Archive for December, 2011

Saya Pengen Jadi Pilot

Saya Pengen Jadi Pilot

Saya Pengen Jadi Pilot

SINOPSIS
Abdul Hakim adalah seorang wartawan Kantor Berita Antara.

Tinggal di sebuah rumah, yang bagus enggak, jelek juga nggak, ya lumayanlah, letaknya di Jalan Segara IV Jakarta (sekarang Jl. Veteran).

Dia tinggal bersama istri dan dua orang anaknya.

Anak pertamanya bernama Bachrul berusia 4 tahun dan yang kedua Chappy berusia 3 tahun. Di masa itu, anak kecil biasa buang air besar dengan pispot. Begitu juga dengan Chappy.

Nah ada suatu peristiwa kocak. Chappy sedang buang hajat di pispot dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara pesawat di angkasa, dan apa yang terjadi ?

Dengan hebohnya Chappy berlari ke luar rumah untuk melihat pesawat. Lucunya, pispot itu masih dia bawa dengan posisi pispot masih menempel di pantatnya.

Hahahaha…ayah, ibu dan Bachrul ngakak abis geliat kelakuan si bungsu.

Chappy masih memandang ke langit sambil berteriak,  Ayah, ada pesawat ! ayah ada pesawat!!

Dengan mata berbinar dia berkata dengan sangat yakin, “Ayah, kalo udah besar, SAYA PENGEN JADI PILOT!

Dan Allah itu luar biasa! Ternyata cita-cita Chappy tercapai. Dialah yang biasa kita kenal dengan nama Marsekal Chappy hakim. Seorang pilot lulusan Akabri tahun 1971. dan jabatan terakhirnya adalah Kepala Staf Angkatan Udara!
Hebat ya?

DETAIL
ISBN: 978979255523
Author: Chappy Hakim
Language: INDONESIA
Date Published: 2011
Type: SOFT COVER
No. of Pages: 312
Dimensions (cm): 14 x 21

Bahasa Inggris …….bingung !

Bahasa Inggris memang terkadang membingungkan. Saat saya tengah mengikuti “Pacific Rim Air Chief Conference” di Hawai dan Washington DC, saya sempat berjumpa dengan Air Chief dari Bangladesh, General Azam namanya. Dia bercerita, bagaimana membingungkannya bahasa Inggris sampai satu saat sempat membuat renggang hubungannya dengan RAF, Royal Air Force, Angkatan Udara Inggris.
Alkisah, dalam kerangka kerjasama Angkatan Udara Inggris dan Angkatan Udara Bangladesh, RAF mengirimkan Perwira Instruktur nya ke Bangladesh. General Azam memerintahkan dua orang perwiranya untuk menjemput di International Airport untuk memudahkan para tamu kehormatan ini menyelesaikan prosedur kedatangan di terminal Bandara. Perwira penjemput mengumpulkan empat buah paspor Instruktur yang datang dari Inggris itu untuk melintas pintu imigrasi.
Sebelum lewat meja imigrasi untuk meyakinkan siapa-siapa saja tamunya tersebut, sang Perwira pun mengecek terlebih dahulu satu per satu para pemegang paspor. Yang pertama ia panggil sesuai paspor yang paling atas ditangannya, dia pun memanggil , Colonel Black ! seketika dia terperanjat karena ternyata Kolonel Black ini adalah seorang Inggris berkulit putih. Sambil berusaha untuk tidak terlihat heran, ia melanjutkan memanggil pemegang paspor berikutnya, Major Long ! Untuk kedua kalinya ia terheran-heran karena ternyata Mayor Long ini orang nya pendek.
Sekali lagi ia menahan napas agar dapat terlihat biasa-biasa saja, ia pun memanggil pemegang paspor berikutnya Captain White ! Kali ini ia kaget namun masih dapat menguasai diri karena ternyata sang Kapten White adalah seorang yang berkulit hitam. Terakhir, ia memanggil pemegang paspor ke empat , Sargeant Major Short ! Alangkah herannya dia karena ternyata Sersan Mayor Short ini orang yang sangat tinggi untuk ukuran orang Bangladesh. Kedua perwira tersebut memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk bisa meyakinkan pihak imigrasi bahwa benar para Perwira Tamu dari Inggris ini memang pemegang paspor asli dari Kerajaan Inggris.
Masalahnya adalah karena kedua Perwira tersebut kesuliltan dalam berusaha menerjemahkan nama para tamunya kedalam bahasa Bangladesh ! Nama para tamu RAF telah menimbulkan kebingungan di imigrasi International Airport Bangladesh.
Ketika di Washington DC, kami diterima dalam upacara resmi di Pentagon dan sesuai prosedur penerimaan bagi tamu kehormatan, kami semua diacarakan untuk melakukan peninjauan keliling, lengkap ke lokasi dimana bagian gedung Pentagon yang terkena “bom” saat peristiwa 911. Pada salah satu “site” ternyata yang menerima kami semua adalah seorang kolonel AD Amerika yang bernama “Denmark”. Saya pun berbisik kepada General Azam, bahwa saya akan memberikan informasi penting kepada Kolonel Denmark. Informasi tentang apa? tanya General Azam. Saya akan beritahu dia agar tidak berkunjung ke Bangladesh agar tidak memimbulkan kebigungan di imigrasi airport Bangladesh, karena ada Kolonel AD Amerika Serikat yang namanya Denmark ! Ia pun tertawa terbahak-bahak.

Jakarta 26 Desember 2011
Chappy Hakim

Orang Inggris …….bingung !

Pada suatu hari rekan saya orang Inggris ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting di hari Rabu. Saya katakan padanya, bahwa pada hari Rabu itu saya nggak bisa, karena saya harus memperpanjang SIM yang sudah terlanjur lewat jatuh tempo.
Dia bilang, Pak Chappy buat apa sih SIM ? Di Jakarta ini kan semua dilanggar orang. Lampu merah orang pada jalan terus. Jalan satu arah diterabas motor-motor menjadi nggak jelas satu atau dua arah. Pembatas beton untuk Busway pun di terabas, apalagi trotoar udah sangat nggak jelas apakah jalan untuk motor atau untuk pejalan kaki, katanya.
Sialan nih orang saya pikir, dalam hati saya sangat tersinggung walau semua apa yang dikatakannya itu adalah sebuah realita di Jakarta ini. Tetapi pengalaman menghadapi orang bule, membuat saya tetap berpenampilan tenang seraya saya berkata, Hei Green (namanya David Green, walaupun orangnya sama sekali tidak berwarna hijau !), tahukah anda bahwa semua orang itu yang berbuat nggak keruan dijalanan, semuanya memiliki SIM yang sah, bisa nggak anda bayangkan kalau mereka kemudian terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki SIM? Punya SIM aja udah kayak gitu, apalagi kalau mereka nggak punya SIM, kata saya.
Seketika dia terperanjat dengan jawaban tak terduga dari saya tersebut, sambil menjawab, OK , OK kita undur meetingnya hari Kamis ya !
Kapok lah si Bule itu yang nyindir nggak pake basa basi, maka saya jawab aja setengah ngaco, diamlah dia…..Good Job !

Merry Christmas and a Happy New Year !

Jakarta 26 Desember 2011

Chappy Hakim

Menjinakkan Bom (Waktu) di Soekarno Hatta

Bom

Bom

Pada tahun 1962, dikenal satu badan bernama DEPANRI, Dewan Penerbangan Republik Indonesia yang ketuanya adalah Menteri Pertama RI, Ir. H. Djuanda dan sekretarisnya dari Angkatan Udara RJ Salatun. Sekedar untuk diketahui salah satu lingkup dari kegiatan DEPANRI adalah tentang “Pengembangan Kebijakan Kedirgantaraan Nasional”. Di era itulah, sampai dengan lebih kurang tahun 1980-an terlihat, arah perkembangan industri penerbangan nasional yang tergambar dalam konsep dan konteks yang jelas. Untuk penerbangan domestik rute utama dan penerbangan Internasional diberikan tanggungjawab pengembangannya kepada Maskapai sang pembawa bendera , Garuda Indonesian Airways. Ditangan Garuda inilah, kehormatan dan kebanggaan serta promosi bangsa Indonesia dipanggung global dalam penyelenggaraan angkutan udara dipertaruhkan.

Garuda dipimpin oleh seorang Pilot kawakan bernama Wiweko, penerbang Asia pertama yang pernah menembus samudra pasifik (dari Auckland, AS ke Jakarta) seorang diri dengan pesawat terbang. Itu sebabnya, sebagai pimpinan sebuah Maskapai dia mampu berorientasi kepada bidang penerbangan secara total. Sebagai Pilot, dia tau saat membeli banyak pesawat sekaligus dia persiapkan sdm nya. Wiweko tidak hanya menganalisis dan membahas tuntas dalam hal memilih pesawat terbang yang cocok untuk digunakan di Negara kepulauan ini bersama dengan pabrik pesawat kenamaan didunia, akan tetapi juga merancang disain kokpit pesawat yang sangat spektakuler sepanjang sejarah. Wiweko telah merubah awak kokpit menjadi hanya dua orang saja.(two men forward facing crew cockpits) Disain yang tadinya ditentang habis-habisan oleh FAA, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan Amerika Serikat, kini justru telah menjadi standar baku dari disain kokpit pesawat angkut internasional. Saat itu Garuda sang pembawa bendera melesat maju di angkasa Asia, Eropa dan bahkan pernah sampai ke Amerika Serikat. Read more…

Reportase Bedah Buku SPJP

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (purn) Chappy Hakim menilai, para penerbang Indonesia terlalu sombong untuk menulis buku, sehingga buku-buku tentang penerbangan sangat minim.

“Padahal pengalaman para penerbang ini layak dibagi kepada masyarakat umum,” kata Chappy saat berbicara pada peluncuran buku terbarunya, “Saya Pengen Jadi Pilot” di Jakarta, Rabu (14/12/2011).

Bertindak selaku pembahas buku pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman dan Beny Adrian, managing editor Majalah Angkasa, dengan moderator Tascha Liudmila yang juga editor buku.

“Kenapa judulnya agak gaul yakni ‘Saya Pengen Jadi Pilot’, sebab saya merasa penerbang terlalu sombong untuk menulis buku, jarang bikin buku. Hanya satu penerbang yang saya kenal menulis buku, yaitu Kapten Pilot Gunarjo. Dia menulis tentang pengalaman terbang dengan gaya bertutur seperti kita ngobrol,” kata Chappy. Karena Kapten Gunarjo itulah, kata Chappy, ia bertekad menulis buku tentang penerbangan.

“Saya Pengen Jadi Pilot” merupakan buku ke-14 Chappy. Ia mengaku senang dengan angka “4″ sehingga buku itupun diluncurkan hari ini tanggal 14 yang ada unsur angka “4″. “Saya bersahabat dengan angka 4, saya tinggal di jalan Segara 4, pernah jadi komandan skuadron 31 yang ke-14, saya jadi KSAU pun yang ke-14 dengan bintang 4. Saat jadi KSAU saya tinggal di jalan Wijaya 13 no 31. Dan ini buku saya yang ke-14,” ungkap Chappy.

Chappy menilai bukanya ini mendapat respon yang berbeda dibanding buku-buku sebelumnya. “Ini semacam diary penerbangan. Saya upayakan alurnya berdasarkan timeline atau kronologis,” katanya.

Beny Adrian menilai buku Chappy ingin memposisikan dirinya sebagai penerbang sipil. “Yang saya salut bahwa Pak Chappy berani cerita ‘kebodohannya’ sendiri, misalnya mengungkapkan kesalahan dalam penerbanngan, dimana biasanya penerbang menyebunyikan kesalahan,” katanya.

Beny menyebut misalnya untuk solo flight Chappy bukanlah yang “the best”. Juga pesawat yang hampir menghantam Stasiun Ponorogo, disebutkan dalam buku tersebut. “Ada sentuhan kemanusiaan yang bisa mendorong anak-anak muda kita bahwa penerbangan itu sangat ketat dan disiplin, siswa penerbang harus patuh pada aturan. Dunia penerbangan tetap disiplin tinggi yang tidak mentoleransi kesalahan sedikitpun,” kata Beny.

“Pak Chappy menceritakan sesuatu yang tidak biasa dalam penerbangan, dia berani menurunkan kelasnya, padahal reputasi dia sebagai mantan KSAU,” imbuh Beny.

Arief Rahman menilai, buku Chappy cocok dibaca anak-anak muda, termasuk siswa. Bahasa tutur Chappy menurutnya mudah dipahami, apalagi buku tersebut disertai gambar yang menarik. “Selain cita-cita, ada pengalaman Pak Chappy ditambah pendidikan yang ditekuni dengan baik,” katanya.

Jakarta 14 Desember 2011
Tulisan Pepih Nugraha di Kompas.com