
Logo Hut RI 66
Lebih kurang dua minggu lagi, kita semua akan merayakan hari kemerdekaan negara kita. Bagi mereka yang pada tahun 1950-an tinggal di Jakarta, pasti masih ingat bagaimana dan betapa suasana Jakarta dalam merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada waktu itu.
Biasanya, di tanggal 17 Agustus, Presiden Soekarno akan berpidato di Istana Merdeka, kemudian dilanjutkan dengan defile dari barisan pasukan pengikut upacara, antara lain pasukan berbaris melintas dengan senjata yang terhunus bayonetnya. Pagi saat pidato Bung Karno, kota Jakarta seakan terlihat sebagai kota mati, sebagian besar warga Jakarta hadir dan berada di depan Istana Merdeka dan warga lainnya tinggal di dalam rumah , mendengarkan pidato melalui Radio yang saat itu hanya RRI saja yang ada. RRI menyiarkan siaran pandangan mata peringatan hari proklamasi langsung dari Istana Negara. Televisi belum ada. Terkadang juga ada pawai kendaraan berhias keesokan harinya. Petang hari ditanggal 17 itu anak-anak sekolah di seluruh Jakarta berkumpul di Halaman Istana mengikuti kegiatan yang dikenal dengan nama “aubade”. Read more…


Pagi tadi saya menerima email dari seorang sahabat ,yang isinya sangat menggelitik saya untuk berbagi kepada banyak orang. Isinya adalah kutipan dari tulisan seorang penulis Pakistan yang cukup tenar namanya yaitu Dr Farrukh Saleem. Beliau dikenal sebagai kolumnis freelance Islamabad, dan juga adalah Direktur Eksekutif dari Pusat Riset dan studi Keamanan. Mungkin tidak ada yang baru dari tulisannya, akan tetapi karena disajikan dalam format yang sangat “merangsang”, jadilah tulisan tersebut sesuatu yang saya pikir cukup inspiring !
Selain gaya bertutur yang lugas dan human, juga karena tidak banyak orang militer yang aktif menulis sehingga apa-apa yang ditulisnya menjadi menarik. Saya jengah, seorang militer profesional, bahkan sampai jabatan tertinggi sebagai KSAU dengan pangkat marsekal, masih bisa menjadi kolumnis sekaligus penulis buku, tentu bukan sosok yang tidak baen-baen