Archive for November, 2009

Nonton 2012 di Malaysia

Secara kebetulan saya sempat nonton film yang heboh di Indonesia yaitu 2012, disalah satu bioskop yang terletak di shoping mall besar negeri Jiran Malaysia.   Agak kaget juga saya, ternyata yang nonton mayoritasnya adalah anak-anak.

Selang Setengah main, memang ternyata film 2012 itu adalah suatu film jenaka dari cerita yang berupa fiksi ilmiah.   Suara tawa anak-anak membahana sesekali, walaupun sempat beberapa saat terpesona juga dengan kejadian yang agak mengerikan, akan tetapi yang dominan adalah “fun”.   Beberapa anak waktu saya tanyakan, ternyata banyak adegan-adegan di film itu mirip dengan banyak “komik” yang mereka sering mainkan di “play station” nya.

Kecanggihan teknologi yang kemudian di plot membalut cerita tentang kalender suku Maya yang memunculkan ramalan dunia berakhir di 2012 ternyata satu film fiksi ilmiah yang “fun”, yang lucu.   Tetapi mengapa pemberitaan tentang film ini begitu heboh di Indonesia ?   Bingung juga jadinya.

Nah, bagi anda yang ragu-ragu, silahkan nonton saja film yang “fun” ini, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Agama manapun, walau sering disebut-sebutnya nama agama-agama tertentu.

Cerita yang sangat ringan, menjelang “kiamat” 2012, konon disebutkan hanya China yang siap menghadapinya dengan menyiapkan kapal raksasa yang dapat menyelamatkan manusia dari bencana.  Ya sesederhana itu saja koq !?

Selamat Nonton !

Penang 22 Nopember 2009

Rasa Sayang Resort & Spa

Di Pulau Pinang atau sering disebut dalam bahasa Inggris sebagai “Penang” yang berlokasi di kawasan Malaysia, terdapat satu Hotel bertaraf Internasional dengan nama yang sangat tidak aneh dan bahkan populer yaitu Hotel “Shangri-La’s”.

Yang sangat menarik perhatian adalah “jargon” yang digunakan dalam memasarkan merek dagang Hotel Shangri-La di penang ini adalah berjudul “Rasa Sayang Resort & Spa.   Bagi orang Indonesia, melihat kata-kata Rasa Sayang, tentunya sangat terasa sekali “kedekatannya” dengan nama lagu rakyat asal Ambon “Rasa Sayange”.   Kata-kata Rasa Sayang, terasa sangat bersahabat dengan “budaya” Indonesia.   Rasa Sayang, “Indonesia” banget !

Disini saya tidak ingin mem “protes” atau pun meng “klaim” penggunaan kata Rasa Sayang oleh Shangri-La di pulau Penang ini, sesuatu yang tidak ada gunanya.   Hanya saja, saya cukup terhenyak melihat Papan Nama besar dari Hotel Shangri-La ini yang memajang kata-kata “Rasa Sayang” melekat pada Logo dan bahkan dengan ukuran huruf yang lebih besar.   Kagum, ternyata Manajemen Shangri-La telah dengan cerdas menggunakan kata-kata Rasa Sayang untuk dilekatkan pada Logo Hotel Bertaraf Internasional yang lokasinya adalah dikawasan “melayu” serta atmosfer yang sangat “alami”.
Read more…

Lagi tentang Airbus A-380

Pesawat terbang komersial terbesar saat ini adalah pesawat Airbus A-380.   Pesawat super Jumbo, yang bila susunan kursinya dibuat persis seperti susunan kursi dipesawat Jumbo biasa untuk keperluan mengangkut Jemaah Haji, maka kapasitas nya dapat mencapai hampir 1000 kursi.

Pesawat ini sekarang beroperasi dibawah bendera Singapore Airlines, Emirates dan Qantas serta Air France.   Pada umumnya, mereka mendisain interiornya, hanya untuk kapasitas penumpang sekitar 600 an orang.   Singapore Airlines, misalnya membuat interior kabin penumpangnya dengan gaya dan nuansa yang “luxurious” dan “glamour”.   Menyajikan kemewahan yang luar biasa dengan menyediakan 6 Kamar super mewah sekelas hotel bintang 6, kemudian sebanyak 60 seat untuk kelas bisnis yang kursinya dapat di sulap menjadi tempat tidur yang nyaman dan sisa ruangnya diperuntukkan bagi penumpang “kelas ekonomi plus”, yaitu dengan tempat duduk “lega” seperti layaknya kelas bisnis Singapore Airlines di pesawat biasa.   Read more…

Polisi dan Pemimpin !

Disatu momen akhir dari film tentang Polisi yang sangat terkenal berjudul “Serpico”,  Sang Polisi teladan yang tertembak oleh bandit, dalam perjalanan di atas tandu menuju ruang operasi/bedah, berkata kepada Yunior nya, (yang mengiringinya disamping) : ” Ingat ! Sebagai Polisi, engkau bertugas dengan baik saja, banyak orang yang memusuhimu, apalagi bila engkau berbuat salah !”

Nah , itulah nasibnya sang Polisi.   Namun almarhum Pak Hoegeng, selalu mengingatkan kepada siapa saja, bahwa untuk satu kebenaran, jangan pernah kamu takut kepada siapapun !

Apabila kedua ucapan diatas kita renungkan sejenak saja, maka gonjang ganjing yang tengah melanda bangsa kita saat ini, adalah sangat berkait dengan dua kalimat tersebut.   Apakah ada Polisi yang tengah melakukan kesalahan dan apakah ada yang tengah tidak berani menghadapi kebenaran?

Ada yang mengatakan kepada saya, bahwa apa yang tengah terjadi saat ini adalah sesuatu yang sangat biasa di negara manapun.   Bahkan di Amerika sekalipun, kita pernah mendengar banyak skandal, mulai dari watergate sampai dengan  skandal Bill Clinton.   Di China, India, Inggris dan banyak lagi skandal sejenis dan atau skandal yang satu species dengan peristiwa Polisi versus KPK dan Kasus Bank Century, adalah satu hal yang selalu saja akan muncul.

Masalahnya adalah “How You Manage It” ?   Disinilah peran seorang Manager atau pimpinan yang harus dibekali dengan “leadership”.   Disinilah kemudian kita akan mengatakan bahwa dinegara-negara seperti Indonesia ini, dibutuhkan seseorang dengan “strong leadership”.

Pada saat biasa-biasa saja, siapapun yang memimpin, tidak akan ada masalah.   Namun begitu muncul masalah seperti sekarang ini, maka hanya seorang strong leader saja yang dapat mengatasinya dengan “cepat” dan “tepat” !

Nah itulah, walaupun di negara ini sudah ada Polisinya, akan tetapi masih belum cukup, bila tidak ada pemimpinnya yang “strong”!

Karakter dan Integritas

Belakangan ini ditengah gonjang ganjing nya kasus Bibit dan Chandra, maka ada satu hal menarik yang dapat kita saksikan sebagai suatu pembelajaran membangun karakter dan integritas kita.

Gambar besarnya adalah, yang kita semua tengah saksikan yaitu, sengketa Polisi dan Jaksa versus  KPK, dengan topik kriminalisasi pimpinan KPK, yang membuat semua  gaduh tiada tara.   Mungkin saking ribetnya  sampai pimpinan yang tertinggi pun kemudian merasa perlu untuk membentuk Tim terlebih dahulu sebelum dapat mengambil keputusan.

Nah, dalam dinamikanya kemudian muncullah aneka “talk show” yang menampilkan tokoh-tokoh pembicara yang mewakili kepentingan kedua pihak yang tengah berseteru.   Sangat mudah kelihatan, siapa yang memihak suara hati nurani rakyat banyak, dalam hal ini “kebenaran”  dan mereka yang mewakili kepentingan golongan atau kelompoknya saja.
Read more…