Archive for January, 2011

Tulisan Bagus tentang “Penderitaan dan Kesedihan”

Beberapa tahun belakangan ini, jalan-jalan di Jakarta semakin macet tidak keruan, lalu lintas amburadul, tidak ada lagi yang tersisa, marka jalan, tanda-tanda/ rambu-rambu lalu lintas tidak sama sekali digubris.   Sementara bagi mereka yang mampu dengan tenang berjalan lancar menggunakan ngoeng-ngoeng menyuruh minggir pengguna jalan lainnya.  Belum lagi berbicara tentang transportasi publik yang tidak ada satu pun yang memadai.   Bahkan minggu belakangan ini, Kereta Api tabrakan, disusul lagi dengan terbakarnya Kapal Laut di Selat Sunda yang memakan banyak nyawa tidak berdosa. Sejauh ini belum terdengar akan adanya upaya tentang langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk membereskan kesemuanya itu.   Sungguh Prihatin.

Pagi ini saya kebetulan membaca Media Indonesia . com dan menjumpai satu tulisan yang sangat menyentuh hati. Tulisan dengan judul “ Negara Yatim Piatu”, satu tulisan tentang masalah aktual yang tengah kita hadapi bersama.  Masalah Transportasi.   Tulisan yang singkat dan padat ini berjudul Negara Yatim Piatu.   Selesai membaca, saya pikir, harus lebih banyak lagi orang yang wajib mengetahui tentang isi tulisan yang bagus ini.   Itu sebabnya kemudian saya posting disini, mudah-mudahan dan saya yakin penulis aslinya tidak akan merasa keberatan.   Sekali lagi ini adalah kutipan tulisan dari Media Indonesia.com .   Isi selengkapnya adalah sebagai berikut :
Negara Yatim Piatu

Read more…

Mandala the tip of an iceberg

puncak gunung es

puncak gunung es

The air transport business in Indonesia, the world’s largest archipelago, is undoubtedly very promising. The country’s big population and widespread distribution of settlements makes air transportation the most reliable means of social mobility and goods movement.

But unfortunately it’s with this very sector that Indonesia has experienced management shortcomings in making its airlines more contributive to national development.

One of the fairly prominent reasons for this lack of progress is the government’s slow regulatory movement in anticipating the rapid increase of airline companies and passengers. The significant rises were due to the deregulation of the airline industry in the 1990s. In 2000, for example, Indonesia only owned five airlines serving 10 million passengers, but in 2006 there were over 25 airlines and 20 million passengers.

It was a phenomenal growth, although not without embarrassment, as it was accompanied by a fast-rising number of air accidents. From 1995 through 2005, Indonesia recorded 3.1 aircraft accidents per million departures. The figure may seem small, but they are drastic in contrast to the world average of 0.89 accidents per million departures, a ratio of one to 3.5. Read more…

Short Course on Leadership dari JK

Berani ambil keputusan !

Berani ambil keputusan !

Malam tadi saya mengikuti, kursus singkat tentang kepemimpinan dari JK.   Hal ini adalah merupakan intisari dari sambutan JK saat menerima Life Time Achievement Award 2010 dari Charta Politika di Nikko Hotel (19 Januari 2011)

Saya menyebutnya dengan Kursus singkat, karena memang hanya dalam waktu yang tidak lebih dari 1 jam saja, dan isinya sarat dengan prinsip-prinsip kepemimpinan.   Berikut butir-butir yang menarik dari ihwal kepemimpinan JK.   Tidak persis sekali, akan tetapi lebih kurang maknanya adalah sebagai berikut :

JK, memulai dengan penjelasan tentang mengapa ia tidak pernah menggunakan “jubir”, alias juru bicara, terutama sekali saat menjabat sebagai Wapres.   Ditegaskan oleh JK bahwa : Jurubicara yang paling baik adalah dirimu sendiri !   Salah satu sebabnya adalah, dia tidak akan disalah tafsirkan , yang berakibat harus repot-repot membetulkannya.   Semua masalah akan menjadi lebih mudah.

Beberapa saat setelah JK turun panggung dari kursi Wapres, beliau diundang ke Australia, untuk memberikan ceramah di salah satu perguruan tinggi terkemuka disana.   Bertemu dengan salah seorang guru besar , JK langsung mendapatkan pertanyaan tentang mengapa berita tentang JK masih lebih banyak bertengger di media masa Indonesia dibanding dengan liputan berita SBY.   Jawaban JK, adalah karena beliau punya hubungan yang sangat bagus dengan Media .

Menjelaskan tentang hubungan yang bagus dengan media, menurut JK adalah karena dia tidak pernah berbohong, seraya menguraikan rasa saling percaya adalah merupakan kunci dari bagaimana kita bisa berhubungan dengan harmonis.

Tentang Kepemimpinan, diutarakan oleh JK bahwa Seorang pemimpin adalah seorang yang dapat menyuruh orang lain bekerja sesuatu yang sebenarnya tidak disukai, itulah pemimpin, katanya menegaskan.  (mungkin orsinilnya adalah seperti yang dikatakan Harry Truman bahwa “A Leader is a man who had the ability to get other people to do what they don’t want to do and like it “)  Kalau seorang pemimpin menyuruh orang lain bekerja sesuatu yang memang mereka sukai, maka itu namanya bukan pemimpin, akan tetapi tidak lebih dari  “koordinator”  belaka, alias ketua kelas.   Khusus untuk ini JK mencontohkan bagaimana dia menaikkan harga BBM  dengan tanpa gejolak yang berarti.   Sesuatu yang tidak disukai banyak orang.   Yang dikerjakannya adalah memberikan penjelasan yang terang benderang kepada semua pihak terkait.   Penjelasan yang dapat dengan mudah dimengerti.   Tentu saja disini dibutuhkan penggunaan bahasa yang mudah dicerna.   Dengan penjelasan yang baik, walaupun keputusan itu tidak disukai, orang lalu mengerjakannya dengan baik.   Itu namanya Pemimpin !   Tidak takut mengambil keputusan.   Tidak ada satu keputusan yang disukai oleh semua orang dan tidak mungkin terjadi.   Yang dapat dilakukan adalah meminimalisirnya.

JK, mengatakan pula tiga hal penting berkait dengan pengalamannya sebagai orang yang pernah bergelut sebagai orang bisnis, seorang birokrat dan terakhir di Palang Merah Indonesia.   Orang bisnis dalam bekerja  selalu mengutamakan keuntungan, “result oriented”.   Yang penting adalah hasilnya yaitu untung.   Proses menjadi prioritas nomor dua.   Sementara di birokrasi, ternyata orang lebih mengutamakan proses.   Proses yang benar, yang sesuai aturan dan lain sebagainya, karena, antara lain  takut kepada KPK.   Soal hasil?  nggak begitu penting, nggak berhasil juga nggak apa-apa, yang penting proses nya saja.   Lihat saja, bagaimana orang birokrasi mengatasi macetnya kota Jakarta.   Yang penting prosesnya saja.    Monoril terbengkalai, jalanan tetap macet, angkutan umum tetap amburadul, nggak apa-apa, yang penting kan prosesnya benar.   Proses dengan teori-teori dan aturan aturan yang berkepanjangan tanpa hasil, ya nggak apa-apa.   Iya kan , Nggak apa-apa Kan?

Terakhir, di PMI dia mengatakan, ternyata hal yang paling penting adalah “keselamatan” manusia, lain-lainnya menjadi nomor dua dan seterusnya.

Berikutnya JK memberikan penjelasan atas pertanyaan tentang riwayatnya saat menjabat sebagai Wapres, yang sering berperan sebagai gas, karena Bos nya adalah Rem.   Apakah ia pernah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan dalam salah satu kebijakan yang harus diambil?   Dijelaskan oleh JK, pemimpin bisa saja salah menentukan kebijakan dan itu dapat dimaafkan.   Akan tetapi pemimpin yang tidak mengambil keputusan dalam menentukan kebijakan itu yang tidak bisa dimaafkan, katanya.

Itulah sekilas butir-butir dari  Short course on Leadership dari JK.   Saya bukan juru kampanye JK, akan tetapi saya melihat salah satu kunci sukses JK sebagai pemimpin adalah cara penampilan diri yang “apa adanya” membuat JK jauh lebih bisa diterima masyarakat dibanding dengan lainnya.    Para pemimpin pada umumnya, selalu tampil “jaim” alias dengan muka yang di-buat-buat, di serem-serem-in, yang justru mengesankan air muka yang tidak “apa-adanya”,   air muka yang tidak jujur.

Pada titik ini, saya pikir saya harus berbagi, sayang bila ini tidak saya bagikan kepada orang lain.   Ini  adalah bagian dari tanggung jawab saya dalam hidup bermasyarakat.   Semoga bermanfaat.

Sekian dan Terimakasih.

Chappy Hakim

Jakarta 20 Januari 2011

Tentang Safety !

tanpa air bag

tanpa air bag

Seorang teman saya bercerita, saat mencoba keberuntungan di Brunei.   Dia mengajukan proposal untuk mengikuti tender pangadaan mobil dan Bus yang sedang dibuka oleh pemerintah Brunei.   Dia satu-satunya yang datang dari Indonesia dan membawa proposal Mobil dan Bus buatan Indonesia, dengan asumsi, bahwa dia sudah tau beberapa produk otomotif Indonesia cukup populer disana, antara lain Toyota Kijang.    Pada hari yang ditentukan, dari 4 pihak yang mengajukan proposal, maka dia adalah peserta  nomor satu yang dicoret.   Penasaran, dia pun kemudian mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya.   Tidak terlalu sulit, dalam waktu 2 hari ia sudah menerima penjelasan, bahwa proposalnya di coret dengan  alasan, bahwa kendaraan yang ditawarkan tidak memenuhi syarat “safety” kendaraan bermotor di Brunei.   Bus yang ditawarkan, tidak ada “emergency exit” nya, dan mobil yang diajukan tidak dilengkapi dengan standard requirement safety device yaitu  ”air bag”.

Teman saya menjadi setengah bingung dan setengah heran, karena mengacu kepada semua kendaraan yang diajukannya ke Brunei adalah kendaraan yang biasa dan laku dipergunakan di Indonesia.   Dengan setengah penasaran, ia pun lalu menyelidiki sendiri kendaraan Kijang di Brunei yang Made In Indonesia, setelah di cek, ternyata Kijang buatan Indonesia di Brunei dilengkapi dengan “air bag”.   Ia tahu betul bahwa di Indonesia ia dan beberapa teman memiliki Kijang dengan tipe yang sama, namun tidak ada “air bag”nya.   Lebih heran lagi, ternyata pula bahwa harga Kijang di Brunei yang lengkap dengan airbag nya, lebih murah harganya dibanding dengan harga kijang tanpa airbag di Indonesia.  Berikutnya dia kemudian juga mendapati bahwa Bus di Jakarta, ternyata memang tidak ada “emergency exit” nya, kecuali beberapa Bus bekas yang Ex Jepang.

Lengkaplah keheranannya saat itu.   Lalu, ia pun berpikir, itu baru kendaraan mobil di darat, selanjutnya bagaimana dengan persyaratan keamanan dalam pengelolaan penerbangan, bagaimana “safety requirement” yang harus dipatuhi di pesawat terbang?   Teman saya memutuskan untuk tidak melakukan penyelidikan tentang hal ini, karena dia akan merasa lebih nyaman bepergian dengan pesawat terbang dengan tanpa mengetahui kenyataan bagaimana faktor safety diberlakukan untuk pesawat terbang di Indonesia.   Setengah yakin, dia merasa pasti tidak akan jauh berbeda dengan Kijang dengan “air-bag” nya.   Apa Iya?

Jakarta 15 Januari 2011

Chappy Hakim

Terbang dengan L-29 Delfin

L-29 Delfin

L-29 Delfin

Bagi para perwira siswa penerbang yang berhasil lolos tahap Primary dan basic training, latihan dan pelajaran terbang dilanjutkan ke fase Advance Training.   Tidak sebagaimana pelaksanaan latihan di Primary dan Basic yang berlangsung di Lanud Adisutjipto Jogjakarta, maka Advance  Training dilaksanakan di Lanud Iswahyudi Madiun.   Dipilihnya Madiun, Lanud Iswahyudi, karena antara lain panjang runway nya lebih panjang daripada panjang runway di Maguwo, Jogjakarta. Latihan tingkat lanjut juga berbeda dengan pelaksanaan latihan di Primary dan Basic yang masih menggunakan pesawat baling-baling.   Ditingkat Advance, pesawat latih yang digunakan adalah pesawat latih Jet L-29 Delfin.

Pesawat terbang latih Jet, Aero L-29 Delfin adalah merupakan Military Jet Trainer Aircraft, yang oleh pihak NATO diberikan nama “Maya”.   Pesawat latih ini adalah pesawat Jet Trainer , buatan Pabrik pesawat Aero Vodochody, Cekoslovakia yang telah menjadi standar bagi Angkatan Udara seluruh negara Pakta Warsawa di tahun  1960-an.    L-29 di disain oleh Z. Rublič and K. Tomáš ,  berhasil diterbangkan pertama kali pada 5 April 1959.   Awalnya, pengguna utama dari produk ini, yang menggunakan adalah Angkatan Udara Rusia dan Angkatan Udara Cekoslovakia.   Read more…