Archive for January, 2012

Sikap Orang Tua atau Senior.

Dalam menghadapi anak-anak muda, generasi penerus bangsa, maka yang dibutuhkan adalah sikap yang tepat dari para senior dan atau orang tua mereka. Anak muda membutuhkan sikap yang mendidik, satu sikap yang mempunyai nilai edukasi, agar pertumbuhan para anak muda bangsa itu menjadi sehat dan sejahtera. Ada dua pedoman penting yang seyogyanya menjadi pegangan para orang tua dalam hal ini yaitu memberikan bimbingan atau guidance dan contoh atau keteladanan atau set the example. Pilihan atau alternatif akhir hendaknya diberikan kebebasan kepada para anak muda itu untuk memutuskannya. Proses pengambilan keputusan ini adalah juga merupakan bagian dari pendidikan terutama dalam konteks menentukan sikap. Proses bagaimana decision making itu berjalan. Read more…

Anak Muda !

Anak muda selalu identik dengan sesuatu yang dinamis, energik, penuh semangat atau spirit. Di samping itu juga menyimpan kekuatan yang dapat diandalkan, memiliki tenaga yang kuat, stamina dan ausdauer. Mereka menyimpan impian atau dream atau cita-cita yang nun jauh disana. Anak muda selalu saja di lihat berada pada masa yang penuh dengan pemikiran-pemikiran ideal. Anak muda pada umumnya adalah idealis, mereka relatif masih bersih dari pikiran-pikiran yang menyimpang.

Anak muda selalu menginginkan yang terbaik, yang the best yang dapat mereka peroleh.
Keistimewaan dari kondisi anak muda ini tergambar jelas dari misalnya saja satu tim Sepak Bola. Mereka pasti berusia muda, sampai dengan usia 25 atau 30 tahun, biasanya mereka sudah harus berhenti karena faktor umur. Hampir semua kegiatan yang menyangkut terutama sekali dengan kekuatan fisik, pasti dikuasai oleh para pemuda. Dalam perang dunia, RAF, Angkatan Udara Inggris bahkan mempunyai satu skadron bomber yang para Pilotnya harus berusia 17 sampai dengan 23 tahun saja dan belum kawin. Disini memang diperlukan semangat dan kekuatan fisik prima dari anak muda untuk dapat menjalankan misinya dengan tidak terkendala banyak pertimbangan. Usia muda seseorang adalah memang merupakan “golden period of time” dimana mereka yang dapat memanfaatkannya dengan baik, maka dia akan berguna bagi orang lain dan sekaligus sebagai bekal hidupnya nanti di hari tua.

Seiring dengan perjalanan hidup, tidak dapat dihindarkan bahwa mereka akan berhadapan dengan banyak hambatan, aral melintang dan banyak lagi yang kesemuanya itu berujud sebagai satu realita, satu kenyataan hidup. Disinilah kemudian, wajar saja muncul keluhan-keluhan dan atau komplain terhadap apa yang mereka hadapi itu. Disinilah kemudian muncul protes atau sejenis pemberontakan terhadap apa saja yang dianggap oleh mereka sebagai hambatan atau halangan atau bahkan mungkin sebagai satu ketidak-adilan.

Dari pertemuan di persimpangan jalan antara keinginan dan kenyataan itulah maka muncul satu sikap yang secara umum dapat disimpulkan sebagai satu keinginan untuk berubah. Mereka mendambakan satu perubahan.
Tentang pemuda dan anak muda, Bung Karno menguraikannya seperti ini: “Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang dilangit.” dan juga dikatakan dengan “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, akan tetapi satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”

Jakarta 15 Januari 2012
Chappy Hakim

Negeri Autopilot ?

Belakangan ini beredar istilah Negeri Autopilot. Apa sebenarnya yang dimaksud?

Terminologi dalam dunia penerbangan, sebagaimana dunia penerbangan itu sendiri memang selalu menarik perhatian. Dunia penerbangan yang dikenal sebagai hal yang Glamour dan Luxurious telah menyebabkan semua yang berhubungan dengan penerbangan menjadi kelihatan “keren”. Termasuk didalamnya adalah , orang lalu merasa lebih “keren” bila berkomunikasi menggunakan istilah-istilah penerbangan.

Autopilot

Autopilot

Mencari padanan bahasa Indonesia dari terminologi penerbangan yang pada umumnya berbahasa Inggris itu sebenarnya tidak mudah. Keterbatasan kosa kata yang dimiliki bahasa Indonesia menyebabkan cukup sulit untuk menemukan padanan istilah atau terminologi penerbangan, apalagi yang bersifat teknis. Sekedar contoh saja bahwa “lepas landas” tidak dapat dipadankan dengan kata “take off” karena “lepas landas” sendiri sudah ada istilah lainnya yang dikenal dengan “air-borne”.

Lalu, bagaimana dengan Autopilot ! Autopilot adalah satu peralatan di pesawat terbang yang dapat membantu Pilot dalam menerbangkan pesawat. Autopilot yang biasanya bekerja dengan tenaga mekanik atau elektrik atau hidraulik atau kombinasi dari ketiganya dapat menerbangkan pesawat tanpa dikemudikan oleh sang Pilot.

Autopilot ini bila dihubungkan dengan Flight Management System, maka dia akan menerbangkan pesawat sesuai dengan Flight Plan yang sudah diprogram didalamnya. Jadi pesawat yang sedang terbang dengan Autopilot, tidak ada yang salah , justru hal tersebut dapat membantu Pilot menjadi lebih relaks dan dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan lebih baik karena hanya tinggal mengawasi atau mengamati dan “cross-check” pada panel instrument di kokpit. Dengan kemajuan teknologi, bahkan kini sudah ada Autopilot yang dapat menerbangkan pesawat sampai landing dengan selamat yaitu dibantu oleh peralatan yang bernama ILS, Instrument Landing System.

Jadi istilah Negeri Autopilot agak kurang jelas apa maksudnya. Bila hal itu dimaksudkan sebagai negeri yang tidak jelas tujuannya, maka istilah itu menjadi salah besar. Menjadi salah yang lebih besar lagi , bila mengatakan bahwa Autopilot itu adalah istilah Angkatan Udara, karena Autopilot adalah terminologi dalam dunia penerbangan pada umumnya.
Demikian semoga pengertian tentang Autopilot tidak menjadi rancu beredar dimana-mana.

Mengambil Keputusan !

Mengambil keputusan adalah sesuatu yang harus dilatih. Latihan mengambil keputusan seharusnya sudah dimulai dari sejak usia dini. Professor Diran, guru besar Institute Teknologi Bandung, dalam salah satu ceramahnya, memberikan satu ilustrasi yang sangat menarik.

Prof. Diran mengatakan, salah satu kelemahan orang Indonesia adalah dalam mengambil keputusan. Mereka pada umumnya selalu kalah cepat dengan rekan-rekannya dari negara lain, terutama dari negara maju tentu saja. Mengapa? Sebabnya sederhana sekali. Beliau memberikan contoh bagaimana anak-anak kecil orang Indonesia, seolah tidak boleh menentukan sendiri kemauannya. Dari sejak kecil sudah “familiar” bahwa hanya orang tua lah yang memutuskan segala sesuatunya dalam setiap aspek kehidupan. Mungkin, lebih kurang, kita semua juga mengalami hal seperti itu. Contoh sederhana adalah bila kita bersama-sama makan di sebuah restoran, maka biasanya yang memilih menu terlebih dahulu, akan kemudian diikuti oleh seluruh teman-temannya. Apalagi bila itu terjadi di Luar Negeri. Satu orang memilih “orange Juice”, maka biasanya diikuti dengan “same” ! dan akhirnya semua nya “same” ! Celakanya, walaupun ada juga yang tidak doyan dengan “orange juice” ya tetap saja memesan “orange juice”. Mengapa ? ya itu tadi, tidak biasa mengambil keputusan sendiri, dan juga merasa sungkan untuk menjadi lain sendiri. Tapi yang inti adalah “tidak biasa mengambil keputusan”! Read more…