Archive for October, 2011

Koki Nasi goreng disuruh jualan Capcay !

Sebagai akibat komunikasi yang tidak atau belum tuntas mengenai pemberdayaan kembali Industri Strategis dan atau Industri Pertahanan, maka dikhawatirkan beberapa langkah kerjasama antara PTDI dengan pihak asing akan menjadi sulit tercapai sesuai target.

Sejumlah kesulitan masih dihadapi oleh PTDI, namun proyek-proyek kerja sama yang terkesan kejar tayang sudah ditandatangani MOU nya dan bahkan sudah ada yang mulai digerakkan.

Sebuah ide yang patut dihargai untuk memberdayakan kembali PTDI, namun sangat disayangkan langkah ini tidak ditopang dengan perencanaan matang yang melibatkan pihak “orang dalam” PTDI sebagai yang empunya “dapur” dan “koki” nya.

Sekedar gambaran saja dari hal ini dapat dibaca dari cuplikan berita dari Republika online tanggal 17 Oktober 2011 lalu sebagai berikut: Read more…

Lalu Lintas Udara Kita Yang Amburadul !

Amburadul

Amburadul

Sebenarnya tidak hanya di Indonesia krisis terjadi dalam jajaran ATS, Air Traffic Control System atau institusi pengatur lalu lintas udara.   Namun harus diakui bahwa di Indonesia terutama di Jakarta dalam jam sibuk di pagi hari dan petang hari mungkin adalah yang terburuk diseluruh dunia.   Konon kabarnya, beberapa kali telah terjadi  near miss atau “hampir tabrakan” dua pesawat besar di udara di atas kawasan Jabodetabek.

Tidak mudah mengangkat masalah ini, karena cukup sulit untuk melihat secara visual dan juga sukar sekali menerangkannya kepada orang awam.   Maka jadilah semua orang tenang-tenang saja seolah tidak ada apa-apa , padahal setiap saat bahaya mengancam !   Emangnya Gue Pikirin?   Nanti setelah kejadian mudah-mudahan tidak terjadi, semua orang akan menyesalinya !  ( I have spoken ! )  Tulisan ini adalah tulisan saya yang kesekian kalinya tentang hal ini.

Mengapa terjadi? sebab utamanya adalah keterlambatan mengantisipasi melonjaknya kenaikan pertumbuhan penumpang dan barang dalam lalulintas angkutan udara komersial di Indonesia.   Sebab lainnya adalah karena Angkasa Pura (AP 1 dan AP 2,) yang membawahi organisasi ATS dalam 5 – 10 tahun terakhir yang lalu dipimpin oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan penerbangan. Mereka yang tidak dibekali dengan “aviation knowledge”,  harus dimaklumi pasti mempunyai pemahaman yang sangat rendah tentang antisipasi fenomena keamanan terbang.

Read more…

Dunia Penerbangan dalam Bahaya !

Mari kita simak kutipan dari berita nasional Tempo interaktif hari ini sebagai berikut:

Indonesia akan memesan sejumlah pesawat dari Rusia. “Rencananya, akan ada pembelian pesawat Sukhoi dari Rusia,” kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI.

Pesawat Sukhoi Superjet merupakan pesawat sipil dengan kapasitas 25-95 penumpang.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti mengatakan pesawat tersebut tengah menunggu sertifikasi The International Air and Shipping Association (IASA).

Sebelum masuk ke Indonesia, akan dilakukan uji validasi terlebih dahulu. Lebih jauh, pemerintah Indonesia berharap nantinya akan ada kerja sama produksi Rusia dengan Indonesia dengan membangun pabrik suku cadang dengan menggandeng PT Dirgantara Indonesia.

Pemerintah Indonesia dan Rusia akan meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara. Nilai perdagangan antar kedua negara yang selama ini masih termasuk kecil akan digenjot. “Ditargetkan 2014 nanti bisa naik menjadi US$ 5 miliar,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Kayaknya semua menjadi mudah dengan mengatakan menggandeng PTDI.   Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya masih banyak masalah intern di PTDI yang memerlukan solusi terlebih dahulu sebelum menggenjotnya dengan beban-beban produk yang diharapkan pemerintah.   Sejak kolaps 1998 lalu, banyak masalah bermunculan di PTDI, mulai dari perginya tenaga-tenaga ahli ke luar negeri mencari sesuap nasi, pengangguran terselubung yang harus tetap digaji sampai dengan mengerjakan proyek-proyek eceran tumpahan pabrik pesawat Boeing dan Airbus demi untuk penyambung nyawa perusahaan yang mati segan hidup tak mau ini, eh hidup segan mati tak mau.

Disamping itu pemerintah sebagai pemegang otoritas penerbangan nasional sebenarnya tengah menghadapi masalah  besar mengenai ATS, Air Traffic Control Service yang kondisinya memprihatinkan dan berbahaya !   UU Penerbangan no 1 tahun 2009 mengamanatkan ATS harus di reorganisasi menjadi ATS single provider dalam 2 tahun setelah UU diundangkan.   Sampai kini, sudah hampir lewat 2 tahun ATS yang organisasinya terdiri dari 5 organisasi yang berbeda itu belum terlihat akan di padukan menjadi single provider.   Sementara pertumbuhan jumlah penumpang dan barang yang menggunakan jasa angkutan udara meningkat tajam, jumlah sdm ATC hanya tersedia lebih kurang 60 % dari kebutuhan dan peralatan radar ATC sudah kadaluwarsa.   Jadi penerbangan kita saat ini tengah berada dalam “bahaya” !

Waspadalah kita semua, berharaplah semoga pemerintah segera turun tangan menangani ini, dari pada sibuk membeli pesawat baru dan memberikan proyek-proyek baru bagi PTDI, yang belum tentu PTDI mampu mengerjakannya. Semoga !

Jakarta 27 Oktober 2011

Chappy Hakim


PTDI dan C-295

Dalam satu upacara yang megah dan disaksikan Presiden Republik Indonesia PTDI menandatangani MOU dengan pihak Casa Spanyol untuk memproduksi CN-295. Agak mengagetkan juga bagi saya, mengapa tiba-tiba PTDI bekerjasama dengan Casa kembali, setelah sekian lama “pecah kongsi” dan kemudian memproduksi CN-295.

Sekilas ide ini sangat “mengagumkan” sebagai satu terobosan yang berpihak kepada industri strategis dalam negeri. Disisi lain yang muncul dalam benak saya adalah satu pertanyaan apakah memang pihak PTDI sudah siap untuk kerjasama memperoduksi CN-295? Saya khawatir PTDI hanya akan meng “assembling” saja pesawat C-295 itu. Pertanyaan lainnya adalah mengapa tidak memproduksi CN-235 saja dulu, yang sudah jelas-jelas merupakan produk unggulan PTDI sampai saat ini sambil melakukan penyempurnaan produk tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kondisi PTDI kini tidaklah berada dalam kondisi yang prima untuk dapat melangkah lebih jauh, dalam konteks memproduksi pesawat baru. Sangat diyakini PTDI memerlukan proses “re-structuring” perusahaan terlebih dahulu sebelum dapat melangkah lebih jauh dengan memproduksi pesawat terbang, lebih-lebih dalam bekerjasama dengan pihak lain. Mengapa tidak melakukan pembenahan kedalam terlebih dahulu paralel dengan memproduksi pesawat-pesawat yang sudah menjadi kemampuannya sendiri?

Ada kesan PTDI belum benar-benar “jago” dalam memproduksi dan memasarkan CN-235 sudah mulai pindah lagi ke produk lainnya yaitu C-295. Ini mengingatkan “parade” masa lalu pada waktu C-212 belum genah sudah memproduksi CN-235, belum selesai dengan CN-235, sudah membuat N-250, sambil jalan sudah ada konsep lagi N-2130 dan seterusnya kemudian bangkrut ! Apakah serial ini akan diulangi sekali lagi ?

Mudah-mudahan kekhawatiran saya tidak benar. Mudah-mudahan pengalaman pahit PTDI dalam bekerjasama memenuhi kebutuhan Angkatan Udara dimasa lalu tidak berulang kembali. Sekali lagi mudah-mudahan.

Jakarta 27 Oktober 2011

Chappy Hakim

Hibah F-16 dan Sistem Pertahanan Negara

F16

F16

Berita paling hangat dibidang pertahanan Indonesia kini adalah tentang kabar hibah pesawat terbang tempur F-16 dari pemerintah Amerika Serikat kepada Indonesia. F-16, sebagai multirole jet fighter aircraft” adalah satu dari sedikit jenis pesawat tempur yang paling laris di dunia, karena telah membuktikan dirinya sebagai “Jet fighter aircraft” yang telah “war-proven”. Pesawat tempur yang telah memperlihatkan unjuk kerjanya yang spektakuler pada laga pertempuran udara dalam banyak panggung perang terbuka dimuka bumi ini.

Pada prinsipnya, proses pengadaan pesawat tempur yang ideal sebagai sub sistem dari alat utama sistem persenjataan haruslah mengalir dari satu perencanaan jangka panjang yang matang dan terpadu serta konsisten. Itu sebabnya antara lain, proses pengadaan ditengah jalan yang muncul dari format hibah atau apapun namanya pasti dan selalu mengundang kontroversi. Tidak selalu buruk dan inefisiensi yang akan terjadi, tetapi peluang untuk berhadapan dengan banyak kesulitan telah berulang kita alami. Satu diantaranya adalah “hibah” atau “beli murah sebanyak 39 buah kapal perang ex Jerman Timur. Yang sangat menonjol, disamping problema lain-lain yang terjadi adalah timbulnya berbagai masalah dalam peng-operasi-an kapal saat digunakan oleh para personil Angkatan Laut kita. Dengan singkat dapat disebutkan bahwa muncul masalah prinsip dan bersifat teknis pada aspek operasional di Angkatan Laut sebagai pengguna kapal perang.

Indonesia sebagai satu Negara yang serba terbatas, terutama dalam sektor finansial pendukung pembangunan Angkatan Perang, maka model “hibah” menjadi layak juga untuk dipertimbangkan. Hanya saja kajian yang dilakukan sebelum diambil keputusan, harus benar-benar memperhatikan berbagai aspek terkait dan terutama sekali aspek penggunaan operasionalisasinya. Faktor efisiensi dan otorisasi penggunaan anggaran pasti menjadi penting dalam hal ini, karena “hibah” juga akan menyangkut soal dukungan dana yang akan berpengaruh kepada aspek kepentingan politik baik dalam maupun luar negeri Indonesia. Namun diluar semua itu yang paling dan akan sangat dominan untuk dipertimbangkan adalah “aspek operasional” nya, karena akan berkait langsung dengan figur dan performa dari satu sistem pertahanan Negara secara keseluruhan. Read more…