Archive for February, 2011

Sekedar berbagi kepada sesama !

Senin 7 Februari 2011.

Seperti biasanya, saya melakukan olahraga pagi selesai sholat subuh. Sudah beberapa bulan ini, saya memang telah mengatur kembali jadwal kegiatan harian berkait dengan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh. Mengatur kembali ini berdasar kepada beberapa hal, yaitu menyesuaikan kegiatan penulisan buku yang tengah dikerjakan dan yang lebih penting adalah menyesuaikan kondisi tubuh dalam hubungannya dengan faktor usia. Tanggal 17 Desember 2011 saya sudah memasuki usia ke 63, usia yang sudah tidak muda lagi, usia yang sudah menuntut penyesuaian dalam beraktivitas fisik. Penyesuaian ini, secara bertahap sejak memasuki masa pensiun, memang sudah saya lakukan dan bahkan beberapa tahun lalu saya juga sudah menghentikan olahraga tenis. Tahun 2010 di bulan Maret saya baru saja menjalani operasi “total knee replacement” untuk dengkul kaki kiri saya. Itu semua, tentu saja memerlukan kalkulasi sendiri dalam penyesuaian aktivitas fisik sehari-hari.

Demikianlah, saya kemudian mengatur kegiatan harian lebih kurang sebagai berikut: Bangun pagi, biasanya terbangun mendengar azan subuh dari Mesjid dekat rumah. Sholat subuh, kemudian olahraga selama 30 menit, menggunakan “cross trainer”. Selesai olahraga, istirahat, rebahan ditempat tidur lebih kurang setengah sampai satu jam. Setelah itu mandi dan kemudian sarapan pagi. Berikutnya adalah melakukan kegiatan keseharian, antara lain menyelesaikan buku tentang pengalaman terbang yang baru dimulai , mengecek buku pertahanan yang dua minggu lalu baru selesai dicetak dan mempersipakan buku lainnya tentang penerbangan yang baru dalam taraf pengumpulan bahan-bahan awal. Siang , sebelum jadwal makan siang atau paling lambat setelah makan siang, saya sudah kembali ke rumah untuk istirahat sambil baca-baca koran, buku dan atau email, tidur siang sejenak, sore santai, makan malam dan biasanya , bila tidak ada undangan seperti resepsi perkawinan misalnya, maka sebelum jam 2100 wib saya sudah tidur malam.

Kembali di pagi hari senin tanggal 7 Februari itu, saya melakukan olahraga untuk selama 30 menit. Tidak seperti biasa, walau sudah terjadi juga dua atau tiga kali terakhir, dimenit ke 20 atau 25, sudah merasa lelah, sementara keringat memang sudah membanjir keluar tubuh. Sekali lagi, biasanya selesai 30 menit berolahraga, mandi keringat, istirahat sejenak dan kemudian mandi, badan terasa sangat segar. Tetapi kali ini pada menit ke 20 saya merasa lelah sekali. Agak sedikit memaksa , saya selesaikan sampai ke menit 30. Disinilah saya kemudian merasa agak sesak di dada , dan segera saya merebahkan diri di tempat tidur. Sesak dada seperti ini, dalam kapasitas yang lebih ringan memang sudah terjadi pada beberapa kali terakhir, namun saya diamkan saja, karena setelah istirahat sejenak hal itu pun berlalu dan badan terasa “fit” sekali. Sangat berlainan dengan yang saya alami dua tiga hari yang lalu, rasa sesak di dada tidak kunjung berkurang, bahkan diikuti dengan semakin banyak keringat dingin mengalir keluar tubuh. Saya bilang kepada isteri saya, “Ran ini koq kayaknya sesek di dada ya ?!” Selanjutnya kepala mulai terasa pening, mata agak berkunang-kunang dan keringat dingin terus mengalir. Karena terasa gejala mual seperti ingin muntah, saya bangun lagi, berdiri menuju ruang keluarga dan duduk disitu. Saya bilang lagi ke isteri, “Ran kayaknya harus panggil dokter nih”. Badan semakin tidak enak disertai rasa ingin buang air besar. Saya berkata lagi, “wah ini kayaknya kita yang harus ke dokter, bukan panggil dokter”, sambil menuju ke toilet. Isteri saya mulai bergerak, dan membantu bopong saya berjalan ke toilet, sambil memerintahkan pembantu agar supir segera meyiapkan mobil. Berjalan dari kursi ke toilet, terasa badan saya sudah limbung, bahkan pada langkah ke empat, kaki kanan saya terasa lemas sekali seperti kaki yang terbuat dari kain, begitu dijejakkan langsung lemes. Saya hampir roboh , bila tidak ada yang membantu. Berhasil mencapai toilet, sempat buang air besar, dan segera kemudian bergegas menuju mobil untuk coba berangkat mencari rumah sakit dan atau dokter.

Di mobil, saya duduk di kursi belakang, isteri saya di kursi depan dan supir , Ari mengemudikan mobil. Sesaat setelah keluar rumah, saya masih sempat mengingatkan isteri saya untuk mengenakan “safety belt” dan selanjutnya segera saja kami berhadapan dengan macetnya lalulintas Jakarta yang parah, khas disetiap Senin pagi. Jam masih menunjukkan sekitar pukul setengah tujuh kira-kira. Saya mendiskusikan dengan isteri untuk tujuan rumah sakit mana yang akan kami datangi. Diputuskan sementara ke rumah sakit dekat rumah, untuk pertolongan pertama, di Jalan Warung Buncit yaitu RS JMC. Didalam mobil, beruntung saya masih menggenggam Hp. Sambil mengamati kemacetan kendaraan di luar mobil, saya berusaha menghubungi teman saya yang pernah di operasi Jantung, juga teman saya lainnya. Dari dua panggilan yang tidak terjawab, saya kemudian memutuskan menghubungi, teman saya lainnya saudara Dicky Pradigdo untuk mengabarkan padanya tentang kondisi saya sambil minta saran padanya, kemana saya harus menuju. Dicky segera mengangkat telepon saya dan selesai mendengar penjelasan saya, dengan tegas Dicky menyarankan untuk segera menuju Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) dan dia sendiri akan menuju kesana terlebih dahulu serta mencoba membantu mencarikan dokter sesegera mungkin. Kediaman Dicky kebetulan sangat berdekatan dengan lokasi RSPI. Mendapat jawaban yang sangat positif, saya segera memerintahkan Ari, untuk memutar arah menuju Pondok Indah. Dengan susah payah menembus kemacetan yang sangat padat, yang nyaris mematahkan harapan untuk dapat bisa sampai RSPI tepat waktu, Ari mengendalikan mobil semaksimal kemampuannya. Saya perintahkan untuk menghidupkan lampu “hazard” dan menyalakan lampu besar agar memudahkan meminta jalan kepada kendaraan lainnya. Setelah melewati lampu merah Republika, saya perintahkan lagi Ari untuk menembus saja jalur Busway agar bisa memotong jalan. Agak sedikit menolong, namun di penghujung Tol Simatupang tetap saja kendaraan terhenti. Semua kendaraan bertemu di tengah-tengah persimpangan tanpa mengindahkan lampu merah atau hijau dan juga diperparah lagi dengan banjirnya motor-motor ketengah jalan. Dalam kemacetan tersebut saya telepon anak saya Tascha. Telepon diangkat oleh Oky, suaminya yang berkata santai “ada apa Yah?”, saya lalu bertanya Tascha ada? Ini yah katanya, seraya memberikan Hp ke Tascha, saya pun lalu berkata Ca, dada ayah sesak sekali abis olahraga, sekarang ayah menuju RSPI. Itu saja yang sempat saya katakan, yang belakangan dari Tascha diketahui bahwa saya tidak berkata apa- apa selain suara napas yang ngos-ngosan.

Akhirnya, dengan susah payah Ari bisa juga mencapai RSPI dengan selamat. Menjelang belok kanan, mengarah masuk ke jalanan arah ke RSPI, terdengar Hp berbunyi, yang ternyata berasal dari Dicky yang mengabarkan bahwa dia dan Yanti isterinya sudah berada di UGD RSPI dan Dokter pun, sudah siap jelasnya. Agak sedikit menenangkan hati saya, sementara mobil masuk ke halaman UGD RSPI kondisi saya semakin buruk, saya ngos-ngosan seperti sedang sprint dengan maksimum speed. Keringat bersimbah diseluruh sekujur tubuh. Setengah sadar, saya mendengar sayup-sayup banyak orang mengatur, “pelan-pelan”, “awas-awas”, “ke-kiri-kiri” dan lain sebagainya. Singkat kata saya sudah terbaring dan ada seseorang yang wajahnya mendekat sambil berkata ; “ Pak Chappy, saya Dokter Taufik, bapak tenang saja dulu, saya akan berikan bantuan kepada Bapak” ujarnya. Saya berusaha untuk agak tenang, tetapi sejujurnya saya panik sekali karena saya tidak dapat menahan sesak napas yang menderu diiringi dengan rasa tercekik di leher sebelah dalam. Saya belum siap mati, saya belum siap meninggalkan dunia yang fana ini. Perasaan itu mungkin menambah rasa panik saya. Saya takut, saya takut mati. Saya berusaha untuk terus mengucapkan dua kalimat syahadat, yang mungkin terdengar keras sekali, sehingga isteri saya merasa perlu menganjurkan agar dalam hati saja mengucapnya, mungkin karena khawatir saya akan kehabisan tenaga.

Wajah saya mencerminkan perasaan itu semua, sehingga terdengar sekali lagi sang Dokter berkata, Pak, saya Dokter Taufik Pohan, tenang ya pak, saya akan bantu bapak segera. Saya lalu menceritakan perasaan saya bahwa dada saya semakin merasakan tekanan berat dan leher saya terasa mencekik. Iya pak, ini jantung bapak mungkin tersumbat, tenang dulu ya. Selanjutnya terdengar instruksi bahwa saya harus segera minum obat sebanyak 6 butir, yang kemudian saya tawar untuk disuntik saja. Saya paling susah untuk dapat menelan obat. Ternyata saya tetap harus menelan 6 butir pil, tidak ada pilihan lain, yang untung kecil-kecil ukurannya. Setelah itu saya diberi lagi 2 butir obat berturut-turut yang harus saya tekan dibawah lidah. Setelah itu saya dibawa ke ruang lain untuk dikerjakan kateterisasi jantung atau arteriografi koroner . Tidak begitu jauh dari ruang pertama kali tiba, saya pun kemudian dipindahkan dari tempat tidur ketempat tidur lainnya. Terdengar sayup-sayup dokter menjelaskan apa-apa yang hendak dilakukannya, antara lain tidak akan dibius total, tetapi akan dibius lokal dekat selangkangan kanan untuk memasukkan kabel yang akan digunakan membantu mengalirkan kembali darah yang tersumbat dekat jantung. Berikutnya saya mendengar suara-suara setengah panik dari instruksi-instruksi dokter, yang antara lain ditujukan kepada saya dengan dibantu oleh para juru rawat lainnya disitu, “batuk-batuk pak !”, “batuk pak, batuk pak !” Saya setengah sadar mendengarnya dan terasa saya tengah berada di pertigaan jalan, kekiri saya akan meninggal dan kekanan mungkin saya akan survive tetapi dengan syarat saya harus batuk, walaupun tidak ada alasan sedikitpun ditenggorokan saya untuk batuk. Ditengah rasa takut saya harus segera memilih, dan tidak ada pilihan lain, saya harus berusaha untuk batuk. Saya harus belok kanan, saya pun batuk-batuk, dengan rasa takut yang terus meningkat. Ini terjadi dua sampai tiga kali, sampai akhirnya terdengar kelegaan dari sang Dokter dan tim nya menandakan sukses telah membuka sumbatan darah di jantung saya. Alhamdullillah, maha besar Allah. Dada saya terasa perlahan-lahan menjadi lapang dan tenggorokan bagian dalam mulai kendor kembali. Terlihat air muka saya agak tenang, dokter kemudian berusaha menerangkan kepada saya apa-apa yang telah terjadi dan juga apa yang telah dilakukannya. Saya mengalami “heart attack” atau “myocardial infarction” dan berhasil menggunakan “the golden period of time”, yaitu antara 1 sampai dengan 6 jam di sekuel penyelamatan nyawa dalam kasus serangan jantung. Tidak berhenti saya bersyukur alhamdullillah hi rabbil alamin.

Apa sebenarnya yang telah dilakukan pada diri saya saat itu ? Penjelasannya adalah, bahwa terhadap diri saya telah dilakukan upaya katerisasi atau tepatnya tindakan katerisasi angiografi dengan prosedur Angiografi / Cath Lab, yaitu pemeriksaan sekaligus tindakan menggunakan “X-ray” yang bertujuan menggambarkan pembuluh darah diberbagai bagian tubuh termasuk untuk memeriksa struktur pembuluh darah jantung, ruang jantung, katup jantung, otot jantung, sekitar perut, batang dan jaringan otak serta jaringan tangan dan kaki dengan kamera khusus. Tindakan tersebut tadi, telah memungkinkan untuk menggabungkan diagnostic dan tindakan dalam satu prosedur saja. Yaitu bilamana ditemukan Plak dan atau penyempitan dapat langsung dilanjutkan dengan angioplasty atau baloning dan pemasangan stent atau ring.

Lesson learned / Pelajaran yang dapat dipetik :

Selain bersukur atas kebesaraan Tuhan yang Maha Kuasa, kiranya banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian yang saya alami tersebut, beberapa diantaranya antara lain adalah :

Kesalahan terbesar yang saya lakukan adalah, bahwa saya tidak disiplin untuk melaksanakan “medical check up” rutin setiap tahun yang seharusnya dilakukan pada tanggal 17 Desember 2010 yang lalu. Selama dinas aktif, saya tidak pernah terlambat melaksanakannya. Tahun lalu itu, saya memang menundanya. Berikutnya adalah, sejak tahun 2002, saya telah diberitahu oleh Dokter Jantung di Lakespra, bahwa saya ada kecenderungan gejala darah tinggi yang belum diketahui penyebabnya. Hal tersebut diperoleh dari hasil test EKG dan “treadmill” 12 menit yang selalu dilakukan setiap tahun. Walaupun hal tersebut adalah gejala normal bagi orang dalam memasuki usia kepala lima. Saya juga mengabaikan saran Dokter untuk melaksanakan katerisasi untuk memperoleh kejelasan dari kondisi jantung saya. Selain itu memang harus ada beberapa hal yang memerlukan perhatian khusus seperti :

Di usia yang sudah tidak muda lagi, ternyata tidak hanya harus menata ulang jadwal dan jenis olahraga yang dipilih, akan tetapi juga sudah harus mengantisipasi terhadap kemampuan fisik. Sering kali hal ini agak sulit untuk dapat dilakukan karena perasaan yang ada terkadang tidak sesuai lagi dengan kemampuan yang dimiliki. Sindiran yang menusuk hati seperti “Nafsu besar Tenaga kurang” , kiranya sudah saatnya diterima dengan lapang dada. Singkat kata : “jangan sekali-kali memaksakan diri”, bila memang sudah lelah, ya beristirahatlah. Yang harus disadari adalah bahwa usia sudah tidak muda lagi, hal yang terkadang lupa atau bahkan mungkin ingin dipungkiri. Sesuatu yang sebenarnya hanya akan berujud “menipu diri sendiri”.

Dalam peristiwa hari senin tanggal 7 februari yang lalu itu, sekali lagi saya dihadapkan dengan realita bahwa memang benar dalam menjalani hidup itu peranan teman “amat sangat dominan”. Saya sering berkata kepada banyak orang bahwa ternyata hidup itu hanya berteman-teman. Dalam arti sesulit apapun masalah yang datang menghadang, selama ada teman yang hadir disitu, maka Insya Allah tidak ada yang tidak dapat dicarikan solusinya.

Pagi hari senin itu, begitu keluar rumah, jalanan luar biasa macet. Tidak ada satu pun rumah sakit yang menjadi mudah untuk dapat dicapai, bahkan untuk pilihan yang terdekat sekalipun. Sampai akhirnya, saya dan isteri di dalam mobil berusaha menghubungi teman-teman dekat melalui Hp, sekedar memberitahukan masalah yang tengah kami hadapi saat itu, yang tentu saja mengharapkan untuk memperoleh pertolongan. Alhamdullillah, segera mendapatkan advis untuk segera menuju RSPI dan selesai menembus kemacetan yang luar biasa, kami tidak perlu lagi untuk mencari-cari ke ruang mana akan pergi, mencari-cari dokter siapa yang akan menangani dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Dokter, ruangan, obat dan lain-lain sudah dapat disiapkan terlebih dahulu. Tidak bisa dibayangkan, bila saat itu saya tidak berhasil menghubungi teman-teman dan keluarga dekat tentu saja.

Berikutnya , yang paling penting adalah : pada usia yang sudah tidak muda lagi ini, keharmonisan hubungan rumah tangga dan keluarga ternyata membuktikan “sangat memegang peranan penting” dalam hal apa saja berkait dengan kehidupan sehari-hari. Terlebih-lebih, bila kita menghadapi masalah. Pada keadaan saya saat itu, isteri dan anak-anak sangat memegang peranan yang menentukan dalam proses penyelamatan nyawa saya. Saya sangat menganjurkan hubungan baik dan saling pengertian serta juga saling menghargai satu sama lain diantara isteri anak-anak, adik kakak, teman sahabat dan handai tolan dapat terjaga secara harmonis. Jujur, saya pribadi ingin mengutarakan bahwa kesemua itu merupakan faktor menentukan dan telah amat sangat membantu men-support saya dalam menjalani cobaan dan proses recovery sesudahnya. Semua orang sangat membutuhkan uluran tangan yang penuh rasa sayang, terutama saat berhadapan dengan kesulitan. Kiranya hanya Allah SWT, isteri, anak dan keluarga dekat serta teman dan handai tolan yang dapat memberikannya. Health is not everything, but without health everything is nothing. Kesehatan ternyata memang bukanlah segala-galanya, akan tetapi tanpa kesehatan, segala-galanya menjadi tidak berarti apa-apa. Maka jagalah kesehatan !

Sekilas tentang Serangan Jantung atau Heart attack (Myocardial infarction)

Untuk tidak memberikan kesempatan munculnya banyak persepsi yang kurang tepat tentang terminologi “serangan jantung”, maka berikut ini saya kutipkan pengertian standar yang dianut dalam dunia kesehatan.

Serangan Jantung atau Heart attack atau dalam bahasa medis dikenal dengan myocardial infarction adalah kondisi dari “mati” nya otot jantung sebagai akibat dari tersumbatnya secara tiba-tiba pembuluh darah “coronary artery” yang disebabkan oleh pembekuan darah. Coronary artery adalah selang yang mengalirkan darah dan oksigen ke otot-otot jantung. Coronary artery, biasa disebut dalam bahasa Indonesia sebagai Pembuluh koroner.

Bagaimana cara untuk dapat mengetahui atau mendeteksinya?
Beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi adanya Penyakit Jantung Koroner antara lain adalah dengan : EKG, Treadmill, Echokardiografi dan Arteriografi Koroner (yang sering dikenal sebagai Kateterisasi).

Dengan pemeriksaan EKG dapat diketahui kemungkinan adanya kelainan pada jantung Anda dengan tingkat ketepatan 40%. Kemudian bila dianggap perlu Anda akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Treadmill Echokardiografi.

Selanjutnya untuk memastikan lebih jauh maka akan dilakukan pemeriksaan Arteriografi Koroner atau Kateterisasi yang mempunyai tingkat ketepatan paling tinggi yaitu 99 sampai 100%, hingga dapat memastikan apakah Anda mempunyai Penyakit Jantung koroner atau tidak. Hal ini biasa disebut sebagai Tindakan Deteksi Penyempitan Pembuluh Darah Koroner Untuk Mengetahui Lebih Dini Adanya Ancaman Serangan Jantung Koroner

Apa penyebab dari Penyakit Jantung Koroner?
Penyakit Jantung Koroner selalu diawali oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), yang lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jaringan ikat, perkapuran, pembekuan darah, dll.,yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai Infark Jantung, yang dalam masyarakat di kenal dengan istilah serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak.

Beberapa faktor risiko terpenting Penyakit Jantung Koroner adalah sebagai berikut :

Inilah beberapa hal yang mengandung risiko bagi Penyakit jantung koroner  : Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi ,Kadar Kolesterol HDL rendah, Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Kebiasaan Merokok ,  Sakit Gula atau Diabetes Mellitus , Kegemukan atau Over Weight, Ada riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga , Kurang olah raga dan yang perlu diwaspadai adalah Stress. Khusus tentang stress penekanannya adalah pada kemampuan mengontrol diri sendiri. Namun ada anjuran disini khusus bagi mereka yang sudah memasuki usia pensiun agar dapat menjaga antar sesama untuk tidak menciptakan stress tersebut dilingkungannya. Berbagai kegiatan positif yang dilakukan bersama dengan menciptakan kegembiraan berkelompok, relaksasi bersama akan sangat bermanfaat hasilnya. Disini yang harus dihindarkan adalah , menyampaikan sesuatu kepada sesama yang justru dapat diantisipasi berpotensi menumbuhkan rasa stress .

Bila Anda menyandang salah satu atau beberapa faktor resiko tersebut tadi, Anda sangat dianjurkan untuk secara berkala memeriksakan kesehatan jantung kepada seorang ahli. Adanya dua atau lebih faktor resiko akan berlipat kali menaikkan resiko total terhadap Penyakit Jantung Koroner.

Sekali lagi : “Jagalah Kesehatan !”

Jakarta 14 Februari 2011 (dari berbagai sumber)

Chappy Hakim.

Lion Air Keluar Runway !

Keluar Runway !

Keluar Runway !

Belum lewat 24 jam, pesawat LionAir kembali tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, kemarin. Pesawat bernomor penerbangan JT 295 tujuan Medan-Pekanbaru tergelincir sekitar pukul 17.50 WIB.

Beberapa jam sebelumnya, yakni sekitar 21.45 WIB, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan 0392 tujuan Jakarta– Pekanbaru juga tergelincir di bandara yang sama. Demikian berita yang dikutip dari harian SINDO terbitan Rabu (16/2), halaman 16. Beruntung tidak ada korban jiwa dari kedua peristiwa itu. Kejadian tersebut jelas sekali mempertontonkan bagaimana lemahnya aspek disiplin dalam dunia penerbangan nasional secara keseluruhan.

Mungkin ini adalah kejadian yang pertama kali di dunia, dalam dua hari berturut-turut,dua buah pesawat yang sama jenisnya, dioperasikan oleh maskapai penerbangan yang sama, mendarat keluar runway yang sama dengan kondisi cuaca yang relatif juga sama. Agak sulit untuk bisa memahami dua kejadian itu bisa berlangsung kecuali bila kita sepakat untuk melihat pengelolaan penerbangan kita tidak lebih dari sekadar “mengejar setoran”.
Kabarnya, dengan dua insiden tersebut, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemhub) selaku regulator penerbangan nasional telah memerintahkan agar penggunaan pesawat B-737-900 ER sementara dilarang untuk rute ke Pekanbaru,Riau. Namun,apa yang terjadi,ternyata larangan tersebut “dianggap angin lalu” saja.

Kemarin siang (16/2) sebuah pesawat Lion Air B-737-900 ER dengan nomor penerbangan JT-290 take off dari Jakarta pukul 11.50 WIB dan mendarat di Pekanbaru pukul 13.26 WIB,membawa penumpang sebanyak 198 orang. Selanjutnya, menurut rencana yang sesuai dengan jadwal, akan berangkat lagi pesawat yang sama menuju Pekanbaru pada pukul 17.30 WIB.  Bukan main dan luar biasa.   Inilah gambaran dari dunia penerbangan kita. Bayangkan, belum ada hasil evaluasi dari kecelakaan yang pertama, tetapi bukan hanya penerbangan berikutnya dilaksanakan seolah tidak pernah terjadi sesuatu, melainkan ternyata penerbangan dengan kecelakaan yang sama kemudian dilakukan. Belum lagi ada evaluasi kecelakaan penerbangan yang kedua, bahkan kemudian keluar larangan untuk itu, penerbangan ketiga dilaksanakan pula. Lalu di mana letak peraturan ketat standar keselamatan terbang Republik Indonesia ini berada?

Kejar Setoran?

Mari kita dalami sedikit tentang beberapa data menyangkut keamanan bagi pesawat terbang untuk mendarat di sebuah runway. Pesawat terbang Lion Air dari jenis B-737-900 adalah sebuah produk baru alias mutakhir yang mempunyai kemampuan yang sangat canggih. Risiko dari sebuah produk teknologi canggih adalah dia harus dioperasikan di bawah aturan dan regulasi yang ketat. Ketat dalam hal ini tidak hanya berarti ketat dalam mengoperasikannya, tetapi juga harus ketat dalam pengawasan operasinya.
Salah satu dari sekian banyak persyaratan untuk dapat landing dengan baik dan aman adalah “keterampilan” pilot yang terjaga. Faktor keterampilan ini secara khusus terdapat dalam aturan dan regulasi yang berlaku secara internasional bagi seluruh negara anggota International Civil Aviation Regulation (ICAO). Indonesia adalah negara anggota ICAO. Dalam kejadian yang pertama tanggal 14 Februari lalu, konon pesawat sudah tiga kali melakukan pendekatan untuk mendarat, tetapi gagal karena pilot tidak memperoleh situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk dapat mendarat dengan baik.
Barulah pada percobaan yang keempat, pesawat mendarat tetapi kemudian keluar runway. Hal ini paling tidak sudah menunjukkan adanya gejala bahwa pilot memaksa untuk tetap landing di Pekanbaru walaupun cuaca tidak bersahabat. Mencoba dan kemudian gagal mendarat sampai tiga kali adalah sangat berbahaya karena hal tersebut sangat melelahkan pilot.

Yang sudah dapat dipastikan adalah bahwa kejadian kecelakaan tersebut sama sekali tidak atau belum dievaluasi atau bila sudah, hanya dilakukan dengan basa-basi. Itu sebabnya, dalam kurun waktu yang masih kurang dari 24 jam, peristiwa serupa terjadi lagi. Selanjutnya, bahkan larangan Kemenhub yang untuk sementara melarang penerbangan ke Pekanbaru dengan pesawat yang sama pun tidak digubris! Sungguh sangat keterlaluan, semua prosedur keselamatan terbang telah dibabat habis tanpa pandang bulu,yang mungkin hanya untuk “kejar setoran”?

Peraturan

Dengan panjang runway Pekanbaru yang hanya 2.150 meter dan lebar 30 meter, diyakini pengoperasian pesawat sejenis B-737- 900 di sana akan mencatat beberapa keterbatasan atau restriksi. Sekadar contoh,menurut operation manual-nya,pesawat Boeing B-737- 900 ER dengan maximum take off weight dan maximum landing weight tidak boleh beroperasi di Pekanbaru. Artinya adalah rasio jumlah berat penumpang dan barang terhadap isi bahan bakar pesawat tidak boleh mencapai angka maksimum.
Dengan performance pesawat yang seperti itu (terbatas), biasanya yang diperbolehkan take off dan landing di Pekanbaru adalah hanya para kapten pilot senior saja, itu pun dengan kalkulasi yang harus senantiasa diperhitungkan dengan matang. Keliru sedikit saja, yang akan terjadi minimum adalah sama dengan yang terjadi pada dua kecelakaan kembar di hari Senin dan Selasa yang lalu dan tidak tertutup kemungkinan terjadi lebih fatal.
Yang harus diperhatikan pula adalah bahwa di Indonesia ada banyak runway dengan kondisi yang sama dan bahkan lebih rendah dari Pekanbaru yang selama ini digunakan juga untuk take off dan landing pesawat Boeing B-737-900 ER dan B-737-800. Beberapa di antaranya adalah Gorontalo, Semarang,Yogyakarta, Jayapura,Palu, dan Mataram. Kejadian serupa dengan yang terjadi di Pekanbaru,bila tidak ada koreksi yang dilakukan, akan sangat mungkin terjadi di kota-kota tersebut.

Yang harus diingat adalah bahwa Federal Aviation Administration (FAA) yang telah lama menjadi acuan industri penerbangan dunia pada tanggal 16 April 2007 telah menurunkan peringkat Republik Indonesia ke kategori dua, yaitu kategori failure.  Tidak memenuhi syarat keselamatan terbang internasional, mengacu pada standar regulasi dari ICAO. Kiranya tindakan tegas dan fundamental sifatnya haruslah segera diambil Pemerintah Republik Indonesia berkait dengan kecelakaan beruntun selama dua hari kemarin itu.
Bila tidak dilakukan, akan sama saja artinya kita membenarkan bahwa kategori failure dari FAA memang pantas untuk kita sandang selamanya. Dengan bahasa lain orang akan mengatakan bahwa memang dunia penerbangan kita dikelola dengan manajemen “kejar setoran” yang sulit membedakannya dengan “manajemen angkot”. Masalahnya adalah sederhana, yaitu keselamatan nyawa para pengguna jasa angkutan udara di Indonesia menjadi senantiasa terancam dan ini adalah merupakan bagian dari harga diri dan kehormatan Indonesia sebagai bangsa. Sungguh memprihatinkan!

Chappy Hakim
Catatan, artikel diatas ini sudah dimuat di koran sindo hari Kamis tanggal 17 Februari 2011

Siapa yang melipat Payung Anda?

terjun-payungCharles Plumb adalah seorang  “Fighter Pilot” /penerbang pesawat Jet tempur Angkatan Laut Amerika  yang pernah bertugas di Vietnam.   Alkisah, setelah sukses menjalankan misi terbang tempurnya sebanyak 75  sorti saat perang Vietnam itu, pesawatnya tertembak  oleh SAM, Surface-to-air missile, senjata penangkis serangan udara Vietcong.   Plumb, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar untuk kemudian dengan parasutnya ia mendarat dengan selamat.   Sangat tidak beruntung, karena mendarat di daerah musuh, maka tentu saja dia ditangkap dan menjalani hukuman 6 tahun sebagai tawanan perang di penjara Vietcong.

Charles Plumb,  berhasil survive menjalani hukuman dan kembali ke Amerika.   Pekerjaannya kini adalah mengajar dan memberikan ceramah tentang pelajaran yang sangat berharga dari bagaimana  seseorang  melakoni tugas negara , berperang sebagai pilot jet tempur, tertembak musuh, ditangkap sebagai tawanan perang selama 6 tahun dan kembali dengan selamat di tanah air.   Pelajaran berharga tak ternilai yang  harus dibagikannya ke banyak anak-anak muda generasi penerus bangsa.

Satu hari saat Plumb dan isterinya sedang santai duduk di sebuah restoran, seseorang di meja yang tidak jauh disebelahnya, datang menghampiri.    Orang tersebut menyapa : ” Hallo , Anda Charles Plumb ! Pilot Jet tempur berpangkalan di Kapal Induk Kitty Hawk dan pernah tertembak jatuh di Vietnam bukan?” Setengah tertegun, Plumb balik bertanya : ” Bagaimana anda tahu?“.   Dengan tegas dan penuh percaya diri serta diiringi rasa bangga, orang tersebut menjawab : “Saya yang melipat payung parasut anda “  ujarnya dengan diiringi senyum yang merefleksikan rasa tulus hatinya.   Plumb terperangah, dan belum sempat dia berkata sesuatu orang itu menyambung kata-katanya,  “saya pikir parasut anda dapat bekerja dengan baik ?” Serentak,  Plumb langsung menjawab setengah terbata-bata : “tentu saja parasut bekerja baik, sebab bila tidak, maka  saya tidak akan  berada disini sekarang!?”

Malam harinya,  Plumb tidak bisa tidur, memikirkan orang yang menghampirinya siang tadi di Restoran.   Dia mulai berbicara sendiri didalam hatinya : ” tidak habis  pikir siapa dan kayak apa orang itu yang dilihatnya di restoran, pada saat bertugas di kapal?” Dia coba membayangkan seseorang yang mirip dengan orang tersebut, berpakaian pelaut yang khas dengan uniform berwarna putih, celana yang lebar dibawah, mengenakan topi putih berjalan mondar mandir  sepanjang hari bekerja di kapal melayani semua perlengkapan pesawat terbang tempur beserta peralatan keselamatan terbang termasuk melipat parasut.    Lamat-lamat dia pun teringat beberapa wajah yang salah satu diantaranya mungkin saja orang yang menegurnya di restoran siang tadi.   Plumb tertegun sendiri dalam kesenyapan malam, kembali terbayang entah seberapa kali dia pasti berpapasan dengan orang itu di geladak kapal, dan sesering itu pula setiap harinya, satu kali pun, dia tidak pernah menegur atau menyapa dengan sekedar kata-kata selamat pagi, atau siang atau apakabar atau bahkan berkata hallo ?   Sederhana sekali, hanya karena satu sebab saja, bahwa saya kan “fighter pilot” dan mereka itu kan hanya pelaut atau kelasi biasa saja?!   Tiba-tiba saja, dia kemudian menyadari “alangkah sombong” diri nya kala itu, dan sekaligus “alangkah tidak ada apa-apanya” dirinya kala tertembak musuh, berhasil menyelamatkan diri keluar pesawat, kalau parasutnya tidak terlipat dengan baik oleh sang “kelasi”.   Lipatan parasut yang tidak benar , pasti akan menyebabkan payung tidak akan terbuka dan sekaligus nyawanya serta merta akan melayang dan hidup segera berakhir.

Terbayang , sang Kelasi Pelaut yang penuh dedikasi, menghabiskan waktunya berjam-jam disatu meja panjang disalah satu sudut kapal yang panas, melipat payung dengan super hati-hati, untuk sebuah parasut yang nantinya akan digunakan oleh para pilot menyelamatkan diri bila tertembak musuh, yang bahkan dia tidak pernah mengenalnya secara pribadi.   Itulah harga dari penyelamatan nyawa orang lain.   Nyawa orang lain yang belum tentu dikenalnya.   Itulah harga moral dari seseorang dalam menjalani hidup ini.   Mengerjakan satu pekerjaan yang esensinya berkait dengan satu misi yang dapat atau bahkan memang bertugas untuk menyelamatkan jiwa orang lain.   Orang lain yang belum tentu dikenalnya .    Alangkah mulianya pekerjaan itu.

Nah, sekarang , siapa yang melipat payung parasut anda ? Setiap orang pasti memiliki seseorang lain yang memberikan apa-apa yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan yang fana di dunia ini.   Kita semua membutuhkan orang lain yang tidak hanya membantu melipat payung parasut anda  untuk dapat menyelamatkan diri bila tertembak musuh , akan tetapi kita semua juga membutuhkan payung payung lainnya.   Payung fisik, payung emosi, payung mental, payung spiritual, payung lain yang kesemua itu akan berperan sebagai penyelamat dalam membantu saat kita menghadapi mara bahaya, saat kita menghadapi maut !.   Sekali lagi , siapa yang melipat payung anda?

Terkadang, dalam kesibukan menjalani hidup sehari-hari, kita kerap lalai dengan sesuatu yang sebenarnya sangat penting.   Kita terkadang lupa atau bahkan terlalu angkuh untuk mau sekedar berkata , menyapa orang lain dengan halo, atau  silahkan, atau maaf dan juga untuk  menyampaikan terimakasih.   Mengucapkan selamat kepada mereka yang baru saja berhasil menyelesaikan tugas atau pelajarannya dengan sukses.   Atau sekedar berbuat sesuatu yang menyenangkan pada orang lain.   Kita justru terkadang sangat mudah mencerca dan atau bahkan menghina orang lain.   Kita lupa, bahwa mungkin saja salah satu dari mereka itu adalah orang yang “melipat payung anda”, orang yang menyelamatkan jiwa anda.

Saya tuliskan semua ini  sebagai ujud dari rasa terimakasih saya untuk saudara-saudara sekalian para pembaca, yang mungkin saja, saya tidak tahu, bahwa anda adalah salah satu orang yang pernah melipat payung saya ?!   Sekaligus ajakan pada anda semua untuk sesekali bertanya pada diri sendiri :   “Siapa yang melipat payung anda?”

Minggu 6 Februari 2011

Chappy Hakim


SBY, Presiden yang kurang tegas ?!

Beberapa hari yang lalu saya melihat sekilas acara   “Today’s Dialogue” di Metro TV.   Nara Sumber yang tampil saat itu adalah Endriartono Soetarto,  Komarudin Hidayat, Siswono Yudohusodo dan Marzuki Alie.   Saya katakan sekilas , karena saya memang tidak melihat secara utuh dari sejak awal.   Beruntung, masih bisa mengikuti pada babak akhir  perdebatan yang kelihatan cukup menarik.

Melihat susunan para nara sumber dan juga pernyataan-pernyataannya, dengan mudah dapat tertangkap esensi dari fokus pembicaraan adalah mengenai kondisi negara kita saat ini, berkait dengan ketegasan SBY sebagai seorang Presiden, sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang yang sedang memegang kendali jalannya pemerintahan saat ini.   SBY sebagai seorang yang sedang memegang “wewenang” penuh dalam menggerakkan bangsa ini, sebagai  “the man who should moves the nation“.   Dengan topik yang lebih kurang seperti itu, maka sangat logis terlihat kemudian sebuah pertandingan yang kurang berimbang yaitu satu melawan tiga.   Marzuki Alie Versus Komarudin Hidayat, Endriartono dan Siswono.

Marzuki Alie jelas sekali posisinya yang berada dipihak SBY dan kelihatan mati-matian mempertahankan bahwa SBY  adalah seorang Presiden yang tidak  “kurang tegas” dan juga tidak  “ragu-ragu”. Sementara itu Siswono sangat terang benderang  dan lantang sekali dalam mengutarakan pendapatnya yaitu sangat menyayangkan SBY sebagai seorang Presiden yang mendapatkan dukungan lebih dari 60 % namun tidak atau kurang berani, kurang cepat dalam  mengambil keputusan, alias kurang tegas.   Endriartono, walau kurang sekeras Siswono namun sangat jelas mengatakan tentang kekecewaannya terhadap kelambanan  dan keragu-raguan SBY sebagai seorang Presiden.

Sedangkan Komarudin Hidayat, walau terlihat berusaha “agak” menetralkan perdebatan akan tetapi terlihat  condong berpendapat sama dengan Siswono dan Endriartono.   Mengikuti dari kira-kira pertengahan sampai akhir perdebatan, kelihatan sekali Marzuki Alie babak belur berupaya menangkis berondongan argumentasi dari ketiga tokoh senior yang memang sangat sarat pengalaman itu.   Bak pertandingan tinju, Marzuki Alie dipastikan kalah dalam pengumpulan angka.   Namun, ditengah babak belurnya Marzuki Alie menampung serangan yang sudah seperti peluru yang berasal  dari senapan mesin,  dia ternyata cukup cerdas dalam mengambil sikap disaat-saat terakhir.     Self defense mechanism dari seseorang yang tengah dalam kritis memang terkadang tidak terduga.

Demikian pula dengan Marzuki Alie, ditengah frustasi mendapat serangan dari tiga orang pembicara lainnya ia mengakhiri pernyataannya dengan “closing remark” yang dapat menyelamatkan dirinya menjadi “the loser” alias si pecundang !   Dia berkata lebih kurang sebagai berikut :  “Maaf ya Pak, tidak bisa sepenuhnya dikatakan seperti itu, karena bapak-bapak kan hanya sebagai “pengamat”, kami ini adalah para “pemain” yang mengerti betul permasalahannya.   Seperti juga para pengamat sepak bola yang selalu bisa mengatakan apa saja, tetapi buktinya kan belum tentu bisa bermain sepak bola, dan mungkin kalau disuruh bermain bisa  malah menjadi lebih jelek ?” Maka selamatlah Marzuki Alie dari posisi yang babak belur total .    Minimal dia sudah sedikit agak berhasil dalam  membela Bos nya untuk tidak dikatakan “tidak tegas”.    Saya tidak hendak memposisikan untuk menjadi Juri dalam pertandingan ini, saya serahkan saja kepada semua penonton yang mengikuti perdebatan menarik beberapa hari yang lalu itu. Read more…

Hidup dan Tantangan Hidup !

Beberapa waktu yang lalu saya membaca satu tulisan yang sangat menarik tentang hidup dan tantangan hidup.   Semula saya tidak begitu perduli dengan semua apa yang terkandung dalam tulisan tersebut, walaupun sekilas harus diakui bahwa tulisan tersebut sangat menarik.   Saya lupa siapa penulisnya dan juga siapa pengirim tulisan tersebut kepada saya.

Semalam, dalam lamunan sebelum tidur saya sudah mulai berpikir tentang apalagi yang saya harus perbuat dalam mengisi sisa hidup ini.   Saya masih memiliki tiga buah naskah tulisan untuk dibuat buku dan setelah itu tidak ada lagi.   Mengisi kegiatan sehari-hari, selain berusaha menyelesaikan beberapa tulisan, saya juga berusaha mengikuti perkembangan keadaan dari berita-berita nasional dan internasional.   Nah, dalam mengikuti perkembangan keadaan didalam negeri inilah, saya kemudian merasa bosan dihanyutkan dengan begitu banyak pemberitaan dari kegiatan-kegiatan yang sangat tidak  bermutu dan  sangat tidak mendidik bagi generasi muda bangsa.

Saya tidak melihat lagi keberpihakan dari para elit negeri ini terhadap rakyat kecil yang tidak berdaya.   Kereta Api yang nyaris hampir setiap minggu mengalami kecelakaan, kapal tenggelam yang memakan banyak korban jiwa tidak berdosa, kemacetan lalu lintas yang semakin parah, kondisi jalan raya yang semakin amburadul ditambah lagi dengan demonstrasi  orang-orang tertentu yang sangat arogan melintas ditengah kemacetan yang parah menggunakan ngoeng-ngoeng meminggirkan kendaraan orang lain yang tengah antri dengan sabar.

Mengagumkan, mereka pun dengan tulus ikhlas atau setengah menggerutu minggir memberikan jalan kepada sang “boss” yang hendak lewat itu.   Saya pun teringat dengan Menhankam/Pangab Jenderal Jusuf, yang pernah melarang semua pejabat termasuk dirinya untuk menggunakan ngoeng-ngoeng.   Beliau  memberikan ijin menggunakan ngoeng-ngoeng hanya untuk Kepala Negara, wakil kepala negara dan tamu negara setingkat.   Kini, tiada ada seorang elit pun yang kelihatan memberikan perhatian kepada nasib malang rakyat kebanyakan di negeri ini.   Saya pun tidak berdaya.   Saya pun nyaris “putus asa”.   Saya pun nyaris mengambil keputusan  untuk “apatis” saja.   Mengambil keputusan EGP.   Saya ingin cuek saja dan kemudian menikmati hidup saja sendiri dengan keluarga, dengan cucu dan terus…………. mau apa lagi? Read more…