Archive for November, 2010

Garuda, dari Rugi Mendadak Untung?

Masih menarik untuk mengikuti kinerja Garuda, secara tidak sengaja saya membaca Majalah Tempo online yang memuat tulisan menarik tentang Garuda kita tercinta.  Saya sendiri belum mempelajarinya dengan cermat, akan tetapi sekilas tulisan ini benar-benar menarik.   Untuk itu saya ingin berbagi kepada pembaca semua, berikut isi lengkap tulisan di Majalah Tempo online yang saya kutip :

Dipermak Sebelum Lego Saham

TEPAT pukul setengah sembilan pagi, rombongan direksi Bank Mandiri tiba di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis pekan lalu. Dipimpin Direktur Utama Zulkifli Zaini, manajemen Mandiri menemui Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar dan Deputi Bidang Usaha Jasa Parikesit Suprapto.Topik yang dibawa Zulkifli dan kawan-kawan sebenarnya rencana Mandiri menerbitkan saham baru (rights issue). Tapi ada satu agenda penting yang disinggung manajemen Mandiri dalam pertemuan itu: rencana penjualan saham perdana (initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia, Februari tahun depan. “Manajemen Mandiri mempertegas saham Garuda yang mereka miliki ingin ikut ditawarkan kepada publik,” kata Mustafa kepada wartawan di Jakarta, Kamis pekan lalu.

Bank Mandiri sangat berkepentingan atas penjualan saham perdana Garuda. Alasannya, Mandiri merupakan salah satu pemegang saham maskapai pelat merah itu. Dalam penjualan saham perdana nanti, ada saham Garuda milik Mandiri yang akan ikut dilepas. Mandiri juga salah satu kreditor terbesar Garuda. Aksi korporasi itu penting agar kinerja Garuda semakin kinclong dan bisa membayar utangnya. Read more…

Garudaku, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Garuda Indonesia

Garuda Indonesia

Dua hari terakhir ini, Garuda nyaris berpenampilan sebagai Maskapai penerbangan yang amatiran,   Begitu banyak penerbangan yang delayed dan bahkan cancelled.   Penerbangan yang tertunda tidak kepalang tanggung sampai lebih kurang 6 jam, sedangkan yang dibatalkan juga cukup  banyak.   Pertanyaannya, bagaimana mungkin sebuah perusahaan penerbangan yang sudah berumur lebih dari 60 tahun dapat menyajikan performa yang demikian?

Bagi kaum yang sedang dongkol dan sinis, tentu saja lalu mengatakan ya itulah “trade mark”nya perusahaan BUMN !   Tidak berhenti disitu, dengan begitu banyak rasa kesal dari para “pencinta” nya, lalu beredar kepanjangan GARUDA yang dipelesetkan.   Paling tidak ada 2 yang cukup terkenal yaitu Garuda sebagai “Good And Reliable Under Dutch Government” atau yang marak akhir-akhir ini adalah sebagai “Good  And Reliable Until Delay Announced”.   Tentunya sebagai orang Indonesia, kita tidak suka dengan gelar-gelar guyonan yang seperti itu !

Sementara waktu penjelasan tentang amburadul nya penerbangan 2 hari belakangan ini adalah disebabkan penerapan sistem baru yang bertujuan meningkatkan performa perusahaan.   Pertanyaannya adalah “seceroboh” itukah  sebuah perusahaan sekelas Garuda dalam menerapkan sistem baru?   Peralihan satu sistem pelayanan dari satu perusahaan besar ke sistem yang lebih maju, tidak bisa tidak pasti memerlukan  keterlibatan atau partisipasi para pengguna jasanya.

Jadi, bila memang benar Garuda tengah menerapkan sistem baru dalam pelayanan penerbangannya, mengapa tidak dipublikasikan terlebih dahulu kepada seluruh pelanggan, sehingga mereka cukup siap untuk berpartisipasi didalamnya.   Penumpang, atau pelanggan dalam hal ini pasti akan merupakan “sub-sistem” dari sistem yang baru yang akan diterapkan tersebut.   Kesimpulannya, mereka sebagai “sub sistem”  tidak ada pilihan lain dari ,harus dilibatkan sedari awal.   Pertanyaannya  adalah, mengapa setelah amburadul nggak karuan, baru kemudian para pengguna jasa angkutan Garuda yang setia dan tengah kecewa itu  memperoleh penjelasan?

Read more…

Seberapa Aman terbang di Soeta ?

Bulan lalu beredar berita tentang betapa amburadulnya terminal Bandara Soekarno- Hatta yang sudah dianggap mengancam keselamatan penumpang sehingga muncul wacana pemindahan sebagian penerbangan domestiknya ke Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma.

Mari kita tinggalkan saja sejenak terminal Bandara Soekarno-Hatta yang memang sudah mirip wajah stasiun Kereta Api itu. Ada masalah yang lebih darurat untuk segera ditangani, selain keselamatan penumpang di terminal, yaitu keselamatan penerbangan itu sendiri.

Keselamatan penerbangan yang dimaksud di sini adalah keselamatan alur take off dan landing pesawat terbang di Aerodrome (Pelabuhan Udara) Soekarno-Hatta, Cengkareng.Saat ini,di Aerodrome Soekarno-Hatta sudah tidak tersedia weather radar dalam perangkat air traffic control (ATC) atau pengatur lalu lintas udara.

Dengan demikian, para pengawas di ATC tidak memiliki kemampuan menginformasikan kondisi cuaca yang akurat secara real time di kawasan take off dan landing Aerodrome Soekarno- Hatta.    Kondisi radar lainnya (traffic radar) yang berfungsi untuk memonitor atau memantau lalu lintas penerbangan sudah tua karena sebenarnya sudah harus diganti dengan yang baru sejak lima tahun lalu.    Transmitter atau pemancar radio dari menara pengawas kondisinya juga tidak jauh berbeda dengan traffic radar sehingga kerap instruksi yang diberikan pengawas traffic kepada pilot menjadi kurang jelas.

Para pengatur lalu lintas udara yang jumlahnya hanya 300 orang, dengan proses kaderisasi yang agak terhambat, merupakan permasalahan lain yang juga menuntut perhatian karena jam kerja mereka bisa bertambah, terutama untuk menangani lalu lintas udara pada jam-jam sibuk.    Kekhawatiran tentang keselamatan penerbangan terutama terjadi pada jam-jam sibuk take off dan landing, yaitu di pagi hari antara jam 06.00 hingga 08.00 WIB dan petang hari antara pukul 16.00 hingga 20.00 WIB.

Menurut data, pada jam-jam sibuk Aerodrome Soekarno-Hatta harus menampung 67 pesawat per jam.    Adapun kapasitas runwayyang tersedia hanya untuk menampung maksimum 52 pesawat per jam.    Sekadar data tambahan, pada 2009 pergerakan pesawat per hari di Indonesia telah mencapai  3.534  yang dengan perkiraan pertumbuhan 5% saja, pada 2015 pergerakan pesawat per hari akan mencapai angka 4.510.    Adapun pergerakan pesawat di Aerodome Soekarno- Hatta per tahun pada 2009 telah mencapai 111.000.

Dengan perkiraan pertumbuhan 5% per tahun, pada 2015 pergerakan pesawat akan menembus angka 156.000.    Tidak begitu jelas, apa penyebab terlambatnya peremajaan alat bantu pengatur traffic di Bandara Soekarno-Hatta ini.   Namun, konon, karena tindak lanjut dari UU penerbangan yang baru disahkan tahun lalu menyebutkan bahwa harus segera dibentuk ATC single provider (jasa pelayanan tunggal dari pengatur lalu lintas udara, yang selama ini terdapat lebih dari dua provider) dalam dua tahun setelah UU diundangkan.

Maka, proses peremajaan pun harus menunggu terbentuknya institusi tersebut.    Adapun sampai saat ini, pembentukan ATC single provider statusnya “belum terdengar”.    Yang turut memperparah traffic penerbangan pada take off dan landing adalah adanya restriksi (pembatasan) alur pesawat di atas kawasan Cengkareng serta Jakarta dan sekitarnya yang mengharuskan penerbangan pendekatan menuju runway 07 left dan 07 right harus dilakukan hanya dari satu arah tertentu saja.

Ini pula yang menyebabkan bertumpuknya antrian pesawat (bottle neck) dalam proses take off dan landing, terutama pada jam-jam sibuk tadi.    Kondisi ini membuat para penerbang dan petugas pengatur lalu lintas udara harus super ekstra hati- hati.   Keteledoran sedikit saja pasti akan berbuah fatal.   Itulah sebabnya, sekuel take off dan landing di Aerodrome Soekarno-Hatta belakangan ini tidak pernah diberikan kepercayaan kepada para pilot yunior.   Bahkan para pilot senior pun mengakui harus ekstra konsentrasi dan sangat melelahkan (fatigue) apabila melaksanakan misi penerbangan di Aerodrome Soekarno- Hatta.

Belum lagi keluhan para pilot akan hadirnya “layangan” di bulan-bulan tertentu pada alur final approach runway Soekarno- Hatta (alur menjelang pendaratan) dan gangguan asap rutin yang terjadi di bulan-bulan lain sebagai akibat dari permainan mercon dan petasan di sekitar Aerodrome Soekarno-Hatta.    Khusus untuk hal ini, pihak otoritas pelabuhan udara (airport authority) memang telah membentuk tim yang melakukan pendekatan kepada penduduk setempat yang bermukim di sekitar pelabuhan udara.

Keseluruhan hal di atas menuntut kita semua untuk segera mengambil langkah segera untuk mengatasi permasalahan yang tidak sederhana dan membahayakan keselamatan terbang tersebut.   Perhatian yang cukup besar dari pemerintah terhadap dunia penerbangan akhir-akhir ini juga perlu ditindaklanjuti agar kondisi yang “membahayakan” di Aerodrome Soekarno-Hatta (yang tidak atau kurang terekspos) dapat cepat ditangani.

Sulit untuk dibantah bahwa dalam soal take off  dan landing di  Aerodrome Soekarno-Hatta dibutuhkan para penerbang “jagoan” dan pengatur lalu lintas udara yang “super terampil”.   Tentang ini, konon para penerbang Singapore Airlines yang akan dicek kualifikasinya sebagai captain pilot, ajang ujiannya adalah di Aerodrome Soekarno- Hatta. Bila mampu take off dan landing di aerodrome ini dengan mulus, dipastikan sang captain pilot tidak akan menemui kesulitan apa pun untuk take off dan landing di aerodrome mana saja di seluruh dunia!

Chappy Hakim
Penerbang, Pemegang ATPL
(Airlines Transport Pilot Licence) No 2391

Dikutip dari Halaman 6 Koran Seputar Indonesia terbitan hari ini, Selasa 16 Nopember 2010

Khotbah Idul Adha Pake Telor !

Pagi tadi saya shalat Ied di Eks Markas Besar Angkatan Udara di Pancoran.

Seperti biasa, saya sudah bersiap-siap untuk bersabar setelah sholat untuk tetap mendengarkan khotbah sampai selesai.   Bersabar dalam arti saya sudah hafal dengan khotbah-khotbah yang biasa disampaikan pada kesempatan sholat Jumat, sholat Ied dan sebagainya.   Hafal dalam arti, pasti bahasanya lebih banyak bahasa arab dengan ayat-ayat al quran dan diikuti uraian yang di-awang-awang sulit dimengerti.   Bahasa yang “ketinggian” untuk dapat dicerna.

Lebih dari itu bila ada bagian-bagian yang dapat dimengerti, pasti isinya tidak lebih dari “menakut-nakuti” yaitu tentang dosa, siksa kubur dan masuk neraka bila tidak menjalankan ini itu seperti yang selalu dianjurkan para khatib pada umumnya.

Ada teman saya yang sudah susah payah saya ajak untuk insaf dan kemudian mau mulai lagi sholat jumat untuk “kembali ke jalan yang benar”, langsung kapok dan jumat depannya tidak datang lagi ke Masjid.   Masalahnya sederhana, ya itu tadi, mendengar khotbah yang  monoton , “mengerikan”, uraian tentang risiko dan ancaman masuk neraka, siksa kubur dan lain-lain.
Read more…

Maskapai Asing Takut Abu Merapi?

Sebanyak 12 maskapai asing membatalkan 47 penerbangan ke luar negeri melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, Sabtu (6/11) sejak pukul 13.00 hingga pukul 21.00. Batas waktu pembatalan penerbangan belum ditentukan.

Pembatalan itu sendiri mereka putuskan sebelum adanya notice to airmen dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta sehubungan dengan meletusnya Gunung Merapi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah yang mengeluarkan abu vulkanik.

Bandara Soekarno-Hatta mencatat, maskapai yang membatalkan penerbangannya kemarin ialah AirAsia, Malaysia Airlines, Singapore Airlines, Emirates Air, Japan Airlines, Turkey Airlines, Lufthansa, KLM, Tiger Airways, Eva Airlines, Etihad, dan China Southern. Berdasarkan data PT Angkasa Pura II, dalam sehari, penerbangan luar negeri, baik kedatangan maupun keberangkatan, mencapai 50 penerbangan dari 23 maskapai (Kompas, 7 November 2010).

Mengapa sementara ini hanya maskapai penerbangan asing saja yang khawatir terhadap abu vulkanik yang belum sampai ke Jakarta? Ada beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab. Pertama adalah adanya kekhawatiran terhadap abu vulkanik yang dikabarkan sudah sampai di kawasan Jawa Barat akan bergerak ke daerah udara kawasan Jakarta.
Read more…