Presiden Philipina, Rodrigo Duterte dalam banyak kesempatan selalu memberikan beberapa pandangannya tentang perkembangan strategis dari situasi dan kondisi dunia belakangan ini. Ternyata Duterte , dalam hal ini memiliki sudut pandang yang agak sedikit “berbeda” dengan kebanyakan para pemimpin ASEAN lainnya.

Dalam salah satu ulasan yang diberikan di Istana Kepresidenan Malakanyang baru-baru ini, Duterte menyatakan kekhawatirannya terhadap perkembangan dunia.

Dia menjelaskan betapa China yang tengah berkembang pesat dan juga mengenai sikap Putin terhadap apa yang tengah terjadi di Timur Tengah. Diulas pula mengenai sikap dan gaya kepemimpinan presiden Amerika Serikat Donald Trump. Duterte juga sangat menyayangkan tindakan Amerika Serikat yang dilakukannya satu atau dua dekade terakhir belakangan ini terhadap negara-negara di Timur Tengah antara lain yang menyangkut tentang Saddam Hussein, tentang Irak, tentang Iran dan juga Muammar Gaddafi serta Lybia.

Pada sisi lainnya, Duterte juga membahas tentang perkembangan Laut China Selatan yang agak memanas, yang tentu saja, karena didalamnya ada kepentingan Philipina yang menyangkut wilayah teritorialnya.

Presiden Duterte

Presiden Duterte, menceritakan pula keprihatinan yang amat sangat mengenai kawasan Philipina Selatan yang berbatasan dengan Indonesia dalam hal ini disebut-sebut wilayah yang sangat berdekatan dengan Sulawesi Utara.

Duterte menceritakan dengan penuh keseriusan tentang pendapatnya mengenai ISIS yang dipahaminya dengan baik, karena sebagai orang Philipina yang berasal dari Selatan, beliau menjelaskan bahwa ibunya adalah seorang muslim yang taat.

Dari masa kecilnya Duterte sangat memahami tentang apa dan bagaimana orang-orang muslim di Mindanau. Dalam hal ISIS, tentu saja kekhawatiran dunia berkait ISIS menjadikan Philipina pada posisi yang tidak dapat dikecualikan.

Pada uraian yang panjang lebar mengenai perkembangan strategis internasional, maka sampai juga akhirnya Duterte menyebut-nyebut tentang ASEAN, sebagai sebuah Perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Presiden Rodrigo Duterte sangat menekankan mengenai bagaimana caranya eksistensi ASEAN dalam kancah global menghadapi perkembangan yang sangat “tidak dapat diduga” itu dapat dilihat sebagai sebuah kekuatan yang sepatutnya disegani.

Berkali-kali Presiden Duterte mengemukakan tentang sudah saatnya ASEAN memikirkan tentang keberadaannya dipermukaan bumi ini sebagai sebuah kekuatan tersendri yang harus dapat diperhitungkan dunia. Duterte sangat mendambakan bahwa ASEANtidak hanya bergelut dalam masalah-masalah ekonomi , sosial dan budaya saja akan tetapi sudah harus melibatkan unsur militer sebagai sebuah kekuatan kawasan yang terpadu.

Menurut Duterte, dalam perkembangan keadaan sekarang dan kedepan, maka ASEAN tidak akan di “lihat” orang bila perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara itu tidak mau memulai bekerjasama dalam hubungan pengelolaan kekuatan militernya.

Sebagai seorang politikus yang berlatar belakang Ilmu Hukum, Duterte terkenal pula dengan salah satu pernyataannya yang sangat fenomenal sebagai seorang leader dari sebuah negara.

Dia dengan tegas , pernah diberitakan, mengatakan tanpa ragu : ‘I don’t care about human rights’. Berita yang berkait dalam konteks operasi pembasmian perdagangan obat illegal di Philipina. Itulah Duterte dalam pandangannya tentang perkembangan dunia dan hubungannya dengan positioning ASEAN sebagai sebuah perhimpunan bangsa-bangsa.