ArticleOpinion

Hi Man , Buy Indonesian !

Sepatu Cibaduyut
Sepatu Cibaduyut

Beberapa hari yang lalu, saya diundang sebagai pembicara dalam salah satu seminar di Hotel Shangrila. Saya menyusun satu naskah paparan bersama saudara Thomas Ramelan yang isinya berkait dengan strategi menghadapi masa sulit, yaitu krisis ekonomi global. Ada satu paragraf yang cukup menarik perhatian para peserta seminar, yaitu mengenai penggunaan dan pengembangan produksi dalam negeri. Berikut ini petikannya :

Baru-baru ini, Pemerintah Amerika Serikat dalam menghadapi krisis ekonomi yang cukup parah, mencanangkan program ”Buy American” untuk meningkatkan produktivitas industri dalam negeri mereka. Ini adalah strategi yang tepat, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama? Buy Indonesian !

Sekali lagi :

”In the case of adversity, there is always an opportunity”

sebuah peribahasa Inggris yang sangat mungkin bersumber dari Al Qur’an yaitu:

”Fainamal Usri Yusro”

yang maknanya adalah ”pada setiap kesulitan selalu terdapat peluang”.

Untuk itu marilah kita galakkan kampanye ”Beli Produk Indonesia” atau mari kita tawarkan produk Indonesia:

Kursi Jepara:

Kita bisa lihat, dilatar belakang former first lady Amerika, adalah kursi Jepara. White house saja, sebuah istana dari negara Adi Kuasa dengan bangganya memakai kursi Jepara. Mengapa lebih banyak masyarakat kita , terutama dari golongan teh ”haves” justru membeli furniture termasuk kursi buatan Itali?

Sepatu Cibaduyut :

Sepatu Cibaduyut, ternyata sudah memiliki segmen pasarnya sendiri. Walaupun merek yang spesifik belum terlihat terlalu menonjol dan khas, akan tetapi sudah banyak yang meliriknya sebagai komoditi yang menjanjikan. Kelihatannya, sentuhan teknologis dari bagian dan jenis kulit saja yang masih belum banyak dikembangkan oleh para produsernya.

Tukang Daging:

Ini sudah umum dipasar-pasar. Apakah tukang daging memakai pisau dari Jerman? Ternyata tidak! Mereka dengan penuh kesadaran sudah memakai produk lokal, seperti produk pisau dari Cibatu dan hasilnya, sangat memuaskan. Kenapa tidak kita tiru? Mengapa , rata-rata rumah tangga kita lebih suka menggunakan pisau dapur buatan luar negeri ?

Ayam Goreng Kalasan:

Banyak teman saya dari luar negeri dan juga sebagian besar dari turis asing yang jatuh hati dengan Ayam Goreng Kalasan. Kenapa kita tidak ”Go Global” dengan membuka Franchise. Apabila ayam goreng seperti KFC saja bisa, yang sangat sederhana dapat menguasai pasar di Indonesia mengapa Ayam Kalasan tidak?

Karimun Jawa, yang memiliki potensi besar sebagai daerah tujuan wisata, dan juga masih banyak lagi yang tersebar diseluruh Indonesia, belum diolah dengan baik. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Sebagian besar cantiknya tidak terbilang. Mari kita galakkan wisata domestik, kenapa harus ke luar negeri?

Tetapi dilain sisi, sekali lagi kita harus sadar diri. Kalau masih payah ya mengaku saja payah dan mari kita perkuat diri. Banyak strategi yang bisa kita kembangkan untuk membangun NKRI tercinta, khususnya dimasa kritis, beberapa contoh dapat pula dikemukakan disini:

Kampanye Pariwisata:

Dengan lebih dari 17.000 pulau, dikelilingi lautan. Sangat ironis bila melihat tayangan pariwisata domestik. Disebelah barat Indonesia, seakan-akan hanya ada Danau Toba, Nias dan Bintan. Ditimur, hanya Bali, Lombok, Komodo, Bunaken & Toraja. Kemana yang lain? Kenapa kita tidak bikin kompetisi mancing dunia? Ratusan obyek wisata digarap. Dimanakan peran Pemda yang sudah ber-otonomi ria? Banyak sekali dan bahkan setiap sudut nusantara mempunyai daerah-daerah yang sangat menawan keadaan alamnya, namun belum tersentuh untuk dijadikan tujuan wisata.

Percepat Infrastruktur:

Karena pembodohan, 3.5 abad kita dijajah. Sseharusnya kita kemudian sadar untuk mengatasi masalah ini. Pembangungan infrastruktur dasar seperti listrik, telepon, internet dan sarana lainnya yang berkait dengan lancarnya proses pendidikan dan pencerdasan bangsa seharusnya sangat mutlak untuk menjadi prioritas. Bagaimana luar jawa bisa pandai, kalau mau pasang internet di daerah Cisarua saja , sudah sulit untuk memperoleh sinyal ?

Is there a hope for a change?”… The answer is simply Yes! I do believe so. Kita memiliki ribuan potensi. ”Fainamal Usri Yusro”, mari kita gunakan kesempatan krisis ini untuk merubah diri menjadi lebih baik, bekerja secara pandai, bukan sekedar nasionalisme sempit dan radikal. Kita harus menjadi ”Subyek Global”, bukan ”Obyek Global”…

Hidup Indonesia!

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close