Archive for October, 2010

AeroExpo ITB 2010

Pidato Pembukaan AeroExpo ITB 2010

Pidato Pembukaan AeroExpo ITB 2010

Pagi hari kemarin, 29 Oktober 2010 saya mendapat kehormatan untuk bersama-sama Dekan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB secara resmi membuka AeroExpo ITB 2010.   Eksebisi kedirgantaraan yang dimotori oleh anak-anak muda mahasiswa ITB yang bersemangat tinggi ini diselenggarakan di “rumah” nya Bapak Kusmayanto Kadiman (blogger kompasiana,mantan Rektor ITB)  Aula Barat Kampus ITB.

Saya sangat menghargai upaya mereka dalam berkreasi dalam bidang disiplin ilmu yang tengah mereka jalankan.   Saya menangkap pula keakraban antara para anak muda itu dengan para pembimbing atau para dosennya dalam kegiatan AeroExpo tersebut.   Besar harapan saya untuk kedepan semangat tinggi yang diperlihatkan para mahasiswa Teknik Mesin dan Dirgantara ini dapat  memberikan kontribusi positif bagi upaya bangsa ini membangun dan mengejar ketertinggalannya dibidang Aeronautika.   Pada kesempatan tersebut saya juga berkesempatan memberikan “ceramah” dan diskusi dengan para mahasiswa dengan topik yang berkait dengan Aviation Safety.   Jajaran stand pameran lengkap dengan peragaan materi pameran yang diperlihatkan dalam AeroExpo ITB 2010, paling tidak telah memunculkan keyakinan saya dalam memandang dunia Kedirgantaraan Nasional dimasa mendatang.

Melihat  antusiasme para anak muda dan juga para dosennya, saya merasa optimis,  Indonesia pada waktunya nanti pasti akan dapat mengembangkan sendiri teknik kedirgantaraan yang merupakan ilmu masa depan tersebut.   Selamat saya ucapkan kepada Panitia Penyelenggara Aero Expo ITB 2010, semoga sukses selalu !   Salam Dirgantara !

Nurtanio dan si Kumbang dalam Kenangan!

Pagi itu, 28 Oktober 2010, hari sumpah pemuda, saya berangkat dari Jakarta menuju Bandung. Sesampai di Bandung saya langsung menuju ke PTDI.   Dengan diantar oleh Avi, putra almarhum Nurtanio kami menuju hanggar tua tempat Nurtanio dulu bekerja membuat pesawat terbang eksperimen.

Diantara sekian banyak pesawat yang  diproduksi, pernah digunakan oleh beberapa sekolah penerbang (sekbang) sebagai pesawat latih.   Sekbang  AU di Jogyakarta, Sekbang di Curug dan juga  Angkatan Darat di Semarang, sempat menggunakan pesawat hasil Nurtanio ini.

Si Kumbang

Si Kumbang

Salah satu pesawat buatan Nurtanio yang cukup terkenal adalah “si Kumbang” yang ternyata sampai kini masih ada dan utuh.   Pesawat  dirawat dan dibangun kembali oleh beberapa eks anak buah almarhum Nurtanio yang setia sejak awal pembuatan “si Kumbang”.

Di Pagi hari yang cerah itu saya sempat bertemu dengan  (lihat gambar) Dr. Tedjo Narsoyo Reksuatmodjo, ST, MPd ( Dosen Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia) pangkat terakhir Letkol (mengenakan pici) dan Pak Darwis R (yang pakai Topi) serta beberapa orang yang pernah membantu almarhum Nurtanio bekerja di hanggar tua itu.
Read more…

Selamat Ulang Tahun Cleantha !

Cleantha 2 Tahun

Cleantha 2 Tahun

Hari ini tanggal 28 Oktober 2010, adalah hari ulang tahun Cleantha Haziqa Andries, cucu pertama kesayangan kami yang genap berumur dua tahun.

Pagi-pagi sekali saya dan isteri sudah tiba dirumah Cleantha, dia masih dimandikan dan kami berdua menunggu dengan tidak sabar.   Tiga buah kado berbungkus besar terdiri dari sepeda kecil mainan beroda tiga, boneka Micky Mouse dan meja kecil bergambar kartun sudah digeletakkan diruang tamu. Tidak lama kemudian datanglah sang cucu perempuan cantik yang segar sehabis mandi menghampiri kami.

Saya dan isteri memeluk sang cucu, Ayah beserta Ibunya untuk mengucapkan selamat ulang tahun.   Segera setelah itu diadakan ritual singkat dengan mengajak Clea, begitu biasa kami memanggilnya untuk menyanyi “happy birthday” dan “panjang umurnya” tentu saja dengan bahasa anak berumur 2 tahun.   Dilanjutkan dengan meniup dua  buah lilin diatas kue tart mungil lalu memberikan sekali lagi ucapan selamat ulang tahun.   Setelah itu diajaklah Clea membuka kado, dengan mata berbinar-binar, terlihat sekaligus bahasa tubuhnya yang berloncat-loncat riang gembira menerima kado dari neneknya.   Langsung dia meminta untuk mencoba naik sepeda walapun tentu saja dia belum bisa menggenjotnya, tetapi dibantu ayahnya Clea duduk dan mencoba mengayuh sepeda kecilnya.   Baru sebentar dia pindah lagi ke Micky Mouse yang sangat menarik perhatiannya setelah beberapa lama berselang mengenal tokoh tersebut di film-film yang kerap menemaninya dalam acara makan siang atau malam hari.   Setelah itu ia menikmati meja kecil bergambar kartun yang juga sudah familiar dalam ingatannya.   Kesemua itu difoto-foto oleh Kakek Nenek Ayah dan ibunya, Clea pun “in action” menghadapi kamera.

Tidak lama, ternyata sudah waktunya Ibunya Clea harus pergi kekantor dan sang cucu pun harus ikut menyertainya.   Kejadian yang sangat cepat terasa, Ibunya dan Clea sudah duduk di bangku mobil untuk segera berangkat.   Mungkin saja saat itu, iapun sudah lupa dengan semua kado, lilin dan kue tart mini yang baru saja ditiupnya bersama-sama.   Ayahnya pun sudah terlihat akan bergegas untuk berangkat kerja.   Saya sendiri juga sudah harus berangkat ke Bandung dan Isteri saya sudah ada pula kegiatannya yang menanti.

Kejadian yang terasa begitu cepat.   Hari ulang tahun Clea yang ditunggu-tunggu sejak berbulan-bulan yang lalu, kemudian begitu saja berlalu.   Kemeriahan sesaat, kegembiraan yang penuh gelora anak seumur Clea, berakhir cepat karena dia harus masuk mobil dan duduk dikursi “bayi” nya yang melekat di jok mobil.   Dia berangkat tanpa mampu membawa serta kado ulang tahunnya tadi.  Kegiatan yang rutin dilakukan setiap hari kerja.  Momen kegairahan melihat cucu dihari ulang tahunnya dengan kado yang dibawa dengan penuh semangat oleh neneknya terasa begitu saja berlalu.   Lenyap seketika.   Terlihat “sedikit” raut muka “kecewa” diwajah Neneknya, akan tetapi dia tidak berdaya apa-apa, selain mungkin masih berharap untuk dapat bertemu lagi dengan cucu tercinta petang nanti atau esok hari.

Clea dan ibunya pun berlalu sambil melambaikan tangan, Clea berkata “Bai..,.Siyu” seraya tersenyum dan kemudian hilang dibalik kaca mobil yang segera ditutup.   Saya pun terlena dibuatnya, begitu cepat waktu berjalan.   Namun jauh direlung hati saya, saya menyadari bahwa itulah “hidup”.   Clea, cucuku yang berulang tahun kedua hari ini memberi pelajaran yang sangat berharga bagi saya.   Peristiwa pagi itu seolah memberikan pemandangan, betapa hidup itu “demikian”.   Orang turun didunia, memperoleh kesenangan, sekejap, bila waktu tiba dia akan pergi tanpa berdaya untuk membawa apapun yang diperolehnya didunia yang fana ini.   Maha besar Allah YME.   Kami pun kembali ke rumah dengan sejuta perasaan terkenang dikepala, melihat atau terbayang kembali betapa berbinarnya wajah Clea saat menerima kado, meniup lilin dan bernyanyi dan kemudian berlalu.   Wajah yang sangat polos, wajah anak-anak yang khas tanpa dosa.   Wajah yang tidak mengetahui apa “hari depannya” seperti lirik sebuah lagu dari Doris Day puluhan tahun lalu yang antara lain berkata : “The Future’s not ours, to see ; What will be, will be; Que Sera Sera

Selamat Ulang Tahun Cucuku, Clentha Haziqa Andries !

Jakarta 28 Oktober 2010

Chappy Hakim

Fit and Proper Test Kapolri Menurut Prof Sarlito, Guru Besar Psikologi UI

Pagi ini saya membaca Koran Seputar Indonesia yang dihalaman mukanya memuat tulisan seorang Guru Besar Psikologi UI  yang berjudul Logika Ketoprak.   Tulisan yang bagus sekali dan saya merasa sayang bila tidak diposting disini, untuk diketahui oleh kita semua sebagai penambah wawasan.

Logika Ketoprak
AKHIRNYA Komisi III DPR beraklamasi untuk menerima calon tunggal Kapolri,Komjen Pol Drs Timur Pradopo sebagai Kapolri.   Syukur alhamdullilah, karena isu tentang calon Kapolri bisa dihentikan di situ dan tidak berlanjut karena kalau berlanjut bisa berkembang liar tak terkendali. Sementara, buat Polri sendiri, sebagai organisasi profesional yang diikat dengan peraturan disiplin yang ketat, apalagi buat masyarakat awam, siapa pun yang jadi Kapolri tidak jadi masalah.EGP (emang gue pikirin?) deh,pokoknya.

Tetapi,yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana caranya Komisi III melakukan uji fit and proper test yang berlangsung sampai 20 jam itu (tidak termasuk kunjungan ke rumah, pemeriksaan rekening bank oleh PPATK dan sebagainya).   Semua pertanyaan nampaknya diarahkan kepada penilaian atau evaluasi diri pribadi Timur Pradopo, seperti berapa duitnya di bank, bagaimana pertanggungjawabannya tentang keterlibatannya pada peristiwa Semanggi, mengapa dia menolak datang ketika dipanggil ke pengadilan HAM, bagaimana strategi dia untuk membangun Polri, kenapa dia “membiarkan” peristiwa Ampera, apakah dia mau berjanji akan selesaikan kasus Bank Century dan sebagainya, bahkan konon pertanyaan “apakah Timur Pradopo pernah selingkuh”, juga masuk agenda. Seakan-akan kalau Timur Pradopo- nya orang baik, seluruh jajaran Polri 2–3 tahunan ke depan (sesuai masa jabatannya) pasti baik,sebaliknya kalau Timur Pradopo orang jahat, seluruh Polri juga akan rusak.
Read more…

Pindah ke Halim, Solusi yang ”Berbahaya”!

Kepadatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng,Banten,sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan keselamatan penumpang.   Untuk mengurangi beban di bandara tersebut, Bandara Halim Perdanakusuma akan dibuka lebih banyak untuk penerbangan komersial.

Demikian salah satu dari delapan keputusan penting dari rapat tentang keselamatan transportasi udara dan darat yang dipimpin Wakil Presiden Boediono di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

“Ini langkah jangka pendek yang bisa segera dilakukan yakni mengoptimalkan pemakaian Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan sipil,” kata Juru Bicara Wakil Presiden,Yopie Hidayat.

Yopie menambahkan,negosiasi dengan pihak TNI AU sebagai pemilik bandara Halim Perdanakusuma segera dilakukan sehingga sebagian landasan bisa dipakai untuk penerbangan domestik.   Demikian kutipan sebagian berita yang dimuat di salah satu media online.

Memindahkan kembali kegiatan penerbangan sipil, walaupun hanya domestik ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, mencerminkan betapa parahnya bidang perencanaan penerbangan sipil nasional.

International airport setiap lima dan sepuluh tahun harus melaksanakan evaluasi tentang kapasitas dan kemampuannya sesuai perkembangan yang terjadi.    Dari hasil evaluasi tersebut, dilaksanakanlah langkah-langkah penyesuaiannya.    Tidak hanya mendiamkan, kemudian setelah terjadi “amburadulnya” penumpang kemudian mengambil jalan pintas kembali ke “airport” yang lama.   Lebih lebih dengan judul “mengoptimalkan pemakaian Bandara Halim”.
Read more…