ArticleAviationCaseFlight Commercial

583 Orang Meninggal Seketika Pada 43 Tahun yang lalu

Peristiwa tabrakan pesawat terbang B-747 KLM dengan PANAM

      Pada tahun 1977 di bulan Maret telah terjadi kecelakaan fatal pesawat terbang di Gran Canaria Airport, kepulauan Canary.   Kecelakaan fatal yang memakan korban 583 orang dalam sekejap itu dikenal sebagai The Deadliest Aviation Accident.   Kecelakaan tersebut adalah peristiwa tabrakan 2 pesawat terbang B-747 , KLM Flight 4805 dengan PANAM Flight 1736.   Sebanyak 61 orang selamat termasuk Cockpit Crew pesawat PANAM.   Hasil menyeluruh dari investigasi terhadap penyebab terjadinya kecelakaan ini sudah banyak di beritakan, di ulas dan juga tentu saja dijadikan bahan pelajaran berharga bagi semua stake holder penerbangan di seluruh dunia.

Kecelakaan Pesawat Terparah Terjadi di Darat

          Singkatnya, atau secara garis besar hasil investigasi menyebutkan bahwa telah terjadi mis komunikasi antara Captain Pilot KLM dengan ATC Controller pada saat pesawat akan take off.   Sang Captain merasa sudah memperoleh ijin untuk Take off, sementara ketika itu sebenarnya masih ada pesawat terbang PANAM yang tengah taxi  dan belum sempat keluar dari runway.   Tentu saja  masih ada beberapa faktor penyebab lain yang turut berkontribusi terhadap penyebab terjadinya kecelakaan tersebut.   Salah satu  diantaranya adalah kondisi cuaca ketika itu yang menyebabkan jarak pandang di Runway menjadi sangat terbatas.   Demikian pula hasil investigasi menyebutkan tentang ATC Controller yang tengah bertugas pada waktu itu sudah terlalu lelah.   Komunikasi antar Pilot dengan ATC Controller dan antar Crew di Cockpit disebut pula dalam hasil investigasi penyebab kecelakaan tersebut.

 

27-3-1977: 2 Pesawat Bertabrakan di Landasan, 583 Orang Tewas ...

          Kecelakaan fatal ini telah membuat banyak sekali studi  dan riset dilakukan sebagai upaya serius dalam mencegah kecelakaan sejenis terulang kembali.   Salah satu dari hasil berbagai studi tersebut kemudian dirangkum yang intisarinya menyebutkan bahwa ternyata sebagian besar kecelakaan pesawat terbang yang terjadi memang disebabkan oleh kesalahan manusia dibanding faktor yang bersifat teknis-mekanis atau kondisi cuaca.   Majority of accident happened due to human error, rather than mechanical failure or weather difficulties.   Sisi lain yang juga cukup menarik adalah pendalaman tentang kajian seberapa besar pengaruh kerjasama di dalam kokpit terhadap keputusan yang diambil oleh Kapten Pilot yang berpotensi terjadinya kecelakaan.   Beberapa riset tentang hal tersebut diantaranya adalah Research into the dynamics of human error within the cockpit .   Hasil dari riset ini yang berjudul “Resource management on the Flight Deck” dibahas lebih lanjut dalam sebuah workshop pada tahun 1979, dua tahun setelah terjadinya kecelakaan. Hasil dari workshop itulah yang  kemudian banyak mempengaruhi isi dan bahasan dalam NASA paper pada publikasinya di tahun 1980.   Seperti diketahui secara luas , pada NASA paper inilah kemudian dikenal sebagai awal atau cikal bakal dari apa yang dikemudian hari disebut sebagai  crew resource management training procedures for pilots.   Belakangan ini lebih dikenal sebagai CRM Training Program.

          Bagian dari hasil investigasi kecelakaan di tahun 1977 tersebut juga menyebutkan tentang rawannya mekanisme komunikasi  antar ATC Controller dan Pilot.   Pada titik ini yang disoroti terutama adalah dalam penggunaan terminologi standar dalam penggunaan bahasa khusus penerbangan internasional yang harus selalu ditaati dalam berkomunikasi.   Salah satu rekomendasi yang tercantum dalam hasil investigasi adalah mengenai “use of standard, concise and unequivocal aeronautical language.”

          Kesemua itu  merupakan sebuah refleksi dari mekanisme penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat terbang yang tergetnya adalah semata untuk mencegah kecelakaan pesawat terbang terulang kembali dengan penyebab yang sama.   Khusus dari kecelakaan tabrakan pesawat di Canary Island, terdapat dua hal yang sangat penting dan mengukir sejarah penerbangan dalam hal faktor utama penyebab kecelakaan yaitu kerjasama antar awak kokpit dan penggunaan yang konsisten dari terminologi penerbangan yang standar dalam komunikasi antara Pilot dan ATC Controller.

          Sebagai catatan, pada tahun 2001 ICAO (International Civil Aviation Organization) menekankan ulang sebuah rekomendasi yang disebut sebagai  Proficiency Requirements in Common English (PRICE).   Sebuah penekanan tentang komunikasi dalam penerbangan yang tidak hanya berkait dengan terminologi  akan tetapi juga menyangkut penerapannya dalam penggunaan bahasa Inggris.  Dalam hal ini sebenarnya ICAO juga telah melakukan langkah-langkah penyesuaian dalam hal Standards and Recommended Practices (SARPs) pada tahun 2003.   Pada kenyataannya hal tersebut baru terlihat diterapkan mulai bulan Maret tahun 2008.

          Setidaknya dari kecelakaan fatal di Canary Island tahun 1977 yang menelan korban nyawa sebanyak 583 orang itu sudah terwujud warisan penting.   Warisan pembelajaran yang menggaris bawahi mengenai kesalahan manusia yang disoroti dalam hal kerjasama kru dalam kokpit dan penggunaan bahasa standar penerbangan dalam komunikasi antar Pilot dan Air Traffic Controller.   Harapannya tentu saja adalah, semoga tidak terjadi lagi kecelakaan pesawat terbang yang menelan nyawa manusia dikemudian hari.

 

Jakarta 28 Maret 2020

Chappy Hakim

(Tulisan dikutip dari Aero Time Daily News, Gambar : Google)

Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI)

Indonesia Center for Air and Space Power Studies (ICAP)

 

 

.

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.