Archive for December, 2009

Peluncuran Buku : Ketaatan Terhadap Aturan Penerbangan Rendah

Dunia kedirgantaraan di Indonesia masih rendah tingkat ketaatannya terhadap aturan teknis teknologi penerbangan.   Disiplinnya masih rendah dan pengawasannya masih setengah hati.   Hal ini diungkapkan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU) Chappy Hakim dalam peluncuran bukunya, di Airman Planet Lounge, Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (17/12).

“Karena dunia penerbangan itu sangat teknologis.   Maka patuhi aturannya.   Baik itu aturan operation manual, SOP atau aturan operasi teknologinya.   Disini rendah, sebagai contoh, kapal yang oleh produsennya hanya diperbolehkan mengangkut 500 orang, tapi disini digunakan mengangkut 1000 orang”, katanya.

Untuk itu, bentuk kerisauan dan kegelisahannya akan dunia dirgantara, dia torehkan dalam berbagai tulisan yang akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku.   Chappy pun meluncurkan dua buku langsung, yang masing-masing berjudul Awas Ketabrak Pesawat Terbang dan Tanah Air dan Udaraku Indonesia. Lewat tulisannya, setidaknya pemikirannya bisa dibaca banyak pihak.   Baginya pensiun bukan berarti berhenti mengabdi.   Karya tetap bisa dihasilkan meski bukan lewat kewenangan jabatan.

Kali ini. ide dan gagasan yang sempat tertahan karena beban rutinitas kerja sebagai orang nomor satu di Angkatan Udara mendapat lahan penyalurannya melalui menulis.   Saat dirinya masih memangku jabatan sebagai KASAU, Chappy mengaku sedikit sekali waktu tersisa untuk menuangkan pemikirannya.   Sebagian besar terpangkas oleh kewajibannya sebagai tokoh puncak di TNI-AU.

Awas Ketabrak Pesawat Terbang ! adalah buku kumpulan tulisan yang ia masukkan di blog nya.   Sementara buku berjudul Tanah Air dan Udaraku Indonesia adalah buku yang berisikan tulisannya yang tersebar diberbagai media massa.

Sebelumnya, lelaki kelahiran Jogjakarta, 17 Desember 1947 itu telah menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Cat Rambut Orang Yahudi.

Menurut pengamat hukum perbankan, Pradjoto, yang didaulat sebagai pembedah buku, tulisan Chappy begitu mengalir sehingga orang awam pun bisa mencernanya.

Prestasi Chappy didunia tulis-menulis itu berbuah penghargaan.   Museum Rekor Indonesia menganugerahkan penghargaan sebagai Marsekal atau Jenderal Bintang Empat Pertama yang tulisannya di blog diterbitkan menjadi buku.

Tulisan diatas ini adalah  kutipan berita di halaman dua Harian “Jakarta” terbitan hari Sabtu tanggal 19 Desember 2009.

Jakarta 20 Desember 2009

(Bukan) Komedi Dunia Penerbangan

Old soldiers never die. Ungkapan tersohor Jenderal MacArthur itu selalu menjadi sumber ketokohan seorang prajurit purnabakti. Salah satunya Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim. Meski telah pensiun, ia terus menuangkan waktu dan gagasannya untuk dunia penerbangan yang digelutinya selama puluhan tahun.

Melalui sebuah blog di Kompasiana.com, Chappy yang kini aktif sebagai konsultan keselamatan penerbangan berbagi cerita dengan peminat jurnalisme warga tentang berbagai macam topik. Salah satu topiknya Awas Ketabrak Pesawat Terbang ! menuai banyak komentar dari para blogger. Gaya tulisannya yang menggelitik dan kritiknya untuk pemangku kebijakan dan publik mampu dikemas secara cerdas.

Kumpulan tulisan di kompasiana.com itu kemudian dibukukan . Acara peluncurannya bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-62 Chappy di sebuah hotel di Jakarta, kamis 17 Desember 2009. Pada kesempatan yang sama, Chappy Hakim juga meluncurkan buku Tanah Air dan Udaraku Indonesia yang berisi kumpulan tulisan yang pernah diterbitkan dibeberapa majalah dan surat kabar. Acara itu juga dihadiri beberapa tokoh seperti mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak Linda Amalia Sari Gumelar yang hadir menemani suami yang hari itu juga merayakan ulang tahun bersama Chappy.

Awas Ketabrak Pesawat Terbang ! merupakan salah satu topik yang paling banyak diminati para blogger. Tidak selucu judulnya, justru Chappy menuangkan kisah miris sekitar dunia penerbangan. Dicontohkan, sebuah pesawat Sriwijaya Air tergelincir hingga keluar dari landasan pacu sejauh 200 meter di Bandara Sultan Thaha Jambi. Lalu, apa uniknya peristiwa itu ? Ternyata pesawat itu menabrak tiga petani yang tengah bercocok tanam tidak jauh dari landasan pacu itu. “Kejadian ini menunjukkan masih adanya gap antara teknologi dan peraturan”, ungkap Chappy. Dengan mengutip dari salah satu kawannya, mantan Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi (EKKT) itu menuliskan kalimat jika tidak melanggar aturan di Indonesia, tentu orang tersebut akan mati. Kondisi demikian tidak bisa dibiarkan berlangsung lama. Disiplin ,kata dia, harus ditegakkan dengan tegas dan keras. Tidak bisa hanya mengharapkan kesadaran. Itulah modal awal untuk menjadi Negara maju.

“Salah satu ukuran dari Negara sejahtera adalah sistem transportasinya. Mengelola sistem transportasi nasional suatu bangsa adalah refleksi dari baik atau buruknya mereka mengelola Negara “, paparnya.

Kasus kecelakaan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Adisutjipto, Jogjakarta yang menggiring pilot Kapten Marwoto sebagai terdakwa, menggugah idealisme Chappy sebagai seorang pilot. Kegelisahannya itu dipaparkan melalui blog. Prinsipnya peraturan penerbangan internasional melindungi seorang pilot dari jeratan hukum. “Saya bisa bilang, Chappy Hakim lewat tulisannya ini telah mengubah pengadilan (terhadap Marwoto)”, ujar Pradjoto sebagai pembahas buku Chappy hari itu. (Dinny Mutiah/Dani Prasetya/P-2)

Tulisan diatas adalah merupakan kutipan dari berita yang dimuat di Harian Media Indonesia edisi Sabtu tanggal 19 Desember 2009, dalam rangka peluncuran buku “Awas Ketabarak Pesawat Terbang” dan “Tanah Air dan Udaraku Indonesia” hari Kamis yang lalu.

Jakarta 20 Desember 2009

Serba Pertama

Peluncuran Buku pada tanggal 17 Desember 2009 yang baru lalu, telah berlangsung dengan sukses.   Disamping itu saya juga  merasa mendapatkan kehormatan yang luar biasa dengan begitu banyak teman, sahabat, handai taulan dan kolega serta beberapa pejabat yang berkenan hadir, walaupun dihari kerja.   Salah satu “seseorang” yang hadir itu adalah Bapak St.Sularto, Wakil Pemimpin Umum Kompas Gramedia yang memerlukan hadir mewakili Bapak Jakob Oetama , Pemimpin Umum Kompas Gramedia.  Saya merasa sangat dihargai oleh kehadiran beliau, yang juga mengisyaratkan betapa pimpinan Kompas Gramedia menaruh perhatian yang demikian besar terhadap dinamika kemajuan Kompasiana.com dewasa ini.   Kemajuan dalam arti positif berkenan dengan upaya terus menerus “mencerdaskan bangsa” melalui wadah media online itu.

Harian Kompas yang terbit hari ini, pada halaman 32 di rubrik “Nama dan Peristiwa” , ternyata juga telah menurunkan liputan acara ditanggal 17 Desember 2009.   Berikut ini berita selengkapnya :

Sabtu, 19 Desember 2009 | 03:21 WIB

Semakin banyak pensiunan tentara atau yang masih aktif menulis buku. Satu di antaranya Marsekal (Purn) Chappy Hakim (52), mantan Kepala Staf Angkatan Udara. Dua buku terbarunya, Awas Ketabrak Pesawat Terbang! dan Tanah Air dan Udaraku Indonesia, diluncurkan di Jakarta, Kamis (17/12).

”Saya mungkin satu-satunya pensiunan tentara yang tulisannya pernah dipakai untuk membela perkara di pengadilan,” kata Chappy dalam acara bedah buku yang dipandu Prajato SH  itu. Serba pertama? Ya, Chappy pantas berbangga. Dengan buku Cap Rambut Orang Yahudi yang terbit sebelumnya, terbit 3.000 eksemplar habis dalam tiga bulan, Chappy mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai ”Marsekal/Jenderal Bintang Empat Pertama yang tulisannya di blog diterbitkan menjadi Buku”.

Awas Ketabrak Pesawat Terbang! yang diterbitkan Grasindo merupakan kumpulan tulisan blog Chappy di situs kompasiana. com, terdiri atas 95 judul tulisan.

Selain musik sebagai hobi, bahkan menjadi kegiatan utama di usia pensiun, suami Pusparani Hasyim, ayah dua anak dan kakek satu cucu itu—lahir di Yogyakarta 17 Desember—juga piawai memainkan berbagai instrumen musik, terutama saksofon. ”Just for fun,” katanya! Namun, yang serba pertama, bolehlah, Pak! (STS)

Jakarta 19 Desember 2009

Sumbangsih Chappy untuk Dunia Penerbangan

Berkait dengan peluncuran buku pada tanggal 17 Desember 2009 lalu, Koran Sindo terbitan hari Jumat tanggal 18 Desember halaman 2 memuat berita dengan judul seperti diatas.  Berita ini juga muncul di korandigital Sindo tanggal yang sama.   Lengkapnya adalah sebagai berikut :

Friday, 18 December 2009
JAKARTA (SI) – Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2002-2005 Marsekal TNI Chappy Hakim baru saja meluncurkan dua buku tentang dunia penerbangan.

Kedua buku dengan judul Tanah Air dan Udaraku Indonesia dan Awas Ketabrak Pesawat Terbang! adalah buah kumpulan tulisan-tulisannya yang dimuat pada sejumlah media cetak.Di antaranya,harian Seputar Indonesia, Media Indonesia, Kompas, The Jakarta Post, serta media online. Kedua buku itu menjadi wujud kepedulian Chappy Hakim (Pak Chappy) pada masalah penerbangan dan juga beberapa hal-hal krusial lainnya di negeri ini.

Harapannya buku ini bisa menjadi kritik sekaligus masukan konstruktif dalam membangun bangsa ini. “Sebagian besar adalah tentang keudaraan.Tujuannya lebih kepada mengembangkan minat keudaraan atau air mindedness di kalangan anak muda bangsa,” terang dia dalam peluncuran sekaligus diskusi bedah buku di Airmen Planet Lounge, Hotel Sultan, Jakarta,kemarin.

Dalam kesempatan itu Pak Chappy juga menyatakan keprihatinannya akan dunia penerbangan Indonesia yang masih sering tak taat regulasi.Menurutnya, peningkatan teknologi yang begitu cepat harus diikuti dengan kesadaran bahwa jika teknologi tak dipatuhi aturannya akan menjadi sesuatu yang berbahaya.

“Untuk bergiat dalam kegiatan penerbangan yang sangat teknologis kuncinya adalah kita harus mematuhi peraturanperaturan yang diberlakukan. Misalnya kita harus taat pada operation manual, technical manual, dan standard operating procedure. Jika kita tak mematuhinya maka bayarannya adalah nyawa,” tegas dia. Pak Chappy tak lupa juga menyoroti kasus dimejahijaukannya Kapten Pilot Marwoto, pilot pesawat Garuda Indonesia GA 200 yang mengalami kecelakaan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta,7 Maret 2007.

“Indonesia sebagai anggota International Civil Aviation Organization (ICAO) harus mengikuti aturan ICAO. Local rules kita harus mengikuti aturan ICAO yang merupakan hasil konvensi.Dengan kita memasukkan Kapten Pilot Marwoto ke pengadilan itu salah besar dan sangat memalukan,” tekannya. Acara peluncuran buku tersebut juga menjadi tempat perayaan hari ulang tahun ke-62 marsekal yang lahir pada 17 Desember 1947 itu. Para kolega Pak Chappy nampak menghadiri acara tersebut.

Nampak Ketua DPD Irman Gusman, Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar beserta istrinya Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, Marsekal Muda TNI (Purn) Prayitno Ramelan, dan aggota Komisi I DPR Tantowi Yahya. Dalam acara ini Tantowi Yahya didaulat untuk menyumbangkan suara emasnya. (pangeran ahmad nurdin).

Jakarta 19 Desember 2009

Terimakasih Banyak untuk Semua!

17 Desember 2009, telah berlalu. Dipagi hari tepat pukul 1000 wib, peluncuran dua buah buku berjalan dengan lancar hingga pukul 1300 wib.   Terimakasih kepada Bung Dali Taher yang telah membawakan acara dengan piawai dan juga Saudara Pradjoto SH,MA yang membahas isi buku dengan menarik sekali.    Demikian pula tentunya kepada seluruh hadirin yang telah memerlukan hadir disana.

Petang harinya kegiatan pengajian bulanan rutin sekaligus selamatan ulang tahun,  yang dipandu oleh H. Ali Nurdin, dilangsungkan dikediaman diikuti , isteri, anak dan cucu tercinta ,saudara ,teman-teman dekat, handai tolan dan beberapa anak yatim piatu.   Tuntaslah kegiatan di tanggal 17 Desember itu.

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terimakasih banyak kepada semua yang telah berpartisipasi dalam kegiatan di hari kamis tersebut.   Semua, mulai dari saudara , sanak famili, handai tolan , kerabat dan tentu saja para kompasianer dibawah koordinasi Saudara Taufk dan Pepih, Edi Taslim, serta Kandar, yang dihari itu dimotori oleh Saudara Iskandar Jet yang telah membuat acara tersebut menjadi meriah sekali.

Kebahagiaan ini serasa menambah spirit untuk terus menulis dan tentu saja harus membaca lagi untuk mencari bahan tulisan.   Kegiatan yang harus dilakukan terutama bagi mereka yang telah purna tugas agar tidak lekas menjadi “absent-minded” alias pelupa !

Siang dan malam harinya, Liputan peluncuruan buku ternyata sudah muncul di Kompas.com berupa tulisan dari Iskandar Jet, dan juga di Kompasiana tentu saja.   Di Kompasiana,  selain tulisan Iskandar Jet, ada pula liputan dari Dwiki Setiyawan, Robjanuar dan Unang Muchtar, seta berbagai tanggapan yang bermunculan mengikuti tulisan teman-teman tersebut.   Terimakasih banyak Friends !

Jumat kemarin, Koran Sindo juga telah menurunkan tulisan tentang peluncuran buku “Awas Ketabrak Pesawat Terbang” dan “Tanah Air dan Udaraku Indonesia” dihalaman dua.   Hari ini,  Koran Kompas memuatnya di halaman 32 pada rubrik “nama dan peristiwa” , Koran Jakarta di halaman dua dan Koran Media Indonesia juga dihalaman dua lengkap dengan gambar “close-up”  dari cover buku Awas Ketabrak Pesawat Terbang.

Tiada lagi terpikir, apalagi yang harus dikatakan selain ungkapan penuh rasa bahagia : “Terimakasih Banyak untuk Semua !”

Jakarta 19 Desember 2009