benar tim lobi yang berkualitas rendah alias “the looser”,  sang pecundang.

Tidak genap 4 bulan saya bertugas sebagai Komandan Pangkalan, saya menerima promosi untuk jabatan “bintang satu”  sebagai Direktur Operasi dan Latihan di Markas Besar Angkatan Udara.   Pada malam perpisahan itulah, sang wakil Bupati dan beberapa pejabat setempat anggota tim negosiasi  sholat tarawih yang selalu gagal itu menyampaikan kepada saya , bahwa  walaupun misi kami gagal total akan tetapi saya memperoleh berkah dari pelaksanaan tarling tersebut.   Memperoleh barakah laksana yang diidamkan  orang pada setiap malam lailatul Qadar.Alhamdullilah.

Selamat melaksanakan ibadah puasa !

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close