All posts in Flight Commercial

Pilots and illicit drugs

Illicit Drugs

Illicit Drugs

In early 2012, the Year of the Dragon, the public was shocked by news of pilots taking drugs. By the end of 2011, pilots standing trial for methamphetamine or narcotic consumption had in fact already been reported.
Later, there was the National Narcotic Agency’s arrest of pilots allegedly taking shabu or crystal meth in Makassar, South Sulawesi, and another case several days later in Surabaya, East Java.

All the pilots in this alleged narcotic abuse came from the airline Lion Air. Some pilots were reported to have been sued by Lion Air, demanding billions of rupiah in damages.
With all of these cases, it’s actually very easy to notice that there’s a grave problem in the working relations between the pilots and the company for which they work. The Indonesian aviation industry has in fact been facing various issues, which haven’t yet been properly resolved.

Read more…

Pilot Yang Nyabu !

Shabu

Shabu

Pada akhir 2011 Pengadilan Negeri Tangerang mengadili dua orang pilot Lion Air yang tertangkap basah saat pesta sabu-sabu bersama rekannya di sebuah apartemen di Kota Tangerang.

Sementara itu, Sabtu dini hari tanggal 4 Februari 2012 petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap seorang pilot Lion Air saat nyabu di kamar 2.109, Hotel Garden Palace, Surabaya, Jawa Timur.Kabarnya,penangkapan ini merupakan pengembangan dari ditangkapnya pilot Lion Air lain beberapa waktu lalu di Makassar. Kabar ini sangat jelas telah menggambarkan bagaimana memprihatinkannya dunia penerbangan kita.

Peristiwa tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat sulit dipercaya oleh akal sehat. Seorang pilot pada hakikatnya hidup dari kondisi fisiknya yang prima sebagai salah satu syarat utama dalam menjalankan profesinya sebagai pilot. Lebih memprihatinkan lagi karena pada hakikatnya dunia penerbangan Indonesia saat ini tengah berada dalam kondisi yang masih membutuhkan banyak langkah penyempurnaan.

Masih banyak tindak lanjut dari Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2009 ten Read more…

Menjinakkan Bom (Waktu) di Soekarno Hatta

Bom

Bom

Pada tahun 1962, dikenal satu badan bernama DEPANRI, Dewan Penerbangan Republik Indonesia yang ketuanya adalah Menteri Pertama RI, Ir. H. Djuanda dan sekretarisnya dari Angkatan Udara RJ Salatun. Sekedar untuk diketahui salah satu lingkup dari kegiatan DEPANRI adalah tentang “Pengembangan Kebijakan Kedirgantaraan Nasional”. Di era itulah, sampai dengan lebih kurang tahun 1980-an terlihat, arah perkembangan industri penerbangan nasional yang tergambar dalam konsep dan konteks yang jelas. Untuk penerbangan domestik rute utama dan penerbangan Internasional diberikan tanggungjawab pengembangannya kepada Maskapai sang pembawa bendera , Garuda Indonesian Airways. Ditangan Garuda inilah, kehormatan dan kebanggaan serta promosi bangsa Indonesia dipanggung global dalam penyelenggaraan angkutan udara dipertaruhkan.

Garuda dipimpin oleh seorang Pilot kawakan bernama Wiweko, penerbang Asia pertama yang pernah menembus samudra pasifik (dari Auckland, AS ke Jakarta) seorang diri dengan pesawat terbang. Itu sebabnya, sebagai pimpinan sebuah Maskapai dia mampu berorientasi kepada bidang penerbangan secara total. Sebagai Pilot, dia tau saat membeli banyak pesawat sekaligus dia persiapkan sdm nya. Wiweko tidak hanya menganalisis dan membahas tuntas dalam hal memilih pesawat terbang yang cocok untuk digunakan di Negara kepulauan ini bersama dengan pabrik pesawat kenamaan didunia, akan tetapi juga merancang disain kokpit pesawat yang sangat spektakuler sepanjang sejarah. Wiweko telah merubah awak kokpit menjadi hanya dua orang saja.(two men forward facing crew cockpits) Disain yang tadinya ditentang habis-habisan oleh FAA, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan Amerika Serikat, kini justru telah menjadi standar baku dari disain kokpit pesawat angkut internasional. Saat itu Garuda sang pembawa bendera melesat maju di angkasa Asia, Eropa dan bahkan pernah sampai ke Amerika Serikat. Read more…

Reportase Bedah Buku SPJP

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (purn) Chappy Hakim menilai, para penerbang Indonesia terlalu sombong untuk menulis buku, sehingga buku-buku tentang penerbangan sangat minim.

“Padahal pengalaman para penerbang ini layak dibagi kepada masyarakat umum,” kata Chappy saat berbicara pada peluncuran buku terbarunya, “Saya Pengen Jadi Pilot” di Jakarta, Rabu (14/12/2011).

Bertindak selaku pembahas buku pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman dan Beny Adrian, managing editor Majalah Angkasa, dengan moderator Tascha Liudmila yang juga editor buku.

“Kenapa judulnya agak gaul yakni ‘Saya Pengen Jadi Pilot’, sebab saya merasa penerbang terlalu sombong untuk menulis buku, jarang bikin buku. Hanya satu penerbang yang saya kenal menulis buku, yaitu Kapten Pilot Gunarjo. Dia menulis tentang pengalaman terbang dengan gaya bertutur seperti kita ngobrol,” kata Chappy. Karena Kapten Gunarjo itulah, kata Chappy, ia bertekad menulis buku tentang penerbangan.

“Saya Pengen Jadi Pilot” merupakan buku ke-14 Chappy. Ia mengaku senang dengan angka “4″ sehingga buku itupun diluncurkan hari ini tanggal 14 yang ada unsur angka “4″. “Saya bersahabat dengan angka 4, saya tinggal di jalan Segara 4, pernah jadi komandan skuadron 31 yang ke-14, saya jadi KSAU pun yang ke-14 dengan bintang 4. Saat jadi KSAU saya tinggal di jalan Wijaya 13 no 31. Dan ini buku saya yang ke-14,” ungkap Chappy.

Chappy menilai bukanya ini mendapat respon yang berbeda dibanding buku-buku sebelumnya. “Ini semacam diary penerbangan. Saya upayakan alurnya berdasarkan timeline atau kronologis,” katanya.

Beny Adrian menilai buku Chappy ingin memposisikan dirinya sebagai penerbang sipil. “Yang saya salut bahwa Pak Chappy berani cerita ‘kebodohannya’ sendiri, misalnya mengungkapkan kesalahan dalam penerbanngan, dimana biasanya penerbang menyebunyikan kesalahan,” katanya.

Beny menyebut misalnya untuk solo flight Chappy bukanlah yang “the best”. Juga pesawat yang hampir menghantam Stasiun Ponorogo, disebutkan dalam buku tersebut. “Ada sentuhan kemanusiaan yang bisa mendorong anak-anak muda kita bahwa penerbangan itu sangat ketat dan disiplin, siswa penerbang harus patuh pada aturan. Dunia penerbangan tetap disiplin tinggi yang tidak mentoleransi kesalahan sedikitpun,” kata Beny.

“Pak Chappy menceritakan sesuatu yang tidak biasa dalam penerbangan, dia berani menurunkan kelasnya, padahal reputasi dia sebagai mantan KSAU,” imbuh Beny.

Arief Rahman menilai, buku Chappy cocok dibaca anak-anak muda, termasuk siswa. Bahasa tutur Chappy menurutnya mudah dipahami, apalagi buku tersebut disertai gambar yang menarik. “Selain cita-cita, ada pengalaman Pak Chappy ditambah pendidikan yang ditekuni dengan baik,” katanya.

Jakarta 14 Desember 2011
Tulisan Pepih Nugraha di Kompas.com

Obama merubah Amerika,……. Sleman merubah Dunia

Obama merubah Amerika

Obama merubah Amerika

Pada tanggal 7 Maret 2007, pesawat Garuda GA-200 dibawah kendali “pilot in command”Capt.Marwoto, take off dari Soekarno Hatta International Airport Cengkareng menuju Pangkalan Udara Adisutjipto Jogjakarta. Pada saat mendarat, terjadilah musibah, yang mengakibatkan pesawat habis terbakar dan sejumlah 21 orang meninggal dunia.

Tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya, dan juga tidak pernah sekalipun terjadi ,akan tetapi kenyataan yang muncul adalah tim polri dengan sigap turun tangan. Mungkin, sekali lagi ini masih memerlukan konfirmasi, polisi sudah lama “jengkel” dengan begitu seringnya terjadi kecelakaan-kecelakaan pesawat terbang dengan tidak pernah ada sanksi ,dan menurut polri yang salah ini pasti si penerbangnya. Demikianlah, dilakukan pemeriksaan oleh polri dan sampai kepada kesimpulan bahwa Capt. Marwoto dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terbakarnya pesawat terbang dan juga melayangnya 21 nyawa. Singkat kata Berita Acara Pemeriksaan pun dibuat dan segera diselesaikan kemudian diserahkan ke Kajari Jogjakarta. Selanjutnya BAP tersebut diserahkan ke Pengadilan Negeri Sleman untuk menyidangkannya.

Bisa dibayangkan, pengadilan negeri Sleman, yang biasanya mengadili kejahatan kriminal yang jauh dari masalah yang berkait dengan teknologi untuk tidak menyebutkannya sebagai pengadilan yang biasanya mengadili penjahat sekelas maling sepeda dan atau maling ayam, tiba-tiba saja harus mengadili masalah yang sangat “technology heavy” sifatnya. Sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan, namun materi persoalan yang harus digelar ini adalah masalah yang berkait dengan masalah yang sangat teknis, dimana terminologi yang digunakan lebih banyak menggunakan bahasa asing karena sulit mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Selain itu, masalah inipun sangat berhubungan dengan hukum dan atau konvensi internasional. Berat sekali beban yang ditanggung oleh pengadilan negeri Sleman ini. Namun ternyata jalannya sidang sangat lancar dan tidak terasa, esok hari, Senin tanggal 6 April 2009, vonis hukuman akan dibacakan oleh Hakim. Read more…