Bila kita membicarakan lebih mendalam lagi tentang kepemimpinan, atau lebih populer dikalangan luas dikenal sebagai “leadership”, maka kita akan sampai kepada pemahaman tentang “pemimpin” atau “leader” itu sendiri.
Siapakah dan bagaimanakah sang pemimpin itu ?
Dahulu kala, dan juga sampai dengan saat ini, masih ada dan bahkan banyak orang yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Seorang pemimpin itu adalah memang seorang yang sejak lahirnya telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Pendapat ini setidaknya ditopang dengan persepsi yang berkembang dimasyarakat yaitu berkait dengan kekaguman terhadap sosok seorang pemimpin. Katakanlah misalnya dalam melihat sosok seorang Bung Karno, Mahatir Muhamad, Lee Kuan Yew, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Golda Meir, Margaret Thatcher, Kennedy, Moammar Khadafi, Gamal Abdul Nasser, Adolf Hitler dan lain-lain.
Sosok para pemimpin itu, terlihat sekali “angker” nya, “wibawa” nya , “kharisma” nya. Sosok yang mengundang kekaguman para pengikutnya diseluruh dunia. Kekaguman atau rasa kagum itulah yang dengan mudah sekali kemudian berkembang atau mengembangkan sikap untuk mengkultuskan sang pemimpin. Kita mengenal istilah kultus individu dijamannya Soekarno memerintah Republik Indonesia. Dibuatlah gambar-gambar, lukisan, cerita bahkan lagu-lagu yang kesemuanya merupakan refleksi dari kekaguman para pengikutnya. Read more…

Selain gaya bertutur yang lugas dan human, juga karena tidak banyak orang militer yang aktif menulis sehingga apa-apa yang ditulisnya menjadi menarik. Saya jengah, seorang militer profesional, bahkan sampai jabatan tertinggi sebagai KSAU dengan pangkat marsekal, masih bisa menjadi kolumnis sekaligus penulis buku, tentu bukan sosok yang tidak baen-baen