ArticleFlight Commercial

Garuda, dari Rugi Mendadak Untung?

Masih menarik untuk mengikuti kinerja Garuda, secara tidak sengaja saya membaca Majalah Tempo online yang memuat tulisan menarik tentang Garuda kita tercinta.  Saya sendiri belum mempelajarinya dengan cermat, akan tetapi sekilas tulisan ini benar-benar menarik.   Untuk itu saya ingin berbagi kepada pembaca semua, berikut isi lengkap tulisan di Majalah Tempo online yang saya kutip :

Dipermak Sebelum Lego Saham

TEPAT pukul setengah sembilan pagi, rombongan direksi Bank Mandiri tiba di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis pekan lalu. Dipimpin Direktur Utama Zulkifli Zaini, manajemen Mandiri menemui Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar dan Deputi Bidang Usaha Jasa Parikesit Suprapto.Topik yang dibawa Zulkifli dan kawan-kawan sebenarnya rencana Mandiri menerbitkan saham baru (rights issue). Tapi ada satu agenda penting yang disinggung manajemen Mandiri dalam pertemuan itu: rencana penjualan saham perdana (initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia, Februari tahun depan. “Manajemen Mandiri mempertegas saham Garuda yang mereka miliki ingin ikut ditawarkan kepada publik,” kata Mustafa kepada wartawan di Jakarta, Kamis pekan lalu.

Bank Mandiri sangat berkepentingan atas penjualan saham perdana Garuda. Alasannya, Mandiri merupakan salah satu pemegang saham maskapai pelat merah itu. Dalam penjualan saham perdana nanti, ada saham Garuda milik Mandiri yang akan ikut dilepas. Mandiri juga salah satu kreditor terbesar Garuda. Aksi korporasi itu penting agar kinerja Garuda semakin kinclong dan bisa membayar utangnya.

Tahun lalu, pemerintah sudah mendapat izin dari Dewan Perwakilan Rakyat untuk memprivatisasi Garuda lewat penjualan saham perdana. Jumlah saham Garuda yang akan dijual maksimal 40 persen. Tapi kali ini, Garuda hanya akan menjual 30 persen. Sebanyak 20 persen saham milik negara, sisanya kepunyaan Mandiri tadi. Dari penjualan itu, Garuda menargetkan pendapatan US$ 300-400 juta (sekitar Rp 2,75-3,2 triliun). “Saham milik kami akan dilepas bersamaan,” kata Direktur Mandiri Thomas Arifin kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

Rencana Garuda menjadi perusahaan publik sudah lama digagas. Awalnya penjualan saham perdana Garuda ditargetkan pada 2003. Penawaran saham kepada masyarakat ini bagian dari persyaratan restrukturisasi utang Garuda ke Mandiri senilai US$ 100 juta. Tapi Garuda gagal menjual sahamnya lewat pasar modal. Penjualan diundurkan pada 2005. Rencana batal lagi karena kinerja Garuda nyungsep terimbas krisis keuangan global. Garuda rugi sekitar Rp 688 miliar. Penjualan saham molor lagi November tahun ini.

Namun, lantaran laporan keuangan belum tuntas, go public Garuda diundurkan lagi ke kuartal pertama 2011. Menurut Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar, penjualan saham Garuda sudah bisa dipastikan akan dilaksanakan pada pekan pertama Februari tahun depan. Pendaftarannya sudah diterima Badan Pengawas Pasar Modal. “Laporan keuangan periode September yang telah diaudit juga sudah dimasukkan ke bursa efek,” ujarnya di Jakarta pekan lalu. Persiapan matang sudah dilakukan. Tiga penjamin emisi telah ditunjuk, yakni Bahana Securities, Mandiri Sekuritas, dan Danareksa Sekuritas. Adapun Rothschild menjadi penasihat keuangan.

Di tengah kepastian itu, ada keraguan menghadang. Rencana Garuda melepas sahamnya justru terjadi saat kinerja keuangannya kurang kinclong dibanding dua periode sebelumnya. Kementerian BUMN, 5 November lalu mengumumkan, sampai September 2010, Garuda rugi Rp 39,5 miliar. Kinerja Garuda itu disampaikan Deputi Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin dalam sebuah jumpa pers di Jakarta. “Kami perlu mengkaji lagi apakah IPO Garuda akan ditunda atau tidak,” katanya ketika itu.

Menteri Mustafa mengatakan kerugian Garuda pada kuartal ketiga itu karena masalah musiman saja. “Sampai September, pendapatan belum mencapai puncaknya,” ujarnya. Adapun menurut Komisaris Garuda Sahala Lumban Gaol, kerugian Garuda lantaran masih ada penyesuaian beberapa rute baru tahun ini. Kinerja Garuda itu jelas di bawah prestasi 2008 dan 2009. Saat itu Garuda untung Rp 669 miliar dan Rp 1,009 triliun (lihat tabel).

Mendadak sontak saja pengumuman itu membuat manajemen Garuda kelabakan. Menurut sumber Tempo di Garuda, direksi Garuda langsung mengumpulkan para pejabat setingkat vice president di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Sabtu pagi, 6 November lalu. “Mereka membahas kinerja Garuda dan kemungkinan perubahan rencana bisnis,” ucap sang sumber.

Ajaib, hanya berselang empat hari, Mustafa meralat kinerja Garuda periode September tadi. Garuda yang sebelumnya dinyatakan rugi tiba-tiba jadi untung Rp 194,9 miliar. “Ada kekeliruan dalam salah satu pos di neraca keuangan Garuda,” ujarnya. Sekretaris Menteri BUMN Mahmuddin Yasin menambahkan, kekeliruan terjadi karena yang dibacakan data laporan keuangan Garuda belum diaudit. “Laporan keuangan lama belum di-update,” katanya.

Emirsyah membantah jika dikatakan telah mengeluarkan laporan keuangan belum diaudit. “Saya tak tahu angka rugi datang dari mana,” katanya saat ditemui Tempo di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, pekan lalu. Menurut Emirsyah, berdasarkan laporan keuangan yang sudah diaudit, Garuda membukukan laba bersih Rp 194,9 miliar pada periode September 2010. “Bukan dari rugi lalu diubah menjadi untung, tapi Garuda memang mencetak keuntungan,” katanya.

Sumber Tempo mengatakan manajemen Garuda sah-sah saja mengklaim perusahaan untung. Pertanyaannya, kata dia, “Keuntungan itu diperoleh dari operasional atau non-operasional?” Dia menduga melonjaknya laba Garuda Rp 194,9 miliar berkat keuntungan selisih kurs, keuntungan bunga dari pembelian surat-surat utang atau dari dividen anak usaha. “Bukan semata-mata dari keuntungan operasional,” ujarnya. Dari pendapatan operasional haji juga bukan, lantaran nilainya tak terlampau besar.

Secara operasional, sumber tadi melanjutkan, perusahaan penerbangan milik negara ini tetap jeblok. Sampai November 2010, laba usaha (operating profit) Garuda minus alias tekor Rp 340,5 miliar. Laba usaha ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 505,2 miliar. Kinerja itu jauh dari target laba usaha dalam rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) Rp 476,3 miliar dan laba bersihnya Rp 466,6 miliar.

Menurut sang sumber, kurang cemerlangnya kinerja Garuda salah satunya karena larangan membebankan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge). Pada Mei lalu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha melarang Garuda dan sejumlah maskapai membebankan biaya tambahan bahan bakar kepada konsumen. Padahal komponen itu memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan dari tiket. Sekarang Garuda masih mengajukan permohonan banding di pengadilan atas larangan penerapan fuel surcharge itu.

Garuda juga mengalami kerugian karena sejumlah jalur domestik dan internasional ternyata tidak menguntungkan. Garuda melayani 35 jalur domestik. Tapi, kata dia, 14 jalur domestik merugi. Adapun 26 jalur internasional merugi, dan hanya empat yang untung. Salah satu jalur merugi antara lain Cengkareng-Amsterdam (Belanda). “Jalurnya Depok, tapi pakai Cadillac,” ujarnya.

Emirsyah tak membantah jika disebutkan kinerja Garuda anjlok. Dibanding kuartal ketiga tahun lalu, kinerja Garuda tahun ini memang mengalami penurunan karena perusahaan terus mengembangkan usaha. Misalnya, berekspansi membuka rute-rute anyar atau investasi pesawat baru. “Itu ada biayanya, dan berdampak terhadap kinerja,” katanya. Tapi Emirsyah optimistis kinerja Garuda ke depan akan cemerlang lagi. “Trennya pasti naik.”

Justru, kata sumber Tempo tadi, kurang yahudnya kinerja Garuda biang persoalannya. Jika pemerintah memaksakan penjualan saham perdana pada Februari tahun depan, harga jual saham Garuda berpotensi akan rendah atau murah. Buntutnya, penerimaan dari IPO tak optimal. “Ini pertaruhan besar Garuda,” ujarnya. Menurut sumber Tempo lainnya, Mandiri juga bisa gigit jari. “Pengembalian utang yang dikonversi jadi saham malah tekor,” dia mengungkapkan. “Jadi perlu dikaji apakah tetap Februari atau diundurkan sampai kinerja Garuda membaik.”

Sejatinya penjualan saham Garuda sudah menjadi perdebatan dalam tim privatisasi sejak tahun lalu. Menurut sumber Tempo, Sekretaris Menteri BUMN Said Didu-kini staf ahli di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi-getol mempertanyakan soal ini. Dalam sejumlah rapat, Said mengkhawatirkan neraca Garuda masih akan negatif saat penjualan perdana. Said juga kerap mempertanyakan tepat atau tidaknya waktu penjualan saham Garuda. “Ada kekhawatiran harga jual Garuda akan rendah,” ucapnya.

Said Didu enggan mengomentari masalah tersebut. “Tak usahlah saya bicara,” ujarnya. Adapun anggota Komisi Bidang BUMN Dewan Perwakilan Rakyat, Airlangga Hartarto, mengatakan Dewan akan meminta penjelasan manajemen Garuda atas kinerja keuangan tahun ini. “Minggu ini kami undang,” ujarnya.

Di saat kinerja keuangan terjun bebas, kini muncul kerikil baru. Pekan lalu, sistem Garuda yang mengatur jadwal penerbangan, pilot, dan awak kabin kacau-balau. Akibatnya, selama empat hari Garuda membatalkan penerbangan ke semua tujuan. Menteri Mustafa berang. Bekas Direktur Utama PT Bulog itu khawatir citra Garuda semakin terpuruk. Penjualan saham perdana Garuda bisa terganggu. “Tentu saja akan berpengaruh pada penawaran saham perdana Garuda,” ujarnya.

Toh, Mustafa jalan terus. Penawaran saham perdana tetap akan digelar Februari mendatang, apa pun risikonya.

Padjar Iswara, Retno Sulistyowati, Agoeng Wijaya, Fery Firmansyah, Aswidityo Nedwika

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close