All posts in Opinion

Puzzling questions about the Sukhoi Superjet 100 crash !

Sukhoi Super Jet 100

The crash of the Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) on Wednesday came as something of a shock to those in the flying profession and the airline industry. The plane, which left Jakarta’s Halim Perdanakusuma Airport, was doing a demonstration flight when it tragically slammed onto the steep slopes of Mount Salak in West Java.
The accident left many puzzling questions, which hopefully will be answered once the voice and data recorders, or the black box, are found and studied.

The SSJ-100 is a Russian collaboration with European companies to produce a highly sophisticated 98-seat passenger airliner. It comes with two engines that are friendly to the environment, is highly fuel-efficient and has a noise level well below the minimum set by the International Civil Aviation Organization (ICAO).

The cockpit, which is almost identical to Airbus’s design, is fitted with the latest Fly by Wire technology, a state-of-the-art avionic system and even a “joy stick” to control the plane’s maneuvers.

Read more…

Sikap Orang Tua atau Senior.

Dalam menghadapi anak-anak muda, generasi penerus bangsa, maka yang dibutuhkan adalah sikap yang tepat dari para senior dan atau orang tua mereka. Anak muda membutuhkan sikap yang mendidik, satu sikap yang mempunyai nilai edukasi, agar pertumbuhan para anak muda bangsa itu menjadi sehat dan sejahtera. Ada dua pedoman penting yang seyogyanya menjadi pegangan para orang tua dalam hal ini yaitu memberikan bimbingan atau guidance dan contoh atau keteladanan atau set the example. Pilihan atau alternatif akhir hendaknya diberikan kebebasan kepada para anak muda itu untuk memutuskannya. Proses pengambilan keputusan ini adalah juga merupakan bagian dari pendidikan terutama dalam konteks menentukan sikap. Proses bagaimana decision making itu berjalan. Read more…

Tepat Waktu

stop

Tepat Waktu

Kelemahan yang sangat mendasar dari bangsa kita adalah dalam menepati waktu. Untuk hal ini banyak sekali olok-olok yang muncul sebagai reaksi  kekecewaan orang terhadap kebiasaan terlambat dari orang Indonesia. Pada satu waktu di tahun 1970-an, saya berjumpa dengan seorang bangsa Belanda (dia fasih berbahasa Indonesia) yang tengah sama-sama transit di Pelabuhan Udara Biak. Dia hendak ke Jayapura dan saya akan kembali ke Jakarta. Ditengah asyik berbicara tentang dunia penerbangan, dengan maksud untuk tidak menyebabkan dia terlambat, saya tanyakan jam berapa pesawat yang akan ditumpanginya ke Jayapura itu akan take off. Dengan tenang dia mengatakan jam 10.00, yang kemudian saya lanjutkan dengan bertanya 10 waktu mana ( beda waktu wib dengan wit adalah 2 jam), karena dia baru tiba dari Jakarta dan saya sendiri akan menuju Jakarta. Dia tidak mengatakan wib atau wit, tetapi disebutnya sebagai wik. Wah, apa itu wik? Dengan setengah bergelak dia menjawab WIK itu sebagai Waktu Indonesia Kira-kira, sambil menceritakan bahwa selama lebih dari dua tahun di Indonesia dia tidak pernah mengalami terbang dengan tepat waktu.

Terlalu banyak contoh untuk dapat mengemukakan mengenai kelemahan yang satu ini. Salah satu Lembaga Tinggi Negara yang mungkin paling sibuk menggelar rapat dalam mekanisme kerjanya adalah DPR. Rapat yang paling banyak diselenggarakan, mungkin rapat yang bernama Rapat Dengar Pendapat (RDP). Rapat ini biasanya diselenggarakan oleh komisi-komisi di DPR. Pengalaman saya selama tiga tahun, mengikuti kegiatan RDP di DPR Republik Indonesia, tidak pernah satupun yang berlangsung dengan tepat waktu. Selalu terlambat dan beranggapan bahwa terlambat itu ya tidak apa-apa.
Read more…

Kekeliruan dalam Menentukan Juara Piala AFF 2010

Timnas Garuda

Timnas Garuda

Akhirnya, berakhirlah sudah rangkaian pertandingan Piala AFF tahun 2010.   Sangat berbeda dengan apa yang pernah terjadi pada perebutan piala AFF sebelumnya, maka Timnas Indonesia sangat tampil menarik perhatian.   Sangat menarik perhatian, disebabkan beberapa hal yang terjadi bergulir begitu saja.

Bayangkan dari berpuluh  tahun belakangan ini, kita tidak pernah menyaksikan sebuah kesebelasan sepakbola nasional seperti Tim nya Firman Utina dan kawan-kawan.    Secara tiba-tiba, kita memiliki Timnas sepakbola yang membanggakan.   Tidak ada angin dan tidak ada hujan, muncul satu kesebelasan yang memberikan rasa bangga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebuah Tim yang sangat produktif  membuat gol dalam laga-laga penyisihan perebutan piala AFF.   Lihat saja, skor skor yang ditorehkannya, 5-0 membantai Laos, menggulung Malaysia 5-1, menundukkan Thailand 2-1 dan Philipina 1-0 dua kali.    Tidak ada satu pun pertandingan yang dimainkan dengan seri dan terlebih lagi, tanpa membuahkan gol, untuk kemudian secara meyakinkan berlenggang menuju babak final.    Cukup sedih kemudian, kita melihat kenyataan Indonesia dibantai 3-0 di KL, walaupun menang 2-1 di Jakarta, sehingga harus puas duduk sebagai  “runner up”

Tidak dapat disangkal oleh siapapun bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam olah raga sepakbola.   Namun kelemahan terbesar juga mengiringinya yaitu dalam aspek Leadership dan Manajemen.   Kini seolah kita kemudian menyaksikan bahwa  keburukan Leadership dan Manajemen ternyata tidak mampu untuk  membendung lajunya prestasi sepakbola karena besarnya potensi yang dimiliki.
Read more…

Belajar dari Tragedi Bukit Jalil

Tanggal 26 Desember 2010 telah menjadi antiklimaks saat Tim Nasional Indonesia ditaklukkan tiga gol tanpa balas oleh Malaysia.     Dalam laga tandang Indonesia dalam final Piala AFF 2010 yang dilangsungkan di Stadion Bukit Jalil itu, Malaysia mencatat kemenangan terbesar Malaysia atas Indonesia sepanjang sejarah.    Antiklimaks jika dibandingkan dengan mudahnya Indonesia menggulung Malaysia 5-1 beberapa hari sebelumnya di Jakarta.   Belum lagi dengan rentetan pertandingan sepanjang babak penyisihan tersebut di mana Indonesia tidak pernah mengalami kekalahan. Di babak penyisihan Indonesia menang melawan Laos 6-0, melawan Malaysia 5-1, melawan Thailand 2-1.

Berikutnya melawan Filipina, Indonesia memenangkan pertandingan dua kali dengan skor masing-masing 1-0. Bayangkan, di tengah-tengah prestasi kesebelasan PSSI yang dapat dikatakan hampir nihil sama sekali, tiba-tiba kemudian muncul satu kesebelasan Tim Nasional Indonesia yang begitu perkasa!    Tidak heran hal ini memunculkan respons yang “luar biasa”terhadap tim asuhan Alfred Riedl tersebut.    Kita semua tidak dapat memungkiri bahwa belakangan ini kita memang “sangat dahaga” dengan prestasi sepak bola nasional yang dapat dibanggakan.

Orang kemudian disadarkan bahwa sukses Timnas memang dapat diterima sebagai hal yang sangat masuk akal karena dalam barisan kesebelasan ini ada Gonzales sang algojo pencetak gol asal Uruguay yang menjadi warga negara Indonesia dan Irfan Bachdim keturunan Indonesia- Belanda.    Di samping itu juga ada sang maestro lapangan tengah Firman Utina, pemain sayap Oktovianus Maniani, dan pemain lainnya yang memesona.   Walaupun sebenarnya Riedl, sang arsitek, berulang kali mengatakan tim ini sebagai tim yang “belum jadi”.
Read more…

Maskapai Asing Takut Abu Merapi?

Sebanyak 12 maskapai asing membatalkan 47 penerbangan ke luar negeri melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, Sabtu (6/11) sejak pukul 13.00 hingga pukul 21.00. Batas waktu pembatalan penerbangan belum ditentukan.

Pembatalan itu sendiri mereka putuskan sebelum adanya notice to airmen dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta sehubungan dengan meletusnya Gunung Merapi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah yang mengeluarkan abu vulkanik.

Bandara Soekarno-Hatta mencatat, maskapai yang membatalkan penerbangannya kemarin ialah AirAsia, Malaysia Airlines, Singapore Airlines, Emirates Air, Japan Airlines, Turkey Airlines, Lufthansa, KLM, Tiger Airways, Eva Airlines, Etihad, dan China Southern. Berdasarkan data PT Angkasa Pura II, dalam sehari, penerbangan luar negeri, baik kedatangan maupun keberangkatan, mencapai 50 penerbangan dari 23 maskapai (Kompas, 7 November 2010).

Mengapa sementara ini hanya maskapai penerbangan asing saja yang khawatir terhadap abu vulkanik yang belum sampai ke Jakarta? Ada beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab. Pertama adalah adanya kekhawatiran terhadap abu vulkanik yang dikabarkan sudah sampai di kawasan Jawa Barat akan bergerak ke daerah udara kawasan Jakarta.
Read more…

Janji Pinokio!

Disela-sela mengisi waktu, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah tulisan dari Saudara Tito Sulistio mengenai “Pinokio”.   Menarik juga tulisan ini, saya pikir nggak ada salahnya kalau saya posting saja disini.  Selamat Membaca !

JANJI PEMILU, JANJI PINOKIO!
Tito sulistio

A ”Chiken” in every pot & A ”Car” in every garage!, slogan kampanye pemilihan presiden Amerika yang sangat legendaris ini diucapkan oleh Herbert Hoover, Republikan di tahun 1928. Dia menjanjikan ”prosperity” kepada masa pemilih. Walau ini sebenarnya ini bukan sesuatu yang original, karena Henry IV dari Prancis  di tahun 1600 an pernah mengatakan hal sama, yang berjanji mengenai ”the wish for food” bagi para petani. Entah karena janjinya yang menarik , atau Alfred Smith sang penantang yang kurang bagus, Hoover memenangkan pemilu.

Hoover bekerja sangat keras, sayang ”stock market crash” yang terjadi ditahun 1929, menyemplungkan Amerika ke depressi terbesar yang pernah ada di tahun 1929. Amerika tidak memilih Hoover lagi pemilu 1932, dia dikalahkan Franklin D. Roosevell.

Janji pemilu di Indonesia secara hukum diatur oleh undang undang. Artinya si kontestan, jika terpilih haruslah mengimplementasi janjinya. Pertanyaan terbesar, janji apa ya?. Janji pemilu yang selalu terngiang ngiang adalah slogan basa basi yang tidak berarti apa apa. ” TERUSKAN” misalnya. Janji apa ya?, apa ya yang mau diteruskan?. Kalau buat pendukungnya janji itu seperti bilang  :’’ mari pertahankan kekuasaan”, sedangkan buat the losser, itu terdengar seperti :” rasain loe”… hehehe…, atau janji sang penantang ”Lebih Cepat Lebih Baik!”, buat rakyat dikampung ini hanya berarti agar pemilu selesai lebih cepat lalu rakyat bisa bekerja lagi dengan tenang, kembali kesuasana normal, gak kerja dalam ketidak tenangan, ketegangan hidup ditengah konflik yang dibuat para petinggi yang sedang berebut kekuasaan!

Read more…